
"Kemana aja Veni ini, katanya mau menjemput ku. Tapi tak datang-datang. Mana aku lagi pingin banget gelang seperti punya Sarah yang ia pakai semalam saat makan malam disini." gumamku sendiri didalam kamar. Sambil menutup telpon dari Veni.
Aku heran pada Sarah, dia pakai pelet apa pada Bima anak ku. Sehingga semua keinginan nya di turuti oleh Bima. Sampai Bima melupakan kewajiban padaku sebagai ibu kandung yang melahirkan, membesarkan dan membuat ia menjadi sesukses seperti ini.
Beruntung sekali hidup Sarah menikah dengan anak ku. Dia yang hanya pelayan toko roti, sekarang menjadi istri Bima yang lagak nya seperti nyonya besar.
Pokoknya gara-gara Sarah menjadi istri Bima, kini aku di nomor dua kan oleh Bima. Padahal dulu sebelum ia menikah dengan Sarah, setelah bercerai dengan bunda nya Putri. Semua uang Bima aku yang mengatur. Namun berbeda sekali dengan sekarang, aku hanya di beri beberapa persen dari yang diberikan pada Sarah.
Setiap kali kesini, pasti perhiasan emas Sarah ganti model. Sepertinya ia punya banyak model perhiasan emas seperti gelang dan kalung serta cincin.
Sungguh anak ku ini bodoh sekali, dengan mudah ia diporoti oleh perempuan kampungan seperti Sarah.
Terdengar suara Veni berteriak memanggil ku dan memanggil Ambar. Padahal Ambar lagi ini sedang keluar. Katanya ia pingin jalan-jalan pagi ke taman kota. Mungkin ia ingin mencari hiburan. Aku tau perasaan anak ku, pasti saat ini dia sedang kesepian karena ditinggal suaminya bertugas ke luar kota.
Suara Veni sungguh berisik, mengganggu dan sakit ditelinga ku.
Saat aku keluar dari kamar untuk menemui nya, malah ia menasehati ku dengan mata nya melotot.
Katanya, seharusnya aku sudah siap sebelum ia datang. Jelas aku tak terima di nasehati seorang yang lebih muda dariku apa lagi dia seorang menantu.
Kini aku masuk kedalam mobil Veni, setelah sudah siap.
"Uang nya sudah di bawa, Bu?," tanya Veni dengan ekspresi datar.
"Ya jelas di bawa dong, Ven. Kan tujuan nya mau ke toko emas untuk membeli perhiasan." ucapku tak kalah ketus.
"Eh... ada perempuan cantik didalam mobil." ucapku saat melihat perempuan yang duduk di jok depan samping kemudi.
"Kenalkan, Bu. Aku Siska temannya Veni." ternyata dia teman Veni. Dia sangat cantik dan sangat elegan, bodinya pun sangat sedap dipandang. Berbeda dengan Veni, yang baru melahirkan satu kali aja badan nya sudah pada kendor.
Memang dia pemalas, dia tak mau berolahraga. Walau tak berolahraga, setidaknya ia melakukan pekerjaan rumah tangga, aku yakin itu akan membantu untuk menurunkan berat badannya dan mengencangkan kulit-kulit kendor nya.
Veni sangat malas untuk melakukan nya, semua urusan pekerjaan rumah di lakukan oleh asisten pribadi nya.
"Oh ya, kenalkan aku ibu mertua Veni." jawab ku sambil bersalaman dengan tangan Siska yang sudah di ulurkan padaku.
Dan yang membuat hati ku saat ini meleleh adalah saat Siska temannya Veni mencium punggung tangan ku.
Sudah cantik punya sopan santun pula, sungguh menantu idaman. Kalau dilihat dari penampilan dan cara berpakaian nya, sepertinya dia wanita karier yang punya usaha besar dan sudah sangat sukses.
Ah...sungguh perempuan idaman. Perempuan yang seperti ini lah yang cocok jadi menantu ku.
Tapi sayang nya, kedua anak lelaki ku sudah mempunyai istri.
Seandainya Bima atau Awan belum mempunyai istri, hemmm....aku akan menjadi orang tua yang sangat bahagia.
"Kita mau ke toko perhiasan yang mana, Bu?," tanya Veni.
"Yang paling besar disini donk!!?, toko itu sudah menjadi toko langganan ku." jawabku pada Veni.
"Gimana kalau kita ke toko perhiasan Mawar Emas Bu? Tadi Siska direkomendasikan temenan Siska, katanya kalau di sana model-modelnya selalu Ter up to date." usul Siska dengan nada dan cara bicaranya sangat halus dan sopan.
"Ya sudah kita kesitu saja." jawab ku sambil tersenyum. Untung saja ada Siska yang merekomendasikan toko perhiasan emas yang bagus.
