
Damar sangat kebingungan mencari keberadaan Linda dan Lidya, karena semalam mereka tidak pulang. Damar berkali-kali mencoba menghubungi nomor handphone Lidya dan Linda namun tidak tersambung.
Lalu ia mencoba lagi menelepon Bianca, dan kali ini panggilannya terjawab.
"Kenapa teleponku tak pernah kamu jawab, Bi?, " tanya Damar dari sambungan telepon.
"Maafkan aku, Mar. Aku memang sedang sibuk." Jawab Bianca.
Damar pun menjelaskan apa yang ia rasa saat ini, tentang kekhawatiran nya pada Linda dan Lidya.
Dan Bianca pun akhirnya memutuskan untuk mencari mereka bersama Damar.
Bianca yang saat itu memang sedang dalam mobil, ia langsung memutar arah menuju rumah Damar.
Sampai di rumah Damar, Bianca tak melihat keberadaan Damar di teras. Bianca kira Damar sudah siap dan mereka langsung berangkat.
Namun ternyata tak ada Damar diluar, Bianca pun memutuskan untuk turun dari mobil nya setelah ia memarkirkan mobilnya didepan rumah Damar.
Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, karena memang ia sudah terbiasa. Bianca melihat sekeliling ruangan namun tak terlihat keberadaan Damar.
Bianca pun langsung masuk ke kamar Damar yang memang kebetulan kamar itu tak dikunci.
Saat Bianca membuka pintu, Bianca melihat Damar yang saat ini berdiri didepan cermin tak memakai apapun. Bianca pun menatap penuh hasrat tanpa sepengetahuan Damar.
Lalu Bianca berjalan pelan agar tak menimbulkan suara. Bianca ingin memberi kejutan pada Damar. Lalu
Bianca memeluk Damar dari belakang.
Damar sangat kaget mendapat pelukan dari Bianca, Damar tau kalau itu Bianca walau wajah nya tak nampak di cermin. Namun Damar hanya diam dan pura-pura tidak tahu.
Bianca menenggelamkan wajahnya di punggung Damar, lalu Damar membalikkan tubuh nya untuk melihat perempuan yang saat ini sedang memeluknya dari belakang.
Kulit Damar yang tersentuh tubuh Bianca membuat tubuh Damar bak tersengat aliran listrik. Darah Damar berdesir kuat, dan berdiri bulu-bulu halus ditubuhnya.
Tanpa di komando pusaka warisan nenek moyang nya pun berdiri tegak. Bianca yang melihat itu tersenyum tersipu malu.
Lalu Damar membalas pelukan Bianca, lalu bibir mereka saling bertautan. Bianca mulai memain kan lidahnya, Danar pun tak mau kalah, ia mulai ******* bibir Bianca.
Tangan Damar yang semula memegang erat tubuh Bianca, kini ia lepaskan. Tangannya mulai bergerilya ke dada Bianca, dan Bianca sangat menikmati setiap sentuhan tangan Damar.
Bianca pun tak mau kalah, ia mulai memainkan tongkat ajaib milik Damar dengan tangannya. Lato-lato milik Damar pun tak lupa ia main kan juga.
Kecupan yang awalnya dibibir, kini mulai merambat ke seluruh tubuh Damar. Dan kini berhenti di tongkat ajaib Damar. Bianca mengecup dan menjilati nya. Sesekali ia menyedot nya, Damar yang merasakan itu seketika tubuhnya bergelinjangan.
Dmnar yang tak mampu menahan hasratnya, kini mengangkat tubuh Bianca, dan melepas paksa semua baju nya.
Lalu tubuh Bianca dihempaskan di atas ranjang milik Damar. Damar yang memandang tubuh molek Bianca yang terlentang di atas tanjang, membuat Damar semakin membabi buka.
Tubuh Bianca yang tak tertutup dengan sehelai benang pun, menjadi santapan nikmat nafsu birahi Damar.
Damar mulai menciumi setiap inci kulit Bianca dengan tangan nya yang bermain-main di dua squishy yang super kenyal.
