
Sesampainya di hotel terlihat Bianca sudah duduk dimeja dengan banyak hidangan makanan. "Tepat sekali perut ku uda sangat lapar," ucapku dalam hati.
Aku menghampiri Bianca yang saat ini memakai dress hitam selutut begitu terlihat cantik dan anggun.
"Uda lama nunggunya, sayang?," tanyaku sambil mengecup kening Bianca.
"Ya, Mar. Lumayan lama aku disini. Apa kamu masih sibuk dikantor?," tanyanya.
"Dikantor pekerjaan ku selesai tepat waktu, tadi yang lama nunggu taksi online nya. Aku kesini tadi naik taksi online, mobilku dibawa Lidya pulang," jawabku.
"Ini uda bisa dimakan?," tanyaku lagi dengan menunjuk beberapa makanan lezat yang terhidang di atas meja.
"Kamu uda sangat lapar, Mar?, kamu mau makan dulu apa mau aku dulu?," ucap Bianca menggodaku. Jujur sih aku mau dua-duanya, coba aja dipikir kucing mana yang nolak kalau di kasih ikan secara cuma-cuma.
"Sebenarnya sih aku lapar, tapi setelah melihat mu aku jadi berhasrat," bisikku tepat dibelakang telinga nya.
Tanpa aba-aba Bianca pun langsung mendekap tubuhku dan menautkan bibirnya di bibirku. Dan kita mulai menikmati awal permainan ini. Untung saja tempat yang Bianca pesan sangat private, jadi tak terlihat orang lain.
Entah mengapa setiap aku melihat Bianca, darah ini berdesir hebat. Dan hasrat ini memuncak, sampai terasa sempit di bawah sana.
Aku tersadar kalau ini tempat umum walaupun sangat private. Kulepas tautan bibir Bianca, lalu ku ajak Bianca masuk kekamar hotel yang sudah ia pesan.
Ku gendong Bianca melewati lorong hotel yang pencahayaan sangat remang-remang.
Begitu manja sikap Bianca padaku, ini yang membuat ku makin berhasrat padanya. Sesekali ku cium rambutnya yang panjang bergelombang. Bau nya sangat harum, membangkitkan gairah ku sebagai lelaki normal.
Aku buka pintu kamar hotel yang sudah di pesan Bianca, ku letakkan tubuh seksinya yang terbalut gaun berwarna hitam diatas ranjang ukuran king.
Seketika rasa lapar ku hilang saat melihat body seksi Bianca yang mulus tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh nya.
Tanpa menunggu lama dan tanpa menunggu aba-aba dari Bianca langsung ku lalap tubuh seksi Bianca. Karena hasrat ini sedang memuncak.
Seperti biasa Bianca lah yang menjadi pemimpin di permainan ini. Bianca begitu lincah bergerak di atas dada bidang ku.
Dia memulai bermain-main dengan fantasi nya, ku akui dia seperti perempuan yang maniak akan kenikmatan surga dunia.
Aku pun terkapar lemas tak berdaya untuk satu round, kulihat ada sedikit kekecewaan di wajah Bianca. Mungkin dia belum puas dengan apa yang ia inginkan.
Namun tenaga ku sudah habis-habisan, Karena seharian bekerja menguras tenaga dan pikiran. Lagian perutku saat ini sangat amat lapar sekali. Apalagi setelah pencapaian nikmat itu membuat semakin terasa lapar.
Akhirnya ku sudahi permainan ini, walau ada segurat kecewa di wajah Bianca yang terlihat seksi karena berlumur peluh keringat.
"Mar... aku belum.... ," sebelum Bianca melanjutkan kalimatnya, segera kututup mulut nya dengan jari telunjuk ku.
"Aku lapar, Bi. Kita makan dulu ya..., setelah itu terserah kamu." Ucapku pasrah pada Bianca.
