
"Bukan aku yang menyuruhnya melakukan kesalahan itu. Kenapa aku harus membela orang yang sangat jelas salah?!," Teguh sangat keras kepala.
Kali ini Teguh mengikuti hati nuraninya, kalau pun Teguh akan di gugat cerai oleh Ambar. Ia akan menerima dengan lapang dada. Karena ia sudah tidak kuat hidup di bawah tekanan istri dan mertua yang suka nyinyir itu.
"Kamu tega, mas!," lirih Ambar sesakit hati itu mendengar ucapan Teguh, suaminya.
Teguh memang sudah capek rasa nya dengan semua yang dilakukan istri dan mertua nya.Ia sudah tak ingin berdiam diri saja.
Sedangkan genggaman tangan Bara semakin kencang di pergelangan tangan Ambar. Bara sengaja membuat Ambar kesakitan, agar ia mempunyai terasa jera, agar berhenti untuk mengganggu Sarah.
"auw... sakit." rintih Ambar dengan mata yang berkaca-kaca
"Ku mohon lepaskan tangan ku, pak Bara." kini intonasi nada suara Ambar semakin rendah. Bahkan nyaris sekali tak terdengar.
Ambar sangat malu, saat mendengar ucapan dari mulut suaminya. Ambar malu karena Teguh sedikitpun sebagai suami tak membelanya di depan orang banyak.
"Awas saja kamu menyakiti Sarah lagi?!!, Karena bukan Sarah yang akan kamu hadapi, tapi aku!!!, jangan sampai tangan mu menyentuh tubuh Sarah!!!," ucap Bara sambil melepas dengan kasar genggam pergelangan tangan milik Ambar.
Ambar pun langsung memegang pergelangan tangan kanan nya yang kesakitan itu. Terlihat jelas sekali warna merah di kulit tangan Ambar akibat cengkraman tangan Bara.
"Sarah!, lebih baik kamu pulang saja. Biarkan aku yang menunggu di sini." Bara menyuruh Sarah untuk segera pulang. Tidak hanya karena hari sudah malam, karena Bara tau, kalau sedari tadi Sarah terus di telpon oleh orang-orang rumahnya. Sepertinya Kean sedang mencari-cari keberadaan amma nya, yang sedari tadi tidak pulang.
"Enak saja kamu menyuruh perempuan ini untuk pulang!!, dia yang harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Bima!!," Laras masih menahan Sarah agar ia tak pulang lebih cepat, karena Laras tak ingin mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengobatan Bima.
"Aku yang akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Bima, yang tak lain anak ibu itu!!," ucap Bara dengan sangat tegas.
"Lagian disini Sarah tak bersalah, jadi sudah waktunya dia untuk pulang dari sini!!," lanjut Bara yang sangat geram dengan perilaku perempuan yang bernama Laras itu.
"Kalau memang seperti itu, ya silahkan saja dia pergi dari sini!!, karena memang sedari dulu Laras sudah tidak suka pada Sarah.
"Sarah kamu pulang lah, Karena hari semakin larut dan sangat dingin." ucap Bara sekali lagi menyuruh Sarah pulang. Bara sangat khawatir, Sarah akan masuk angin kalau lama-lama berada diluar dalam keadaan larut malam seperti ini.
"Tapi, pak...,"
"Kamu jangan memikirkan hal yang memang bukan kesalahan mu." ucap Bara me Otong ucapan Sarah.
__ADS_1
"Biarkan saja aku yang berada disini untuk melihat kabar lebih lanjut dari keadaan Bima." lanjut Bara.
Sebenarnya Sarah juga ingin tau bagaimana keadaan Bima saat ini. Kenapa waktu nya terasa lama, masih belum mendapatkan kabar dari Bima.
"Lebih baik kamu masuk kedalam mobil!!, dan untuk paman Udin saya nitip Sarah ya. Karena hanya paman lah yang bisa saya percaya." lanjut Bara sambil menatap wajah paman Udin di akhir kalimat nya.
"Baik pak." jawab paman Udin sambil membuka pintu depan mobil bak terbuka milik toko Sarah itu.