Setelah hasrat mereka semakin membara, terjadilah pertumpahan kedua magma panas di atas ranjang. Dan kedua tubuh mereka langsung lemas tak berdaya.
Sejenak setelah bertempur, mereka mengistirahatkan tubuhnya dengan tiduran sambil berpelukan.
Sedangkan Sarah saat ini dalam perjalanan pulang dari berlibur di Jogja. Sarah sangat bahagia melihat para karyawan nya senang setelah berlibur walaupun hanya dua hari.
Namun yang membuat hati Sarah sedih adalah ketidak ikutan pak Randy dan karyawan-karyawan pak Randy.
Yang awalnya pak Randy ingin berangkat keesokan harinya nun ternyata tidak jadi karena ada pekerjaan yang mendadak. Akhirnya untuk liburan ke Jogja bersama pun masih belum terlaksana.
Tapi pak Randy tak begitu khawatir dengan keadaan Sarah di sana, karena ia sudah menitipkan Sarah pada Rama keponakan nya.
Awalnya pak Randy sangat kepikiran saat Sarah ingin berlibur ke Jogja bersama para karyawan nya tanpa dirinya. Takut Sarah dan para karyawan nya kebingungan untuk mencari tempat yang pas di sana.
Namun rasa cemas itu seketika hilang saat ia tau Rama pada hari utu juga akan pergi ke Jogja. Awalnya Rama akan naik pesawat untuk pergi ke Jogja, tapi setelah tahu ia diminta oleh pak Randy untuk menjaga dan menjadi tour guide nya sarah dan para karyawan nya. Rama pun dengan sangat amat senang hati menerima permintaan om gantengnya itu. Dan Rama pun memutuskan untuk naik kereta bersama Sarah.
Tapi saat ini Rama tak ikut kembali pulang, karena tugas kuliah nya di Jogja masih belum selesai. Mungkin kalau pun selesai ia akan langsung terbang ke Jerman.
__ADS_1
Sarah sangat berterima kasih kepada Rama, karena ia sudah membantu dan menemaninya berlibur di kota Jogjakarta.
Rama sangat bahagia karena dua hari ini ia bersama dengan Sarah perempuan yang telah mengusik hati nya.
Rasa sedih dan pasti akan sangat merindukan Sarah kala ia sudah ada di Jerman. Rama ingin sekali segera menuntaskan pendidikan nya di Jerman, agar segera pindah dan hidup di sini. Rama ingin selalu bertemu dengan perempuan yang berhasil membuatnya terus kepikiran.
Kini Rama harus berpisah dengan Sarah, dan itu membuat Rama sangat bersedih.
Kini Sarah sudah sampai di rukonya, kali ini ruko masih tutup karena ia dan para karyawan nya masih capek dan butuh istirahat setelah perjalanan jauh.
Setelah mandi dan berganti pakaian Sarah membongkar semua isi tas nya. Saat ia membuka salah satu tasnya, ia menemukan gantungan kunci berbentuk hati yang bertuliskan huruf R&S.
"Milik siapa ini?, sepertinya aku tak membelinya?, " ucapnya, sambil memegang gantungan kunci itu dan terus berpikir.
Lalu ia meletakkan gantungan kunci itu di atas meja, dan Sarah meneruskan membongkar tas nya yang lain. Ia teringat pada oleh-oleh yang ia beli khusus pak Randy.
Sarah masih mencarinya, karena ia lupa menaruh nya. Dan akhirnya ia menemukannya di tas yang terakhir.
Sarah membelikan pak Randy sepatu, mungkin pak Randy sangat mampu untuk membeli sepatu itu. Namun entah kenapa sarah sangat suka pada model sepatu itu. Akhirnya ia belikan buat teman kerja sama nya itu.
Setelah selesai Sarah menyiapkan oleh-oleh untuk pak Randy, Sarah juga membawakan makanan khas Jogja untuk pak Randy.
