DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tetangga Julit


__ADS_3

Hari sudah sore, aku segera pulang dari rumah Sinta. Takut mas Bima sudah sampai rumah lebih dulu.


Sebenarnya sih tak masalah walau mas Bima lebih dulu sampai rumah. Namun aku saja yang tak enak hati, kalau suami sudah dirumah tapi istri masih ada diluar.


"Lain kali kamu main kerumah ya, Sint." ucapku setelah berpamitan pada Sinta.


"Inshaallah ya, Sarah. Pokok aku tidak begitu sibuk, aku akan sempatkan untuk kerumah kamu. Karena aku juga sudah kangen sama Kean ku." ucap Sinta. Memang Sinta dan Kean dulunya sangat dekat. Ini karena Kean tidak tahu kalau hari ini aku berkunjung ke rumah Sinta.


Kalau Ia tahu, aku yakin Kean akan merengek minta ikut kerumah Sinta.


Taksi berhenti tepat di depan rumah, sore ini area komplek rumah ku terlihat ramai. Tidak seperti biasanya, mungkin karena hari ini Sabtu sore.


Terlihat para tetangga duduk santai di teras depan rumah. Ada juga yang lagi asyik mengobrol dengan tetangga satu sama lainnya.


Aku segera turun dari taksi, ku alihkan pandangan pada mbak Ana yang terlihat sedang asyik mengobrol dengan Dewi tetangga depan rumah.


"Selamat sore mbak Ana, Dewi." sapaku dengan senyum yang ramah.


"Selamat sore juga mbak Sarah. Darimana mbak Sarah?," jawab Dewi tak kalah ramah nya dengan senyumku tadi.


Berbeda dengan mbak Ana, ia terlihat menatap ku dengan tatap sinis dan tak bergeming sedikitpun. Seperti ada kebencian di hatinya padaku. Entahlah aku punya salah apa pada nya, kenal pun baru kemarin.


"Dari kerja, Wi." jawabku. Memang sengaja aku menyembunyikan semua jati diriku didepan mereka. Jangankan mereka yang hanya tetangga samping dan depan rumah. Mas Bima saja yang sudah sah menjadi suami, tak tahu dengan keadaan ku saat ini.


"Oh..kamu kamu kerja jadi karyawan ditoko roti itu ya?," tanya mbak Ana Dengan tatapan menyepelekan.


Aku menjawab pertanyaan mbak Ana hanya dengan senyuman, tak ada kata iya atau tidak. Biarkan saja dia berasumsi sendiri.


"Oo... mbak Sarah hanya kerja jadi karyawan toko roti toh?, tak kirain punya butik, soalnya penampilan mbak Sarah fashionable banget." ucap Dewi sambil melirik ku dengan bibirnya maju kedepan saat ngomong.


"Ternyata...." ucap Dewi tak meneruskan ucapannya lalu ia menutup mulut nya tertawa dengan telapak tangan nya.


"Kalau gitu, saya masuk dulu ya mbak Ana, Dewi." aku pamit pada mereka berdua, aku sangat yakin setelah aku pergi dari sini. Pasti mereka akan menggunjing ku. Aku sangat paham betul dengan orang-orang seperti mereka.


"Iya, mbak Sarah. Silahkan." jawab. Dewi dengan terus tertawa seperti mengejek.


Sedangkan mbak Ana tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya melirik ke arah ku saja. Aku tak perduli sama sekali dengan sikap mbak Ana padaku. Yang penting aku tak pernah punya masalah dengan nya.


"Baru pulang mbak Sarah?," tanya pak Edi yang sedang santai duduk di teras rumahnya. Kali ini pak Edi di temani seorang perempuan seumuran mbak Ana.


"Mungkin itu istrinya pak Edi." gumamku dalam hati. Dan pikiran ini teringat dengan mobil yang tadi berhenti di depan rumah mas Damar untuk mengantarkan Lidya pulang.


Seketika pandangan ini langsung tertuju pada mobil milik pak Edi yang terparkir di depan rumah nya.

__ADS_1


"Iya, pak." jawabku sambil tersenyum ramah.


"Mari pak, mbak." pamitku setelah aku sampai di teras rumah. Mereka berdua menjawab dengan menganggukkan kepala nya.