Kini mesin mobil sudah di hidup kan oleh Veni. Dan ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Kamu ini sengaja mau membuat aku jantungan dan terus mati ya, Ven??!!,"
"Membawa mobil kok ugal-ugalan seperti ini." seru ku pada Veni dengan wajah penuh kesal.
__ADS_1
Kok bisa-bisanya ia mengemudikan mobil dengan kecepatan yang tinggi, padahal didalam mobil itu ada aku ibu mertua nya.
"Dasar menantu tak punya sopan santun!!!," gerutuku, sengaja aku mengucapkan ini, agar Veni mendengar nya.
Terlihat sesekali Veni menatap ku dari kaca spion dengan tatapan marah. Karena posisi duduk ku ada di jok belakang Siska.
Aku tak peduli dengan apa yang dirasakan Veni saat ini, biarkan saja dia marah, benci dan kecewa padaku.
Kalau seandainya dia akan menggugat cerai pada Awan karena sikapku padanya, mungkin itu akan lebih baik.
Biar aku bisa menjodohkan Awan dengan Siska temannya ini.
Aku pun tersenyum sendiri dengan ide-ide yang ada di pikiran ku saat ini.
"Sepertinya ibu sangat bahagia?," tanya Siska, karena saat aku tersenyum sendiri, Siska melihat ku. Sebenarnya aku sangat malu, saat Siska memergoki ku tengah tersenyum sendiri.
"Iya, Siska. Ibu sangat bahagia karena bisa bertemu dengan orang yang secantik kamu." ucapku sambil tersenyum manis pada Siska.
"Ibu bisa saja, kalau gini kan Siska jadi malu Bu." jawab Siska sambil tersenyum tersipu malu.
"Siska sudah menikah?," tanya ku pada Siska karena rasa penasaran yang sangat tinggi pada nya.
"Siska sekarang janda, Bu. Dan belum punya anak." jawab nya dengan suara agak lirih. Mungkin pertanyaan ku, membuka lagi luka hatinya lagi.
"Maafkan ibu, Sis. Bukan maksud ibu membuat kamu bersedih seperti ini." ucapku tak enak hati.
Sedangkan Veni hanya berdiam diri, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dan Veni sering menatap kesal kearah ku melalui spion.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Siska sudah tak sedih lagi." jawab Siska sambil menoleh ke belakang kearah arah dengan senyuman yang sangat manis.
"Kamu bekerja di perusahaan apa?," tanya ku. Aku yakin dia pasti menjadi sekertaris di perusahaan yang besar dan l terkenal di kota ini.
"Siska tidak bekerja di perusahaan, Bu. Tapi Siska mempunyai tiga cabang salon kecantikan di beberapa kota yang dekat dengan kota ini." jawaban dari Siska membuat ku melongo.
"Dia wanita hebat, Ven. Kenapa kamu tidak seperti dia?," ucapku pada Veni. Tapi bukannya menjawab, malah ia menatap jutek pada ku.
"Kamu sangat hebat Siska, sudah cantik, ber atitude baik dan juga menjadi wanita sukses dengan usaha sendiri. Sungguh menantu idaman." ucap ku seraya tersenyum pada Siska.
sreeeeeeett.....
Tiba-tiba Veni menginjak pedal rem dengan mendadak, dan tak dapat di hindarkan aku dan Siska pun terpental. Jidat ku kepentok jok mobil yang ada di depan ku. Lebih tepatnya jok yang saat ini tengah di duduki oleh Siska.
"Kenapa kamu rem mendadak, Ven!!!, Kamu sengaja mau membunuh ku?!!!," ucapku sangat emosi dengan kedua mata ku melotot pada Veni.
"Maaf, Bu. Kita sudah sampai di depan toko perhiasan yang di rekomendasikan Siska." jawab Veni santai dengan jari telunjuk nya menunjuk toko perhiasan yang di rekomendasikan Siska tadi.
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?!,"
"Ibu terlalu asik ngobrol sama Siska," jawab nya sambil keluar dari mobil setelah mobil terparkir rapi di depan toko perhiasan ini.
Aku dan Siska pun turun dan berjalan bersama menuju toko perhiasan itu. Sedangkan Veni berjalan sendiri di belakang ku.
Aku dan Siska berjalan berdua, sungguh sangat serasi. Sudah seperti mertua dan menantu bahagia yang akan pergi shopping bersama.
"Ada yang bisa dibantu, Bu?," sapa pelayan toko emas ini padaku dengan sangat ramah.
"Ibu mau mencari apa?," tanya Siska sambil menatap ku.
"Ibu mau cari gelang, Sis." jawabku sambil memegang pergelangan tangan ku.
__ADS_1
"Oh,,, ibu mau cari gelang?, kebetulan tempat gelang di sana." jawab pelayan toko emas itu sambil menunjuk kearah lemari yang berisi gelang-gelang.
Aku dan Siska yang di ikuti Veni di belakang, berjalan menuju petunjuk yang di katakan pelayan tadi.
