DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kean Menangis Histeris


__ADS_3

Setelah kurasa diri ini tenang, aku segera menuju rumah mas Damar untuk mengambil Kean.


Kali ini Mayang yang menyetir mobil, karena ia khawatir kalau yang mengemudi.


Kalau menurut ku, lebih baik kita saat ini langsung kerumah mas Damar. Namun aku dan Mayang beda pemikiran. Menurut Mayang lebih baik kita pulang dulu.


Mendengar cerita nya langsung dari Reni dan yang lain. Serta melihat cctv yang ada di toko.


"Kalau terdeteksi ada kekerasan, tanpa menunggu lama kita langsung lapor polisi, mbak. Dengan bukti video di cctv." kali ini aku sangat setuju dengan usulan Mayang.


Jadi sekarang kita menuju ruko terlebih dahulu. Hati ini begitu tidak tenang, walau Kean bersama bapak kandungnya. Namun tetap ada ada keragu-raguan.


Karena dari awal mereka semua tidak pernah suka dengan kehadiran Kean.


Mulut ini terus menyebut nama Allah, agar hati lebih tenang. Sedangkan Mayang terus menguat dan menenangkan aku.


Sesekali ia memegang tangan ku, agar aku tak terlalu bersedih.


Jarak antara mall dan ruko terasa sangat jauh sekali, karena dari tadi seperti tak sampai-sampai. Seakan mobil hanya berjalan ditempat.


"Sabar ya, mbak. Jangan lupa terus berdzikir, Mayang yakin dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya semua akan dipermudah." Mayang terus menguatkan hati kuyang gundah gulana ini.


Aku menganggukkan kepala dan terus menyebut asma Allah. Sesekali ku sebut nama anak ku Kean.


"Kean, tunggu mama ya, nak. Bentar lagi mama akan datang menjemputmu." ucap ku dalam hati sambil air mata terus bercucuran.


lalu dengan cekatan, Mayang menyodorkan beberapa lembar tissue padaku. Kuambil lalu, aku lap air mata yang membasahi pipi ku.


Kini aku sudah sampai di depan ruko. Saat mobil sudah terparkir, aku bergegas turun dan berlari kedalam toko.


Saat ini toko sangat ramai, karena ini sudah masuk jam makan siang. Jadi banyak ojek online yang order, untuk diantar kepada pemesan nya.


"Reni, apa yang terjadi?," tanya ku pada Reni yang sedang melayani pembeli. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu ia selesai melayani pembeli.


Rasa ingin tau ku tentang kejadian tadi membuat aku tak bisa berfikir jernih.


"Sabar, mbak. Reni masih melayani pembeli." ucap Mayang sambil merangkul pundak ku dari belakang.


"Mbak, mana mbak pengasuh Kean? Karena dia lah yang bertanggung jawab atas Kean!!," kini aku berjalan cepat ke dalam rumah untuk mencari mbak pengasuh Kean.


"Mbak.. mbak....mbak...," panggilku sambil berjalan terus dengan cepat. Namun tak ada jawaban apapun dari nya.


Aku mencari nya didalam rumah, tak ada keberadaan nya, mana mungkin rumah sekecil ini sangat sulit mencari satu orang dewasa!


Aku segera ke dapur, kucari dia didapur tapi hasil nya pun sama. Dia tak ada disana.


"Mbak Sarah, tenang dulu ya. Sekarang kita kedepan kita lihat di monitor cctv.


Kebingungan ku menghilang kan akal jernih ku. Sampai aku lupa dengan cctv yang ada di ruko.


"Bu, Bu Sarah. Maaf atas keteledoran kami." ucap Reni yang menyusul ku kedalam rumah. Mungkin pelanggan yang ia layani sudah selesai membeli kue nya. Sehingga ia datang kemari menemui aku, untuk meminta maaf dan menjelaskan kronologi kejadian nya.


"Terus kemana pengasuh Kean sekarang, Ren?," tanya ku sedikit lebih tenang. Karena menurut cerita dari Reni, tak ada kekerasan yang di lakukan oleh mama Linda saat mengajak Kean untuk pergi bersama nya.


Namun tetap aku nggak suka dengan caranya membawa anak ku tiba-tiba seperti itu. Harusnya dia meminta ijin dulu padaku. Karena mulai dari kecil Kean sudah bersama ku.


Walau dari cerita Reni tak ada kekerasan yang di lakukan mama Linda pada Kean, aku tetap akan melihat video cctv itu setelah ini.