Aku masih terus menatap mobil milik pak Edi. Iya, mobil ini sama persis dengan mobil yang mengantarkan Lidya pulang tadi.


Pintu kubuka dan aku segera masuk. Aku mengganti pakaian, lalu menyiapkan makanan untuk makan malam nanti, sebelum mereka bertiga datang.


"Assalamualaikum...," suara perempuan mengucapkan salam dari luar.


Aku berjalan mengambil jilbab yang ada di sofa ruang tamu.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil ku buka pintu rumahku.


"Dewi?!," tanyaku dengan sedikit terkejut, karena tiba-tiba saja Dewi datang kesini dengan membawa sepiring ubi rebus.


"Silahkan masuk!," aku mempersilahkan Dewi untuk masuk kedalam. Rasanya tak enak saja kalau ada tamu tak dipersilahkan untuk masuk. Ya walaupun tamu itu menjengkelkan seperti Dewi.


"Silahkan duduk, wi." aku menunjuk sofa yang tertata rapi diruang tamu ini.


"Terimakasih, mbak Sarah." jawab Dewi, lalu ia dengan cekatan langsung duduk disofa yang aku tunjuk tadi.


"Ini mbak Sarah, ada sepiring ubi rebus yang masih anget. Ubi nya enak loh, mbak. Rasanya manis di lidah." ucap Dewi dengan menyodorkan piring yang berisi ubi rebus yang masih hangat.


"Terimakasih, wi." ucapku mengambil sepiring ubi rebus itu. Saat aku menatap kearahnya, terlihat mata Dewi jelalatan ke dalam rumah.


"Kamu mencari siapa, Wi?," tanyaku tanpa basa-basi. Karena ia tak merasa kalau aku sedang menatapnya.


"Oh... itu mbak. Kok rumah nya sepi? mas Bima kemana?," tanya nya.


"Mas Bima lagi kerja." jawabku sambil menaruh sepiring ubi rebus pemberian Dewi itu diatas meja.


"O.... semoga saja mas Bima suka ya mbak, sama ubi rebus nya." ucapnya lagi dengan merasa tak bersalah bicara seperti itu kepada ku.


"Ia nanti aku akan bilang ke mas Bima, kalau ubi rebus ini pemberianmu." ucapku kesal. Bisa-bisanya ia seperti tebar pesona pada mas Bima. Padahal yang ia ajak bicara ini adalah istri sah mas Bima.


"Oh ya mbak Sarah. Sebenarnya aku datang kesini ada keperluan lain selain aku ingin memberikan ubi rebus pada mbak Sarah dan mas Bima." ucap Dewi berkelok-kelok tak langsung pada intinya. Dan lagi, gayanya sudah sok kenal dan sok akrab banget dengan ku sama mas Bima.


"Ada perlu apa, Wi?," tanya ku dengan ekspresi wajah datar. Karena aku sudah sangat jengkel dengan sikapnya yang seperti tak punya tata Krama ini.


"Sebenarnya aku datang kesini mau..., tapi mbak Sarah jangan marah ya, dengan ucapan ku tadi saat bersama mbak Ana." ucap nya lagi berbelit-belit.


"Katakan saja," ucapku.

__ADS_1


"Tadi mbak Ana itu bilang kalau mbak Sarah hanya seorang pelayan toko roti, tapi gayanya selangit. Kata mbak Ana lagi, kok cukup gaji nya sebagai karyawan toko roti untuk beli gamis-gamis brand yang harganya lumayan mahal. Gitu mbak..... Kalau aku sih mikirnya karena mbak Sarah kan punya suami. Jadi apa salahnya kalau mbak Sarah mau bergaya seperti apapun toh uang-uang nya mbak Sarah sendiri." ucap Dewi.


"Terus kamu datang kesini hanya mau bilang itu ke aku, Wi?," tanyaku dengan tenang. Tak ada emosi sedikit pun saat Dewi bercerita tentang apa yang dikatakan mbak Ana.


"Tidak sih mbak, sebenarnya aku kesini mau..... emmm mau..... tapi nggak enak bilang nya mbak." ucap Dewi tak jelas.


"Katakan saja, wi." aku terus memancing nya.


