
"Apa?!!," Awan tak kalah terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Sarah.
Bukan hanya terkejut, Awan benar-benar sangat malu dengan ucapan nya sendiri.
"Sarah!, maafkan aku. bukan maksudku seperti itu,bukan maksudku menghina ibu mu. Tapi Ku benar-benar tidak tahu." Awan benar-benar malu dan ia memohon.aaf kepada Sarah.
"Maafin Awan, bum Awan benar-benar tidak tau, kalau ibu adalah ibu nya Sarah." Awan mencoba mengambil tangan ibunya Sarah, namun dengan cekatan ibu nya Sarah berhasil menghindari tangan Awan. Ibu nya tidak mau tangan nya di pegang, apalagi tangannya sampai dicium oleh Awan.
"Selesaikan masalah mu, Sarah!, setelah itu suruh mereka berdua segera pergi dari sini. Karena ibu tak ingin berlama-lama melihat mereka." ucap ibu nya Sarah pada Sarah dengan lirikan ketus pada Laras dan Awan.
Lalu ibu nya Sarah meninggal mereka bertiga di ruang tamu. Karena ia yakin Sarah akan mengambil keputusan yang tepat, yaitu segera mengusir mereka dari rumahnya.
"Ini ada apa lagi, sih?, kenapa ibu datang kesini lagi?!," tanya Sarah dengan sangat jengkel.
"Nak Sarah, ibu datang kesini mau meminta maaf pada kamu dan semua keluarga mu." ucap Laras dengan tatapan mata yang lemah lembut.
"Bu Laras, tak perlu basa-basi lagi. Lebih baik langsung ke intinya saja. Karena saya tak punya banyak waktu untuk menanggapi hal yang tak penting seperti ini." ucap Sarah dengan sengit.
"Mmmm.... Baiklah kalau memang nak Sarah ingin nya seperti itu." jawab Laras.
"Begini nak Sarah, ibu dan mas Awan kesini ingin meminjam uang pada nak Sarah." ucap Laras tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Hah??!, pinjam uang?!," Sebenarnya hal itu tak membuat Sarah terkejut. Karena sudah ke sekian kalinya, Laras seperti ini pada nya. Datang kerumah Sarah selain untuk memintanya rujuk dengan Bima, pasti meminjam uang.
"Tidak banyak kok nak Sarah. Hanya lima puluh juta saja, tapi kalau boleh sih ya seratus juta juga nggak apa-apa. Pasti ibu terima kok dengan tangan terbuka." jawab Laras yang memang sudah putus urat malu nya.
Laras berbicara sambil melirik gelang yang melingkar dipergelangan tangan Sarah. Mata nya tak lepas dari gelang yang gagal ia beli.
"Hah?, Hanya lima puluh juta kata Bu Laras?!," Mata Sarah semakin membulat sempurna.
"Iya, Sarah. Aku sangat butuh uang itu untuk menebus sertifikat rumah yang sudah digadaikan oleh Veni." sahut Awan.
"Bukankah mas Awan juga ada perusahaan?, Kenapa kalau hanya lima puluh juta harus pinjam ke saya!!," jawab Sarah dengan ketus.
"Awan masih belum bisa mengambil uang dari sana, Sarah. Karena Awan dan Veni masih dalam proses perceraian," jawab Laras.
__ADS_1
"Maaf Bu Laras, Sarah tidak bisa memberi pinjaman itu pada ibu Laras." jawab Sarah dengan tegas.
"Sarah aku mohon, pinjami aku uang itu. Kalau aku tak dapat uang itu malam ini, rumah ibu ku akan di sita, Sarah. Apa kamu tak kasihan pada kami?," ucap Awan.
"Atau paling tidak kasihanilah Bima, mantan suami mu itu Sarah. Kalau rumah ku disita, mau tinggal dimana lagi kita?!," sahut Laras dengan menangis.
"Maaf, itu sudah bukan menjadi urusan ku." jawab Sarah dengan ketus.
"Kalau semuanya sudah selesai, ibu Laras dan mas Awan bisa pergi dari sini. Karena saya mau istirahat" dengan tegas Sarah mengusir Laras dan Awan.
"Tapi masalah ini belum selesai Sarah, kalau kamu tak meminjami kami uang." jawab Laras dengan suara agak tinggi.
"Ayolah Sarah, pinjami kami seratus juta saja." Laras kembali memohon dan merengek dengan suara yang pelan.
"Seratus juta?," tanya Sarah.
