DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Pengakuan Yang Aku Dengar


__ADS_3

"Kenapa kakak begitu membencinya?, bukan kah rasa benci itu bisa menjadi penyakit di hati kakak?," tanyaku lagi.


"Apakah dia pernah menyakiti kakak sebelumnya?," lanjutku.


"Awal aku tidak suka pada perempuan yang sok alim dan Sok kecantikan itu, karena ia menikah dengan adik ipar ku. Aku sangat tidak rela adik iparku menikah lagi, setelah ia menceraikan istrinya yang pertama. Aku lebih suka kalau adik ipar ku itu menduda untuk selamanya." Balasan pesan itu di kirim dengan sangat cepat, sepertinya mbak Veni sangat bersemangat menceritakan semuanya padaku.


Saat membaca balasan pesan dari mbak Veni, kenapa aku curiga kalau mbak Veni punya sedikit rasa pada mas Bima, yang tak lain adalah adik ipar nya. Karena mas Bima adalah adik kandung mas Awan.


"Kenapa seperti itu, kak?," tanyaku lagi. Disini aku berakting menjadi manusia polos yang tak tau apa-apa.


"Karena aku ada hati untuknya, dan yang membuat ku bahagia. Ternyata rasa ini mendapat balasan dari adik iparku. Sepertinya dia selama ini juga menaruh rasa padaku."


Benar saja dugaan ku kali ini, ternyata mbak Veni menyukai mas Bima. Dan yang membuat ku tak habis pikir kata mbak Veni, mas Bima juga membalas rasa cinta mbak Veni.


Dimana otak mereka berdua, kenapa tega sekali mengkhianati suami dan kakak kandungnya.


Sungguh manusia yang memang sudah tak punya akal dan pikiran.


"Memang kakak sudah mengungkapkan rasa cinta itu pada adik ipar kakak?, kok kakak tau dia membalas cinta kakak?," aku harus mendapatkan informasi ini secara jelas, agar tak ada rasa penasaran dan prasangka-prasangka yang tak pasti di hati dan pikiran ku.


"Ya, kak. Bukan hanya balasan cinta yang dia berikan padaku. Namun dia juga sudah memberikan pelukan hangat nya untuk ku. Pelukan itu sungguh membuat ku candu. Pantas saja mantan istri pertama nya merengek minta balikan lagi, pasti dia juga merindukan kenikmatan-kenikmatan surga yang di berikan oleh adik ipar ku."


Wow,,, aku sangat terkejut dengan pengakuan mbak Veni. Tak ku sangka mereka berdua melakukan hal yang sejauh itu.


Apa jadinya kalau mas Awan tau tentang itu?, sungguh aku tak bisa membayangkan.


Untung saja posisiku saat ini sudah sah bukan istri mas Bima lagi. Kalau saja, aku masih di posisi masih menjadi istri mas Bima. Aku yakin hati ini akan terasa sangat sakit seperti tersayat oleh sembilu.


"Apa kakak tak takut dengan suami kakak yang tak lain adalah kakak kandung dari selingkuhan kakak?," tanyaku lagi.


"Sebenarnya, aku sudah tak begitu cinta dengan suamiku. Dia sama sekali tak bisa membahagiakan aku. Uang yang ia berikan pun tak cukup untuk mencukupi semua kebutuhan ku. Dia hanya memberikan uang hanya cukup untuk makan setiap hari." ungkap mbak Veni tentang isi hati nya.


"Dan yang paling membuatku kecewa, dia selalu memuji istri adik iparku di depan ku. Seakan-akan dia menaruh hati padanya, setiap kali kita bertemu di rumah mertua ku. Pasti suamiku memuji kecantikan dan gaya pakaian yang perempuan itu pakai. Padahal aku tahu, pakaian yang ia pakai hanya untuk menutupi kedoknya yang juga suka ganjen pada suami orang." lanjut mbak Veni.


Sepertinya mbak Veni sebegitu bencinya pada ku. Sampai-sampai dia sangat bersemangat saat menceritakan tentang keburukan yang aku tak pernah melakukan nya. Yang ia ceritakan tentang ku, adalah asumsi mbak Veni sendiri padaku.


Saat membaca curahan hati mbak Veni tentang perselingkuhan nya dengan mas Bima. Kini otak ku mulai bekerja, aku rasa kisah mbak Veni yang berselingkuh dengan mas Bima bisa di jadi kan novel. Aku yakin novel yang aku buat dengan mengangkat kisah perselingkuhan mbak Veni dengan mas Bima, akan mendapatkan pundi-pundi rupiah.


Karena saat ini tema yang sangat di sukai oleh para pembaca adalah masalah rumah tangga tentang perselingkuhan.


"Maaf ya kak, aku jadi curhat pada kakak. Sebenarnya aku tak mudah bercerita tentang masalah pribadi ku pada orang lain, walau teman dekatku sekalipun. Entah kenapa pada kakak author kesayangan ku ini, aku bercerita semua tentang kehidupan rumah tanggaku. Kalau begitu aku pamit undur diri dulu ya, kak. Aku mau jemput anakku ke sekolah." pesan terakhir yang dikirim mbak Veni padaku.Dan aku hanya membacanya dan tak membalas pesan itu.

__ADS_1


Saat ku melihat jam di gawai ku, memang sudah jam Kean pulang sekolah. Tak terasa ternyata cukup lama aku dan mbak Veni saling berbalas pesan.


Aku segera bangkit dari tempat tidur, segera memakai Khimar dan membenarkan bajuku.


Tas yang ada diatas nakas pun segera ku ambil, dan aku keluar menuju mobil yang terparkir.


"Amma...," Kean berlari kearah ku yang sedang berjalan menuju mobil yang terparkir.


