
Setelah mengantar kan Putri ke sekolah, aku pun memutuskan untuk pulang. Aku tak mengantarkan Kean ke sekolah, karena bapak kali ini yang mengantarkan nya.
Hari ini aku pun memutuskan untuk tak pergi ke toko. Aku ingin beristirahat, karena rasanya mata ini masih ngantuk. Mungkin ini efek semalam begadang membaca komentar para readers.
Tak ku sangka komentar mbak Ambar membuat ku semakin tahu kebusukan keluarga mas Bima.
Sampai dirumah, aku kira mas Bima sudah pulang. Namun kenyataannya, tak ada mobilnya terparkir di halaman rumah.
"Rupanya dia belum pulang." gumamku. Aku segera memarkir mobilku di halaman rumah.
"Darimana mbak Sarah sepagi ini?," sapa pak Edi dari teras rumah nya saat aku turun dari mobil.
"Dari antar anak-anak kesekolah, pak. Mari pak..." jawabku sekalian berpamitan untuk segera masuk kedalam rumah dengan seulas senyum pada pak Edi.
Aku tak suka lama-lama diluar rumah, karena semua tetangga disini pada julid. Takut saja ada yang salah tangkap dengan obrolan ku bersama pak Edi. Bisa-bisa aku masuk di lamtur komplek perumahan ini.
"Iya, pak. Masih banyak pekerjaan didalam yang menunggu." jawab ku. Aku pun segera masuk, karena takut diberondong pertanyaan-pertanyaan yang lain yang membuat ku berlama-lama di luar rumah.
"Memang mas Bima kemana mbak Sarah? Kok tumben mbak Sarah yang mengantar sekolah?,"
Nah kan.... Baru saja melangkahkan satu kali untuk masuk kedalam rumah, satu pertanyaan meluncur lagi padaku.
"Mas Bima sedang keluar kota, pak." jawab ku sambil menoleh kearah pak Edi.
Dan tanpa banyak kata, aku pun segera melangkah masuk kedalam rumah.
"Uhhhh.....!!!," aku membuang nafas besar dan menaruh tubuhku diatas sofa. Khimar ku pun segera ku lepaskan.
Aku mengambil handphone untuk menghubungi Reni, memberi kabar padanya kalau hari ini aku tak ke toko.
Setelah pesan ku kirim, aku berpindah tempat ke dalam kamar. Karena ingin sebentar saja memejamkan mata. Rasa nya mata ini terkena lem, sehingga lengket sekali.
Handphone ku taruh diatas nakas, dan tubuh ku rebahkan di atas kasur.
Tak terasa lima belas menit aku tertidur, rasanya tubuh ku kembali lebih fresh. Namun aku malas untuk beranjak dari atas kasur.
Untuk menghilangkan kejenuhan, aku mencoba untuk membuat aplikasi Facebook.
Aku melihat postingan-postingan teman-teman Facebook ku di beranda.
Namun lagi dan lagi postingan dari akun Lidya keluar di beranda ku.
Kini Lelaki yang berada di foto bersama Lidya sangat lah jelas. Dan ternyata dia adalah mas Teguh suami dari mbak Ambar.
Jadi yang di bilang mbak Ambar, bahwa mas teguh pamit bekerja di luar kota adalah ini? Sungguh karma yang di bayar dengan kontan.
Timbul rasa kasian juga pada Ambar, kalau tau suaminya seperti itu. Namun saat teringat lagi dengan isi komentar yang ia tulis dan saat teringat dengan omongan nya padaku yang selalu menghinaku, aku ingin tertawa bahagia melihat suaminya bersama wanita lain.
Lalu aku tinggalkan postingan Lidya yang mengunggah foto dirinya dengan mas Teguh. Aku kembali scroll ke bawah.
Kali ini akun @bunda putri yaitu akun dari Areta mantan istri mas Bima, juga mengunggah foto.
Namun saat aku melihat nya sekilas tak begitu jelas foto apa dan siapa yang ia unggah. Karena di foto itu tak ada wajah Areta terpampang.
