DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Di Usir Oleh Mama Linda


__ADS_3

Setelah semua sudah beres dan semua ruangan sudah bersih. Kini aku, Reni dan Sinta duduk di ruang tamu.


Karena tenaga kita tidak kuat untuk mengangkat sofa, jadi ruang tamu di biarkan lesehan dengan karpet merah berbulu-bulu halus ini.


Sebenarnya ingin langsung pulang, tapi adzan Maghrib masih berkumandang. Jadi aku putuskan pulang setelah sholat Maghrib. Sekalian sholat disini juga.


Kebetulan tadi aku juga sudah menghubungi pengasuh Kean, agar malam ini ia menginap diruko saja untuk menemani Kean sampai aku pulang.


"Sar, Sar... lihat tuh!," Sinta memanggil ku dengan tangan nya mengoyak pelan gamisku.


"Ada apa Sint?," aku menoleh kearah mata Sinta memandang. Ternyata ada sebuah mobil mewah, berhenti di depan rumah mas Damar.


"Itu mobil siapa, Sint?," tanyaku lagi, ada rasa penasaran dalam diri ini. Karena mobil yang berhenti itu harganya lumayan mahal.


"Lihat tuh siapa yang turun?," Sinta menunjuk mobil yang berwarna putih itu.


"Bukan nya itu Lidya?!," tanyaku.


Pakaian Lidya sangat seksi dengan high heels, serta rambut panjang pirang yang tergerai. Ia turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam halaman rumah, setelah tangan melambai-lambai ke orang yang berada di dalam mobil.


"Masa iya, kalau dia naik taksi online harus berpamitan?!," gumam Sinta. Sengaja kali ini aku dan Sinta mengintip dari belakang korden. Karena takut saja kalau kita ketahuan, nanti di bilang suka julid sama tetangga.


Lidya pun masuk rumah setelah mobil mewah itu hilang dari pandangan nya.


"Apa yang dikatakan Bu Tris tadi itu benar??," aku bergidik ngeri membayangkan hal yang melintas dalam pikiran ku.


"Bisa jadi...," jawab Sinta sambil mengangguk kan kepalanya.


"Kalau begitu, aku pamit pulang ya Sint. Kasian Kean, lumayan lama aku meninggalkan nya." pamit ku, setelah melihat Reni telah selesai membereskan semuanya.


"Ok Sarah. Makasih ya, dan uang nya suda aku transfer." ucap Sinta.


"Aku juga terimakasih banyak, karena kamu sudah mempromosikan kue-kue ku. Kamu memang temanku yang paling Top." ucapku sambil mengangkat dua jempol tangan ku.


Aku berjalan ke mobil yang ku parkir di depan rumah Sinta, dan Reni sudah masuk ke mobil lebih dulu.


Saat aku melangkah keluar dari teras rumah Sinta. Terdengar keributan dari rumah mas Damar. Suara mana Linda melengking sehingga sangat terdengar dengan jelas dari sini.


Namun semakin lama, suara itu terdengar semakin dekat. Saat aku menoleh kearah sumber suara, ternyata di teras rumah mas Damar sudah berdiri mama Linda yang sedang menyeret Bianca. Sedangkan tangan kanan mama Linda memegang koper warna hitam.


"Jangan usir aku, ma!," terdengar suara Bianca dengan Isak tangis.


"Aku sudah tak ada lagi tempat untuk berteduh, ma." terlihat sangat jelas dari tempat ku berdiri saat ini, Bianca sedang bersujud di kaki mama Linda dan memohon pada nya untuk tidak diusir.


Melihat semua yang terjadi di depan mata kepala ku saat ini, kembali mengingatkan kejadian yang pernah aku alami dulu. Sama seperti aku, akhirnya Bianca diusir dari rumah mas Damar.


Bedanya Bianca diusir disaat ia sedang hamil tua dan aku setelah melahirkan Kean.


Sungguh miris melihat sifat dan sikap mama Linda, dia seperti tidak punya hati. Mengusir orang seperti mengusir binatang.


