
 Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, Sarah pun keluar dengan tubuh yang sudah kembali fresh. Bukan hanya tubuhnya yang terasa segar, namun otak nya juga ikut kembali lebih tenang.
"Segar..," gumam Sarah sambil menggosok rambut nya yang basah. Karena Sarah sengaja keramas agar tubuhnya semakin terasa lebih ringan.
Ia pun segera melakukan kewajiban nya, karena waktu sudah Magrib. Tak lupa Sarah mengajak Kean dan ibu nya untuk sholat berjamaah. Tak lupa Kay, juga ikut di ajak oleh Sarah.
Sementara hari ini, bapak tak ikut karena kebetulan beberapa hari kedepan bapak masih ada di kampung.
Beberapa hari ini, bapak harus bolak balik ke kampung, karena bapak harus merawat tanaman yang ia tangan di kadang.
Sarah sudah melarang bapaknya untuk tidak bercocok tanam lagi. Sarah menyuruh kedua orang tua nya untuk beristirahat di hari tua nya.
Namun dengan alasan tidak enak tubuhnya kalau di gunakan untuk diam. Akhirnya bapaknya Sarah memutuskan untuk pulang pergi dari rumahnya menuju rumah yang ada di kampungnya.
Dan pada akhirnya, Sarah tak bisa melarang semua keinginan kedua orang tua nya. Yang penting, Sarah dan adik nya sudah memberikan semua fasilitas yang terbaik untuk kedua orang tua nya itu.
Tiga rakaat shalat telah selesai di kerjakan. Kini mereka berempat berjalan menuju meja makan.
Karena aroma masakan uti nya Kean, sudah semakin membuat cacing yang berada di perut mereka berjoget ria.
"Aku sudah sangat lapar, amma." celetuk Kean sambil mengelus perutnya.
"Kalau begitu, yuk buruan kita makan," ajak Sarah pada Kean dan Kay.
Namun Kay tak menyambut ajakan Sarah. Kay hanya terdiam menundukkan kepalanya.
Melihat itu, Sarah pun langsung menyuruh Kean untuk pergi kemeja makan terlebih dahulu untuk menyusul uti nya. Karena setelah sholat magrib, ibu nya Sarah langsung berlari menuju dapur untuk mempersiapkan semua makanan yang sudah ia masak.
"Sini uti, biar Kean bantu." celetuk Kean, saat dirinya melihat uti nya itu kesulitan membawa beberapa makanan yang sudah siap untuk di hidangkan.
Uti nya pun dengan senang hati, mengulurkan barang bawaan nya yang tak terlalu berat untuk di bawa oleh Kean.
Uti nya Kean sengaja memberikan piring yang berisi beberapa potong ayam crispy.
__ADS_1
"Waahh.....bau nya sedap sekali. Membuat perutku semakin lapar aja, uti." celetuk Kean sambil tersenyum cekikikan.
"Iya, abis ini kita makan bersama. Tapi nunggu amma mu dan temanmu dulu ya, sayang." bujuk ibu nya Sarah pada cucunya.
"Baik uti, dengan sabar aku akan menunggu mereka. Walau cacing di perut ku sudah menari-nari dengan lincah." ucap Kean dengan wajah yang menggemaskan.
Nah itu baru cucu uti." ucap neneknya, sambil mengacungkannya dua jempol tangannya.
"Itu teman Kean, siapa namanya?," tanya uti nya Kean, sambil menunggu kedatangan Sarah dan Kay.
"Nana nya itu Kay, uti. Dia teman sekelas Kean. Dia baik ya uti?," ucap Kean yang kembali bertanya pada uti nya itu.
"Iya, dia baik dan juga cantik." jawab uti nya Kean sambil tersenyum yang bibirnya di tutupi dengan telapak tangan nya.
Sedangkan Sarah saat ini sedang bertanya pada Kay, yang tiba-tiba raut wajahnya kembali cemberut lagi.
"Kay, sayang." panggil Sarah sambil kedua telapak tangan nya memegang pipi Kay yang chubby itu, dan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah nya.
