DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Sedikit Ada Hati Untuk Kean


__ADS_3

Aku dan Sinta mengobrol banyak hal tentang rumah tangga ku dan hubungan antara aku dan mertuaku.


Dan Sinta juga bercerita, kenapa dia sampai dikota dan bekerja di kantor besar milik orang terkaya nomer dua dikota ini.


Aku pun bercerita tentang bisnis yang aku tekuni saat ini, dan Sinta yakin kalau aku bisa sukses dengan bisnis kuliner ini. Karena dia tahu kalau aku dari dulu paling suka masak dan masakan ku pun rasanya tak pernah mengecewakan.


Tapi aku tak menceritakan kalau aku juga menulis novel online, biar pekerjaan ini hanya aku yang tau. Karena nama pena ku bukan nama ku sendiri.


Waktu terasa begitu cepat, belum puas kita bercerita tentang kehidupan kita masing-masing. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dan Sinta juga harus cepat-cepat pulang. Karena dia harus menjemput bos nya.


Sinta pun berpamitan kepada ku, aku pun berjanji nanti kalau ada waktu luang. Aku akan mengunjungi nya dirumah yang ia kontrak. Disini Sinta tinggal dirumah kontrakan yang berada disebelah perumahan elit kota ini.


Katanya bos nya lah yang mencarikan rumah kontrakan itu, agar dekat dengan rumah bos nya. Karena Sinta di tugaskan untuk menjadi asisten istri bos nya.


Setelah Sinta melajukan mobilnya, aku segera masuk rumah. Untuk menidurkan Kean, kemudian mengemasi orderan-orderan untuk besok pagi. Karena pagi-pagi sekali sebelum orang rumah bangun, para ojol akan mengambil pesanan yang sudah diorder oleh customer-customer ku.


Kalau untuk yang dikirim keluar kota, aku memakai ekspedisi yang ekspres. Walau ongkirnya agak mahal tapi sampai nya sangat cepat. Tapi alhamdulilah customer ku tak ada yang keberatan dengan ongkir yang agak mahal.


Setelah semuanya selesai, aku bergegas ke kamar untuk menemani Kean yang sedang tidur. Sambil menunggu mas Damar pulang aku juga menyempatkan untuk mengetik novel. Jam sudah menunjukkan jam sembilan malam, tapi orang-orang rumah belum ada yang datang. Termasuk mas Damar yang belum pulang juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kumandang adzan subuh terdengar, dan aku sudah bangun sebelum nya. Saat aku bangun mas Damar sudah tidur di samping Kean.


Semalam aku tak mendengar mas Damar datang, mungkin karena aku terlalu capek jadi tak terasa aku tertidur saat aku mengetik novel online.


Aku bergegas mengambil air wudhu dan segera aku menjalankan salah satu kewajiban seorang muslim yaitu sholat subuh.


Setelah selesai, aku masak sambil menyiapkan orderan yang akan diambil para ojol. Tak menunggu waktu lama, handphone ku pun berbunyi menandakan bahwa di luar para ojol sudah ada di depan.


Karena sebelumnya para ojol sudah aku beri pengertian agar tak membunyikan klakson motornya. Supaya orang-orang rumah tak pernah curiga. Jam lima pagi, orang-orang rumah ini belum ada yang bangun. Apalagi mama Linda, aku pastikan nanti bangunnya jam sembilan siang.


Aku pun keluar dengan membawa beberapa kantong plastik yang siap di ambil beberapa ojol untuk para customer ku.


Orderan ojol pun selesai, sekarang waktunya aku masak untuk sarapan mas Damar, Mama Linda dan Lidya. Aku harus berpacu dengan waktu, mumpung bayi lelaki ku sedang terlelap disamping papa nya.


Akhirnya masak, beres-beres rumah sudah selesai dengan tepat waktu. Aku pun segera mandi dan menggendong bayi ku yang sudah bangun. Terlihat mas Damar juga sudah bangun dan menuju kamar mandi.