Ada rasa kasihan pada Bianca, tapi aku tak boleh lemah melihat ini. Bisa jadi ini memang balasan buat Bianca yang bisa secara langsung aku lihat dengan mata kepala ku sendiri.


"Kamu itu perempuan tak tau diri!!, sudah menumpang tinggal di sini. Tapi masih berani mencuri makanan!!!," hardik mama Linda.


Dari ucapan mama Linda, aku bisa mengambil kesimpulan. Mungkin Bianca mengambil makanan disana, tapi dia kan juga keluarga disana, dia juga istri mas Damar.


Tapi aku tidak heran dengan itu semua, karena dulu aku juga begitu. Untung saja dulu aku masih bisa makan disitu, walau harus sembunyi-sembunyi.


"Istighfar, Bu Linda!! Itu menantu Bu Linda loh, jangan di perlakukan seperti itu. Apalagi dia dalam keadaan hamil. Kasian Bu." Aku menoleh pada sumber suara itu, dan ternyata itu suara ibu Tris yang sedang berdiri di belakang pintu pagar rumahnya.


Ternyata Bu Tris juga melihat apa yang aku lihat.


"Hei, Bu!! Ibu nggak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga kami ya. Asal ibu tau, perempuan ini tak tau diri!. Sudah menumpang hidup, masih suka nyuri makanan di meja makan." Ucap mama Linda sangat lantang.

__ADS_1


Sehingga Sinta, yang tadi nya di dapur kini ia keluar karena mendengar suara ribut di luar.


"Sar, ada apa?," tanya Sinta padaku dengan suara sangat pelan. Karena takut suaranya di dengar oleh mama Linda yang saat ini terlihat sangat emosi.


"Sstttttttt," aku menaruh jari telunjuk di bibirku, lalu ku tunjuk kearah rumah mas Damar.


"Astaghfirullah, Bu Linda. Kalau keluarga sendiri yang makan, apalagi itu ada di meja makan. Itu bukan nyuri Bu!, Mungkin menantu ibu, sedang lapar. Karena saat ini dia dalam kondisi hamil besar." ucap Bu Tris memberi pencerahan.


"Lapar dari mana? dia sudah aku kasih makan. Tapi memang dia saja yang tak tau diri!! Sudah tidak menghasilkan uang, kerjaan nya hanya makan, tidur, makan tidur." Omongan mama Linda sungguh menyakitkan di dengar. Aku yang mendengarkan saja sangat sakit hati. Apalagi Bianca yang saat ini menjadi bahan pembicaraan.


"Jadi ibu tidak usah sok bijak menggurui aku. Dan jangan ikut campur dalam masalah dirumah ku!!," Lanjut mama Linda.


"Sekarang kamu pergi dari sini!!," mama Linda melempar koper itu ke halaman. Sungguh mirip dengan kejadian yang menimpa ku dulu.


Dengan menggendong Kean yang saat itu masih bayi, aku pergi dari rumah itu, rumah yang saat ini sedang ada di depan ku, rumah yang telah memberi cerita pahit dalam memori Kean anak ku.


Namun sungguh aku masih beruntung, saat aku di usir dari rumah ini. Aku masih punya tempat untuk berteduh, yaitu ruko yang dulu aku sewa. Dan yang sekarang sudah menjadi milik ku sendiri.


Jadi aku dan Kean tak sampai menjadi gembel yang hidup di kolong jembatan.


Dan sekarang hidup ku, sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Bukannya aku sombong, tapi aku bangga dengan pencapaian ku saat ini. Saat mengingat dulu aku bukan siapa-siapa yang tak pernah dihargai.


Ku lihat Bianca masih terus memohon pada mama Linda, tapi mama Linda sama sekali tak memperdulikannya.


Dan yang tak abis aku pikir, dengan sengaja mama Linda menendang Bianca yang saat ini sedang hamil besar.


