
Setelah ber-selfie ria mereka saling membagi kan foto itu di status sosial media nya. Termasuk Linda juga, karena dia ingin pamer ke teman-teman sosialita nya.
Seketika handphone Linda berbunyi, menandakan ada panggilan masuk untuk nya. Saat di lihat ternyata telepon dari Renald, berondong yang sudah beberapa kali memuaskan hasrat Linda.
Linda segera mengangkat nya dan menjauh dari Lidya, agar Lidya tak mendengar pembicaraan nya.
Ternyata Renald sudah melihat stori WhatsApp milik Linda yang sedang berfoto di atas mobil. Alih-alih ingin seperti teman-teman nya yang mempunyai mobil baru, secara tidak langsung Renald meminta nya pada Linda.
Namun karena Linda tak punya uang sepeserpun untuk membelikan Renald mobil, Linda berpikir keras. Karena tak tega melihat kekasih hati nya yang selalu di ejek oleh teman-temannya karena selalu membawa motor buntut.
Jangan kan untuk membelikannya mobil, untuk menyalurkan hasratnya saja Linda harus meminta uang pada Damar untuk membayar Renald.
Lalu Linda kembali ke Lidya yang sedang mengelus mobil mewah yang berwarna merah itu. Mobil mewah berwarna merah itu adalah impian Lidya dulu saat masih kuliah.
"Mobil baru ya, ma?," tanya Sarah pada Linda.
"Iya donk,. Lihat nih Lydia anak ku, sudah bisa beli mobil baru dengan harga yang fantastis. Kamu pasti iri kan sama keberhasilan anak perempuan ku satu-satunya ini?!," ketus Linda pada Sarah dan menunjuk Lidya.
" Kamu mana mampu beli mobil mewah seperti ini?! Darimana kamu uang sebanyak itu?! Aku yakin walau gubuk mu di kampung itu di gadaikan, tak akan bisa untuk membeli mobil baru seperti punya Lidya ini!,"
Hina Linda dengan tatapan mengejek kearah Sarah.
Setelah mengucapkan kata gadai, tiba-tiba terbesit dipikiran Linda. Sepertinya dia mempunyai ide cemerlang untuk semua permasalahan keuangan nya saat ini.
"Sarah nggak iri kok, ma, Kalau Lidya bisa beli mobil. Semoga mobil yang dibeli itu membawa keberkahan pada hidup Lidya. Karena Sarah yakin kalau uang yang didapat itu halal, kembali nya pada kita yang punya pun akan barokah," ucap Sarah lalu ia meninggal kan mereka berdua ke kamar.
"Eh apa kamu bilang?! Kamu menuduh Lidya dapat uang itu dari cara Yang salah???!! Asal kamu tau ya, anak ku ini itu kerja kantoran. Nggak kayak kamu yang kerja nya makan tidur makan tidur. Bisanya cuma menghabiskan uang Damar?!," Celetuk Linda saat Sarah melangkah kan kaki nya.
Sarah pun seketika menghentikan langkahnya, karena menurut Sarah sangat tidak sopan kalau ada orang bicara sama kita tapi kita tetap jalan dan tidak memperhatikannya.
Sarah menoleh dan menghela nafas panjang lalu dia berjalan lagi kebelakang.
Menurut Sarah buat apa orang seperti itu di ladenin. Bisa-bisa kita sendiri yang gila.
Sarah langsung masuk kamar untuk menemani Kean yang sudah tidur di gendongan. Lalu dia mengetik novel online nya.
Sesekali Sarah memantau karyawan nya dari cctv.
"Ternyata mereka belum selesai," ucap Sarah sendiri.
Lalu ia mengirimkan pesan pada Reni, menanyakan keadaan di ruang produksi malam ini. Alhamdulillaah tak ada kendala yang berarti kata Reni.
Lalu dengan hati tenang, Sarah kembali mengetik novelnya.
Damar datang dan memarkir mobil nya didepan. Sedangkan Lidya dan Linda sudah masuk di kamar masing-masing.
Sarah pun beranjak membukakan pintu untuk Damar.
"Mobil siapa itu, Sarah." Tunjuk Damar pada mobil baru yang dibeli Lidya. Wajah Damar terlihat bingung karena dirumahnya ada mobil baru.
"Mobil Lidya, mas." Sarah menjawab sambil mencium punggung tangan Damar dan segera mengambil tas yang di bawa Damar.