"Mbak, kami mau mencari gelang." ucap Siska dengan suara yang sangat halus.
"Silahkan, ibu." jawab pelayan toko ini tak kalah ramah.
"Ibu mau mencari model yang seperti apa?," tanya Siska.
Saat mata sedang melihat-lihat berbagai macam model gelang yang ada di dalam lemari etalase.
Tiba-tiba mata ini tertuju pada satu gelang yang sama persis dengan gelang yang di pakai Sarah kemarin malam, saat makan malam dirumah ku.
"Aku lihat yang ini." ku tunjuk gelang yang disain nya sama persis dengan milik Sarah itu.
"Lihat Siska, gelang ini sangat bagus " ucapku pada Siska setelah gelang itu di berikan padaku oleh mbak pelayan.
"Iya, bu. Ini bagus, mirip sekali dengan gelang punya temanku." jawab Siska.
"Ini model limited edition Bu, yang datang hanya dua biji. Dan yang satu sudah terjual. Jadi tinggal satu ini aja yang modelnya seperti ini." ucap pelayan toko itu menjelaskan.
"Berarti, yang satu nya di beli oleh Sarah. Trus apa Sarah dan Siska itu berteman?," gumamku dalam hati.
"Tapi mana mungkin Sarah dan Siska berteman, secarakan mereka berdua beda circle." lanjutku berkata dalam hati.
"Ya sudah, aku mengambil ini saja. Berapa harga nya?," tanya ku pada pelayan yang saat inimelayani ku.
"Dua belas juta tujuh ratus lima puluh lima ribu, Bu." ucap pelayan toko emas itu.
"Ven, tambahi uang nya. Uang ibu kurang." ucapku pada Veni yang daritadi hanya diam seribu bahasa.
"Memang kurang berapa, Bu?," tanya Veni.
"Kurang tujuh juta, uang ibu hanya Lima juta saja." jawabku dengan sangat santai dan bahagia. Karena sebentar lagi aku akan memiliki gelang yang sama dengan punya Sarah.
"Bu, Veni tak ada uang sebanyak itu. Lebih baik ibu membeli gelang yang cukup dengan uang ibu saja." bantah Veni. Lagi-lagi dia menasehati ku. Memang Veni itu menantu yang tak berguna.
"Mana bisa seperti itu, Ven?!, pokoknya ibu mau gelang yang ini!!, dan kamu yang menambah kekurangan uang ibu?!," paksaku.
"Bukan kah biasa nya seperti ini?, setiap kali aku membeli perhiasan emas, kamu kan yang menambah kekurangan uang ku?, kenapa sekarang kamu berubah?!," ucapku pada Veni dengan nada pelan tapi tetap penuh penekanan.
Sebenarnya ingin sekali aku berucap kasar pada Veni istrinya Awan itu.
Namun aku harus menahan diri, karena disini ada Siska yang sedang berdiri disamping ku dan lagi disini adalah tempat umum. Aku tak mau mempermalukan diri dengan marah-marah pada Veni.
"Saat ini Veni tak ada uang, Bu. Jadi saran ku, ibu membeli gelang yang sekiranya uang ibu itu cukup." ucapan Veni masih saja sama.
"Sis, ibu boleh nggak pinjam uang mu untuk membeli gelang ini. Nanti kalau Veni sudah ada uangnya, dia akan menggantinya." ucapku pada Siska. Aku rasa Siska pasti punya uang yang jumlahnya tak seberapa itu.
"Loh? kok Veni yang menggantinya?, itukan ibu yang pinjam?!," Veni sungguh membuat ku malu. Harus nya ia diam saja, nurut dengan apa yang aku katakan.
"Terus siapa kalau bukan kamu yang menggantinya, Ven?, kamu kan menantu ku, kamu sudah kuanggap anakku sendiri. Jadi kamu juga harus melakukan hal yang sama. Anggap mertua mu ini, ibu kandung mu sendiri." ucapku pada Veni.
"Tapi Bu, kali ini Veni tak ada uang untuk mengganti uang yang ibu pinjam pada Siska....!, asal ibu tau, sudah beberapa bulan ini mas Awan tak pernah memberi Veni uang." ucap Veni.
"Kamu jangan sekali-kali menjelekkan Awan. Awan itu anak baik dan bertanggung jawab. Mana mungkin ia menelantarkan istri nya." kali ini aku tersulut emosi, karena dengan berani nya Veni menjelek-jelekkan anak ku di depan ku dan didepan Siska.
"Pokoknya ibu mau gelang yang ini, dan kurangnya ibu meminjam pada Siska." ucapku kekeh pada pendirianku.
__ADS_1
Dan Siska pun menyetujui ucapan ku dan meminjami aku uang untuk membayar kekurangan uang gelang yang aku beli.
Akhirnya aku memiliki gelang yang sama dengan milik Sarah.