
"Bagaimana keadaan mu, Bim?," tanya Veni, dengan wajah yang sangat khawatir.
"Aku takut, mbak." jawab Bima dengan wajah ketakutan.
"Bim.... Bagaimana keadaan mu, nak?," Laras menangis saat melihat anak nya itu duduk dengan kedua tangannya di borgol.
"Keluarkan aku dari sini, Bu. Bagaimana pun caranya, aku harus keluar, aku tak ingin berada disini." Bima memohon pada Laras, dengan air mata yang berderai.
"Ini semua karena ulah perempuan jal*Ng itu!!," sahut Veni dengan wajah penuh dendam pada Sarah.
"Apa yang harus ibu lakukan Bim? Agar kamu terbebas dari sini?," tanya Laras pada Bima.
"Siapkan uang lima puluh juta, Bu. Dengan uang sebanyak itu, Bima sangat yakin akan bisa keluar dari sini." ucap Bima.
"Lima puluh juta?, ibu rasa kamu punya kalau hanya lima puluh juta. Sekarang, katakan dimana uang itu, biar ibu mengambil nya dan segera menebus mu agar kamu segera keluar dari sini." jawab Laras dengan keyakinan kalau anaknya pasti bisa keluar secepatnya.
"Tapi masalahnya, uang sebesar lima puluh juta itu aku tak punya, Bu." ucap Bima.
"Hah??!, kamu tak punya uang itu?, terus kita harus memakai uang siapa untuk mengeluarkan kamu dari sini?," tanya Laras dengan mata nya yang membulat, terkejut dengan ucapan Bima.
"Jangan bilang pakai uang tabungan ku," gerutu Laras sangat pelan, nyaris tak ada orang yang mendengar ucapan nya.
"Pakai dulu tabungan ibu, bukankah tabungan ibu yang berupa perhiasan itu sangat banyak?, Bima rasa itu sudah lebih dari cukup." jawab Bima. Ucapan bims sama seperti apa yang sangat di takutkan oleh Laras.
"Apa, Bim?! Kamu menyuruh ibu menebus mu dengan menjual semua koleksi perhiasan milik ibu?!, Apa aku tak salah dengar?!," mata Laras makin membulat saat mendengar permintaan anak lelaki ke dua nya itu.
"Bu, Bima sangat butuh uang itu. Agar Bima bisa keluar dari sini. Bukankah uang yang di pakai untuk membeli perhiasan ibu itu, uang dari ku juga?!," Bima memohon pada Laras.
"Kalau kamu ingin keluar dari sini dengan menjual semua perhiasan ku. Lebih baik kamu menetap saja di sini." ucap Laras dengan sangat tega.
"Kenapa ibu sangat tega kepadaku, Bu?!, bukankah selama ini Bima selalu menuruti semua permintaan ibu. Jadi aku mohon untuk kali ini, bantulah Bima agar bisa keluar dari sini." Bima terus memohon pada Laras.
"Kamu menuruti semua permintaan ku itu, sudah menjadi kewajiban mu. Karena aku ini ibu mu, Bim. Jadi kamu jangan pernah mengungkit tentang semua yang telah kamu beri padaku. Seperti kamu tak ikhlas saja memberi nya padaku." Laras terus menolak permintaan Bima, ia seperti nya lebih sayang perhiasan nya dari pada Bima anak nya sendiri.
"Mbak Ambar, tolong aku, mbak. Keluar kan aku dari sini. Pasti mas Teguh punya uang sebesar itu untuk mengeluarkan aku dari sini. Karena aku lihat sekarang ini, kehidupan kalian berdua cukup enak di bandingkan sebelum-sebelumnya." kali ini Bima memohon kepada Ambar yang juga berada disitu.
"Apa yang kamu bilang, Bim?, kamu meminta ku untuk menolong mu?! Uang lima puluh juta itu sangat banyak Bima. Mana mungkin aku akan memberikan nya padamu secara cuma-cuma??," ucap Ambar dengan mencicing bibir bagian atas miliknya.
"Aku tak memintanya, mbak. Aku hanya meminjam nya. Nanti kalau aku sudah keluar dari sini, aku akan segera mengganti nya." jawab Bima, yang sebenarnya sangat kesal dengan dua perempuan yang masih mempunyai ikatan darah itu.
"Aku tidak yakin kamu bisa menggantinya dengan waktu yang cepat. Karena, kamu akan bekerja seperti apa setelah keluar dari sini, untuk mendapatkan uang itu?!! Lagian uang itu akan aku buat untuk membeli mobil," jawab Ambar yang langsung berdiri dan meninggalkan mereka bertiga di dalam sel tahanan.
__ADS_1
Bima pun tak menjawab hinaan yang telah dilakukan oleh kakak kandung nya itu.
"Trus aku harus bagaimana, Bu?!, kenapa ibu lebih takut kehilangan perhiasan ibu dari pada kehilangan aku yang sudah jelas aku ini anak kandung ibu?." ucap Bima yang sangat kesal dengan dua perempuan yang beda generasi ini.
"Karena aku yakin, Bim. Kamu pasti bisa melewati hari-hari disini dengan tenang. Disini kamu juga akan di rawat dengan sangat baik dan akan di beri makan. Sedangkan, kalau ibu menjual perhiasan ibu untuk mengeluarkan mu dari sini. Ibu yakin kamu tak akan menggantinya." Alasan yang di berikan oleh Laras sungguh tidak masuk akal, karena biasa nya seorang ibu itu akan rela melakukan apa saja termasuk menjual semua perhiasan nya demi anak nya.
Namun hal ini sangat berbeda dengan Laras, yang lebih takut kehilangan perhiasan nya dari pada anaknya.