"Kay, kenapa?," tanya Sarah pada Kay, yang kini tatapan nya menuju pada mata Sarah.
"Kay, makan dulu. Setelah itu Tante antar Kay pulang. ok?," usul Sarah.
"Oke Tante." jawab Kay semangat.
"Kalau gitu senyum donk, biar tambah cantik." lanjut Sarah menggoda anak perempuan kecil itu. Yang memang parasnya cantik dan putih. Di tambah lagi dengan rambut yang sengaja di kuncir dua oleh Sarah. Menambah kecantikan dan keimutan di wajah Kay.
Kay pun melebarkan senyum di bibirnya. Lalu tangan mungil itu dituntun oleh Sarah menuju meja makan.
"Kay, mau makan apa?," tanya uti nya Kean pada gadis centil itu.
"Mau ayam crispy seperti punya Kean, uti." jawab Kay dengan suar yang imut.
"Baiklah, uti ambilkan ya." uti nya Kean pun langsung mengambilkan nasi dan ayam crispy. Dan kebetulan Kay sangat tidak suka sayur. Sehingga ia menolak saat uti menaruh sayur diatas piringnya.
__ADS_1
Kay terlihat langsung akrab dengan uti, tak ada rasa canggung pada gadis kecil itu.
Kean dan Kay sangat menikmati makanan yang ada diatas piringnya. Terlihat sekali, mereka berdua makan dengan sangat lahap nya.
Sarah yang melihat pemandangan itu pun tersenyum sendiri.
"Kamu tidak makan, Sarah?," tanya ibu pada Sarah. Dan seketika Sarah tersadar dari lamunannya.
"oh.. Sarah masih kenyang, bu. Nanti saja Sarah makan." jawab Sarah.
Lalu ia berdiri dari duduknya, dan ia berjalan menuju kamarnya. Ia mau melihat pesan yang ia kirim kepada Veni.
"Kamu mau kemana, Sarah?," tanya ibunya lagi.
"Mau kekamar Bu, mau mengambil handphone." jawab Sarah, lalu ia meninggalkan tiga orang yang sedang menikmati makan malam nya.
Sarah mengambil handphone yang ia letak kan diatas meja riasnya. Segera ia lihat pesan yang sudah terkirim ke nomor Veni.
Dan ternyata Veni sudah membaca dan membalas nya.
"Sarah, maaf ya. Karena sudah merepotkan mu. Sekarang aku masih ada di salon Siska. Kalau bisa biarkan Kay bermalam di rumah mu malam ini."
Pesan dari Veni pun di baca oleh Sarah. Dengan banyak pertimbangan, dan itu semua demi kebaikan Kay. Sarah kembali ke meja makan untuk membujuk Kay.
"Kay, gimana kalau malam ini kay tidur dirumah Tante?, nanti kita Ertiga tidur bersama dikamar Tante." ucap Sarah mencoba membujuk Kay.
"Kenapa Tante?, apa Tante tidak mau mengantarkan Kay pulang?," tanya Kay dengan raut wajah nya kembali sedih.
Kay pun menghentikan aktivitas makan nya, setelah mendengar ucapan Sarah.
"Bukan kah Tante sudah berjanji pada Kay?, kalau Tante akan mengantarkan Kay pulang?," Kay menagih janji yang sudah di ucapkan Sarah tadi.
"Kay, sudah makan seperti yang tante suruh. Jadi Tante harus menepati janji Tante mau mengantarkan Kay pulang." ucap Kay. Kay termasuk anak yang cerdas, ia bisa mengungkapkan pendapatnya. Ia tak takut mengatakan apa ya kak inginkan, walau kepada orang yang baru ia kenal seperti kepada Sarah saat ini.
__ADS_1
"Hmmm.. Baik lah, tapi Kay habis kan dulu makanan nya. Kalau nggak habis, nanti nasi nya nangis." bujuk Sarah lagi, seperti mengulur waktu. Sarah masih mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
Sarah pun kembali pergi meninggalkan meja makan. Ia mencoba menelpon Veni. Ia ingin memberi tau Veni, kalau Kay terus meminta pulang.