
"Kamu menunggu siapa disini?!, kenapa kamu tak pulang saja!!," tanya Teguh yang masih setia menunggu istri dan mertua nya saat melihat Bara seperti sedang frustasi itu.
"Aku masih menunggu Sarah, mas." jawab Bara dengan suara lemas.
"Kenal dimana kamu dengan Sarah?, aku rasa Sarah tidak mungkin punya teman seperti kamu." tanya Teguh penuh selidik. Karena Teguh curiga kalau Bara ada maksud lain pada Sarah.
Karena tak mungkin saja, ada seorang yang tulus kalau tidak punya maksud lain.
"Aku yang menyuplai bahan-bahan baku pembuatan kue di toko Sarah , mas." jawab Bara dengan jujur.
"Oh... Jadi kamu bukan teman dekat nya?, lebih baik kamu pulang saja!!," ucap Teguh dengan nada sedikit mengusir Bara.
"Tapi aku khawatir Sarah kenapa-kenapa, mas." jawab Bara.
"Sarah disini tidak sendirian, ada aku dan ada juga supir Sarah. Jadi aku pastikan dia akan bersama kami." jawab Teguh.
"Bentar lagi mas, tanggung. Biar saja aku menunggu nya disini." jawab Bara yang masih anteng duduk di bangku yang berada di parkiran mobil.
Tak lama kemudian, Sarah berjalan keluar menuju parkiran mobilnya.
"Sarah!!, kamu baik-baik saja?!," tanya Bara dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Pak, bapak kira saya ini anak bayi yang tidak bisa melindungi diri saya sendiri?," tanya Sarah dengan sedikit kesal pada Bara, yang menurut Sarah sangat keterlaluan itu.
"Sarah kira bapak sudah pulang dari tadi, eh ternyata kok masih ada di sini." ucap Sarah sambil berjalan melewati Bara yang sedang duduk untuk menuju ke mobilnya.
"Sarah!!, kamu mau kemana?," teriak Bara yang baru sadar kalau Sarah sudah sedikit jauh meninggalkan nya.
"Saya mau pulang, pak. Lebih baik bapak pulang sana!!," ucap Sarah dengan sinis. Ia sengaja menghindari Bara, agar tak menimbulkan masalah-masalah baru. Karena hidup Sarah sudah terlalu capek dengan banyak masalah.
"Aku akan mengantarkan mu," ucap Bara sambil berdiri dari duduk nya.
"Tidak perlu, pak!!, Bapak tidak perlu mengantarkan saya pulang!!," larang Sarah.
"Tapi ini sudah malam, Sarah. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." paksa Bara.
"Cukup, pak!!, hentikan semua ini!!," Sarah sangat emosi dengan kelakuan Bara yang sangat over. Padahal dia bukan siapa-siapa nya.
"Apa aku salah mengkhawatirkan mu, Sarah?," tanya Bara.
__ADS_1
"Salah, pak. Sangat salah sekali." jawab Sarah.
"Aku takut terjadi apa-apa kepada mu, Sarah. Apalagi ini sudah malam. Kamu itu perempuan." Bara terus beralasan.
"Apa kamu lupa, pak? Kalau aku juga ada sopir?!, jadi bapak tidak perlu repot-repot untuk mengkhawatirkan saya!!," ucap Sarah sangat kesal pada Bara.
"Iya, Sarah. Aku lupa." jawab Bara dengan suara lirih.
Dan Sarah pun pergi meninggalkan Bara, Sarah berjalan menuju mobil yang terparkir.
"Pulang sekarang, Bu?," tanya paman Udin.
"Iya, pak." jawab Sarah yang langsung merebahkan tubuhnya di jok mobil. Tubuh Sarah terasa capek dengan kejadian yang sudah dilalui hari ini.
"Tapi sebelum paman udin mengantarkan saya pulang, kita mampir ke toko dulu ya paman. Kita bongkar dulu bahan-bahan kue ini. Agar besok pagi proses pembuatan kue nya tidak telat." ucap Sarah.
"Iya, Bu." jawab paman Udin sambil menganggukkan kepala nya.