"Ok, aku akan menelpon pelayan untuk membawakan makanan kesini," ucap Bianca lalu ia berdiri dari ranjang untuk mengambil gagang telepon yang ada di atas nakas.
Ia berjalan menuju sofa empuk yang berwana krem dengan tubuh tanpa selembar kain yang menempel ditubuhnya.
Body goals yang setiap wanita dambakan ada pada tubuh Bianca. Jenjang kaki nya yang mulus membuat mata yang melihat nya akan berhasrat padanya.
Mata ini terus mengikuti ia berjalan, entah mengapa setiap gerak kaki nya membuat candu bagi ku.
Suara pintu diketuk dari depan membuyarkan lamunanku. Ku buka pintu ternyata pelayan yang datang membawa beberapa makan. Ku ambil dan ku dorong rak tempat makanan itu kedalam.
Dengan lahapnya ku memakan semua makanan yang di pesan Bianca. Layaknya orang yang tak makan tiga hari tiga malam aku memakan semua nya dengan rakus. Maklumlah tenaga ku habis setelah bertempur mati-matian bersama Bianca.
Kini Bianca datang membawa sebotol wine, dan ia memberikan gelas dan menuangkannya padaku. Lalu ku minum semua sekali tegukan.
Perut kenyang dan tenaga pun kembali prima. Aku dan Bianca mengulang kembali permainan yang sempat terhenti karena masalah perut yang kelaparan.
__ADS_1
Entah berapa kali aku mengulang nya, akhirnya aku terkapar tak berdaya. Aku tertidur pulas diatas ranjang yang besar dan empuk ini. Begitu juga dengan Bianca, ia juga terkulai lemas setelah meraih kenikmatan surga dunia yang aku berikan.
Ketika ku terbangun kulihat arloji branded ku yang di belikan Bianca kemarin saat kita liburan ke Bali, menunjukkan sudah jam tiga dini hari.
Bergegas aku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini. Terlihat Bianca yang juga terbangun karena gerakan ku diatas ranjang sedikit mengguncang tubuhnya yang langsing.
"Kamu Uda bangun, Mar?," tanya Bianca sambil merenggangkan tubuh mulus nya.
"Iya, ternyata ini sudah jam tiga dinihari. Aku harus cepat-cepat pulang. Karena kulihat handphone, Sarah menelpon ku berkali-kali. Aku takut Sarah cemas dengan keadaan ku," jawab ku sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu mau mandi sekalian?," ku balikkan tubuh ku kearah Bianca saat ku menawarkan diri untuk mandi bersama.
Bianca menjawab dengan anggukan kepala dan uluran tangan yang artinya dia mau dan minta digendong.
Makin gemas aku sama gaya manja nya Bianca. Lalu ku gendong Bianca dan ku bawa ke kamar mandi. Kita mulai mandi bersama, kita saling bertukar membersihkan tubuh ini.
Lagi dan lagi, serasa tak ada puasnya untuk hal satu ini. Permainan pun terjadi dikamar mandi, aku dan Bianca sangat menikmati kenikmatan surga dunia ini. Sensasi berbeda pun tercipta saat bercinta dibawah guyuran air dari shower kamar mandi. Ku percepat alunan hentakan nya karena terburu-buru oleh waktu.
Dan berakhir dengan kepuasan yang terlihat jelas diwajah Bianca.
Segera ku pakai kemeja dan celana serta sepatu, ku ambil handphone yang ada diatas nakas untuk memesan taksi online. Namun Bianca melarang ku, karena dia juga mau pulang. Jadi sekalian Bianca mengantarkan aku lebih dulu.
Setelah Bianca selesai memakai baju dan berdandan, kita pun berjalan bersama menuju parkiran hotel.
Sampai didepan rumah aku langsung turun, karena yang membawa kemudi mobilnya adalah Bianca.
Aku berjalan menuju halaman rumah, terlihat Sarah berdiri di depan pintu. Sepertinya Sarah mendengar mobil yang datang dan berhenti didepan rumah.
