DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Ada Sesuatu Di Hati


__ADS_3

Aku tak menyangka harus ketemu Bianca di cafe, saat aku mendapat undangan makan bersama dengan Tante Natasya. Tante nya Randy yang besok akan pulang ke Inggris.


Aku melihat wajah Bianca seperti orang yang sangat banyak pikiran.


Saat Bianca berbicara yang tidak-tidak tentang aku, aku langsung menampar pipi mulusnya. Agar dia tau kalau aku sudah bukan Sarah yang dulu.


Mungkin aku dulu takut dan lemah. Sehingga mereka dengan seenaknya menindas ku. Namun tidak untuk sekarang dan selamanya. Aku harus berani melawan mereka, karena memang aku tak salah. Dan pastinya agar mereka tak lagi merendahkan ku seperti dulu.


Setelah kejadian di toilet, aku melanjutkan makan ku bersama keluarga Randy. Namun tatapan Bianca dari tempat duduk nya yang saat ini saling berhadapan dengan ku, tatapan nya begitu tajam padaku.


Aku melihat banyak dendam dalam matanya padaku. Entah dendam apa, aku juga tak tau. Karena aku merasa tak pernah mengusik hidup nya walau dia sudah merusak keluarga kecil ku.


Aku pun mengalihkan pandangan ku pada orang yang berada di sekeliling, saling bercengkrama dengan Tante Natasya dan Randy. Namun saat aku mencoba mencuri-curi pandang pada Bianca, ia masih tetap memandang ku.


"Aku mau ke toilet dulu ya..." tante Natasya berdiri dari tempat duduk nya.


Dan bersamaan dengan itu, Bianca meninggalkan tempat duduknya setelah menutup telepon.


Bianca yang terlihat buru-buru menabrak Tante Natasya yang sedang berjalan menuju toilet.


Brakkk!!!


"Au...," jerit Tante Natasya mungkin karena kaget atau kesakitan, aku tak tau. Karena kadang memang Tante Natasya juga suka agak sedikit lebay.


"Maaf Tante, maaf." Bianca mengucap maaf dengan kepala tertunduk kebawah.


Prak!!!


Sesuatu jatuh dari dalam tas nya, tapi ia tak menyadari itu. Bianca terus berjalan keluar cafe setelah meminta maaf pada Tante Natasya.


"Hai... ini mu jatuh!," tante Natasya Memanggil Bianca dengan mengacungkan handphone ditangan nya, tapi Bianca tak menghiraukan panggilan dari Tante Natasya.


Sepertinya Bianca sangat terburu-buru, ia meninggalkan cafe dengan sedikit berlari kecil dan tak menghiraukan panggilan Tante Natasya.

__ADS_1


"Nih, simpan dulu. Aku mau ke toilet, sudah kebelet dari tadi." Tante Natasya menyodorkan handphone Bianca diatas meja.


Namun aku dan Randy hanya melihat nya, tidak berani memegang nya.


Kini Tante Natasya sudah kembali dari toilet dan sudah duduk di kursi nya.


"Kok handphone nya nggak kamu simpan, Ran?," tanya Tante Natasya dengan memandang kami bergantian.


"Tante saja yang nyimpan, Randy sibuk. Jadi nggak bisa balikin." ucap Randy memberi alasan pada tantenya.


"Tapi kan Tante besok juga harus terbang ke Inggris. Jadi gimana balikin nya?," Tante Natasya mengambil dan membolak-balikkan handphone milik Bianca itu.


Aku hanya diam saja tak ikut dengan obrolan mereka, karena khawatir aja nanti Tante Natasya menyuruh ku untuk mengembalikan handphone milik Bianca.


Dan aku sangat malas untuk bertemu dan berdebat lagi dengan Bianca.


"Biar Tante aja yang bawa, mungkin malam ini Tante pulang agak malam ya, Ran. Tante lupa belum mengunjungi teman lama Tante." Tante Natasya berpamitan dan berdiri dari duduknya. Ia berjalan keluar, sambil memasukkan handphone Bianca.


Aku pun juga berpamitan pada Randy, untuk pulang. Karena ku rasa aku menjadi canggung saat kita berdua seperti ini. Karena pengasuh Kean dan Kean sedang main di play ground yang disediakan di cafe ini.


"Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, Ran. Jadi aku pulang dulu." jawabku sambil memasukkan handphone didalam tas.


