
Mobil Veni pun melaju dengan kecepatan sedang. Karena Ambar tak begitu lihai untuk mengendarai mobil.
"Lebih cepat lagi, Mbar!!!, jangan lelet seperti siput dong!!," protes Laras yang sudah tak sabar lagi untuk segera sampai ke salon Siska.
"Ibu,ini Ambar udah pakai kecepatan tinggi loh." jawab Ambar dengan terus fokus ke depan. Karena sejujurnya Ambar masih takut membawa mobil sendiri.
"Mbak Ambar yakin bisa membawa mobil?," tanya Veni ragu pada Ambar.
"Kamu meragukan ku, Ven?!," jawab Ambar dengan lirikan mata yang tak terima dengan ucapan Veni.
"Ya, kalau memang nggak biasa kan, itu bisa merugikan aku nanti nya." jawab Veni.
"Merugikan gimana maksud kamu?!!," tiba-tiba ambar menginjak rem mendadak, setelan mendengar ucapan tak enak dari Veni. Sehingga kedua penumpang yang ada di dalam mobil, yaitu Laras dan Veni terjungkal.
"Hati-hati bisa nggak sih, mbak!!!," bentak Veni.
"Kalau terjadi apa-apa dengan mobilku, gimana?, emang kamu bisa menggantinya?!," ucap Veni dengan tatapan mata jutek.
"Kamu bilang begitu, apa ot*k kamu nggak mikir?, kamu bentak Ambar bilang kalau nggak mampu mengganti mobilmu, sedangkan sertifikat rumah ku ada di kamu. Sekarang pikir, lebih mahal mana sertifikat rumah ku dengan mobil mu yang rongsokan ini?!!," Laras tak terima Ambar di hina oleh Veni.
"Bukan begitu maksudku, Bu. Yang aku takutkan itu kalau terjadi apa-apa dengan ibu. Apalagi posisi ibu di depan. Biasanya kalau terjadi kecelakaan, yang bahaya itu ya di posisi ibu. Nggak sedikit loh berita yang mengabarkan, kalau penumpang yang berada di depan bila terjadi kecelakaan mati di tempat."ucap Veni beralasan, Veni berbicara sambil melirik ke arah Laras. Veni ingin tau ekspresi wajah Laras, saat ia bercerita seperti itu.
Dan betapa susahnya Veni menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Laras yang terlihat sekali kalau ia sangat ketakutan.
"Apa sih kamu ini?!, berniat sekali kamu menakut-nakuti aku!!!," Laras mencoba menenangkan hati nya yang saat ini sedang takut karena ucapan Veni.
"Ya uda, sekarang kita jalan lagi, Mbar. Tapi hati-hati kalau membawa mobilnya." ucap Laras pada Ambar dengan suara lirih, terlihat sekali kali dia ketakutan.
Rasa nya Veni ingin tertawa selebar-lebarnya saat melihat ekspresi wajah orang sadis ketika ketakutan.
"Ternyata kamu masih punya rasa takut, Bu?!," gumam Veni dalam hati, saat melihat ekspresi wajah Laras yang ketakutan karena omongan nya.
__ADS_1
Ambar mulai menghidupkan mesin mobilnya lagi. Ada rasa keraguan di hati Ambar setelah mendengar ucapan ibunya yang ada kekhawatiran.
"Kamu yakin bisa mbak?," tanya Veni lagi, sengaja Veni bertanya seperti itu agar Ambar semakin gerogi.
"Kalau hati mu nggak yakin, sini biar aku saja yang bawa mobilnya, mbak." usul Veni. Sebenarnya dalam hati, Veni sangat takut kalau mobilnya kenapa-kenapa akibat ke kenekatan Ambar yang pura-pura bisa mengendalikan mobil.
"Udah, Mbar. Kasih Veni aja yang bawa mobilnya." ucap Laras tiba-tiba. Sepertinya Laras benar-benar takut kalau dirinya kenapa-kenapa.
"Tapi ingat ya, Ven. Kamu jangan macam-macam dengan berusaha kabur dari ku!!," ancam Laras.
"Bagaimana Veni mau kabur Bu?, ibu dan mbak Ambar kan satu mobil dengan ku." jawab Veni yang kini turun dari mobil untuk pindah ke depan, ke posisi sopir untuk mengganti kan Ambar.
Begitu pula dengan Ambar yang turun dari mobil, untuk pindah ke belakang.
Kini Veni yang mengendarai mobilnya sendiri, Veni mengendarai sesuai permintaan Laras. Laras ingin segera sampai di salon Siska. Jadi Veni melajukan kecepatan dengan sangat kencang.