"Iya seratus juta, ibu rasa cukup." jawab Laras.
"Bukannya hutang pada Siska hanya lima puluh juta, Bu?," tanya Awan dengan alis bertaut.
"Lalu? Kenapa ibu mau pinjam pada Sarah seratus juta?," tanya Awan lagi.
"Ya yang lima puluh juta buat ibu beli gelang yang kemarin ibu lihat itu." jawab Laras tanpa rasa malu.
"Ya ampun ibu...!!, disaat genting seperti ini, kenapa ibu masih memikirkan gelang itu??!!," ucap Awan dengan wajah menahan emosi pada Laras.
"Karena gelang itu bagus, Wan. Lihat aja itu." Laras menunjuk gelang yang dipakai Sarah.
"Bagus Kan?!, kemarin gelang yang ingin ibu belikan seperti itu, Wan." ucap Laras dengan manja.
"Tapi yang harus kita pikirkan saat ini adalah bagaimana kita segera menebus sertifikat rumah sebelum jatuh tempo, Bu." jelas Awan.
"Kalau bisa dua-duanya ya itu akan lebih baik." sahut Laras.
"Ibu yakin Sarah akan meminjami kita seratus juta." lanjut Laras dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Sarah, kamu jangan ragu meminjami ibu uang seratus juta. Karena uang itu akan segera di kembalikan beserta bunganya, Sarah." Laras mencoba meyakinkan Sarah.
"Tapi jawaban saya masih sama, Bu. Maaf, aku nggak bisa meminjami uang sebanyak itu." jawab Sarah dengan tegas.
"Sekarang sudah jelaskan jawabannya apa?, jadi ibu bisa pergi dari rumah ini." ucap Sarah dengan menunjuk pintu keluar.
"Sarah, kamu mengusirku?!." tanya Awan.
"Iya, mas. Karena ini sudah malam dan aku juga butuh istirahat." jawab Sarah.
"Aku mohon Sarah, pinjami aku uang itu. Aku janji setelah uang ku keluar, aku akan segera mengembalikan nya pada mu beserta bunga nya." ucap Awan dengan menangkupkan kedua telapak tangan nya.
"Maaf, mas. Aku bukan rentenir." jawab Sarah.
"Lebih baik kalian pulang saja, aku takut suara kalian mengganggu istirahat Kean anak ku." ucap Sarah yang sangat kesal dengan dua orang yang tak tau malu itu.
"Kamu sangat tidak sopan ya Sarah!!, kami ini Taku dirumah mu!!, apa seperti itu perlakuan mu pada tamu?!," Laras mulai terpancing emosi nya. Sebenarnya dari tadi ia sudah ingin sekali marah pada Sarah, namun masih bisa ia redam. Barangkali saja Sarah berubah pikiran dan mau meminjam kan uang seratus juta.
Namun Sarah yang sekarang bukan Sarah yang dulu. Yang dimanfaatkan saja. Karena sakit hatinya dulu menjadi pelajaran bagi hidupnya saat ini.
"Aku sangat menghormati tamu, tapi tamu yang tidak seperti Bu Laras. Yang datang hanya karena ada butuhnya saja. Akan baik dan lembut kalau ada yang diinginkan, tapi menjadi jahat kalau sudah tercapai tujuannya." jawab Sarah.
"Ayo kita pulang, Awan!!!, harga diri keluarga kita sudah di injak-injak dan di permalukan oleh perempuan kampungan ini!!," Laras tak terima dengan ucapan Sarah.
"Ya memang lebih baik seperti itu." sahut Sarah dengan tangan dilipat di dada nya.
"Tapi, Bu. Kita coba bicara dengan keadaan tenang, jangan emosi seperti ini. Awan yakin Sarah akan membantu Kita." Awan masih memaksa Laras untuk mau bicara baik-baik dengan Sarah.
"Maaf, mas. Keputusan ku sudah bulat dan aku tak bisa memberi pinjaman sebanyak itu." Sarah sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Mendengar itu, Laras langsung menarik tangan Awan, Laras mengajak Awan keluar dari rumah Sarah.
"Bu, tunggu....kita belum pamitan dengan ibunya Sarah." Awan sedikit memberontak saat Laras menarik tangan nya untuk mengajaknya keluar.
"Tidak perlu pamitan pada manusia-manusia kampungan itu!!!, Mereka sudah menginjak-injak harga diri keluarga kita!!!," ucap Laras sambil berjalan menuju taksi yang sudah dari tadi menunggu di depan rumah Sarah.
__ADS_1