Aku pun mengajak Kean yang sudah mandi untuk jalan-jalan ke halaman depan rumah. Agar ia tidak bosan ada di dalam rumah terus.


Terlihat Lidya yang baru bangun dan terburu-buru, mungkin karena dia kesiangan.


Mas Damar yang sudah ada di meja makan pun berkali-kali memanggil Lidya dan berkali-kali juga melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


Dan kulihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Itu tandanya mereka sudah kesiangan.


"Mbak,,,,mbak Sarah,,,!!!!! Mana sepatu ku?!", teriak Lidya dari dalam rumah.


Akupun segera masuk rumah dengan menggendong Kean.


"Ada apa Lid? kok teriak-teriak?," tanyaku.


"Sepatu ku mana mbak?! Aku Uda kesiangan nih!!!," bentak Lidya pada ku.


"Sepatu mu ya di rak sepatu, Lidya," ucapku santai.


"Ya ambilkan, mbak Sarah. Aku ini udah kesiangan. Masa kamu nggak lihat aku belum sarapan?!," perintah nya padaku seakan-akan aku ini pembantu nya, tak ada sopan santun sama sekali.


"Ini, lain kali pulang jangan terlalu larut malam biar


bangun pagi. Jadi nggak tergesa-gesa kaya gini," ku nasehati Lidya sambil menyerahkan sepatu yang kuambil tadi.

__ADS_1


"Heh, mbak!!!! Kamu pikir kamu ini siapa?! Berani-beraninya menceramahi aku, aku dan kamu itu bukan se level ya. Jadi kamu nggak pantas nasehati aku seperti itu!!!!. Aku dan kamu itu beda jauh mbak, kamu cuma lulusan SMA sedangkan aku S1. Jadi kamu jangan macam-macam ya sok nasehati aku!!! Sekarang kamu ambilkan tas ku di kamar," bentak Lidya.


Segera ku ambilkan tas kerja milik Lidya, bukannya aku takut untuk melawan Lidya. Tapi aku malas kalau Lidya nanti mengadu sama mama Linda. Karena kalau sampai mama Linda tahu, pasti dia akan marah dan mas Damar juga akan ikut campur. Dan dipastikan mas Damar akan membela mama nya daripada aku istri nya.


Inilah yang membuat aku tak bisa apa-apa di sini di rumah mertua. Karena disini yang berkuasa adalah mertua ku yaitu mama Linda.


Mas Damar dan Lidya pun berangkat ke kantor setelah mas Damar pamitan pada ku dan mencium pipi Kean yang saat ini aku gendong.


Terlihat Lidya terburu-buru dibelakang mas Damar sambil menggigit selembar roti tawar yang dioles selai coklat favorit Lidya. Karena tak ada waktu untuk Lidya sarapan.


Aku langsung membereskan piring bekas mas Damar sarapan. Terlihat belum ada pergerakan dari kamar mama Linda. Itu berarti bahwa mama Linda belum bangun.


Segera ku hubungi kurir ekspedisi langganan ku untuk mengambil beberapa paket makanan frozen yang akan dikirim keluar kota.


Tak lupa juga aku menghubungi ojol langganan ku yang biasa aku mintai tolong untuk membelanjakan kebutuhan bahan makanan yang aku jual. Karena kalau aku pergi ke pasar sendiri mama Linda akan melarang ku dan akan mencurigai ku.


Jadi ku putuskan memakai jasa ojol untuk membelikan bahan-bahan makanan yang sudah habis.


Kurir dan ojol pun sudah pergi dari rumah ini dan itu menandakan semua pekerjaan ku hari ini sudah selesai. Dan bahan makanan untuk dijual besok pun suda ada. Sekarang waktunya aku mau bersantai di kamar bersama Kean dan mengetik novel.