"Kean?, kamu sudah pulang?, kamu pulang dengan siapa, nak?," aku sangat khawatir saat Kean pulang tak bersamaku.


Rasa trauma pada mas Bima yang sengaja menjemput Kean di sekolah nya kemarin masih begitu jelas di dalam pikiran ku. Aku takut hal itu akan terulang lagi.


"Kean pulang sama akung, ma. Amma tak perlu khawatir. Itu akung." jawab Kean menenangkan hati ku yang sangat ketakutan ini. Ia menunjuk bapak yang baru saja turun dari taksi online.


Ada rasa yang sangat lega, saat Kean menunjuk bapak yang sedang turun dari taksi online itu.


"Amma jangan takut lagi ya, Kean tak akan mau pulang bersama orang lain selain amma dan akung. " ucap Kean lagi.


Aku rasa lelaki kecilku ini tau perasaan ku saat ini. Ia tau ketakutan yang sedang menyelimuti hati dan pikiran ku.


"Aku sangat takut kehilanganmu, nak." gumamku lirih sambil ku peluk erat tubuh nya yang mungil itu.


"Akung tak akan pernah marah sama Kean, karena akung dan uti sangat sayang pada Kean." ucapku lagi.


"Kok peluk-pelukan disini?, ada apa ini?," tanya bapak yang sudah berdiri di belakang Kean.


"Tidak ada apa-apa, pak. Hanya saja, tiba-tiba aku sangat rindu pada Kean." aku berkata bohong pada bapak. Aku tak ingin menambah beban pikiran bapak yang sedang berumur ini.


"Tadi sengaja bapak menjemput Kean dengan naik taksi online. Karena aku takut kamu sibuk di toko." ucap bapak menjelaskan alasan nya kenapa beliau tiba-tiba menjemput Kean di sekolah.


"Nggak apa-apa, pak. Yang penting bapak tidak capek. Tapi kalau capek, biar Sarah saja yang menjemput nya." ucapku dengan seulas senyum manis pada bapak.


"Mana ada kata capek kalau untuk cucu, Sarah." sahutnya.


"Ayo masuk, pak. Biar di buatkan teh hangat oleh anak-anak." tawarku pada bapak yang masih berdiri disamping Kean.


"Bapak pulang saja, Sarah. Kasian ibu mu, sendirian dirumah. Tadi bapak disuruh cepat-cepat pulang kalau Kean sudah keluar dari sekolah nya. Tapi bapak sempatkan mampir ke sini, agar kamu tak pergi untuk menjemput Kean disekolah." ucap bapak.


"Amma Kean pulang bersama akung dulu ya. Amma jaga diri baik-baik kalau kerja." pamit Kean sambil memeluk ku dan mencium tangan ku.


Lalu mereka berdua pulang setelah aku mencium punggung tangan nya bapak.

__ADS_1


Dan aku kembali masuk kedalam toko. Jam setelah makan siang toko tak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung saja yang datang.


"Ren, kamu sudah makan siang?," tanyaku pada Reni yang masih duduk di melayani customer. Sedangkan aku tak melihat Mita disini.


"Belum, Bu. Sekarang masih giliran Mita yang makan siang." jawab Reni. Rupanya mereka bergantian untuk makan siang.


"Kalau begitu, kamu tinggal saja makan siang. Biar ibu ini aku yang layani." aku memerintah kan Reni untuk ikut makan siang bersama teman-teman yang lain nya.


"Tapi Bu,?," ucap Reni dengan ragu.


"Sudah, kamu pergi makan siang sana. Biar aku yang handle disini. Kamu nggak yakin kalau aku bisa?!," tanyaku.


"Mmm.. bukan begitu maksudku, Bu." jawab Reni terlihat canggung padaku.


"Uda pergi, sana." usir ku pada Reni. Agar Reni kebelakang untuk makan bersama teman-teman nya.


Reni pun dengan terpaksa berjalan kebelakang, menuju teman-teman nya yang sedang makan siang di dalam.


Kini aku yang mengganti Reni melayani customer disini. Dengan senyum yang ramah, aku melayani para pelanggan kue ku dengan segenap jiwa.


Dan dari luar, terlihat dua perempuan cantik berjalan masuk kedalam toko. Aku sangat familiar dengan dua orang yang berjalan kemari.


Iya!, itu adalah mbak Veni dan Siska.


Sepertinya dengan sengaja mbak Veni datang kesini. Aku yakin dia kesini selain untuk membeli kue-kue ku, dia juga ingin menghina dan mempermalukan ku.


Untung saja saat ini toko tak begitu ramai, hanya ada beberapa pengunjung. Dan itu pun sudah beberapa yang sudah pulang setelah membayar kue-kue yang mereka beli.


"Terimakasih atas kunjungan nya, Bu." ucapku pada customer yang baru saja membayar kue yang ia beli. Dan aku memberikan paper bag yang berisikan kue-kue pilihan nya.


"Sama-sama, mbak. Aku suka kalau dilayani langsung oleh owner nya sendiri. Seperti ada kepuasan tersendiri." ucap ibu itu sambil tersenyum sangat ramah padaku.


Aku pun membalas senyuman itu dengan tak kalah ramah nya.


"Hay, Sarah!! Kita bertemu lagi." sapa mbak Veni dengan senyum penuh ejekan padaku.


"Gimana rasanya sudah tak menerima uang belanja dari Bima?," tanya mbak Veni, dengan pertanyaan yang menurut ku tak membutuhkan jawaban.


"Aku rasa setelah ini wajah cantik ini akan kembali menjadi buluk, karena sudah tak mampu lagi untuk perawatan mahal di salon mu Siska." hina mbak Veni dengan mengangkat dagu ku.


Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, dia datang hanya mencari gara-gara dan membuat keributan di sini.

__ADS_1


__ADS_2