DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Antara Mobil Mewah, Sinta, Dan Tanda Merah


__ADS_3

"Kean, Keandra Sadam Saputra nama nya mas," ucapku memberi tahu nama panjang anaknya.


"I..iya,,, ini, dia tadi nangis jadi aku gendong. Mungkin dia haus," ucap mas Damar seperti salah tingkah karena ketahuan lagi menimang Kean. Dia langsung menyodorkan Kean padaku. Aku rasa mas Damar juga sayang sama Kean tapi mungkin dia masih gengsi.


"Ya uda,,, sini Kean aku yang gendong, mas Damar makan aja dulu. Keburu masakannya dingin," ucapku sambil mengambil Kean dari mas Damar.


"Iya.." Jawabnya singkat dan langsung keluar dari kamar menuju meja makan.


Aku mengikuti dibelakangnya dengan menggendong Kean. Bertujuan agar nenek dan tante nya tau kalau ada penghuni baru dirumah ini.


Terlihat di meja makan sudah berkumpul semua, mas Damar pun ikut duduk bersama mereka.


Dan aku memperkenalkan Kean pada mama Linda, tapi sayang mama Linda tak merespon nya dengan baik.


"Ini Kean ma, cucu mama," ucapku sambil mengulurkan Kean berharap mama Linda mau menggendong nya.


"Haduh, kamu ini nggak tau situasi sekali sih. Aku ini mau makan, nggak mau gendong anak mu. Udah-udah bawa kesana. Ganggu aja!!!! Dikira aku ini baby sister mu apa?! disuruh gendong-gendong bayi!!!," ucapnya ketus sambil menolak Kean.


"Udah mbak, nggak semua orang itu suka sama anak mu. Jadi jangan maksa orang untuk menyukai anak mu!." sahut Lidya tak kalah menyakitkan omongan nya.


Entah kenapa, Kean pun tiba-tiba menangis. Mungkin karena dia sedang haus.


"Mas, tolong gendong Kean dulu. Sarah mau cuci tangan, kelihatan nya Kean haus mas," ucapku pada mas Damar, karena mas Damar belum mulai makan jadi ku beranikan meminta tolong pada nya


Mas Damar pun segera mengulurkan tangannya untuk meraih Kean yang berada dalam gendongan ku.


"Kamu ini!!! istri kurang ajar ya?!, ada suami mau makan malah disuruh gendong bayi mu!!!. Damar itu mau makan, Sarah!!!. Udah Damar kasih bayi itu pada Sarah, kamu lanjut makan saja," teriak mama sangat keras sekali membuat Kean semakin menangis. Padahal biasa nya Kean kalau ada suara keras tak pernah terganggu. Apa mungkin karena suara mama Linda sangat amat keras sekali, jadi Kean terganggu?.


Yang aku sesalkan mas Damar malah menuruti semua perkataan mama, untuk tak menggendong Kean. Dia malah menghentikan tangan nya untuk mengambil Kean dari gendongan ku dan beralih menyendok nasi ke piring nya untuk melanjutkan makan.


"Mas, kenapa kamu nggak mau gendong Kean dulu?," tanya ku dengan air mata menetes di pipi dengan sendirinya tanpa ada aba-aba dari ku.


"Ini waktunya makan Sarah, aku mau makan dulu. Lagian kamu kan ibu nya, jadi udah jadi kewajiban mu menggendong Kean," ucapnya tak kalah menyakitkan dari omongan mama nya.


Seketika aku pun berlari ke kamar untuk menyusui Kean yang sedang menangis. Aku ikut menangis karena kecewa dengan sikap mas Damar pada Kean anaknya.


Sampai dikamar, aku mengganti popoknya dulu. Agar Kean tetap nyaman, setelah itu aku mulai menyusui nya. Kean pun sudah mulai tenang dan tidur lagi, karena bayi seumur Kean ini masih sering tidur.


Kean pun tertidur dengan nyenyak, dan aku bergegas ke belakang untuk membereskan baju-baju kotor milik mama Linda , Lidya dan mas Damar.


Sepertinya mereka lagi bercerita tentang liburannya, terlihat sekali wajah bahagia mereka, karena sesekali mereka tertawa terbahak-bahak.


