DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#315


__ADS_3

"Begitu, Kean bisa bantu amma?," tanya Sarah pada anak lelakinya itu.


"Bisa, ma. Kean membantu amma apa?," tanya Kean.


"Kean tolong bantu amma bawa ini ya," Ucap Sarah sambil menyodorkan paper bag yang berisi beberapa kue kesukaan dirinya dan Kean pastinya.


"Oke amma." jawab Kean sambil mengacungkan jempol tangan kanan nya. Lalu ia mengambil tas itu dari tangan Sarah.


Dan kini mereka bertiga berjalan keluar dari mall, setelah Sarah berpamitan kepada karyawan nya.


Sarah juga tak lupa untuk memesan taksi online, sebelum ia sampai di luar mall. Agar dirinya dan anak-anak yang ia bawa tak menunggu lama kedatangan taksi online itu.


Saat ia berjalan diparkiran mobil, ia melihat Areta masuk kedalam mobil Bima.


"Hah?, jadi yang membawa mobil mas Bima adalah Areta?," ucap Sarah dengan suara sangat lirih, sehingga orang di sekitarnya tidak ada yang mendengar ucapannya, termasuk Kean dan Kay.


"Pantas saja aku tak bertemu dengan mas Bima di dalam." gumamnya lagi.


Lalu Sarah dan kedua anak kecil itu bejalan menuju tepi jalan raya. Selain agar ia mudah diakses oleh sopir taksi online yang sudah ia pesan. Sarah juga sengaja untuk menghindari bertemu dengan Areta.


"Amma, kenapa kita harus menunggu disini sih?, bukankah enakkan di tunggu disana. Kalau disini panas dan banyak asap kendaraan." protes Kean.


"Iya, sayang. Maafkan amma, Karena amma kasian pada sopir taksi online nya, kalau harus masuk kedalam halaman mall. Bisa-bisa mereka disuruh bayar ongkos parkir." jawab Sarah sambil tersenyum manis pada Kean. Padahal ia berbohong pada Kean, karena sebenarnya Sarah hanya ingin menghindari bertemu dengan Areta.


Kean pun menganggukkan kepala, ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sarah.


Kini mereka bertiga berjalan mendekati jalan raya besar, untuk menunggu taksi yang sudah dipesan.


Saat mereka berdiri, tiba-tiba mobil Bima melintas di depan Sarah.


Mobil itu pun berhenti, dan Areta membuka jendela kaca mobilnya.


"Hmm... Aku yakin sekarang kamu sudah bangkrut. Sehingga kamu tak punya mobil." hina Areta pada Sarah sambil mengangkat ujung bibir kiri nya.


Sarah sama sekali tak menanggapi nya, jangan kan untuk menjawab, menoleh saja tidak Sarah lakukan. Karena Sarah tak ingin berdebat dan ribut dengan Areta. Menurut Sarah sangat tidak pantas dirinya ribut di pinggir jalan seperti ini. Karena akan menjadi pusat perhatian orang banyak.Lagi pula di sini ia bersama dua anak kecil, sangat tidak baik untuk mental mereka kalau seandainya mereka melihatnya.


"Wah... sombong sekali ternya kamu ya?!," didiamkan oleh Sarah tak menjadi jerah untuk Areta. Di diamkan seperti itu, membuat Areta semakin terlihat emosi.

__ADS_1


Kali ini dia turun dari mobilnya, dan menghampiri Sarah. Namun Sarah tetap tak bergeming. Ia diam dan tak melihat kearah Areta sama sekali.


Dalam hati Sarah saat ini hanya meminta agar taksi yang ia pesan akan segera datang. Namun langkah Areta semakin dekat, taksi itu tak kunjung datang.


"Sarah!!," teriak Areta.


"Aku ini sedang berbicara dengan mu!!," Areta berkacak pinggang.


"Inilah kelakuan mu, kalau diajak bicara?! Dasar ya kamu itu memang tidak punya sopan santun!!!," lanjut Areta yang sudah semakin dekat.


"Pantas saja, si Laras tidak suka padamu. Dan akhirnya kamu di singkirkan dari sisi Bima." ucap Areta dengan senyum penuh hinaan.


Hufftt...Sarah membuang nafas besar. Ia mencoba menenangkan hati nya. Walau dalam hati Sarah sendiri ingin sekali berbicara kasar pada perempuan mantan istri Bima itu.


Namun lagi-lagi, Sarah harus menahan nya karena ada dua anak kecil yang sedang bersamanya.


"Kenapa kamu diam saja?!," tanya Areta dengan menyenggol bahu Sarah.