Beruntung sekali tadi Bianca tidak turun dari mobil. Bisa-bisa terjadi perang dunia ke tiga aku sama Sarah, kalau dia tahu aku pulang bersama Bianca di pagi hari seperti ini.
"Mas Damar pulang dengan siapa?," Sarah bertanya sambil celingukan kearah mobil ingin tahu siapa orang yang ada didalamnya.
Lalu aku masuk rumah, dengan di ikuti Sarah yang membawa tas kerja ku.
"Mas, kamu mandi dulu atau langsung istirahat?," tanyanya.
"Tadi aku Uda mandi dikantor, jadi aku mau istirahat aja," ku lepas sepatu dan kemeja ku. Ku biarkan dada bidang ku terbuka dan lagi Sarah melihat beberapa tanda merah yang baru di dada ku.
Aku segera mengambil piyama dan kupakai untuk menutupi tanda yang menempel di tubuh ku itu.
Tatapan Sarah berhasil membuat aku semakin salah tingkah, dia tidak berkata satu kata pun. Namun diam menatap ku penuh banyak makna, sesekali kulirik sambil mengancing baju. Terlihat banyak air mata yang menggantung di mata nya. Tinggal menunggu kelopak matanya berkedip maka air mata itu akan mengalir deras membasahi pipinya.
Namun aku bertingkah seperti tak ada apa-apa. Langsung ku rebahkan tubuhku disamping Kean yang sedang tidur.
Saat kembali ku lihat ke arah Sarah, dia masih tetap berdiri mematung seperti ada banyak pertanyaan di hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Sarah
Lagi-lagi mobil mewah itu dan tanda merah, hati ini bertanya-tanya siapa perempuan yang ada dalam mobil itu.
Aku harus bisa mengungkap perselingkuhan mas Damar. Aku tahu kalau saat ini mas Damar selingkuh. Tapi aku masih belum punya bukti yang kuat.
Aku tetap berdiri menatap mas Damar dengan banyak pertanyaan di pikiran ku. Namun ku urungkan untuk bertanya, karena aku tau jawabannya akan membuat hati ku semakin kecewa.
Terlihat mas Damar salah tingkah karena tatapan ku. Namun dia pura-pura cuek dengan sikap ku ini. Padahal terlihat jelas diwajah nya ada rasa takut, karena menyembunyikan sesuatu.
Aku masih menatap nya saat ia merebahkan tubuhnya di samping Kean. Dan tak lama kemudian kudengar dengkuran halus mas Damar. Itu menandakan kalau dia sudah tidur pulas.
Bagaimana pun caranya aku harus bisa mengungkap misteri mobil mewah dan tanda merah ini. Biar pun aku harus melibatkan Sinta sahabatku dalam masalah ini.
__ADS_1
Lalu aku pergi ke dapur untuk menyelesaikan tugas-tugas ku. Seperti biasa aku harus menyiapkan makanan-makanan yang aku jual. Dan memasak untuk sarapan.
Kemarin Lidya pulang lebih awal dan membawa mobil mas Damar. Saat ku tanya mas Damar kemana, kata Lidya masih keluar ada janji dengan seseorang. Sepertinya Lidya sengaja berkata seperti itu, agar aku dan mas Damar berselisih paham.
Di prinsip ku, aku tak akan percaya kalau tak ada bukti yang menunjukkan mas Damar selingkuh.
Tapi hati ku juga tak bisa dibohongi saat melihat banyak tanda merah ditubuh mas Damar. Karena aku bukan anak kecil, aku bisa membedakan antara merah bekas kecupan dengan merah bekas digigit nyamuk.
Kalau pun mas Damar di gigit nyamuk, masa iya sebanyak itu. Emang mas Damar dari mana? dari hutan?
Aku masih bermain main dengan pikiran ku sendiri. Sambil memasak pun aku masih memikirkan hal itu.