Sarah menganggap pak Randy seperti kakaknya sendiri, karena ia lah Sarah bisa menjadi seperti saat ini.
Lalu ia menggendong kean dan di bawanya kedalam mobil. Sarah mendudukkan Kean di car seat nya agar tetap aman saat di tinggal nyetir.
Dan Sarah menaruh oleh-oleh untuk pak Randy di jok depan sebelah dia duduk.
Sarah pun menjalankan mobilnya dengan sangat hati-hati karena sedikit takut, karena Kean sendiri di jok belakang.
Sesekali Sarah melihat Kean dari spion, dan tak lupa Sarah sekalu mengajak Kean berbicara. Karena saat ini Kean sedang belajar berbicara.
Sampai didepan Cafe milik pak Randy, Sarah turun dan berjalan sambil menuntun Kean yang sudah bisa berjalan.
Kedatangan Sarah diketahui oleh pak Randy, lalu pak Randy menyambut Sarah dan Kean. Kean langsung di gendong oleh pak Randy.
Lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju dalam cafe. Perasaan Pak Randy sangat bahagia saat ia berjalan bersama Kean dan Sarah. Karena seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Pak Randy dan Bu Sarah sangat cocok ya, sudah seperti keluarga kecil yang bahagia," Bisik salah satu karyawan nya pada teman disampingnya. Dan di jawab anggukan oleh temannya itu.
Pak Randy dan Sarah yang mendengar itu langsung salah tingkah. Terlihat wajah Sarah sangat merah seperti menahan malu. Namun melihat tingkah Sarah pak Randy tersenyum.
Lalu mereka duduk di meja yang kosong, dan ini sudah menjadi spot favorit Sarah. Yaitu didekat jendela lebar yang bisa langsung melihat view persawahan yang sangat hijau.
"Ini pak, ada oleh-oleh buat bapak." Sarah menyodorkan paper bag berwarna coklat.
"Ini buat aku?," Randy menerima dengan wajah bahagia.
Sarah menjawab dengan anggukan.
"Jangan di nilai dari harganya ya, pak?, karena aku yakin bapak bisa membeli sendiri dengan harga jauh diatas itu." ucap Sarah, takut pak Randy tersinggung karena dibelikan barang yang murah.
"Kamu ini apaan sih, Sarah. Aku seneng banget dapat oleh-oleh. Apalagi dari orang yang aku....," seketika pak Randy menghentikan ucapan ya sambil menutup mulut nya.
"Hampir saja keceplosan," ucap pak Randy dalam hati.
"Kenapa pak?," tanya Sarah.
"Oh .tidak apa-apa." jawab pak Randy sambil menggaruk tengkuknya.
Sarah menanggapi jawaban pak Randy dengan tersenyum.
Pak Randy yang salah tingkah segera memanggil waiters untuk menutupi kegugupannya.
Waiters pun datang dengan membawa beberapa lembar daftar menu.
"Tuhan ciptaan Mu sungguh sempurna," ucap pak Randy sambil menatap Sarah, yang saat ini sedang memilih menu untuk nya dan Kean.
Sarah yang merasa saat ini sedang diperhatikan, ia mencoba mengangkat kepala dan langsung menatap mata pak Randy.
__ADS_1
Seketika pak Randy kelabakan karena ketahuan Sarah saat ia menikmati keindahan ciptaan Tuhannya.
"Ada yang aneh pada diri saya, pak?," tanya Sarah karena seperti nya masih terus diperhatikan.
Pak Randy menggelengkan kepala, tapi tatapan itu masih tertuju pada Sarah.
"Mmmm,,, makasih ya Sar, untuk oleh-olehnya." ucap pak Randy.
"Seharusnya Sarah yang terimakasih untuk bapak, karena bapak lah akhirnya aku dan para karyawan ku tahu kota Jogja." ucap Sarah dengan tersenyum sangat ramah.
Lalu Pak Randy berdiri dan berpamitan untuk masuk terlebih dahulu, setelah Sarah selesai memesan menu makanan nya.