__ADS_1


"Kalau pengasuh Kean sekarang pergi mengejar Bu Linda, Bu." jelas Reni.


"Apa?, terus dia naik apa Ren?," tanya ku.


"Sepertinya pengasuh Kean sangat takut dan khawatir dengan keadaan Kean. Dan juga ia takut kalau ibu akan memecatnya karena keteledorannya sekarang ini. Jadi dia memutuskan mengikuti taksi mama nya pak Damar dengan naik taksi online juga." jelas Reni.


Mendengar cerita Reni tentang pengasuh Kean, aku jadi merasa terharu. Karena ada tanggung jawab besar didalam dirinya. Sampai ia berinisiatif untuk mengejar mama Linda memakai taksi online.


Aku pun tak yakin kalau ia punya uang untuk membayar ongkos taksi nya. Karena ia memang tak pernah membawa uang saat bekerja.


"Mbak.. mbak Sarah. Sini mbak." panggil Mayang yang ada diruang monitor cctv. Saat ini Mayang sedang melihat video di cctv.


Aku segera berjalan cepat menuju sumber suara Mayang.


"Ada apa, Mayang?," aku segera duduk disamping Mayang, didepan monitor cctv.


"Lihat ini," Mayang menunjuk video yang ada di monitor. Dan pandangan terus pada monitor cctv.


Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku ke monitor cctv untuk melihat video itu.


Benar yang dikatakan Reni, tak ada kekerasan yang di lakukan mama Linda saat mengajak Kean. Mama Linda terlihat memberikan beberapa makanan dan mainan pada Kean.


Mungkin itu cara nya untuk membuat Kean mau bersamanya. Bukti nya dari video yang aku lihat seperti itu.


Padahal Kean bukan tipe anak yang mau sama siapapun, kecuali orang yang memang sehari-hari bersamanya.


Tapi kenapa di video ini Kean sangat penurut sekali pada mama Linda. Mungkin ada ikatan darah yang membuat Kean mau dengan neneknya itu.


Benar yang dikatakan orang, kalau ikatan darah itu lebih kental dari pada air.


Terlihat mama Linda datang sendiri, tanpa mas Damar atau Lidya. Apalagi sama Bianca, aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin hubungan nya sama Bianca saat ini sudah tidak seperti dulu lagi.


Kini masih tetap Mayang yang duduk di kursi kemudi, karena aku tidak di perbolehkan menyetir oleh Mayang.


"Lebih cepat lagi, May." ucapku sudah sangat tidak sabar ingin segera sampai dirumah mas Damar.


"Ini Uda kenceng, mbak. Kita juga harus memperhatikan keselamatan kita sendiri," jawab Mayang. Benar yang dikatakan Mayang, mobil saat ini sudah melaju sangat kencang.


"Lagian aku yakin kok, disana Kean pasti baik-baik saja. Buktinya dia mau dengan senang hati saat diajak oleh mama nya mas Damar." ucap Mayang.


Mungkin karena memang aku nya yang sangat tidak sabaran, jadi mobil yang sudah melaju kencan masih terasa seperti jalan ditempat.


"Kean, tunggu mama ya nak, betapa tersiksanya kamu disana. Aku yakin kamu disana tak bahagia." ucapku dalam hati.


Kini mobil sudah terparkir di depan rumah mas Damar. Dan aku mendengar suara anak kecil yang sedang menangis histeris.


Ya... aku yakin itu suara Kean, karena aku sangat kenal dengan suaranya.


Aku bergegas berlari masuk kedalam halaman rumah mas Damar. Semakin dekat semakin terdengar jelas suara jeritan Kean.


Tok!


Tok!


Tok!


Aku mengetuk pintu dengan sangat keras. Namun tak ada yang membukanya.

__ADS_1


Mungkin penghuni rumah ini tidak mendengarkan ketokan pintu, karena suara tangis Kean sangat kencang.


Lalu dengan mengesampingkan tata Krama, aku membuka pintu tanpa ijin pemilik rumah. Sebenarnya hal seperti ini sangat tidak sopan, tapi bagaimana lagi? Aku tak tega mendengar suara tangis Kean yang terdengar sangat kencang. Pintu depan pun rupanya tidak di kunci.