"Kalau gitu, bisa nggak kamu antar aku pulang? Soalnya aku tak bawa mobil. Mobil ku dipakai oleh Tante Natasya." Randy meminta ku untuk mengantarkan nya pulang.


Sebenarnya hati ini tak enak. Kalau aku mengantarkan nya pulang rasa nya ada kecanggungan. Tapi kalau aku tolak, seperti orang yang jahat saja aku.


Akhirnya aku putuskan untuk mengantarkan nya pulang. Toh aku didalam mobil tidak sendirian, karena ada Kean dan pengasuh nya.


Lalu kuberikan kunci mobil, agar Randy yang membawa mobilnya.


Lalu aku duduk dibelakang Randy yang sedang menyetir. Sedangkan Kean dan pengasuh nya duduk di jok depan disamping Randy.


Di sepanjang perjalanan kami tak banyak kata, karena ada rasa canggung yang pada Randy akhir-akhir ini. Mungkin karena kata-kata Tante Natasya yang menyebutku pacar Randy.

__ADS_1


Namun aku merasa sesekali Randy mengawasi ku lewat kaca spion. Aku hanya pura-pura tidak tahu saja, karena takut ia malu atau salah tingkah.


Randy lebih banyak berinteraksi dengan Kean. Dan mereka berdua terlihat sangat akrab, sudah seperti anak dan.....


Ah.... aku harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Karena tujuanku saat ini adalah masa depan Kean. Aku harus terus menabung, dari hasil menulis dan toko roti. Agar aku bisa membuka cabang toko roti lagi.


Tiba-tiba handphone ku berbunyi, saat kulihat ternyata panggilan telepon dari Sinta.


"Assalamualaikum, sin?!," aku mengucapkan salam setelah memencet tombol jawab di layar ponsel ku.


"Waalaikumsalam, gimana kabar mu, Sar?. Lama kita tak ketemu, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu, Sar. Kapan ya kita bisa ketemu?," tanya Sinta. Memang aku rasa kita sudah sangat lama tak bertemu.


Akhir-akhir ini Sinta sangat sibuk, karena ia sekarang sudah kembali kerja di kantor lagi. Karena kata Sinta waktu terakhir kali menelpon ku, dia bilang kalau sekarang dia sudah dibebas tugaskan dari pekerjaan menjadi asisten pribadi istri bos nya itu yang tak lain adalah Bianca.


"Kamu kan sibuk, kita ketemu kalau kamu tidak sibuk. Jadi ya..." jawabku.


Saat lagi asyik ngobrol dengan Sinta lewat sambungan telepon, tak sengaja pandangan ku kearah spion yang ada diatas Randy.


Dan ternyata Randy saat ini sedang memandang ku, dan akhirnya kita saling berpandangan. Saat aku menyadari hal itu, aku langsung membuang pandangan ku pada yang lain. Randy juga terlihat salah tingkah.


Kenapa Randy menatap ku seperti itu?. Dan kenapa tatapan matanya terpancar ada sesuatu yang membuat hati ku ini berdebar. Aku rasa ada sesuatu dihati ini. Karena tatapan Randy berhasil mendebarkan hati ku ini.


Tapi aku harus menepis apa yang aku rasa saat ini, karena masih ada trauma yang membekas dihati ini pada lelaki.


Aku masih takut dengan ikatan rumah tangga. Aku takut apa yang terjadi pada ku dulu saat berumah tangga dengan mas Damar terulang kembali disini.


Apalagi Randy dari keluarga yang lumayan berada. Aku yakin saja kalau sebenarnya Tante Natasya pun hanya B aja padaku.


Karena semenjak aku menjadi author, aku bisa membaca mimik wajah dan karakter orang lain yang sedang berhadapan dengan ku.


Sedangkan aku melihat Tante Natasya saat mengetahui kalau aku sudah punya anak dari pernikahan ku yang sebelumnya. Sangat terlihat jelas perubahan ekspresi wajah nya.


Jadi jalan satu-satunya adalah aku harus menutup rapat hati ku ini, sampai benar-benar aku sip untuk menjalin hubungan yang serius.

__ADS_1


Setelah telepon dari Sinta aku tutup, ternyata tak terasa mobil ini memasuki halaman rumah Randy yang halamannya terlihat begitu luas.


Dari rumah nya saja, sudah terlihat jelas kalau Randy adalah orang yang berada. Sedangkan aku mah apa? aku hanya seujung kuku hitam nya saja. Yang tak berarti apa-apa, aku tak selevel dengan nya.


__ADS_2