Setelah menendang Bianca, mama Linda langsung masuk kedalam rumah. Dan menutup pintu dengan sangat kuat sehingga terdengar suara yang sang keras, membuat telinga yang mendengar nya langsung berdenging.


Bianca pun berjalan sambil memegang perut yang sudah membesar, ia berjalan menuju koper yang dilempar jauh oleh mama Linda.


Lalu Bianca mengambil koper itu, dan membereskan baju-baju yang berserakan kemana-mana akibat koper itu dilempar.


Rasa iba dan kasihan menghampiri hati ini, tapi tetap aku tak boleh lemah. Karena saat mengingat kejadian yang dulu menimpa ku. Rasa sakit di hati ini masih sangat jelas terasa.


Kini Bianca berjalan keluar menuju pintu pagar, dan secara tak sengaja ia menatap ku yang saat ini sedang berdiri di samping pintu mobil.


Dan itu membuat ku, bingung. Karena biasanya setiap ia bertemu dengan ku, tatapan benci yang dia berikan. Berbeda dengan saat ini, tatapan yang aku lihat. Ada tatapan penuh harapan padaku.


"Apa iya ingin meminta tolong padaku?," gumamku dalam hati.


"Sarah, Sinta...?," ucapnya lagi sambil menatap ku bergantian dengan Sinta.


Lalu ia mempercepat langkah kaki nya menuju ke arahku dan Sinta yang sedang berdiri.


"Sar, dia datang kesini." bisik Sinta dengan suara yang sangat pelan dan nyaris tak terdengar.


"Iya, Sint." jawabku dengan berbisik juga, karena takut Bianca mendengar nya.


"Sarah, Sarah....," Bianca melempar Koper nya dan bersimpuh dikaki ku.


"Sarah... maaf kan aku Sarah...," ia menangis tersedu dengan posisi yang sama yaitu masih bersimpuh di kaki ku.


"Tolong aku, Sarah. Aku diusir dari rumah Damar, aku tak tau aku harus pergi kemana." ia terus menangis. Namun sedikitpun aku tak bergeming.


Karena rekaman kejadian yang dulu terputar kembali dalam otak ku. Dan aku tak berani menatap, Bianca yang sedang bersimpuh di kaki ku dengan kedua tangan nya memeluk kaki ku.


Kalau aku menatap nya, rasa iba ini akan meluluhkan hati ku yang saat ini masih terasa sakit.


"Sarah..... aku mohon. Bantu aku untuk saat ini, aku akui memang dulu aku yang salah padamu. Dan apa yang kamu rasakan dulu, sekarang aku merasakan nya." Ia semakin menangis histeris.


"Dan mari kita bersama membalas semua perlakuan Damar dan keluarga nya. Aku yakin kalau kita bersatu, Damar dan keluarga nya akan takut dan tunduk pada kita." ucap Bianca, kali ini dia bicara tanpa isakan tangis dan sangat terdengar dengan lantang.


Rupanya ia mencari teman untuk membalas perilaku mereka.

__ADS_1


Aku boleh kasihan pada Bianca, namun aku tak boleh bersekutu dengan nya. Dia berbicara seperti itu padaku, karena ia merasakan apa yang aku rasakan dulu. Mungkin kalau ia tak merasakan itu, aku yakin ia akan terus membenci ku dan menghina ku.


"Maaf, aku tak bisa." ucap ku, dengan mencoba melepaskan pelukannya dikaki ku. Namun ia semakin erat memeluknya..


"Please, jangan tinggalkan aku Sarah. Aku sangat butuh bantuan mu." ia berkata sambil menangis-nangis.


Aku lihat ada mobil berhenti di depan rumah mas Damar. Ternyata mas Damar yang turun dari taksi online.


Lalu pandangan mas Damar tertuju pada kami, mungkin karena tangisan Bianca terdengar cukup keras.


"Sarah?!," ucapnya. Lalu ia memandang ke bawah, kearah Bianca.


"Bianca?!!!," setelah melihat Bianca yang bersimpuh di kaki ku. Mas Damar langsung berjalan kearah kami, ia langsung menghampiri Bianca.