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dan pekerjaan rumah dan orderan yang diambil ojol sudah beres. Tinggal menunggu kurir Yang akan mengambil pesanan untuk dikirim ke luar kota.
Lalu kulihat Kean juga sudah terbangun, sekarang saat nya merawat lelaki kecilku. Ku mandikan dia, dan ku ganti popok dan bajunya. Setelah beres, kulihat mas Damar masih pulas tidurnya.
Karena ini sudah siang, ku beranikan untuk membangunkan nya.
"Mas, bangun. Ini uda siang. Bukannya mas harus ke kantor?," tanyaku sambil ku goyang-goyang pelan tubuh nya.
"Makasih ya sayang buat semalam, kamu hebat memuaskan ku," ucap mas Damar dengan matanya yang masih tertutup.
Sepertinya dia mengigau, tapi kenapa dia berkata seperti itu. Hati ini semakin berdegup kencang, ingin sekali menumpah kan semua emosi yang ada di hati ini.
Namun lagi dan lagi aku nggak bisa, karena jujur aku masih sangat mencintai mas Damar. Dan satu lagi masih belum ada bukti yang kuat untuk aku mempercayai kalau mas Damar selingkuh.
Lalu ku tinggalkan mas Damar yang masih berselancar di dunia mimpi. Ada perasaan kesal pada nya, ku bawa Kean kedepan untuk mencari udara segar. Agar hati yang penuh sesak ini menjadi longgar.
Namun di luar terlihat Lidya yang sedang ngomel-ngomel. Sepertinya ia kesiangan, karena ku lihat sesekali ia menatap jam tangan branded nya yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Mbak!!!! mana mas Damar?!," teriak nya saat ia melihat ku berdiri menggendong Kean di ruang tamu.
"Mas Damar masih tidur, Lid. Di bangunin juga nggak bangun-bangun." Jawabku santai.
"Duh, gimana sih mas Damar?! Ini Uda siang, mana aku harus ketemu klien lagi," gerutu Lidya.
Lidya pun bergegas menaiki mobil mas Damar dan melajukan nya. Mungkin memang dia sedang buru-buru karena ada janji dengan kliennya.
Aku sangat menikmati indahnya pemandangan diluar sambil menimang-nimang Kean. Kurir ekspedisi langganan ku datang untuk mengambil paket makanan yang akan aku kirim.
Setelah paket makanan itu aku berikan kepada kurir nya. Aku kembali masuk, untuk menidurkan Kean.
"Sarah!!!!!!!!!!," terdengar suara tinggi mas Damar dari kamar.
Aku pun segera menghampirinya dengan sedikit berlari sambil menggendong Kean yang sedang tidur di dekapan ku.
"Ada apa mas?," tanya ku.
"Kamu ini gimana sih?! Ini sudah jam berapa?! kenapa kamu nggak bangunin aku, Sarah?!!!!," tanya mas Damar dengan nada penuh emosi.
"Sarah tadi sudah bangunin kamu mas, tapi kamu nggak bangun-bangun." Jawabku.
"Ah.....!!!!!," ia berjalan menuju kamar mandi. Dan Braakkkkkk!!!!! dia menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Seketika Kean yang sedang tidur di gendongan ku menangis sekencang-kencangnya. Mungkin karena ia kaget dengan suar pintu yang dibanting mas Damar.
Langsung ku peluk erat tubuh kecil Kean, dan segera ku bawa keluar. Namun tangisannya semakin keras, dan itu membuat mama Linda terbangun dan keluar dari kamar nya.
"Ini ada apa sih?!!! Kenapa bayi mu nangis histeris kayak gitu Sarah?!!!. Mengganggu tidur ku saja!!!. Cepat-cepat bawa keluar!! berisik tau!!!," usir mama Linda.
"Bayi kok kerja nya nangis trus, mengganggu orang lagi tidur aja," mama Linda berjalan menuju kamar nya sambil mengomel sendiri.
__ADS_1