Namun rencana tinggal rencana, karena mama Linda bangun dan tentunya dia nggak bakal bisa melihat aku santai menikmati hidup.


Akan ada aja tugas untukku, seperti saat ini. Dia bangun aku disuruh membersihkan kamarnya. Saat dia mandi aku langsung membereskan tempat tidur nya. Dan segera kuambilkan piring untuk dia sarapan.


Lalu ku tinggal ke kamar untuk melihat Kean yang sedang asik mainan jari-jari tangan kecilnya.


Aku pun menemani nya dengan mengetik novel online, dan alhamdulilah pundi-pundi rupiah aku dapat dari menulis novel online di NOVELTOON.


Sesekali ku mengajak Kean berbicara untuk melatih otak motoriknya. Karena yang aku baca dari beberapa artikel, bayi harus diajak berbicara walaupun masih belum ada respon dari nya.


"Sarah,,,,!!!!," panggil mama Linda dengan teriakan nya yang sangat keras sekali seperti toa masjid membuat aku terkejut.


Aku pun langsung berlari ke mama Linda, dan mama Linda masih terus memanggil ku.


"Maaf, ma. Tadi lagi nemenin Kean. Ada apa, ma?," tanyaku.


"Alasan aja, kamu!!!!. Ini semua beresin. Aku mau keluar!!!." Bentak nya lagi.


"Mama mau kemana?," tanyaku.


"Trus kamu nanya seperti itu, apa urusanmu?!," mama Linda berkacak pinggang.


"Maaf, ma." Aku pun menundukkan kepala.


Ia pun berlalu pergi meninggalkan ku yang masih berdiri di samping meja makan. Ku lihat ia berjalan sambil menelpon mas Damar. Karena terdengar mama Linda minta mas Damar untuk mentransfer sejumlah uang.


Entah kenapa mama Linda sekarang lebih sering keluar rumah. Sepertinya mama Linda punya komunitas arisan barang-barang mewah.


Terlihat sekali penampilan mama Linda yang sangat glamour saat keluar rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV DAMAR


Hari ini hatiku terasa bahagia, entah ada apa dengan hati ini. Setiap aku pulang kerumah seakan-akan dirumah itu ada yang aku tuju.


Mungkin ada malaikat kecil yang bernama Kean yang membuat hati ku ingin selalu pulang dengan cepat.


Pagi ini tubuh ku terasa lebih segar, karena selama aku tidur dengan cukup.


Semalam waktu aku pulan dari keluar untuk ketemu Bianca, terlihat Sarah dan Kean sudah tidur pulas.

__ADS_1


Aku tak berani mengganggu nya.


Aku berangkat kerja dengan perasaan bahagia karena melihat bayi yang di gendong Sarah sudah mulai bisa berekspresi.


Walau sedikit kesal, karena lidya kesiangan. Entah keluyuran kemana dia sampai bangun kesiangan.


Setelah sampai dikantor, aku masih teringat dengan wajah Kean yang ganteng berhidung mancung mirip sekali sama Sarah.


"Tapi kenapa Kean tak mirip aku ya? bukan kah aku ayah nya? atau jangan-jangan Kean bukan anak ku?," gumamku lirih, entah kenapa tiba-tiba saja di otak ini muncul pikiran seperti itu.


Karena sering kulihat anak-anak teman ku dikantor banyak yang mirip dengan ayahnya.


Tiba-tiba handphone ku berbunyi, kulihat ada panggilan telepon dari mama.


"Ada apa mama telepon aku? apa ada masalah dengan Sarah?," ucapku dalam hati, karena sesuai apa yang aku lihat mama sama Sarah tak pernah akur. Dan Sarah selalu salah di mata mama.


Kuangkat telepon ternyata mama minta ditransfer uang lima juta. Darimana aku dapat uang itu, sekarang aku tak punya uang sama sekali.