Namun caption nya yang membuatku gagal fokus, di foto itu tertulis caption:
"Akhirnya, kamu kembali ke pelukan ku lagi sayang. Bagaimana? Lebih hangat dan nyaman dengan ku kan? Daripada dengan yang baru?" diakhir kalimat di ikuti emoticon love.
Dalam unggahan foto ini akun Facebook milik mbak Ambar dan mbak Veni di tandai oleh Areta.
Sehingga dengan otomatis, walau aku tak berteman dengan Areta setiap unggahan nya akan muncul di beranda ku.
Jujur aku dibuat penasaran oleh foto yang Areta unggah. Saat aku melihat dengan seksama, ternyata foto itu adalah foto sebuah tubuh yang aku pastikan itu tubuh seorang lelaki yang sedang tidur membelakangi kamera.
Dan di pundak lelaki itu terdapat tangan perempuan dengan cincin Permata biru melingkar di jari manisnya.
"Siapa lelaki yang ada di dalam foto itu? Kenapa caption yang di tulis Areta seakan-akan lelaki itu adalah mas Bima?," gumam ku dalam hati.
Ah... pikiran ku semakin kemana-mana, dan ini membuat kepala ku sakit karena memikirkan hal ini.
Aku mencoba melihat lagi secara detail foto yang diunggah Areta.
Namun aku masih belum bisa memecahkan siapa lelaki di Poto itu.
Aku mencoba scroll lagi kebawah di beranda Lidya.
"Walau hanya semalam, sungguh sangat berkesan sayang. Terimakasih kamu telah memberi ingatan padaku tentang rasa itu. Rasa yang pernah kita nikmati dan kita rasakan berdua sebelum perpisahan itu terjadi "
__ADS_1
Unggahan kali ini tanpa di ikuti dengan foto. Namun aku sangat mengerti dengan maksud yang ia tulis di unggahan nya itu.
"Waaahhhh....rasa apa itu?," komentar dari aku mbak Veni di ikuti dengan emoticon penasaran dan bertanya-tanya.
"Mbak Veni, kepo ajah." balas Areta di komentar mbak Veni.
"Bukankah kamu mantan adik ipar ku, Reta? Kenapa harus ada rahasia-rahasia'an antara kita?." mbak Veni membalas komentar Areta.
"Sepertinya aku ingin dan akan menjadi adik ipar mu lagi deh, mbak."
Deg!
Apa maksud dari ketikan komentar dari Areta? Kenapa ia menulis seperti itu.
Bukankah disini yang adik ipar mbak Veni adalah mas Bima?
Jadi.......
Aku kembali melihat unggahan foto yang telah aku tinggalkan tadi untuk melihat unggahan Reta yang lain.
Setelah aku amati punggung lelaki di poto itu, aku baru ingat bahwa itu kemeja.....
Sebelum aku menuduh dan berburuk sangka pada mas Bima, aku ingat-ingat kembali semalam ia memakai kemeja berwarna apa.
Dan aku juga beranjak dari tempat tidur, dan segera membuka pintu lemari baju mas Bima.
Iya!!! Benar!!! Dan aku sangat ingat sekali, baju apa yang semalam mas Bima pakai.
Semalam mas Bima memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam. Persis baju lelaki yang ada di foto itu.
"Ternyata lelaki di foto itu adalah kamu, mas!!!," ucapku lirih, dan air mata mengalir dengan deras di pipi ku.
Lalu aku membuka isi komentar di unggahan foto Areta. Karena di sana terlihat mbak Ambar dan mbak Veni berkomentar.
"Loh loh.... kamu sudah bersama lagi, Reta?," komentar dari @bungapuspita.
"Waaaahhh, nggak nyangka!!, gimana masih enakan yang lama atau yang baru?," akun mbak Ambar berkomentar dengan di ikuti emoticon tertawa lebar.
"Ternyata kamu sat set ya..." kali ini komentar mbak Veni.
"Iya, mbak. Ia butuh sandaran dan pelukan yang menghangatkan tubuh nya." Areta pun dengan cepat membalas komentar mbak Ambar.
