
Pagi ini kita sarapan bersama di meja makan dengan menu seadanya. Hari ini hari libur, jadi anak-anak tak ada yang masuk ke sekolah.
"Put, setelah ini kamu siap-siap!," perintah mas Bima pada Putri.
"Memang mau kemana, yah?," tanya Putri.
"Kita mau jemput uti dan akung." jawab mas Bima.
"Uti dan akung?," tanya Putri heran, mungkin baru kali ini ia tau kedua orang tua ku. Karena sewaktu mas Bima menikahi ku, Putri tidak diajak datang. Dengan alasan nya ia sekolah.
"Siapa itu, yah?," tanyanya lagi.
"Uti dan akung itu ayah dan ibu mama Sarah." jawab mas Bima dengan menyendokkan nasi yang sisa satu sendok ke dalam mulutnya.
"OOO..," jawab Putri singkat.
"Kalau gitu Putri nggak ikut saja. Karena kata nenek rumah nya jauh, dan pasti itu akan sangat melelahkan." bantah Putri.
"Tidak ada alasan untuk tidak ikut, jadi semua nya harus ikut." ucap mas Bima dengan tegas.
Putri yang awalnya membantah perintah ayahnya, kini ia tak berkutik sama sekali saat melihat wajah mas Bima.
"Baik, yah." jawab Putri pasrah.
Setelah sarapan ia langsung kedalam kamar nya untuk bersiap-siap. Sedangkan aku dan Kean memang sudah siap sedari tadi.
Apalagi Kean, yang memang sudah antusias mulai kemarin ini bertemu akung dan utinya.
Aku dan Kean duduk santai di sofa ruang tamu, untuk menunggu Putri dan mas Bima yang sedang bersiap-siap.
Kini kami berempat berangkat menuju kampung untuk menjemput ibu dan bapak.
Di sepanjang perjalanan, terlihat Putri wajahnya selalu cemberut. Beda dengan Kean yang terpancar ke bahagian di wajah mungilnya.
Sampai di kampung, rasanya Putri enggan turun dari mobil.
"Yah, Putri tunggu disini ya?," bisik Putri pada mas Bima. Walau ia berbisik, tapi aku mendengar nya.
"Kita semua turun!," tegas mas Bima.
" Nggak mau... pokok nya Putri mau disini!," rengek nya.
"Ya sudah, terserah Putri saja!," sepertinya mas Bima tak mau ambil pusing dengan apa yang dilakukan Putri.
__ADS_1
Kami bertiga berjalan di halaman rumah, menuju gubuk ibu dan ayah.
Sedangkan Kean sudah berlari terlebih dahulu, sepertinya ia memang sudah tak sabar untuk bertemu dengan akung dan uti nya.
"Akung... uti....," teriak Kean dari halaman rumah sambil berlari menuju rumah.
Pintu terbuka terlihat bapak dan ibu menyambut tubuh kecil Kean yang berlari ke arah nya.
Terlihat mereka bertiga melepas rindu, mereka berdua bergantian menggendong Kean.
"Assalamualaikum, pak, Bu." aku mengambil tangan ibu dan mencium punggung tangannya, Dan bergantian dengan bapak.
Dan mas Bima pun melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan.
"Waalaikumsalam," jawab serentak mereka berdua.
"Ayo masuk nak Bima!," ibu mempersilahkan mas Bima untuk masuk, sedangkan bapak masih dengan posisi menggendong Kean.
Kean sama sekali enggan turun dari gendongan akung nya. Sepertinya rasa kangennya sangat besar kepada akung nya itu.
Mas Bima duduk di bangku yang terbuat dari bambu, dan ibu berjalan ke arah dapur.
"Ibu mau kemana?," tanya ku.
"Ibu, ibu nggak usah repot-repot. Kalau ibu sudah siap, lebih baik secepatnya kita berangkat." ucapku.
"Sarah, kasihan suami mu yang capek nyetir mobil. Istirahat lah beberapa menit dulu." ucap ibu sambil mengelus lengan ku.