"Kamu tenang saja disini, Bim. Tak perlu kamu mengkhawatirkan ibu, karena di rumah ibu masih ada kakak-kakak mu yang mampu menopang biaya hidup ibu." lanjut Laras yang semakin membuat sakit hati Bima.
"Apa kamu tak punya tabungan, Bim?," tanya Veni yang akhirnya membuka suara.
"Aku tak ada sama sekali, mungkin ada hanya sekitar sepuluh jutaan di toko." ucap Bima
"Apa mbak Veni bisa membantu ku untuk keluar dari sini, Mbak. Kalau mbak Veni bisa mengeluarkan ku dari sini. Aku akan menuruti semua permintaan mbak Veni." Bima melakukan negosiasi dengan Veni, yang sampai saat ini mereka berdua masih mempunyai hubungan yang spesial.
"Coba kamu tanya sama mas Awan, Bim. Siapa tau dia bisa membantu mu." ucap Veni sambil menatap Awan yang sedang berjalan menuju Bima yang berada di dalam sel.
Awan yang mengetahui namanya di sebut pun akhirnya ia bertanya. "Ada apa memanggil nama ku?," tanya Awan sambil duduk di kursi samping ibunya.
"Mas, tolong keluar kan aku dari sini. Aku sangat takut disini, mas." rengek Bima sangat manja pada Awan.
Bima pun tertunduk, ia memikirkan sendiri cara untuk bisa keluar dari sini. Karena ibu dan semua saudaranya menolak untuk membantu nya.
Dan suasana pun menjadi hening, mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantu mu keluar dari sini, tanpa menjual semua perhiasan ku, Bim?!," tanya Laras, yang memecah kan keheningan.
"Ada satu cara yang bisa mengeluarkan aku dari sini tanpa uang itu, Bu." jawab Bima, dengan ide yang baru saja muncul di otaknya.
"Apa itu, Bim?," tanya Laras dengan mata berbinar, ada perasaan bahagia karena akhirnya semua koleksi perhiasan emas nya lolos dari incaran Bima.
"Ibu datang pada Sarah, suruh Sarah mencabut tuntutan nya padaku." jawab Bima.
"Maaf!!, waktu nya sudah habis. Dan kalian bisa keluar dari sini." ucap petugas yang sedang berjaga malam ini, karena waktu besuk nya sudah berjalan empat puluh lima menit.
"Baik lah kalau begitu, malam ini kita kerumah perempuan itu." Laras berdiri dan berjalan keluar, setelah petugas itu menyuruh mereka keluar.
Saat ini Laras berjalan mencari Awan yang tak tau keberadaan nya. Di iku Veni dibelakang nya.
"Awan...!! Awan...!!," panggil Laras mencari keberadaan anak lelaki nomor dua nya itu.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?." tanya Awan yang ternyata ada di dalam mobil.
"Ayo, antarkan aku ke rumah Sarah!!." ajak Laras.
"Baiklah, ayo!!." jawab Awan dengan semangat.
"Kenapa kamu begitu semangat sekali, mas?!!, aku jadi curiga kalau memang kamu punya hubungan dengan perempuan itu." ucap Veni dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah!!! Jangan kalian bertengkar disini. Dan kamu Veni, untuk saat yang genting seperti ini, tahan dulu rasa cemburu mu," ucap Laras seperti tak punya hati.
"Saat ini yang lebih penting adalah nasib Bima, karena dia adalah penopang hidup ku." lanjut Laras membela Bima.
"Ayo kita segera ke rumah, Sarah!!," ajak Laras dan ia langsung masuk kedalam mobil yang terparkir di depan kantor polisi. Veni pun mengikuti dengan wajah yang sangat kesal.
"Kalau kamu tidak mau turun, biarkan aku bersama Awan saja yang turun dan bicara pada Sarah. Kamu di dalam mobil saja bersama Ambar." ucap Laras.
"Ibu jangan bersama mas Awan, aku tidak rela mereka bertemu dan akan saling pandang. Biarkan aku yang akan menemani ibu untuk masuk kedalam." ucap Veni.
"Memang harus kesana malam ini ya?, kenapa tidak besok saja sih?," tanya Ambar, yang terlihat sangat ogah pergi kerumah Sarah.
"Tapi ibu mau nya sekarang, agar permasalahan ini cepat selesai." ucap Laras.
"Dengan Sarah mencabut semua tuntutan nya pada Bima, hati ku akan menjadi tenang. Karena koleksi perhiasan emas yang sudah aku kumpulkan selama bertahun-tahun akan lolos dari penjualan." gumam Laras dalam hati.
"Tapi mata ku sudah tidak kuat lagi, Bu. Lebih baik kita pulang dan datang kesana besok pagi saja." usul Ambar.
Belum sempat menjawab usulan Ambar, handphone Laras berbunyi. Dan saat dilihat, ternyata pesan singkat yang di kirim oleh Putri.
Putri menyuruh Laras untuk segera pulang, karena saat ini Putri di rumah sendirian.
"Sekarang kita pulang saja, Wan!!," perintah Laras pada Awan.
Ambar yang mendengar keputusan ibunya untuk pulang, dengan sangat percaya diri kalau akhirnya Laras menuruti semua kemauan nya.
Namun yang sebenarnya, Laras pulang karena Putri anak dari Bima dengan pernikahan yang pertama dulu lah yang menyuruhnya untuk pulang.
"Jadi kita tidak jadi kerumah Sarah hari ini?," tanya Awan dengan wajah yang lesu. Nampak rasa kecewa diraut wajah Awan.
"Iya, Bim. Mungkin lebih baik besok pagi saja kita kesana." jawab Laras.
Awan pun membuang nafas secara kasar, karena ia sangat kecewa dengan keputusan Laras yang menggagalkan rencana awal.
__ADS_1