
"Sarah?!,"
"Ngapain kamu disini?!," tanya mbak Veni dengan mata melotot.
"Tunggu sebentar, urusan kita belum selesai." ucap mbak Veni sambil menunjuk muka ku, lalu ia berlari kedalam toilet. Aku rasa mbak Veni sangat kebelet, jadi ia sudah tak bisa menahan nya.
Tingkah lakunya membuat aku tersenyum konyol melihat nya.
Dan aku juga ikut berjalan di belakang nya, karena aku juga ingin ke toilet.
Saat aku keluar dari dalam toilet, ternyata mbak Veni masih dengan setia menunggu ku.
"Ada apa lagi dengan orang ini?." gumam ku dalam hati.
Lalu aku mencuci tangan ku di wastafel, dan bercermin untuk merapikan Khimar yang ku pakai. Sedangkan mbak Veni masih dengan setia berdiri disamping ku dengan tatapan yang penuh emosi.
"He, kamu ngapain disini?," tanya mbak Veni.
Aku sengaja menoleh ke samping kanan dan kiri ku, namun tak ada siapa-siapa disana.
"Mbak Veni bicara dengan ku?," tanyaku.
"Lah kamu pikir aku bicara sama angin?!,"
"Aku bicara sama kamu?!!!," bentak mbak Veni.
"O... maaf mbak, Sarah kira mbak Veni bicara dengan orang lain." jawabku sambil berjalan melewati dia yang sedang berdiri sambil melipat tangannya.
"Kamu mau kemana?!, aku belum selesai ngomongnya!!," ucap mbak Veni dengan tangan nya menarik Khimar ku.
Jujur aku tidak suka dengan perilaku mbak Veni. Untung saja saat ini toilet nya sepi. Ingin sekali aku membalas apa yang dilakukan mbak Veni padaku. Namun aku harus berpikir ulang. Karena aku tak ini membuat keributan, karena itu akan membuat ku malu.
"Mbak Veni punya sakit hati apa sih padaku?, Kenapa sikap mbak Veni seperti ini?," tanya ku kesal.
Karena aku sendiri tak tau alasan tepatnya kenapa mbak Veni tidak menyukai ku.
"Kamu ingin tau kenapa?," tanya mbak Veni dengan mata melotot.
"Katakan mbak!!," ucap ku.
__ADS_1
"Karena kamu perempuan kampungan dan miskin!!," umpat mbak Veni.
"Kamu hanya bisa menghabiskan uang nya Bima, kamu ini perempuan benalu!!," sepertinya mbak Veni belum puas mengumpat ku.
"Sudah?, sudah ngomongnya?," tanyaku.
"Kalau sudah, sekarang gantian aku yang omong!," lanjutku. Karena mbak Veni hanya diam saja tak menjawab ucapan ku.
"Kalau sakit hati mu karena aku perempuan kampungan dan miskin, trus hubungan nya dengan kamu itu apa mbak?!, dan kalaupun aku menghabiskan uang mas Bima, itu sudah menjadi hak ku. Mas Bima aja nggak pernah keberatan, tapi kenapa kamu yang seperti nya tak rela?," ucap ku dengan tegas.
"Kecuali kalau aku menghabiskan uang mas Awan, itu baru kamu bisa sakit hati dan tidak suka padaku." lanjut ku.
"Hmmm apa kamu mau kalau aku menghabiskan uang mas Awan mbak?," pertanyaan ku kali ini sengaja untuk memberi shock terapi pada mbak Veni.
Lalu aku berjalan keluar toilet, setelah aku merapikan Khimar yang telah ditarik oleh mbak Veni.
"Hey, kamu jangan berani-berani nya menggoda suami ku. Asal kamu tau, kamu bukan tipe mas Awan. Kamu itu beda jauh dengan ku, jadi jangan harap kamu mendapatkan hati mas Awan." teriakan mbak Veni berhasil membuat telinga ku sakit.
Aku tetap berjalan dan tak menghiraukan teriakan perempuan gila itu.
Saat aku keluar dari lorong toilet, aku berpapasan dengan Siska teman mbak Veni.