"Hey!!! Kenapa kamu menangis terus sih?!!!! Dasar anak tak tau diri!!!,"


"Diaaaam!!!! kepalaku pusing! Mendengar kamu menangis, mulai datang sampai sekarang kok nangis nggak berhenti-berhenti!!! Memang kamu nggak capek apa?!!! Dasar anak kur@ng 4jar!!!,"


Suara itu sangat terdengar dengan jelas walau diiring dengan suara tangisan Kean yang tak kalah keras.


Jelas sekali kalau suara perempuan itu adalah suara Bianca. Aku pun berjalan menuju sumber suara tangisan Kean.


Ternyata Kean berada di ruang keluarga. Aku melihat Kean sedang duduk di lantai sedangkan Bianca berdiri tepat disamping Kean dengan berkacak pinggang.


Dan ia belum menyadari kedatangan ku. Aku berdiri dibelakang nya, dan segera kuambil handphone ku. Kali ini aku ingin merekam yang dilakukan Bianca kepada Kean.


Dan sialnya, aku menyenggol vas bunga yang ada di meja pojok ruangan.


Tiaaaarrr!!!!


Suara vas pecah pun tidak bisa di hindari, dan Bianca langsung menoleh kearah ku, dimana arah sumber suara itu.


"Sarah!!!," Bianca terkejut melihat ku. Terlihat sekali dari tatapan matanya yang membulat.


"Ada apa ini?, Kenapa berantakan seperti ini?," ucap Linda yang datang dari luar dengan membawa sekantong belanjaan. Dan di ikuti oleh mas Damar dibelakang mama Linda.


Saat Bianca mengetahui dua orang ini datang, dia langsung menggendong Kean yang sedang menangis duduk dilantai.


"Sayang, diam ya nak." ucap nya sambil mengusap air mata nya. Dan sesekali ia mengusap keringat Kean yang ada di jidatnya.


Terlihat sekali berbeda sekali sikap Bianca sebelum dan sesudah ada mas Damar dan mama Linda.


"Kenapa kamu pura-pura baik setelah ada mereka?, sedangkan tadi sebelum mereka datang kamu berteriak-teriak kepada Kean!!!," ucap ku dengan sangat emosi melihat tingkah Bianca yang memuakkan.


"Kok kamu bilang nya gitu? dari tadi aku menggendongnya saat ditinggal Damar dan mama Linda untuk membeli susu. Tapi dia tetap nangis terus." ucap nya pelan seakan-akan dia memang benar-benar baik kepada Kean. Pintar sekali dia mencari muka kepada mas Damar dan mama Linda.


"Tapi aku melihat nya dengan mata kepala ku sendiri!! kamu teriak-teriak didepan anak ku!!," Aku berjalan mendekat pada Bianca dan langsung mengambil Kean dari gendongan Bianca.


"Mama...," ucap Kean langsung memeluk ku. Tangisannya pun langsung berhenti saat berada di gendongan ku.


"Ean mau ulang Ama.... Ean no di ini." ucap Kean padaku. Aku pun menganggukkan kepala, karena aku tau apa yang dikatakan Kean.


"Apa yang di ucapkan Kean, Sarah?," tanya mas Damar pada ku.


"Dia bilang mau pulang bersama mama, Kean no disini!!!," ucap ku menerjemahkan ucapan Kean. Karena nggak semua orang akan mengerti dengan bahasa bayi. Karena setiap bayi berbeda cara bicaranya.


"Kean disini aja, bermain sama papa. Nanti papa janji Kean akan papa belikan mainan." rayu mas Damar pada Kean.


"No no no no no," jawab Kean sambil menggelengkan kepalanya dan menatap ketakutan kepada Bianca.


"Kok Kean menatap Tante begitu? bukankah Tante baik kan sama Kean?," tanya Bianca sambil berbicara sok lucu pada Kean.


"No no no no no," Kean menjawab sambil menggelengkan kepalanya.


Aku hanya tersenyum pahit saat melihat ekspresi Kean saat menolak ucapan Bianca.


"Kamu lihat kan?, anak kecil itu nggak pernah bohong." ucapku sinis pada Bianca.

__ADS_1


"Haduuhh.... Sarah kamu datang kok nggak bilang-bilang. Biarkan Kean mama gendong!," ucap mama Linda sangat manis sekali padaku, sepertinya dia lupa dengan sikap nya padaku dulu.


Lalu dia mencoba mengambil Kean dari gendongan ku. Namun Kean menolaknya, dan memeluk erat ditubuh ku. Seperti anak yang sedang ketakutan.


__ADS_2