"Sebenarnya Dewi mau pinjam uang pada mbak Sarah." akhirnya ia mengucapkan tujuan yang sebenarnya datang kesini.


"Tidak banyak kok mbak. Hanya satu juta rupiah." lanjutnya dengan mengangkat dua tangan nya menunjukkan jari lima-lima nya.


Satu juta rupiah dia bilang hanya? kalau menurut ku satu juta rupiah itu banyak. Apalagi buat orang seperti Dewi ini, rasanya berat sekali mau meminjam kan. Karena dia tipe-tipe penjilat.


"Maaf, wi. Saat ini aku juga lagi banyak pengeluaran. Jadi aku nggak bisa meminjami mu." ucapku to the point, tak ada basa-basi.


"Kalau tak ada satu juta rupiah, tujuh ratus lima puluh ribu rupiah juga nggak apa-apa, mbak." ia menurunkan nominal pinjaman nya dari satu juta rupiah kini menjadi tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.


"Iya, Wi. Maaf...banget! Gajian masih lama, jadi aku tak pegang uang lebih." aku mencoba menolaknya lagi, ingin tahu apa yang akan Dewi lakukan saat dapat penolakan dariku.


"Kalau lima ratus ribu rupiah adakan mbak?, aku sangat membutuhkan uang itu mbak. Jadi aku mohon pinjami aku." Dewi menurunkan nominal pinjaman nya lagi menjadi lima ratus ribu rupiah sambil merengek-rengek.


Apa ia tak malu, setelah tadi menghina ku. Sekarang ia merengek-rengek ingin meminjam uang pada orang yang di hinakan tadi oleh nya.


Aku berdiri dan berjalan menuju kamar, untuk mengambil dompet didalam tas. Saat aku membalikkan badan setelah mengambil dompet. Aku melihat mata Dewi jelalatan lagi, kali ini pandangan matanya melihat kearah kamar ku. Kamar yang saat ini pintunya terbuka oleh ku saat aku mah mengambil dompet ku yang berada dalam kamar.


"Kamu sedang melihat apa, wi?," tanyaku. Jujur saja aku tidak nyaman dengan keberadaan Dewi disini. Pandangan matanya jelalatan kemana-mana.


"Oh...tidak ada mbak. Aku hanya suka dengan model rumah mbak Sarah. " ucapnya beralasan dengan menggaruk-garuk kepalanya.


"Kan ini perumahan, aku rasa semua disain rumah yang ada disini kan sama. Termasuk rumah mu juga!!," kali ini aku skak mat ucapan Dewi.


"Hehehe iya, ya mbak." wajahnya terlihat malu karena ketahuan kalau ia sedang berbohong.


"Ini... aku hanya bisa meminjami mu dia ratus lima ribu " ucapku dengan menyodorkan uang pecahan seratus ribuan dua lembar dan satu lembar pecahan lima puluh ribu," ucap ku dengan menyodorkan tiga lembar uang kertas dengan nominal yang tak sama.


"Kok cuma dua ratus lima puluh ribu sih, mbak?, Dewi butuhnya lima ratus ribu." ucapnya tak tau diri.


"Kalau kamu nggak mau dengan uang yang aku pinjam kan ini. Ya sudah tak masalah." jawabku sambil memasukkan tiga lembar uang pecahan masing-masing dua lembar seratus ribu dan satu lembar pecahan lima puluh ribu kedalam dompet lagi.


"eh... eh... tunggu dulu mbak. Jangan keburu di masukan gitu donk uang nya. Ok lah aku akan meminjam uang itu." ucap Dewi sambil menengadahkan telapak tangan nya meminta uang yang saat ini aku pegang.


"Lumayan lah, dari pada tak dapat sama sekali. Sepertinya mbak Sarah tidak pantas memakai gaun-gaun brand dengan harga mahal tapi uang satu juta rupiah untuk dipinjamkan ke tetangga nya dia tak punya." gumamnya sangat terdengar jelas di telinga ku.

__ADS_1


Dengan cekatan Dewi mengambil uang dia ratus lima puluh yang aku sodorkan padanya.


Assalamualaikum," kali ini ucapan salam dari mas Bima. Karena aku sangat hafal dengan suaranya yang merdu.


__ADS_2