Kali ini penampilan Siska sangat cantik dan elegan. Wajah putih dan glowing nya membuktikan kalau ia rajin perawatan disini.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan tersenyum, mengiyakan apa yang Siska maksud.
"Hey sis, aku yakin dia kesini tak akan mampu membayar perawatan yang mahal. Dia kesini pasti karena diskonan dan promo, secarakan hari ini kan grand opening salon ini." celetuk mbak Veni dari belakang ku.
"Dia lagi, dia lagi!!," gumamku dalam hati.
Sebenarnya ingin sekali aku memberi pelajaran pada mulut nyinyir mbak Veni. Namun aku takut akan menimbulkan keributan, yang ada akhirnya bisa mencoreng nama baik ku sebagai penulis.
"Udahlah jangan ribut disini Ven, lebih baik kamu ikut aku aja." tangan mbak Veni ditarik paksa oleh Siska.
Sepertinya Siska tau kalau mbak Veni bisa membuat keributan di sini kalau ia terus di dekatkan dengan ku.
Setelah mereka berdua menghilang dari pandangan ku, aku pun kembali pada Sinta yang sedang duduk di tempat awal kita datang.
"Kamu ke toilet kok lama banget sih, Sar? apa kamu tersesat? dan tidak tau arah jalan keluar?," Sinta membombardir aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut ku tidak berbobot.
__ADS_1
"Ih... apaan sih kamu ini?, pertanyaan kok di borong semua." ucapku dengan duduk di samping Sinta.
"Tadi temanku yang punya salon ini kesini. Aku mau kenalin kamu, kamu nya tenggelam di toilet." gerutu Sinta.
"Ini....," Sinta menyodorkan selembar kertas yang berisikan daftar berbagai macam treatment yang disediakan di salon kecantikan ini.
Dan banyak banget pilihan treatment di salon ini, dan harga nya mulai dari yang murah sampai dengan harga yang lumayan mahal.
"Kamu mengambil treatment apa Sin?," tanya ku.
"Aku ingin spa dan massage, Sar." jawab Sinta.
"Iya deh, aku juga ambil treatment itu." ucapku.
"Ya Udah nunggu temanku kesini lagi, sekarang dia masih menemui temannya." ucap Sinta.
Tak lama kemudian, terlihat Siska keluar dari dalam ruangan sendirian tanpa mbak Veni. Dia berjalan menuju kearah kami yang sedang duduk.
"Itu teman ku." ucap Sinta sambil menunjuk Siska.
"Hah? jadi dia teman mu?," tanyaku.
"Hay Sin, gimana? sudah siap?," tanya Siska pada Sinta.
"Sudah Sis, oh ya kenalkan ini tenan ku Sarah nama nya. Yang tadi aku ceritain ke kamu." ucap Sinta memperkenalkan aku pada Siska.
"Oh... jadi Sarah ini teman mu, Sin?," tanya Siska.
"Kamu kenal sama Sarah?," tanya Sinta seperti kebingungan setelah menatap Siska bergantian menatap ku.
"Oo... iya Sin. Kebetulan Siska ini teman dari pelanggan toko roti ku eh maksudnya ditempat ku kerja." jawabku sedikit keceplosan, semoga saja Siska tidak mendengar ucapan ku itu.
"Hah?.... Maksud kamu gimana sih Sar?," tanya Sinta, sepertinya Sinta kebingungan dengan ucapan ku.
"Gini loh Sin, aku pernah diajak teman ku membeli kue di tempat Sarah bekerja." Siska menjelaskan ucapan ku tadi.
"o... begitu?," ucap Sinta yang akhirnya mengerti dengan apa yang aku ucapkan tadi.
"Trus kita kapan mulai treatment?," tanya ku untuk mengalihkan pembicaraan, agar kedok ku sebagai pemilik SKcake tidak terbongkar sekarang.
__ADS_1
"oh ya... saking asyiknya mengobrol kita sampai lupa." jawab Siska.
Kami berdua diajak ke ruangan khusus untuk message dan spa.