"Dasar manusia-manusia tak punya hati," gumamku.


Semua pekerjaan rumah sudah selesai, badan terasa capek. Dan ku rebahkan tubuhku disamping Kean yang sedang terlelap.


Karena mata ini tak ngantuk, akhirnya aku putuskan untuk mengetik novel online ku di noveltoon. Kulihat mas Damar lagi nonton tivi, jadi ku percepat untuk menyelesaikan tulisan ku. Karena aku tak ingin mas Damar tau pekerjaan ku.


Setelah ku up beberapa bab novel, ku pejamkan mata ini bertujuan untuk beristirahat sejenak.


Drrrttttt


Drrrttttt


Namun tiba-tiba handphone ku berbunyi. Kuraih handphone yang berada diatas nakas kecil disamping tempat tidur ku.


"Assalamualaikum, Sin," sapa ku pada Sinta yang menelepon ku dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam, Sarah. Gimana kabarmu? apa suami dan keluarganya udah pulang?, sekarang kamu ada dimana? kirim alamat mu. Aku ingin berkunjung kerumah mu." jawab Sinta dengan memberondong ku dengan banyak pertanyaan.


"Sabar sin, kalau bertanya satu-satu aja biar aku nggak bingung mau jawab yang mana dulu," ucapku dari sambungan telepon dengan senyum-senyum karena ulah teman ku ini. Sifatnya emang nggak pernah berubah, dari dulu selalu perhatian pada ku.

__ADS_1


"Kamu share ya alamat mu, aku mau kesana. Mumpung aku masih libur kerja, karena baru tadi pagi aku pulang dari luar kota," terdengar suara Sinta dari sebrang telepon masih seperti kecapean.


"Iya Sin, abis ini aku kirim lewat pesan. Mending kamu istirahat dulu, kasian kamu seperti nya kamu masih capek." ucapku.


"Iya Sarah, udah ya aku tutup telepon nya. Assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil memutus sambungan telepon dari Sinta.


Ku kirim alamat ku lewat pesan singkat pada Sinta, agar dia tau tempat tinggal ku. Tapi aku suruh Sinta kesini saat semua orang tak ada dirumah. Karena takut Sinta kena mental karena ke julitan mama Linda dan Lidya.


"Siapa yang telepon Sar? kok kamu senyum-senyum sendiri gitu? kayak orang gila aja!," tanya mas Damar yang ternyata dari tadi melihat ku senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan dengan Sinta.


"Hmmmm... ini mas, temanku." Jawabku santai.


"Sejak kapan kamu punya teman disini?, bukankah kamu dari desa? jadi mana mungkin kamu punya teman di kota?." Ucapnya dengan tatapan menghina.


"Iya mas, ini aku berbalas pesan dengan teman ku yang di desa. Dia mau main kesini katanya," jawab ku enteng karena kalau meladeni omongan mas Damar hanya buang-buang tenaga saja.


"Aku mau istirahat, capek," ucap mas Damar sambil merebahkan tubuhnya di samping Kean yang masih terlelap.


Aku sudahi berbalas pesan dengan Sinta, karena takut mas Damar terganggu. Aku mulai berselancar di dunia maya, aku mulai promosi makanan lagi untuk dijual besok. Dan alhamdulilah sekarang aku sudah punya beberapa alat yang pendukung untuk pengiriman luar kota. Sehingga makanan itu tidak gampang basi sampai di rumah orang pemesanan nya.


Setelah foto-foto makanan aku share di Facebook dan WhatsApp, aku pergi kebelakang untuk menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak nanti malam biar pagi nya bisa dikemas. Aku memang menjual makanan frozen agar muda di kirim keluar kota.


Handphone ku berbunyi berkali-kali, ternyata notifikasi dari Facebook dan WhatsApp. Saat ku membukanya satu persatu ternyata mereka semua memesan makanan yang aku jual. Alhamdulillah kali ini lebih dari dua puluh bungkus makanan frozen yang siap dikirim.


