DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kean Satu Sekolah Dengan Kayla


__ADS_3

Ku ambil handphone, segera ku cari kontak milik mas Bima.


Tut.....


Tut...


Tut...


Panggilan telepon berdering, tapi masih belum tersambung. Mungkin mas Bima sedang sibuk, jadi tak bisa mengangkat telepon dari ku.


Kucoba sekali lagi. Namun tetap, tak ada jawaban dari mas Bima.


Dan kulihat ibu mas Bima sudah pergi, dengan naik mobil milik mas Bima.


Bukannya aku melarang ibu mas Bima memakai mobil itu. Tapi aku penasaran dengan perempuan cantik dengan pakaian seksi berambut panjang yang berwarna pirang itu.


"Pak, terimakasih atas bantuannya ya." ucapku pada sopir taksi. Aku menyodorkan uang seratus ribu pada sopir taksi, untuk ucapan terimakasih. Yang seharusnya sudah mendapat orderan, karena aku bersembunyi disitu, akhirnya orderan itu di cancel oleh sopir nya.


"Tidak usah, Bu." ucap sopir taksi menolak pemberian ku, diluar ongkos taksi itu.


"Nggak apa-apa, pak. Terima saja, ini bukan uang sogokan. Tapi ini ucapan terimakasih ku kepada bapak, karena bapak telah menolong ku." aku memaksa pak sopir itu untuk menerima uang yang ku berikan padanya.


"Terimakasih, Bu." pak sopir itu akhirnya mau menerima pemberian ku.


"Sama-sama, pak. Semoga orderan hari ini ramai." ucapku sambil turun dari taksi.


"Aamiin." terdengar dari luar pak sopir taksi itu mengamini doa ku.


Aku berjalan menuju toko, alhamdulilah toko hari ini sangat ramai.


"Gimana toko hari ini, Ren?, amankah?," tanya ku pada Reni.


"Alhamdulillah aman, dan seperti yang ibu lihat. Toko dari awal buka tadi sampai sekarang masih ramai." ucap Reni yang sedang duduk di meja kasir.


"Alhamdulillah..." jawabku sambil berjalan ke dalam rumah.


Setelah menaruh tas di dalam kamar, aku baru ingat kalau aku mau menghubungi mas Bima lagi.


Tapi, ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba...


Saat aku ingin menghubungi mas Bima, ternyata mas Bima menghubungi ku balik. Setelah dua panggilan tadi tak terjawab.


"Assalamualaikum, sayang?," sapa mesra mas Bima dari sambungan telepon.


"Waalaikumsalam, mas." jawab ku.


"Ada apa istriku?, maaf tadi mas sedang repot, jadi tidak bisa mengangkat telepon mu." ucap mas Bima memberi alasan.

__ADS_1


"Iya, mas. Nggak apa-apa, aku juga tadi berpikir seperti itu." ucapku.


"Mas Bima sekarang ada dimana?," Aku tak langsung bertanya perihal mobil yang di pakai perempuan cantik berambut pirang tadi.


"Ya kerja lah, sayang. Mas sekarang ada ditoko. Emang kenapa?," mas Bima balik bertanya padaku.


"Hmm nggak ada apa-apa, mas. Tiba-tiba saja Sarah kangen sama kamu." ucapku beralasan.


"Nanti bisa kan mas Bima menjemput ku di tempat kerja?," aku memancing mas Bima, agar dia bicara sesuai apa yang terjadi pada diri nya.


"Maaf, Sarah. Sepertinya aku nggak bisa menjemput mu. Soalnya, mobil.... hmmm...," mas Bima terdengar kebingungan, sehingga ia tak melanjutkan apa yang akan ia katakan pada ku.


"Kenapa mas?, Halo?, mas Bima nggak apa-apa kan?, memang kenapa dengan mobilnya?,"


Yes, akhirnya aku berhasil masuk dalam pembahasan mobil.


"Maaf, sayang. Tadi mas ke toko tidak membawa mobil. Mobilnya aku tinggal dirumah ibu." ucap mas Bima dengan sangat jujur.


"Memang kenapa mobilnya, mas? macet?," tanya ku lagi.


"Nggak, ibu pinjam mobil mas. Katanya mau keluar sama mbak Veni," jawab mas Bima.


