DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#330


__ADS_3

 Sampai di rumah, Sarah langsung mengajak Kean untuk makan siang. Disaat makan bersama, Sarah sengaja tak menanyakan apapun yang tengah terjadi pada Kean.


Karena, Sarah takut kalau ia bertanya dalam kondisi sedih seperti ini, akan membuat pikirannya semakin tertekan.


Sarah akan menunggu sampai Kean bercerita sendiri tentang apa yang terjadi pada dirinya sekarang.


Saat makan, Kean sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


Wajah murung nya masih terlihat jelas sekali. Dan makannya juga tak lahap seperti biasanya.


Sarah semakin cemas melihat keadaan nya Kean saat ini. Mau tidak mau, Sarah harus bertanya tentang hal yang ada dipikiran anak kecil itu.


"Kean, nggak suka ya sama masakan amma?," tanya Sarah membuka percakapan antara anak dan ibu.


"Kean suka kok sama masakan, amma. Tapi..., Kean tak meneruskan omonganya, ia kembali menundukkan kepalanya.


"Tapi kenapa, nak?. Kalau Kean lagi ada masalah dengan teman, Kean bisa cerita pada Amma. Siapa tau amma bisa membantu Kean." ucap Sarah sedikit demi sedikit membujuk Kean agar mau bercerita kepadanya.


Namun, seperti yang sudah-sudah. Kean hanya diam dan tidak mau bercerita.


"Tapi, kalau Kean masih belum siap untuk bercerita kepada Amma, amma nggak maksa kok. Asalkan, Ken mau menghabiskan nasi di piring Kean." ucap Sarah dengan tersenyum manis sambil menunjuk piring yang berisi nasi dan segala lauk pauk kesukaan Kean.


Tak ada jawaban sepatah kata pun dari mulut kecil Kean. Namun Kean terlihat sedang menikmati makanan nya.


Dan itu sedikit membuat hati Sarah tenang. Walau masih ada rasa penasaran di diri Sarah pada anaknya itu.


Kini mereka berdua menikmati makanan nya di dalam kesunyian. Tak ada percakapan antara ibu dan anak. Yang terdengar hanyalah suara piring, sendok dan garpu yang bertabrakan.


"Ayah kandungnya Kean, ada dimana sih amma?," tiba-tiba Kean membuka mulut nya, dengan pertanyaan yang membuat hati Sarah terkejut dan berdegup sangat kencang.


"Sebenarnya Kean ingin sekali bertemu dengan ayah. Tapi Kean tak tau ayah ada dimana?, Dan Kean pun sudah lupa wajah ayah seperti apa." ucapnya lagi dengan suara pelan dan sangat memelas.


Belum sembuh dari rasa terkejut dan jantung berdegup kencang dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh anaknya. Kini Sarah harus kembali mengelus dada, saat mendengar pernyataan anak nya.

__ADS_1


Hati Sarah sangat hancur melihat kesedihan yang ada di hati Kean. Tak terasa air matanya pun jatuh di pipinya.


"Amma, kenapa menangis?," tanya Kean.


"Apa amma bersedih, karena Kean tanya tentang ayah?," tanya Kean lagi dengan wajah ketakutan.


Kean takut, mama nya akan marah, karena ia bertanya-tanya tentang keberadaan ayah nya.


Dengan sangat cepat, Sarah menghapus air matanya. Ia melihat rasa takut di wajah Kean.


"Apa Kean ingin bertemu dengan ayah?," tanya Sarah dengan suara yang tersendat, akibat ia menahan tangis. Sarah tak ingin menangis lagi di depan Kean.


"Apa amma mengijinkan Kean untuk bertemu dengan ayah?," tanya Kean yang tak berani menatap mata Sarah.


"Kenapa Kean bertanya seperti itu?," tanya Sarah.


"Kean takut amma akan marah sama Kean, kalau Kean minta bertemu dengan ayah." jawab Kean.


"Kean juga takut amma, hati amma sedih kalau Kean meminta untuk bertemu dengan ayah." ucap Kean lagi dengan menundukkan kepalanya. Kean benar-benar takut Sarah akan marah dengan hal ini.