Saat lagi sibuk di dapur, terdengar mama Linda sedang telepon dengan teman nya. Sepertinya dia lagi bahagia karena sesekali tertawa dan memamerkan beberapa barang-barang branded nya yang di dapatnya kemarin.


"Sarah, aku sama Lidya mau pergi arisan. Jadi malam ini kamu tidak usah masak, karena nggak ada yang makan. Kamu cukup makan masakan sisa tadi pagi aja. Kayaknya tempe goreng masih ada tuh tinggal dua. Kamu harus pinter-pinter mengolah keuangan biar nggak boros!," ucap mama Linda.


"Tapi ma, Sarah kan menyusui jadi butuh asupan makanan yang bergizi. Kasian Kean kalau makanan yang aku makan tak bergizi dan porsi kurang," sanggah ku.


'Kamu itu ya, mulai pinter omong sekarang. Maka dari itu anak mu diajari hemat sejak bayi!!!!," ketus mama Linda.


"Yang kampungan itu kamu ma, masak bayi disuruh hemat," gerutuku sambil meninggalkan mama dan Lidya yang mau berangkat.


Aku meneruskan pekerjaan ku di dapur, memasak untuk orderan besok. Sesekali ku lihat Kean dikamar yang sedang tidur bersama mas Damar.


Setelah semua sudah selesai, ku menyempatkan diri untuk mengetik bab novel online ku. Karena Kean masih terlelap dalam tidurnya.


Ketika asyik mengetik, mas Damar keluar kamar dengan pakaian rapi dan harum sekali bau parfum yang ia pakai.


"Mau kemana, mas?," tanyaku.


"Mau keluar sebentar cari angin," jawabnya singkat.


"Aku sama Kean ikut ya mas, biar sesekali kita jalan bertiga," rengek ku.


"Ngapain sih mau ikut segala?, ntar kamu sama Kean nyusahin aja. Yang ada nanti kamu malu-maluin aku didepan temen ku," ucap mas Damar dengan menatap ku dari atas ke bawah. Sepertinya dia tidak suka dengan penampilan ku yang selalu awan-awutan. Karena saking sibuknya di rumah karena harus mengurus semua nya sendiri, aku sampai lupa untuk merawat tubuh ini.


"Jadi kamu malu mas, jalan sama aku dan Kean?," tanyaku.


"Ya kamu lihat sendiri dong penampilan mu bagaimana? mana wajah kusam dan bau dapur gini, siapa yang nggak malu coba??," hina mas Damar padaku.


"Aku begini, juga karena kamu mas!. Coba kamu mencukupi semua kebutuhan ku, mulai dari kebutuhan dapur, baju, skincare. Aku yakin kok kalau semua kebutuhan ku tercukupi aku tak akan kelihatan kucel seperti ini!! Uang seratus ribu satu bulan cukup buat beli apa mas?! Buat kebutuhan Kean aja itu masih kurang!!! masih mau minta istri cantik?!" ucapku tegas tak kalah menyakitkan.


"Hebat ya, sekarang kamu sudah pintar omong??? siapa yang ngajarin kamu?!," tanya mas Damar dengan bentakan.


"Yang ngajarin aku ya sikap mu dan keluarga mu padaku mas!!!," jawab ku pelan tapi penuh penekanan.


Aku berjalan meninggalkan mas Damar menuju kamar untuk melihat Kean yang sedang tidur. Namun setelah sampai kamar ternyata bayi lelaki ku ini sudah terbangun.

__ADS_1


Terdengar dari kamar suara mobil mas Damar keluar dari halaman rumah. Rupanya dia sudah berangkat nongkrong bersama teman-temannya.


Ku rogoh handphone di saku daster batik ku, kucari kontak Sinta. Dan kukirimkan pesan kepada nya. Ku beritahu dia kalau sekarang dirumah tak ada siapa-siapa.


Tak lama Sinta membalas dan dia langsung meluncur kesini, karena kebetulan dia baru saja ada urusan dan satu jalan dengan rumah ku.


Setelah beberapa menit terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Segera ku intip dari jendela ruang tamu.


Terlihat mobil mewah yang kemarin mengantar mas Damar, mama Linda dan Lidya. Hati ini was-was dan banyak sekali pertanyaan dalam otak ku.