"Nanti mobilnya paman bawa pulang aja. Besok pagi paman bisa bawa kembali ke toko." ucap Sarah, lalu ia memejamkan matanya. Ia sudah terlalu capek dan mata nya sudah tidak bisa di tahan lagi, ingin segera di pejamkan.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, kini mobil yang di kendalikan paman Udin telah sampai di depan toko roti milik Sarah.
"Jadi tidak tega mau bangunin bu Sarah." gumam paman Udin bicara sendiri.
"Tapi kalau nggak di bangunkan, bagaimana aku masukkan bahan-bahan kue ini?," ucapnya lagi.
"Jadi bingung," paman Udin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku bangunin aj lah, karena ini sudah malam. Kasian den Kean nanti mencari-cari amma nya." ucap lagi.
"Bu, ibu....," paman Udin memanggil Sarah dengan suara sangat pelan.
Ia takut mengagetkan majikan nya yang sedang tidur sangat pulas. Paman Udin juga tak berani menyentuh tangan Sarah, sekalipun itu hanya bertujuan untuk membangunkan nya.
"Bu, Bu Sarah, bangun Bu. Kita sudah sampai." paman Udin mencobanya sekali lagi. Ia tak mau menyerah begitu saja.
Namun tetap saja Sarah masih belum bangun. Mungkin karena kecapean, jadi Sarah sangat pulas tidurnya.
Ide pun muncul di otak paman Udin.
__ADS_1
"Ahaaa....," ucapnya sambil menautkan jari-jari tangan nya.
Paman Udin segera membuka kaca jendela mobil pick up yang mereka tumpangi itu. Sesuai dengan rencana paman Udin, angin pun semilir masuk kedalam mobil.
Sarah pun menggigil kedinginan, dan ia langsung membuka matanya. Karena merasa tidurnya sedang tidak nyaman.
"Paman Udin?," ucap Sarah saat pertama kali saat ia buka mata melihat laki-laki tua itu.
"Alhamdulillah, akhirnya Bu Sarah bangun. Maafkan paman ya Bu, sudah mengganggu tidur ibu dengan membuka jendela mobilnya." ucap paman Udin sambil menangkupkan kedua telapak tangan nya.
"Dari tadi Bu Sarah sudah saya bangunkan tapi kelihatannya Bu Sarah sangat lelah hingga tertidur sangat pulas sekali." lanjut paman Udin.
Sarah yang masih menata kesadaran nya itu pun masih belum menanggapi ucapan paman Udin.
Setelah kesadaran nya sudah kembali, Sarah mulia memahami apa yang dikatakan oleh paman Udin.
"Nggak apa-apa, pak. Sarah yang seharusnya minta maaf. Karena Sarah tertidur, paman Udin jadi nggak pulang-pulang." ucap Sarah sambil tersenyum pada lelaki yang usia nya lebih tua dari bapaknya itu.
Sarah pun turun dari mobil, lalu ia berjalan menuju gudang penyimpanan bahan-bahan pembuatan kue, dan di ikuti oleh paman Udin dibelakang nya yang sedang membawa bahan-bahan kue.
Setelah pintu di buka, paman Udin pun masuk untuk menaruh bahan bawaan nya itu.
Tiga kali bolak-balik, dari mobil ke gudang toko. Akhirnya selesai sudah pekerjaan paman Udin.
"Sudah selesai, Bu. Ini kuncinya." ucap paman Udin pada Sarah sambil menyerahkan kunci gudang.
"Makasih ya, paman." jawab Sarah sambil mengambil kunci dari tangan paman Udin.
"Ini sudah malam, lebih baik paman pulang bawa mobil ini. Paman Udin sangat capek, jadi secepatnya paman beristirahat." ucap Sarah pada paman Udin.
"Lalu, ibu pulangnya gimana?," tanya paman Udin.
"Biar saya naik taksi online saja, paman." jawab Sarah.
"Tidak usah, Bu. Itu sangat bahaya, karena hari sudah larut dan ibu perempuan hanya seorang diri. Biar paman saja yang antar Bu Sarah sampai depan rumah." ucap paman Udin yang tidak setuju dengan usulan Sarah.
"Tapikan paman Udin juga butuh cepat-cepat istirahat, paman." ucap Sarah.
Namun Paman Udin masih dengan pendiriannya untuk mengantarkan Sarah kerumahnya.
__ADS_1
Akhirnya Sarah pulang dengan diantar oleh paman Udin.