Sengaja Veni melaju kan mobil diatas kecepatan rata-rata. Veni ingin memberi pelajaran pada ibu mertua nya itu.
"Ven!!, gila kamu, Ven!!!, apa niat mu ingin membunuh ku?!," teriak Laras saat dengan sengaja Veni menginjak pedal gas sangat dalam.
"Bukan cepat sampai ke salon Siska, tapi bisa-bisa kita cepat sampai di kuburan , Veni!!!." Laras berteriak sehingga urat nadi di lehernya keluar. Laras sangat takut sekali mati. Ia tak ingin mati dulu, karena menurutnya ia beli puas hidup senang di dunia ini.
"Ibu meremehkan aku?," tanya Veni yang semakin menginjak pedal gas semakin dalam.
"Ven!!, ampun Ven....ampun." teriak Laras yang benar-benar ketakutan.
"Pelan kan laju kecepatan mobil mu ini, Ven. Aku sangat takut." teriak Laras sambil menangis memohon pada Veni.
Dalam hati Veni tertawa puas melihat mertua nya ketakutan itu.
Veni pun akhirnya memelankan kecepatan mobilnya, ia juga tak ingin kalau Laras mati di dalam mobilnya karena serangan jantung. Bisa-bisa dirinya yang akan di penjara karena tuduhan rencana pembunuhan.
__ADS_1
"Gila kamu, Ven!!!," gerutu Laras pada Veni setelah dirinya sudah merasa tenang.
"Gimana apa mau mencoba lagi bermain dengan maut?," tanya Veni dengan tersenyum sinis pada Laras.
"Jangan macam-macam kamu!!, aku masih ingin hidup lebih lama, aku juga masih ingin mengusut sertifikat tanah ku yang telah kamu curi!!, kalau aku mati konyol seperti ini, kamu yang akan hidup enak, karena kamu telah membawa kabur harta ku!!!," teriak Laras pada Veni.
"Sialan, si nenek lampir ini!!, kok sempat-sempatnya ia masih ingat tentang sertifikat rumah nya!!, huufftt....!!!," gumam Veni dalam hati dengan sangat kesal.
"Kenapa terasa lama banget ya untuk sampai ke salon Siska?!," ucap Laras dengan tatapan matanya menatap kearah jalan yang di depan.
"Itu karena ibu terlalu ambisius ingin cepat sampai." celetuk Veni.
"Mbar, lihat deh!!, benar nggak ini jalan ke arah salon Siska?," tanya Laras pada Ambar.
Ambar yang ternyata juga teler akibat Veni yang ugal-ugalan menginjak pedal gas, tak kunjung menjawab pertanyaan Laras, ibunya.
"Ambar!!!," panggil Laras dengan suara tinggi sambil menoleh kearah Ambar yang berada di jok belakang.
"Ambar?!!," teriak Laras yabg terkejut melihat Ambar terkulai lemas di jok mobil belakang.
Veni yang terkejut dengan teriakan Laras, akhirnya mencoba mengintip Ambar dari kaca spion.
Seketika Veni ingin tertawa, tapi sebisa mungkin ia tahan.
Namun nyatanya, sulit sekali menahan tawa kalau ada hal lucu di depan matanya. Dan akhirnya Veni pun tak bisa menahan nya. Sehingga Veni melepaskan tawa nya di depan kepanikan Laras dan keteleran Ambar.
"Veni!!!, kenapa kamu tega menertawakan Ambar?!!, asal kamu tau, Ambar ini adalah kakak perempuan dari suami mu!!!," Laras sangat marah melihat sikap Veni yang tak punya etika itu. Menurut Laras, seharusnya ia menolong Ambar bukan malah menertawakan seperti itu.
"Maaf Bu, maaf." ucap Veni dengan mulut masih tertawa. Veni benar-benar di buat tertawa sampai perut nya sakit oleh kelakuan Ambar yang ternyata kampungan menurut Veni.
"Minta maaf kok sambil tertawa seperti mengejek!!!," sahut Laras.
__ADS_1
"Sekarang hentikan mobil mu, aku mau pindaklh ke belakang. Kalau ada cari klinik kesehatan terdekat dari sini. Aku akan membawa Ambar kesana." ucap Laras.
Lalu mobil yang di kendarai Veni pun berhenti. Laras pun segera membuka pintu mobil bagian depan. Dan ia buru-buru ke luar, dan berjalan dengan cepat menuju pintu bagian belakang.