"Lidya beli mobil mewah ini?," sepertinya Damar tak percaya, namun tak harus menunggu mati karena penasaran. Akhirnya Damar mengetuk pintu kamar Lidya.
"Lid, Lidya..!!," panggil Damar.
"Ada apa sih, mas." Lidya keluar dengan rambut yang acak-acakan.
"Mobil baru di depan itu, kamu yang beli?," tanya Damar.
"Iya, mas. Tadi sore baru datang mobil nya. Gimana menurut mas Damar? Bagus nggak?," tanya Lidya meminta pendapat pada Damar.
"Bagus banget menurut ku Lid, dan harga nya pun juga bagus seperti nya. Tapi pertanyaan nya, kamu dapat uang darimana?," tanya Damar lagi.
"Ya uang ku sendiri lah, mas. Lidya kan kerja, jadi Lidya punya tabungan." ucap Lidya.
"Keren kamu Lid, ini baru adik ku. Bangga mas punya adek seperti kamu. Lihat nih, Sar. Seharusnya kamu contoh nih Lidya, diusia yang masih muda dia sudah punya mobil dengan penghasilan nya sendiri. Kamu itu harus jadi istri yang produktif, janga cuma ongkang-ongkang kaki aja ngabisin uang suami!!," Damar bukan menasehati Sarah tapi lebih ke menghina Sarah. Sekarang giliran Damar yang memuji Lidya.
Lidya semakin terbang dan besar kepala karena semua orang dirumah ini memuji nya.
Mendengar kata-kata Damar darah Sarah serasa naik di ubun-ubun. Ingin rasanya ia mencabik-cabik tubuh Damar dan memakan nya hidup-hidup.
"Sabar Sarah, sabar." ucapnya dalam hati.
Setelah mendengar ucapan Damar, Sarah langsung pergi kekamar. Ia langsung mengambil handphone dan memantau karyawan nya yang sedang ada di toko. Setelah terlihat semua karyawan nya pulang Sarah menutup layar cctv yang terhubung dengan handphone Sarah.
Lalu ia mengetik novel nya, saat Damar ada di kamar mandi. Dan Sarah menyudahi semua nya saat Damar keluar dari kamar mandi.
Sarah segera memejamkan mata, agar ia tak melihat wajah Damar yang begitu menyebalkan.
Dan Damar pun mulai merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya lalu ia memejamkan mata nya.
Sedangkan Linda yang saat ini berfikir keras tentang brondong nya yang minta di belikan mobil.
"Tak ada jalan lagi, jalan satu-satunya aku akan menggadai kan rumah ini. Untuk mengganti mobil ku dengan yang baru dan untuk membelikan Renald mobil baru," Linda berbicara dengan bayangan nya sendiri di depan cermin.
__ADS_1
Lalu ia segera mencari berkas-berkas penting seperti sertifikat rumah yang ia tempati saat ini.
Setelah ketemu, dia langsung menyimpan nya di dalam tas yang dibelikan Bianca waktu di Bali kemarin.
Sekarang pikiran nya pun sudah tenang, waktu nya ia untuk beristirahat malam ini.
Karena Linda paling takut dengan begadang, karena dia takut cepat tua dan mempunyai mata panda.
Setelah ia memakai krim malam dan serum wajah nya. Linda bergegas naik diatas ranjang dan menarik selimutnya lalu memejamkan mata.
Keesokan harinya terlihat semua sudah berangkat kerja, Linda langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke bank.
Sesampainya nya di bank Linda menggadai kan sertifikat rumah nya sebesar satu milyar. Namun permintaan itu ditolak oleh Bank, karena setelah di tinjau rumah nya, tidak sampai satu milyar harga jualnya.
Dan tanpa keruwetan yang berarti, akhirnya pihak Bank memberi pinjaman delapan ratus juta.
Linda pun menerima nya, dengan perasaan bahagia. Lalu ia menelpon lelaki nya yang dari tadi sudah menunggu si sebelah sebrang sana.
Uang delapan ratus juta sudah mendarat cantik di rekening Linda. Tak menunggu lama lelaki nya itu akhirnya mendatangi Linda yang sedang berdiri di parkiran.
Mereka berdua langsung pergi ke showroom yang di datangi Linda dan Lidya kemarin.