Melihat apa yang tengah di lakukan oleh Areta. Dia anak kecil yang sedang berpegang tangan Sarah. Terlihat sangat ketakutan, Kean dan Kay memegang tangan Sarah dengan sangat erat.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi taksi kita datang." bisik Sarah pelan pada dua anak kecil itu sambil memeluk tubuh nya.


"Kay, takut Tante." rengek Kay.


"Iya, amma. Kean juga takut." sahut Kean.


"Sabar ya...kalian tenang, tidak akan terjadi apa-apa." bisik Sarah sambil mengelus punggung dua anak kecil itu.


"Saraaahh!!!!," teriak Areta yang sangat jengkel dengan sikap Sarah yang tak memperdulikan nya.


Sarah menarik nafas lagi dan membuang nya, lalu ia berdiri. Kali ini dia harus menghadapi perempuan yang ada dihadapannya itu. Perempuan yang berhasil membuat anaknya ketakutan.


"Aku itu punya salah apa sih sama kamu?!, kenapa kamu sangat sakit hati banget sama aku?," tanya Sarah dengan suara pelan namun cukup tegas.


"Hah?!, kamu tanya salah kamu apa?!!," Areta bertanya balik pada Sarah.


"Ternyata dirumah mu tak ada cermin ya untuk berkaca?!," tanya Areta dengan mendekat kan bibir nya di telinga Sarah.

__ADS_1


"Cepat katakan!!, apa yang membuat mu sakit hati padaku?!, sehingga kamu selalu mencari Keributan dengan ku!!," teriak Sarah. Sarah benar-benar emosi dengan Areta. Sehingga dengan tidak sadar ia berteriak sekencang-kencangnya didepan kedua anak kecil itu.


Kean yang tak pernah melihat mana nya berteriak sekencang itu pun ketakutan. Ia langsung mendekap erat tubuh Sarah.


"Waow,,, ternyata kamu juga bisa marah ya?," ucap Areta dengan senyuman mengejek pada Sarah.


"Cukup menakutkan juga kalau kamu sedang marah," lanjutnya di ikuti dengan tertawa lebar.


Sarah yang melihat Areta tertawa pun semakin geram. Bibirnya bergetar, ingin sekali berucap kata-kata kotor pada Areta. Lagi-lagi tak di lakukan oleh Sarah. Karena ia tak mau punya citra buruk di mata anaknya.


"Cepat katakan!!, apa yang membuat mu sakit hati padaku?!," kali ini Sarah bertanya dengan suara yang rendah. Ia terus mencoba mengontrol emosi nya.


"Benar kamu ingin tahu kenapa aku sangat membenci mu?!," tanya Areta menekankan ucapan Sarah.


Dan Sarah pun menganggukkan kepala.


"Karena kamu sudah mengambil Bima dari ku!!," jawab Areta dengan mata melotot pada Sarah.


"Hem....jadi karena itu kamu sangat membenci ku?," tanya Sarah dengan senyum satu sudut bibir tertarik.


"Kasian hidup mu, Areta." lanjut Sarah.


"Kenapa kamu kasihan pada hidup ku?," tanya Areta dengan sedikit bingung, karena Sarah berkata kasihan pada nya.


"Ya kasihan, seumur hidup mu tak punya kebahagiaan. Karena hati mu penuh dengan kebencian!!," jawab Sarah.


"Dan sekarang aku sudah tak bersama mas Bima lagi, jadi bukan kah ini peluang untuk kamu agar kamu bisa menjadi nyonya Bima lagi?," ucap Sarah sambil tersenyum miring.


"Memang perpisahan mu dengan Bima itu, semua adalah rencana ku. Ha ha ha..," ucap Areta dengan tertawa penuh kepuasan.


"Kalau begitu selamat, dan semoga kalian berjodoh untuk selamanya." ucap Sarah sambil berlalu berjalan menuju taksi yang sudah datang itu. Sarah berjalan meninggalkan Areta sambil menuntun dua anak kecil dengan genggaman tangan nya yang lembut.


"Sarah!!!, Sarah!!!," teriak Areta memanggil-manggil Sarah yang sudah masuk kedalam taksi itu.


"Dasar orang kampungan, tak punya sopan santun sama sekali. Di ajak bicara malah pergi meninggalkan ku. Padahal aku belum selesai berbicara dengan mu!!," teriak Areta lagi. Areta benar-benar sangat jengkel pada sikap Sarah yang main meninggalkan nya sendiri. Padahal Areta belum selesai berbicara dengan nya.


Dengan bibir yang menggerutu, Areta pun akhirnya kembali ke dalam mobil nya yang dikendarai oleh pacar berondong nya itu.

__ADS_1


__ADS_2