Ada yang aneh saat Sarah mendengar ucapan Bara pada paman Udin. Saat Bara berkata menitipkan diri nya pada paman Udin.
Namun bukan Sarah kalau tidak cuek, dia tak memperdulikan omongan Bara.
Kini Sarah dan paman Udin sudah siap pulang dengan mobil pick up yang mereka bawa tadi sore.
"Keluarga bapak Bima?," Kini suara perawat terdengar di telinga Laras, dan seketika itu semua orang yang ada disitu menatap suster yang memanggilnya.
"Maaf, Bu. Apa ibu orang tua pasien yang bernama bapak Bima?," tanya perawat itu pada Ambar.
"Iya, sus!, bagaimana keadaan anak saya sekarang?," tanya Laras.
"Alhamdulillah, anak ibu sudah siuman. Dan sudah bisa di jenguk." jawab suster itu.
"Tunggu, bu!, Apa ibu yang bernama ibu Sarah?," tanya suster itu lagi kepada Laras.
"Bukan, sus. Aku ibu nya." jawab Laras menghentikan langkahnya.
"Kalau begitu, ini jangan masuk dulu. Karena pesan pasien tadi ibu Sarah lah yang disuruh untuk masuk kedalam ruang IGD." jawab suster.
"Hah?!!, Sarah?!, kenapa harus Sarah?!!, sedangkan aku ini ibunya!!." ucap Laras tak terima dengan apa yang di ucapkan suster itu.
"Maaf, Bu. Saya juga tidak tau, itu hanya permintaan dari anak ibu saja!!," jawab suster itu.
"Sekarang mana yang namanya Bu Sarah?," kali ini suster itu bertanya pada orang-orang yang berada disitu.
Sarah yang mengurungkan niat nya untuk pulang itu pun menjawab dengan mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Saya sus, saya yang bernama Sarah." ucap Sarah menunjuk dirinya sendiri.
"Baiklah, Bu. Mari ikut saya." ajak suster itu pada Sarah.
Sarah kini berjalan di belakang suster cantik itu. Sarah tak habis pikir, Kenapa Bima masih berharap, sampai-sampai setelah sadar yang ia ingat adalah nama Sarah.
Laras semakin marah melihat pemandangan yang sangat menyakitkan bagi dirinya itu.
Tanpa disuruh, Laras pun mengikuti Sarah dari belakang. Laras juga ingin melihat keadaan Bima, anaknya.
"Benar-benar anak durhaka kamu, Bim!!, berani-beraninya kamu meminta Sarah Untuk menemui mu, Bima!!," geram Laras dalam hati.
Begitu juga dengan Bara, Bara juga mengikuti Sarah yang berjalan masuk kedalam. Bara takut, kalau Bima akan merayu Sarah.
"Silahkan ibu...," ucap suster itu membukakan pintu IGD. Memang sengaja Bima tidak di bawa ke ruang perawatan. Karena Bima sebenarnya sudah bisa pulang malam ini juga.
"Makasih, sus." jawab Sarah pada suster itu sambil tersenyum sangat Ramah.
"Aku ikut!," sahut Bara yang berada di belakang Sarah.
Sarah lumayan terkejut saat mendengar suara Bara. Karena Sarah tidak tau kalau ternyata Bara dan Laras mengikuti nya.
"Maaf, pak. Gantian ya." jawab suster itu.
Lalu sebelum masuk kedalam ruang IGD, Sarah menatap wajah Bara. Sepertinya ada aura sedih saat melihat wajah Bara. Namun entah karena apa wajah Bara seperti itu.
Dengan langkah berat, Sarah pun berjalan masuk kedalam.
"Silahkan, Bu." sambut dokter yang sudah merawat luka-luka Bima.
"Terimakasih, dok." jawab Sarah.
"Saya pamit keluar dulu ya, Bu." pamit dokter itu pada Sarah.
"Oh...iya dok." jawab Sarah.
__ADS_1
Sementara Sarah berjalan menuju ranjang dimana Bima terbaring. Dokter itu pun keluar. Namun pemandangan lain di luar ruangan saat ini, bisa di jadikan obat stres nya dokter muda itu.
Sudah pasti dokter itu akan di bom bardil seribu pertanyaan oleh Laras.