Ku beranikan diri membuka pintu, untuk mencari tau siapa yang ada di dalam mobil itu dan punya tujuan apa kesini.


Setelah pintu terbuka, turun lah Sinta dari dalam mobil mewah itu. Dan aku pun terkejut di buat nya.


"Sinta?!!!!!," panggil ku.


"Sarah......," bales Sinta yang berlari dan langsung memeluk ku.


"Sarah, gimana kabar mu? aku kangeen banget sama kamu. Uda lama kita nggak ketemu," ia mendekap erat tubuhku.


Namun aku tak membalas pelukan Sinta, karena masih melamun memikirkan antara mobil yang dipakai Sinta dan mas Damar.


"Sarah!!! kamu nggak apa-apa kan?," tanya Sinta melepas pelukannya dan memegang bahuku.


"Ada yang salah dengan penampilan ku?," tanya Sinta lagi memastikan kenapa aku tak membalas pelukannya dan diam saja.


Namun melihat mobil yang di pakai Sinta membuat pikiran berselancar kemana-mana. Tentang banyak tanda merah di tubuh mas Damar dan mobil yang di pakai Sinta saat ini.


"Ada apa ini? Apa Sinta ada hubungannya dengan mas Damar?," tanyaku dalam hati.


Karena entah kebetulan darimana, waktu mas Damar ada diluar kota, Sinta juga ada diluar kota. Dan pada saat Sinta datang dari luar kota mas Damar pun juga datang. Dan mobil itu, mobil yang dipakai Sinta sekarang adalah mobil yang di pakai mengantar mas Damar, mama Linda dan Lidya kemarin.


"Tenang Sarah, pasti ini cuma salah paham saja. Nggak mungkin sahabat mu Sinta akan menusuk mu dari belakang," ucapku dalam hati mesugesti diri ini yang sedang kacau.


"Ayo Sin, kita masuk," ajak ku pada Sinta yang masih berdiri di depan ku. Aku pun langsung memasang muka biasa, agar Sinta tak curiga dengan sikap ku yang banyak pikiran ini.


Dan Sinta ku gandeng agar masuk beriringan dengan ku.


"Silahkan duduk, Sin. Sebentar ya, aku ambilkan minum."


"Udah, Sarah. Kamu di sini aja. Nggak usah repot-repot. Aku masih kangen sama kamu," ucapnya dengan memeluk ku lagi.


"Tapi, masa iya ada tamu spesial yang Uda lama banget nggak ketemu nggak dikasih minum?, udah kamu tunggu sini dulu aku ambilkan minum." Aku pun beranjak pergi ke dapur untuk membuat kan minuman untuk Sinta.


Tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal di pikiran ku, padahal sudah ku tepis jauh-jauh pikiran yang tidak-tidak ini.


"Mana bayi mu, Sarah? aku ingin sekali menggendong nya." Tanya Sinta saat aku menaruh secangkir teh hangat dan beberapa potong bolu coklat yang aku buat. Selain aku menjual masakan, aku juga bikin kue. Dan alhamdulillah kue-kue yang aku bikin juga laris manis karena banyak yang suka.


"Sebentar ya Sin, aku ambil Kean dulu." Dan aku beranjak ke kamar untuk mengambil Kean yang sedang tidur. Setelah sampai dikamar ternyata si bayi tampan itu sudah terbangun dan bermain sendiri dengan memasukkan jari-jari tangan ke mulutnya. Duh betapa menggemaskan sekali.


Ku gendong Kean dan kubawa pada Sinta yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ini jagoan kecilku, Sin." ucapku dengan bangga memberikan Kean pada Sinta.


"Mashaallah Sarah,,,, anak kamu ganteng banget. Wajahnya persis kamu, Sar." Puji Sinta pada Kean.


Aku hanya tersenyum mendengar Sinta memuji anak ku.


"Siapa namanya, Sar?," tanya Sinta.


"Keandra Sadam Saputra, Sin." jawabku.

__ADS_1


Aku dan Sinta pun akhirnya mengobrol banyak hal tentang rumah tangga ku dan hubungan antara aku dan mertuaku.


__ADS_2