Damar dan Bianca saat ini sedang mencari Linda dan Lidya sampai ke seluruh penjuru kota ini. Satu hari mereka memasuki gang-gang kecil. Dan bertanya kepada beberapa saudaranya tapi mereka tak ada yang tahu.
Dan mereka sudah merasa kelelahan, karena ia berangkat dari pagi sampai sore hari masih belum juga ketemu.
Mereka memutuskan untuk makan dulu, dan Damar menyetir mobilnya kearah cafe milik Randy.
"Kamu cantik pakai baju itu, Bi." Damar sesekali melirik kearah Bianca yang sedang duduk disampingnya.
"Kamu suka aku pakai baju ini?," tunjuk Bianca pada baju yang ia pakai. Ia memakai baju milik Sarah yang masih tersisa di lemari pakaian milik Damar.
Karena baju Bianca yang ia pakai tadi pagi, kotor terkena semburan magma panas hasil dari pergulatan nya bersama Damar.
Damar menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman.
"Kalau gitu, baju ini untuk aku aja ya?," ucap Bianca.
"Ambil saja, karena itu aku yang beli." Jawab Damar.
Mereka berdua telah sampai di parkiran cafe milik Randy. Dan mereka berjalan menuju meja yang kosong.
Tak sengaja mereka melewati Sarah yang sedang duduk berdua dengan Kean.
Damar yang tau itu, segera menghentikan langkahnya.
"Sarah?!," panggil Damar.
Sarah dan Kean menoleh kearah sumber suara yang memanggil nya secara bersamaan.
"Kean," Damar juga memanggil Kean anak nya saat ia menatap wajah tampan anak lelaki kecil itu.
Kean yang merasa asing dengan Damar, ia langsung memegang erat lengan Sarah.
"Ini papa, nak." Damar mencoba menggendong Kean, namun Kean semakin takut.
Sarah yang melihat itu hanya diam saja, ia tak mau melarang Damar untuk mendekati Kean anaknya.
Namun semakin Damar memaksa, Kean pun semakin menangis Histeris.
Tangisan Kean terdengar oleh Randy, Randy pun langsung berlari keluar dari ruangan menuju meja Sarah.
Namun setelah sampai, Randy berhenti dan tak bergeming saat melihat Damar mencoba menggendong Kean.
Karena disini sudah bukan rana Randy untuk ikut campur. Randy tak punya hak untuk melarang Damar menggendong Kean. Karena ia adalah ayah kandungnya.
Namun saat Kean menoleh kearah kanan dan melihat Randy yang berdiri seperti patung itu, Kean langsung mengulurkan tangannya pada Randy.
Randy dibuat serba salah dengan situasi ini. Kalau ia tak menerima uluran tangan Kean, ia tak tega melihat Kean semakin histeris saat melihat Damar. Namun sebaliknya, kalau ia menerima uluran tangan Kean, ia tak enak hati pada Damar. Karena disini posisinya bukan siapa-siapa Kean.
Damar yang melihat tingkah Kean yang meminta gendong Randy, seketika emosinya meluap.
Damar langsung menonjok Randy di depan Kean. Sarah yang melihat itu pun tak tinggal diam. Karena Sarah takut dengan psikis Kean saat melihat kekerasan didepan mata diusianya yang sangat dini ini.
Apalagi kekerasan itu dilakukan oleh orang terdekat Kean sendiri. Sarah pun segera melerai Damar.
"Mas, tolong jangan membuat keributan didepan Kean," ucap Sarah pelan namun penuh penekanan dan Sarah memegang erat tangan Damar agar tak menonjok wajah Randy lagi.
"Hah?! Kamu membela lelaki ini? lelaki yang tak ada hubungan nya sama sekali dengan Kean anak kita!!," ucap Damar penuh emosi.
__ADS_1
"Kamu sudah dibutakan oleh cinta, Sarah!!, Sehingga dengan mudah ia mempengaruhi Kean untuk membenci ku!!!!," Damar menunjuk Randy yang saat ini sedang memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tonjokan Damar.