Dengan segera, handphone ku pun aku tutup agar semakin tak sakit hati melihat dan membaca postingan dan komentar-komentar mereka.
"Sungguh jahat kamu padaku, mas!!!." ucapku dengan air mata yang berlinang keluar dari mata indah ku ini.
"Kenapa kamu mencari sandaran lain saat kamu dan aku sedang ada masalah?," ucapku lagi dengan suara yang sesenggukan.
Aku mengambil handphone yang aku taruh tadi, aku buka lagi aplikasi Facebook.
Dan aku lihat lagi foto yang Areta unggah itu, memang benar itu foto punggung mas Bima dan itu juga bajunya mas Bima.
Kamu harus menjelaskan ini semua padaku mas!!!
Lalu di beranda Facebook ku, muncul unggahan mbak Veni.
Setelah lama tak pernah mengunggah Poto atau status. Kini mbak Veni kembali mengunggah nya.
Ia mengunggah foto nya yang sedang menangis, terlihat sekali kesedihan di wajah mbak Veni.
Ia mengunggah foto itu dengan caption "Cemburu". Unggahan itu berselisih beberapa menit dengan komentar yang ia kirim di akun Areta.
"Apa mbak Veni cemburu pada Areta yang kembali dengan mas Bima?," gumamku.
Segera ku tutup aplikasi Facebook ku. Lebih baik aku mengerik novel online ku dari pada pikiran ku terus menerus memikirkan mas Bima yang semalam bersama Areta.
Saat membuka aplikasi noveltoon, ternya ada notifikasi pesan masuk. Sat ku buka ternya itu pesan dari akun milik mbak Ambar.
"Selamat siang Thor!!, maaf aku mengganggu mu. Aku ingin sedikit bercerita pada mu Thor. Aku sangat bahagia hari ini." pesan itu terkirim beberapa menit yang lalu.
"Waahh.... bahagia karena apa ini kak?," ku balas pesan secara profesional. Seperti seorang yang di gemari kepada penggemarnya. Disini mbak Ambar menghadiri penggemar ku, namun di dunia nyata mbk Ambar menjadi pembenci ku.
"Ingat kah kamu waktu aku komentar bahwa adik ku kembali dengan mantan istrinya?," tanya mbak Ambar lewat pesan singkat nya di aplikasi noveltoon.
"Iya, kakak. Aku sangat ingat sekali." jawabku
"Hahaha... Sepertinya adik ku saat ini akan kembali dengan mantan istrinya." jawab nya.
__ADS_1
"Memang kakak setuju kalau adik kakak kembali dengan mantan istrinya?," ku pancing mbak Ambar. Agar aku tahu semua nya.
"Iya lah... Aku lebih suka adik ku kembali lagi dengan mantan istrinya. Walau dulu aku juga tidak suka dengan nya, karena dia perempuan yang suka selingkuh." ucap mbak Ambar dengan sangat jelas.
"Memang Kakak tidak takut kalau dia akan mengulangi nya lagi?," tanya ku.
"Aku yakin dia sudah berubah, karena dia sudah berjanji tidak akan mengulangi nya lagi. Aku sangat tidak suka pada istri nya yang sekarang. Karena dia itu gaya selangit. Dan dia suka menggoda adik laki-laki ku yang satu nya. Aku sangat sebal dengan nya, karena suami ku juga sering mencuri-curi pandang pada nya kalau kita lagi berkumpul bersama." balas nya...
Sekarang aku mengerti kenapa mbak Ambar sangat tidak menyukai ku, ternyata itu alasannya. Karena mas Teguh sering memandang ku saat kita berkumpul bersama.
"Dan istri adik ku yang sekarang, dia suka menghabiskan uang nya adik ku. Dia suka sekali perawatan mahal di salon terkenal di kota ini. Dan aneh nya adik ku selalu menuruti nya. Saat ia meminta mobil dan rumah untuk nya dan orang tua nya, adik ku langsung membelikan nya." kali ini mbak Ambar bercerita panjang lebar tentang masalah keluarga nya.