Karena sudah habis untuk liburan kemarin. Memang sih liburan kemarin yang bayar semua Bianca. Tapi uang ku yang memegang mama, mungkin sudah habis untuk membeli beberapa barang buat oleh-olehnya.


Tanggal gajian pun masih lama, aku bingung karena mama tak bisa sedikit pun dikasih pengertian.


"Ma, Damar lagi nggak ada uang," jawab ku lewat sambungan telepon.


"Pokoknya mama minta ditransfer sekarang!! Mama ada arisan Damar, nggak enak kan sama teman-teman kalau mama nggak bayar. Kamu mau mama malu? kalau mama malu kamu pasti juga malu. Mama takut kalau reputasi mu dikantor nanti jelek." Rengek mama yang membuat aku tak bisa menolak permintaan nya.


Sambungan telepon pun sudah ditutup oleh mama, dan segera ku lihat saldo di rekening ku. Tinggal tiga ratus ribu, dapat dari mana aku uang tiga juta saat ini.


Mau minta Bianca, malu. Karena masih kemarin pulang dari liburan bersama dia. Dan dia yang bayar semua nya.


"Hmm,,, aku pinjam uang kantor saja sementara. Nanti kalau udah gajian aku ganti." Untung saja saat ini aku yang memegang keuangan kantor. Jadi sedikit ada solusi saat mama minta di transfer uang.


Segera kukirimkan uang itu ke rekening mama. Dan seketika handphone berbunyi, ada pesan dari mama yaitu ucapan terimakasih.


Aku sangat bahagia kalau melihat mama bahagia. Karena mama ku lah aku bisa seperti ini.


Tiba-tiba sekertaris pak Hermawan menelpon ku, aku disuruh keruangan pak Hermawan. Dan aku pun segera ke ruangan bos ku itu.


Sesampainya di ruangan ternyata pak Hermawan meminta buku rekap keuangan bulan ini. Biasa nya buku rekap itu disetor kan di akhir bulan. Tapi karena pak Hermawan mau keluar kota jadi diminta sekarang.


Aku mulai gelisah karena beberapa uang nya sudah aku pakai.


"Dapat darimana aku uang itu dengan cepat?," ucapku dalam hati sambil menggaruk kepala yang tak gatal ini.


Akhirnya aku kembali keruangan ku, untuk memasukkan laporan keuangan dibuku rekap itu.


Entah pikiran dari mana tiba-tiba terlintas ide yang sedikit masuk akal. Pasti pak Hermawan tak akan tahu kalau uang itu aku pakai.


Aku pun membuat laporan bahwa ada pengeluaran-pengeluaran yang ghaib sesuai dengan nominal uang yang aku pakai.


Hati ku langsung tenang, karena sudah ada solusi di masalah ini.


Buku rekap itu pun langsung aku bawa ke ruangan pak Hermawan. Dan aku kembali lagi ke ruangan ku untuk mengerjakan laporan-laporan lainnya.


Jam kantor pun telah usai, sekarang sudah waktunya untuk pulang. Ini waktu yang aku tunggu-tunggu karena dari tadi sudah teringat wajah Kean yang begitu menggemaskan.


Saat aku membereskan meja kerja ku ada telepon dari Bianca.


Ternyata dia sudah menunggu ku di resto hotel langganan kami. Bianca mengajak ku untuk makan malam.


Seketika buyar pikiran ku tentang Kean, kini wajah Bianca yang terlintas di benakku. Pulang dari kantor aku langsung menuju hotel yang Bianca maksud.

__ADS_1


Sengaja aku suruh Lidya pulang bawa mobil dan aku ke hotel naik taksi online. Dan tak lupa aku juga berpesan kepada Lidya, kalau Sarah bertanya bilang aku sedang lembur.


Sesampainya di hotel terlihat Bianca sudah duduk dimeja dengan banyak hidangan makanan. "Tepat sekali perut ku uda sangat lapar," ucapku dalam hati.


__ADS_2