"Ada apa ini, Bi?!, apa yang kamu lakukan pada Sarah?!!," bentak mas Damar sambil memegang dua bahu Bianca dan mengoyaknya.


Loh ini ada apa?, kenapa di sini mas Damar seakan-akan membela aku. Padahal yang saat ini butuh bantuan adalah Bianca istrinya. Sungguh semuanya terbalik.


Aku menepuk jidat ku dengan pelan, karena kalau aku menepuk dengan keras, aku yakin pasti rasanya sangat sakit.


"Bu Bianca diusir oleh Bu Linda, pak." ucap Sinta memberi tahu Damar, agar ia tak menyalahkan Bianca.


"Apa?!, benarkah, Bi?," tanya Damar pada Bianca sambil berkacak pinggang dengan mata melotot.


"Aku tak percaya, mana mungkin mama tega mengusir wanita hamil?!, jangan-jangan ini semua akal-akalan mu memfitnah mama, agar nama baik mama tercemar di lingkungan komplek ini!!," lagi, mas Damar selalu membela mama nya tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Mas Damar makin terlihat emosi pada Bianca.


"Benar yang dikatakan Sinta, Mar. Aku diusir dari rumah oleh mama." kali ini Bianca yang angkat bicara.


"Mungkin mama mengusir mu, karena kamu melakukan kesalahan yang sangat fatal!!," mas Damar masih mencari alasan untuk membela mama nya.


Uh... aku sangat kesal dengan sikap mas Damar. Ia masih sama seperti yang dulu. Memang kalau watak tidak bisa diubah, walau ia sudah mendapatkan balasannya dari setiap kelakuan nya.


Bianca semakin menangis terisak-isak, mendengar ucapan suaminya.


Hati istri mana yang tak sakit kalau suaminya berbicara seperti itu, tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.


Apalagi keadaan Bianca saat ini sedang dalam kondisi hamil.


Tapi rasa kasihan ini cukup dihati saja, jangan sampai ditunjukkan pada mereka berdua, apalagi pada Bianca.


Karena walau ada rasa kasihan pada nasib Bianca saat ini, rasa sakit hati masih dominan di hati ku.


Jadi boleh kasihan, tapi jangan sampai berteman dekat. Apalagi berencana membalas dendam bersama pada mas Damar.


"Lebih baik kalian jangan ribut-ribut disini. Apa nggak malu jadi tontonan para tetangga?," ucapku. Disini aku tak mau membela siapapun. Karena aku sudah tak mau ikut campur dalam urusan nya.


"Kamu memang bikin malu saja!!, ayo kita selesaikan dirumah!!!," ucap mas Damar sambil menarik lengan Bianca dengan sangat paksa. Padahal ia tau kalau saat ini Bianca sedang hamil besar.


Bianca dengan kesusahan berdiri, tak dihiraukan oleh mas Damar.


"Dasar lelaki kurang aj*r!!!," gumamku dalam hati.


Bianca berjalan dengan kesusahan sambil membawa koper yang berisikan baju-bajunya. Dan Damar tak membantu untuk membawanya.


"Kamu ini bikin malu aku dan keluarga ku di depan Sarah!!!," ucapan mas Damar masih terdengar walau ia dan Bianca sudah berjalan menuju rumah nya.


"Tapi memang ku diusir oleh mama, Mar. Aku nggak bohong." terdengar lirih suara Bianca sambil terisak tangis.


Kini mereka berdua sudah hilang dibalik pintu rumah yang sudah di tutup oleh mas Damar.


Aku segera pamit pulang pada Sinta, karena ini sudah malam. Gara-gara melihat drama rumah tangga mas Damar dengan Bianca, aku harus pulang malam.


Dan pasti nya saat sampai rumah, Kean sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Benar saja, saat aku sampai rumah. Kean sudah tertidur di temani pengasuh nya.


Malam ini Reni juga bermalam disini, karena mau pulang juga sudah kemalaman.


__ADS_2