Aku hanya bisa pasrah dengan ucapan ibu, dan aku kembali ke mas Bima yang sedang duduk santai di bangku bambu di dalam rumah ku.
"Kita, disuruh istirahat dulu mas." ucapku pada mas Bima yang sedang bermain benda pipih nya.
"Iya, nggak apa-apa Sarah. Lagian tangan mas juga sedikit capek." jawab mas Bima sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangan nya.
Aku pun duduk disamping mas Bima, yang melanjutkan bermain dengan gawai nya.
"Mas, kamu yakin Putri di tinggal di dalam mobil?," tanyaku pada mas Bima. Karena ada perasaan tak tega, kalau dia harus kepanasan berada dalam mobil.
"Itu kan permintaan nya." jawab mas Bima dengan terus menatap layar handphone nya.
"Coba kamu lihat lagi, mas!," perintah ku.
Mas Bima pun berdiri dari duduknya, dan handphone nya ia masukkan kedalam saku kemejanya.
__ADS_1
Terlihat ia berjalan menuju mobil yang terparkir. Lalu ia membuka pintu mobilnya.
"Mana suami mu, Sarah?," suara ibu mengagetkan aku yang saat ini menatap mas Bima di mobilnya.
"itu Bu." jawabku dengan tangan ku menunjuk mas Bima yang berdiri di samping mobilnya.
"Ngapain dia, Sarah?," tanya ibu dengan menaruh dua cangkir teh hangat diatas meja.
"Lagi membujuk Putri, Bu. Agar dia mau turun." jawab ku.
Secangkir teh yang ibu berikan padaku, langsung aku seruput dengan pelan dan hati-hati. Karena kalau tidak, bisa-bisa bibir dan lidahku ini kepanasan.
"Ah... nikmat sekali Bu," ucapku setelah menelan teh manis yang ibu buat. Kini cangkir yang berisi teh itu, aku taruh diatas meja.
Terlihat mas Bima masih berdiri, di tempat yang sama. Mungkin Putri masih tak mau turun danasuk kesini.
"Memang kenapa Putri tidak ikut turun, Sarah?," tanya ibu.
"Katanya ia masih ngantuk, Bu. Karena berangkat nya tadi pagi-pagi banget." aku berbohong pada mu. Ini sengaja aku lakukan agar ibu tidak berfikir macam-macam tentang Putri.
"Kean kemana, Bu?," tanyaku mengalihkan omongan tentang Putri. Karena malas juga kalau terus-terusan membicarakan anak itu.
"Sepertinya di bawa bapak mu kebelakang, Sarah. Mungkin melihat ikan-ikan yang ada di Empang." jawab ibu.
"Biar ibu lihat dulu." ucap ibu seraya berdiri dari duduknya. Dan berjalan menuju ke belakang rumah.
Setelah sekian lama berdiri disana, mas Bima akhirnya berjalan kesini. Dan kali ini Putri mengikuti nya dari belakang, dengan wajah yang cemberut.
"Diminum mas teh nya." ucapku dengan menunjuk teh di atas meja.
"Iya, Sarah." mas Bima langsung mengangkat cangkir yang berisi teh buatan ibu.
"Ah.... aroma teh nya sangat wangi, sar." ucap mas Bima.
"Pusing di kepala rasanya langsung hilang, saat menghirup aroma teh ini." lanjut mas Bima dengan mata terpejam ia menghirup teh panas yang ada di cangkir itu.
"Kamu bisa saja, mas." ucap ku seraya tersenyum konyol, melihat tingkah laku mas Bima.
Sedangkan sedari tadi, Putri tak mengucapkan sepatah kata pun. Dan wajahnya masih sama, masih penuh dengan tekukan. Tak ada senyum yang bersifat di wajah dan bibirnya.
"Kapan kita pulangnya, yah?," tanya Putri pada mas Bima. Sepertinya ia memang tak nyaman berada dirumah ini.
"Tunggu sebentar, kamu sabar aja dulu." jawab mas Bima.
__ADS_1