Sarah menangis menjadi-jadi, ia merasa bersalah pada Kean. Karena seharusnya, Sarah lah yang harus bertanya pada Kean tentang perasaan dan keinginan Kean untuk bertemu dengan ayah nya.


Sarah lupa, kalau Kean itu semakin lama semakin tumbuh dewasa. Sehingga sudah punya keinginan didalam benaknya.


Lagi pula, itu sudah menjadi hak Kean untuk bertemu dan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.


"Jadi Kean boleh bertemu dengan ayah?," tanya Kean dengan mengangkat wajah nya dan menatap mata Sarah dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Sarah menganggukkan kepala nya dengan menahan air mata nya agar tidak jatuh di pipi. Sarah tak ingin Kean melihat diri nya menangis, jadi sebisa mungkin Sarah harus tidak menangis demi depan anak nya.


"Namun untuk saat ini, amma tidak tau keberadaan ayah Damar dimana." ucap Sarah.


"Lalu?," tanya Kean dengan wajahnya kembali bersedih.

__ADS_1


"Tapi, Kean tak usah khawatir. Bagaimana kalau besok kita mengunjungi Tante Lidya, dan kita tanya sama Tante Lidya dimana ayah damar tinggal," usul Sarah.


"Tante Lidya?," tanya Kean, karena ia merasa asing dengan nama itu.


"Iya, Tante Lidya." jawab Sarah sambil tersenyum.


"Tante Lidya itu siapa, amma?," tanya Kean dengan wajah bingung.


"Tante Lidya itu Tante nya Kean. Dia itu adik perempuan ayah Damar." jawab Sarah menjelaskan pada silsila Lidya.


"Jadi, Kean juga punya Tante lagi selain Tante Mayang?," tanya Kean dengan sangat antusias. Terlihat sekali diwajah Kean tersirat kebahagiaan.


Sarah pun menganggukkan kepalanya, dengan tersenyum. Hati Sarah kembali bahagia saat melihat anak nya sudah mau tersenyum dengan lebar.


"Apa Kean suka punya dua Tante?," tanya Sarah.


"Sukaaa...sekali, amma. Pasti hari-hari Kean semakin seru kalau Kean punya dua Tante." ucap Kean sambil memakan lagi makanan yang ada didepan nya itu dengan lahap.


"Andai saja, Tante Mayang ada disini juga. Pasti hari-hari Kean akan semakin bahagia." celetuk nya sambil tangannya memegang ayam crispy favorit nya.


"Ya sudah, Kean habis kan dulu makanannya. Amma mau siapin baju untuk Kean ya." pamit Sarah sambil berdiri dari duduknya.


Lalu Sarah mengambil piring kotor bekas dirinya, dan ia taruh di wastafel. Dan kini ia berjalan menuju kamar Kean untuk menyiapkan pakaian ganti.


Di dalam kamar Kean, Sarah menangis menjadi-jadi. Ia tak habis pikir kalau selama ini, Kean memendam keinginan yang begitu besar di hati nya. Yaitu ingin sekali bertemu dengan ayah nya.


"Kamu sekarang ada dimana, mas?, anak mu ingin bertemu dengan mu." gumam Sarah dalam isakan tangisannya.


"Jika nanti Kean bisa bertemu dengan mu, aku harap kamu bisa memberi kasih sayang selayaknya seorang ayah pada anaknya, mas!!," Sarah masih terus menangis.


"Amma!!!," panggil Kean dari ambang pintu kamar yang lupa Sarah tutup, sehingga Sarah tak tau dengan kedatangan Kean. Kean melihat Sarah menangis menjadi-jadi.


"Kenapa amma bersedih?," tanya Kean degan langkah kaki mendekat pada Sarah, yang kini duduk di bibir tempat tidur Kean.

__ADS_1


"Apa Amma sedih karena Kean ingin bertemu dengan ayah?,' tanya Kean dengan raut wajah penuh kesedihan.


__ADS_2