"Mbak Veni? bukannya mbak Veni punya mobil sendiri?," tanya ku.


"Iya, mobil mbak Veni di pakai mas Awan kerja." jawab mas Bima.


"Ide yang sangat bagus," ucap mas Bima menyetujui nya. Lalu telepon ku tutup.


Aku berjalan kedepan, untuk membantu para karyawan ku. Yang seperti nya kewalahan melayani pembeli.


"Ren, kamu layani mereka. Biar aku yang jadi kasir." aku menyuruh Reni untuk membantu karyawan lain yang sangat kewalahan melayani pembeli.


"Iya, Bu." Reni berdiri dari kursi, dan berjalan menuju customer yang sedang memilih-milih kue.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Dan toko sudah tak begitu ramai seperti tadi pagi dan jam makan siang.


Aku berpamitan pulang pada Reni, karena rencananya aku mampir dulu ke toko perhiasan.


Aku memesan taksi online, sebelum ke toko perhiasan. Aku menjemput Kean dulu di sekolahannya.


Sengaja aku menyekolahkan Kean, di sekolah yang bisa untuk penitipan anak. Jadi sekolah ini sangat rekomendasi banget buat orang tua yang sibuk kerja diluar. Yang tak mempunyai waktu menjemput anak tepat waktu.


Taksi online sudah datang, aku segera masuk kedalam nya. "Ke TK harapan bangsa, pak." ucapku pada sopir taksi online.


Baru ingat dengan ucapan mas Bima, kalau mobilnya di pinjam mbak Veni untuk mengantarkan ibu mas Bima.


Tapi perempuan tadi? itu bukan mbak Veni. Lantas siapa perempuan itu?

__ADS_1


"Aku harus mencari tau siapa perempuan itu!," gumamku dalam hati. Karena ada perasaan tidak enak di dalam hati ini.


Aku turun dari taksi, setelah sampai di depan TK Harapan Bangsa.


"Tunggu sebentar ya, pak."


"Baik, Bu."


Aku berjalan masuk, dan segera menjemput Kean.


"Amma.... kita pulang sekarang?," tanya Kean.


"Iya sayang. Kean lapar?," tanyaku sambil berjalan keluar setelah berpamitan pada guru penjaganya.


"Enggak sih." ucap Kean.


Brakkk.....


Tidak sengaja aku bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf," ucapku sambil mengambil tas sekolah yang terjatuh.


"Maaf," sekali lagi aku berucap dengan menyodorkan tas sekolah berwarna pink dengan gambar Barbie.


"Sarah!!," aku langsung kaget saat mendengar suara yang familiar di telinga ku.


"Mbak Veni?," aku berdiri setelah mengambil tas yang jatuh milik anak mbak Veni.


"Oh... ternyata anak mu sekolah disini?, tinggi juga ya impian mu!!." ucap mbak Veni dengan senyum penuh hinaan padaku.


"Ingat!!!, jangan terlalu memaksa kehendak, yang ada nanti kamu moroti uang Bima." ia menatap jijik padaku.


"Yuk, kay kita pulang. Jangan dekat-dekat dengan mereka." ucap mbak Veni pada Kayla anaknya.


"Itu kan teman Kayla, mami." ucap Kayla dengan polosnya.


"Ingat ya Kay, mami tidak suka kalau Kay berteman dengan dia!," bentak mbak Veni pada Kayla anak nya. Dan dengan segera ia menarik tangan Kay untuk menjauh dari kami yang saat ini berdiri.


Lalu mbak Veni masuk kedalam mobil. Ya, itu mobil mbak Veni sendiri, bukan mobil mas Bima.


Padahal kata mas Bima, mbak Veni meminjam mobilnya untuk mengantarkan ibu.


Tapi nyatanya yang aku lihat ini?


Yang membawa mobil mas Bima untuk mengantarkan ibu adalah perempuan lain, yang aku sendiri tidak tahu siapa dia.


Sedangkan kata mas Bima, mbak Veni yang meminjam mobil mas Bima. Namun nyatanya, mbak Veni menjemput Kayla memakai mobilnya sendiri.

__ADS_1


Ah... aku bingung memikirkan ini semua. Yang benar ini yang mana?!!!!


__ADS_2