"Memang kakak tau sendiri kalau uang itu hasil dari usaha adiknya kakak?, ya siapa tau istri adiknya kakak ini perempuan karir, yang bisa membeli semua nya sendiri." kali ini sengaja aku membalas nya seperti itu. Agar mbak Ambar bisa menimang-nimang lagi tentang apa yang di ucapkan nya.
"Memang sih, dia juga berkerja. Tapi mana mungkin gaji seorang pelayan toko roti bisa untuk membeli emas, rumah dan mobil? Serta perawatan malah di salon kecantikan yang terkenal. Dia itu anak kampungan, dia berasal dari orang yang sangat miskin. Semenjak jadi istri adik ku ini lah, dia kebanyakan gaya dan belagu." ucap mbak Ambar panjang lebar lewat DM di aplikasi noveltoon.
Sebegitu jelek nya pikiran mbak Ambar padaku. Seakan-akan aku menikah dengan mas Bima karena hartanya.
Aku tak membalas lagi pesan dari mbak Ambar. Ternyata waktu sudah siang, dan mas Bima tak ada pulang sama sekali.
"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini, mas?! Apa kamu masih dirumah mantan istri mu?!,' gumamku.
Dari pada pikiran semakin tidak karuan, aku pun memutuskan untuk pergi kerumah Sinta.
Drrrttttt
Drrrttttt
"Halo assalamualaikum, Put." Putri menelpon ku.
"Waalaikumsalam, aku sudah keluar, kenapa masih belum menjemput ku?," ucap Putri.
"Tunggu sebentar, aku akan segera menjemput mu." jawabku
Rencana kerumah Santi pun gagal karena aku harus menjemput Putri ke sekolahan nya.
"Aku antar kerumah nenek, ma." ucap Putri saat perjalanan pulang dari sekolah.
"Kenapa nggak pulang kerumah saja dulu?," tanya ku.
"Pokok nya Putri mau kerumah nenek!!," paksa nya.
"Baiklah kalau kamu yang meminta nya."
Aku pun berbelok arah kerumah ibu mertua, karena Putri memaksa kesana saat ini.
Sampai di depan rumah ibu, tenyata ada mobil mas Bima terparkir samping jalan.
"Rupanya mas Bima ada disini," gumamku dalam hati.
Aku pun turun dari mobil, lalu aku dan Putri berjalan beriringan.
"Put?!!," saat kami berdua berjalan menuju rumah ibu, rupanya Putri dipanggil temannya.
"Hey!!!!," sapa Putri pada teman nya.
"Aku ke sana dulu, ma." pamit Putri padaku sambil berlari kearah teman nya itu.
Rasanya tak enak hati, kalau aku sudah sampai disini tapi tidak mampir kerumah ibu mertua. Nanti kesannya aku sombong dan tak mau kerumah mertua.
Akhirnya mau tak mau, aku harus mau. Padahal rasanya sangat malas, karena pasti bertemu dengan orang-orang yang akan merusak kebahagiaan hati dan pikiran ku.
Saat sampai di teras rumah, terlihat banyak sandal dan sepatu yang berserakan. Dan salah satunya sandal milik mas Bima, karena aku sangat hafal dengan barang milik suami ku.
Dengan melihat keberadaan sandal nya, aku semakin yakin kalau mas Bima ada di dalam. Atau mungkin semalam mas Bima tidur disini? Dan foto yang di unggah itu adalah permainan mbak Ambar untuk menyakiti hati ku?.
Ah... Kalau seperti itu, aku lah yang berdosa pada mas Bima. Karena sudah berpikir buruk tentang nya.
Kaki ku pun sudah melangkah sampai di bang pintu yang terbuka lebar.
Dan.....
"Mas Bima!!!!," panggil ku dengan suara yang sangat keras.
Betapa kagetnya aku melihat pemandangan yang tak ingin aku lihat. Tapi kenyataannya pemandangan itu saat ini ada di depan mataku.
"Sarah?!!," mas Bima pun terkejut melihat ku, yang saat ini sudah berdiri diambang pintu.
__ADS_1