Renald memilih milih mobil yang ia impikan sedari dulu. Akhirnya Renald menjatuhkan pilihannya pada mobil sport mewah berwarna putih. Harganya berkisar Tujuh ratus juta rupiah.
"Tan, aku mau ini." Rengek Renald pada Linda dengan suaranya yang manja membuat Linda mabuk kepayang.
"Kamu mau yang ini, sayang?," tunjuk Linda pada mobil sport itu.
Renald menganggukkan kepala, dengan tersenyum paling manis yang membuat hati tante girang satu ini meleleh seketika.
Linda pun membelikan mobil yang di impikan brondong nya. Dan Linda juga menukar mobil bekas nya itu dengan yang baru.
"Gimana kalau kita makan dulu, Tan? Renald lapar nih," ia mengelus perut nya yang sixpack itu.
Linda pun menuruti semua permintaan nya, kali ini Renald mengajak makan di resto mewah di kota ini.
Lalu Linda memesan ruang yang VVIP untuk mereka berdua makan.
Lalu pelayan restoran mengantar mereka keruang yang sudah di pesan. Ruang yang tertutup berdesain minimalis namun elegan.
Mereka berdua makan dengan lahapnya, namun otak mesum Linda pun muncul ketika melihat tubuh brondong nya yang atletis itu. Dan Linda juga tak mau rugi, karena sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli mobil mewah nya.
"Sayang....," bisik Linda.
"Lagi pingin nih," tanpa malu Linda meraba tubuh Renald yang atletis itu.
Renald mencari sesuatu yang ada disaku nya.
"Sial!!!. Dimana aku menaruh pil perangsang itu?!," ucap Renald dalam hati. Ia terus mencari nya disaku dan dompetnya. Namun nihil obat itu memang tidak ada.
"Kamu mencari apa, sayang?," tanya Linda sambil berbisik pas ditelinga nya dan tangan nya mulai bergerilya ke dada dan perut Renald.
"Nggak cari apa-apa kok, Tan," jawab Renald.
Saat tangan Linda berjalan menuju sesuatu yang ada dibawah. Renald dengan refleks memegang tangan Linda. Dan Linda pun kaget. Karena sikap Renald tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?," tanya Linda dengan menghentikan aktivitas nya.
"Kalau di sini Renald nggak nyaman, Tan. Kenapa kita tidak cek in aja?," Renald memberi alasan.
"Boleh juga, sayang. Kalau gitu sekarang juga kita ke hotel. Ok?," ajak Linda.
Setelah semua makanan habis Linda pun membayar tagihan nya. Yang harganya sangat fantastis banget. Yang makan cuma dua orang saja, tagihannya hampir tiga jutaan.
Mereka menuju hotel bintang lima, namun di tengah perjalanan Renald meminta mampir ke apotek untuk membeli obat perangsang.
Setelah Renald naik lagi, Renald sudah meminum nya.
Lalu sesampainya di hotel, hasrat Renald mulai menggebu, dan di dalam kamar Renald sudah tidak sabar. Karena efek dari obat itu.
Dan terjadi lah pertempuran seru antara Linda orang tua yang tak tau umur dengan Renald yang sangat pantas menjadi anak nya.
Setelah selesai bertempur, Renald pamit pergi dulu. Dengan alasan saat ini dia ada mata kuliah.
Lalu Linda memberi beberapa lembar uang pecahan seratus ribu untuk Renald. Dan Renald menerima nya dengan perasaan bahagia.
Lalu dengan bersiul Renald keluar dari kamar hotel.
Sesampainya dirumah Linda memarkir mobil baru nya yang baru saja iya tukar tambahkan dengan mobilnya yang lama.
Setelah masuk rumah ternyata dirumah tak ada siapa-siapa, termasuk Sarah dan Kean.
"Kemana perempuan kampungan itu?!," gerutu Linda.
Sarah dan Kean pergi ke toko saat mengetahui Linda keluar rumah setelah Damar dan Lidya berangkat kerja.
__ADS_1
Di toko Sarah sangat sibuk untuk menyiapkan pesanan hari ini dan besok. Di depan pun banyak customer yang datang.
keasyikan sibuk di toko, Sarah sampai lupa waktu kalau ini sudah waktunya Damar suami nya pulang kerja.
Saat suara adzan Maghrib berkumandang Sarah pun langsung kaget, Ia sadar kalau di terlambat pulang lebih dulu.
"Mampus aku," ucap Sarah sambil menampok jidatnya.
"Kenapa Bu Sarah?," tanya Mita yang sedari tadi ada disampingnya.
"Enggak apa-apa kok," Sarah menutupi nya.
Lalu cepat-cepat Sarah pulang dengan menggendong Kean. Segera ia memesan taksi online.
Setelah sampai rumah, benar sekali tebakan Sarah.
Mereka sudah berkumpul di rumah, dilihat dari mobil yang parkir saat ini di depan rumah.
Tapi ada mobil asing menurut Sarah.
"Ini mobil siapa?," gumam Sarah dalam hati.
Lalu dengan perasaan takut Sarah masuk rumah. Ia membuka pintu dengan mengucapkan salam.
Enam mata yang sedang duduk di sofa ruang tamu saat ini sedang melototi nya seperti harimau yang siap menerkam mangsa nya.
Sampai salam dari Sarah pun diabaikannya tak di jawab oleh satu orang pun yang ada disana.
"Darimana aja kamu, perempuan kampungan?!," Linda bersuara lebih dulu dengan keras nya Linda berteriak.
Sarah hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Lihat tuh mas, istri kamu. Sukanya keluyuran kalau kamu tak ada di rumah," Lidya ikut mengompori Damar.
Damar yang tersulut emosi terlihat dari tatapan matanya saat memandang kearah Sarah.
"Maafkan Sarah, mas. Sarah tadi.....,"
PLAKK!!!
Sarah belum selesai ngomong Damar langsung melayang kan telapak tangan nya di pipi mulus Sarah.
"Kamu menampar saya, mas?!. Kamu berani kasar sama perempuan?, kamu pengecut, mas!!!." Ucap Sarah dengan bibir bergetar begitu pula dengan hatinya rasanya lebih sakit dari pipi yang ditampar Damar.
"Ingat, kamu punya adik perempuan. Bagaimana rasanya jika adik mu diperlakukan seperti ini sama lelaki nya?!!!," bibir Sarah tersenyum sinis pada Damar.
"Kamu mengancam ku? kamu mengutuk ku?, memang kamu siapa?!," ucap Damar dengan sombong nya.
"Kamu berani sumpah i anak ku?, kamu siapa? omongan orang kampungan yang miskin seperti kmu tak akan di ijabah," Bersamaan dengan ucapan Linda itu petir halilintar menyambar.
Cetiiiaaaaaaaaar.....
Seketika Linda dan Lidya berpelukan karena ketakutan, namun tidak bagi Damar dan Sarah. Ada emosi yang membara pada keduanya.
Tanpa banyak kata, Sarah pun masuk kamar untuk menidurkan Kean. Dan ia memenangkan hati nya yang sedang tersulut emosi.
"Rasa sakit bekas tamparan mu tidak ada apa-apanya, mas. Di banding rasa sakit hati ini karena sikap dan omongan mu," Sarah bicara sendiri sambil memegang pipi yang memerah itu.
Damar pun tanpa pamit, langsung mengambil kunci mobil dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi.
Ia menghubungi Bianca untuk menghibur hatinya yang sedang kalut.
Lalu mereka kanji ketemu di cafe milik Randy.
Sampai lah mereka di cafe Randy secara bersamaan, Damar berjalan berdampingan dengan Bianca.
Lalu mereka duduk di bagian dalam cafe, karena cuaca malam ini sangat dingin.
Randy mendatangi Damar dan Bianca yang tengah duduk di meja paling pojok.
"Hay, Mar." Sapa Randy.
"Hay, Ran." balas Damar.
"Uda lama kamu datang? Ini istri kamu ya?," tanya Randy sambil menunjuk ke arah Bianca.
"Emm....anu. Itu... iya istriku," akhirnya Damar menjawab mesti dia berbohong.
"Kenalkan mbak, saya Randy teman kuliah Damar," Randy mengenalkan diri pada Bianca sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Bianca," balas Bianca dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Randy.
"Ini Randy teman kuliahku dulu, Bi. Dan dia juga owner dari cafe yang keren ini." ucap Damar memuji keberhasilan Randy.
Randy membalas nya dengan senyuman, dan Bianca pun sama.
__ADS_1
Lalu Randy berpamitan saat makanan yang dipesan sudah datang.