
"Waaah banyak uang juga dua perempuan lampir ini." ucap Lidya sambil tersenyum miring pada Laras dan Ambar.
"Wah menghina kami, kamu?!," Laras melotot pada Lidya.
"Baiklah, karena mereka sudah memulai, aku harus yang menyudahi," ucap Lidya.
"Aku naikkan menjadi sepuluh juta!!," ucap Lidya dengan memasang wajah sombong.
"Hah? Sepuluh juta?!," ucap Mereka bertiga, Laras, Ambar, dan Veni secara serentak.
Mereka tak habis pikir, kalau wanita yang di bilang kampungan itu mempunya banyak uang.
"Bagaimana, Bu? Untuk penawaran sepuluh juta?, apa ada yang lebih tinggi?," tanya kepala security itu.
Laras menengok pada Veni yang berdiri di belakang nya itu. Veni mengerti dengan tatapan mata Laras padanya.
Veni pun menggelengkan kepalanya, tidak menyanggupi permintaan mertua nya itu.
"Maaf, aku permisi ke toilet dulu," ucap Veni yang sebenarnya hanya beralasan saja untuk ketoilet. Lebih tepatnya bisa disebut Veni mencoba melarikan diri dari palakan mertua dan kakak iparnya.
"Veni.....," seru Laras dengan tatapan tajam pada Veni.
"Tapi maaf, Bu. Veni benar-benar lagi kebelet." ucap Veni sambil berlari keluar dari ruangan ini untuk menuju toilet umum yang tersedia di mall ini.
"Kurang ajar, Veni!!!, bisa-bisa nya ia melarikan diri." gerutu Laras.
Veni yang berlari kecil ke arah toilet itu pun, segera menghentikan jalan cepatnya. Ia kembali berjalan dengan normal seperti wanita elegan, karena saat ini ia memegang uang yang lumayan banyak.
"Enak saja, mereka mau memakai uang ku untuk membebaskan dirinya sendiri." gumam Veni sambil terus bicara dengan dirinya sendiri.
Kembali lagi ke ruang keamanan, di sana terlihat Laras dan Ambar kebingungan.
"Mbar, coba kamu telpon lagi suami mu.Aku yakin kalau suami mu pasti punya uang yang tak seberapa itu nominal nya itu!!," ucap Laras dengan sombongnya, niat sekali Laras bicara seperti itu agar Lidya dan Sarah mendengar nya.
Sarah hanya senyum-senyum biasa saja saat mendengar apa yang diucapkan oleh Laras mantan mertua nya itu.
Ambar langsung mengeluarkan handphone nya lagi dari dalam tas yang menylempang di tubuhnya.
__ADS_1
Dia memencet tombol panggil saat nama Teguh sudah terlihat dilayar handphone.
Kali ini panggilan telepon yang ia lakukan, tersambung ke nomor milik suaminya. Namun masih belum diangkat oleh Teguh.
"Kemana kamu, mas?, kenapa telepon ku nggak kamu angkat?," gumam Ambar lirih. Namun walau pun yang diucapkan Ambar dengan suara lirih, Lidya masih bisa mendengar nya.
"Ha ha ha, kasian banget. Sepertinya suami mu lagi selingkuh deh!," celetuk Lidya seenak jidatnya.
"Lid, jaga ucapan mu!," tegur Sarah pada Lidya.
"Emang iya kok, mbak. Buktinya sudah beberapa kali di hubungi tapi nggak ada respon. Apa itu artinya?, kalau bukan si laki nya itu sudah nggak suka sama dia." jawab Lidya, sambil mencincing ujung bibir sebelah kanan nya.
"Beda donk, dengan suamiku. Sudah kaya raya dan yang pasti selalu siaga." Sindir Lidya kepada Ambar.
"Kamu diam ya, Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga anak ku." ucap Laras pada Lidya membela anak perempuan satu-satunya.
"Kalau di lihat dari gaya mu, aku yakin kamu ini seorang pelakor," tuduh Laras sambil melirik kearah Lidya.
Sarah yang mengetahui tentang cerita yang sesungguhnya terjadi, membuat dirinya menjadi serba salah.
Begitu juga dengan masalah rumit yang sedang di hadapi Ambar, Teguh dan Lidya.
Sarah hanya bisa pasrah pada keadaan dan tidak terlalu ikut campur dengan urusan mereka. Karena Mereka pun sudah bukan siapa-siapa nya lagi.
"Kalau memang aku seorang pelakor, kenapa?!, apa ada masalah dengan hidup mu?!!," jawab Lidya pada tuduhan Laras.
"Atau apa suami anak ibu mau aku rebut juga?," lanjut Lidya dengan sengaja menakut-nakuti Laras
"Hey!!, jaga mulut mu!!!," ucap Laras dengan keras, ia terlihat ketakutan dengan apa yang diucapkan Lidya.
Dan Lidya tersenyum bahagia saat melihat ekspresi wajah Laras yang terlihat khawatir.
"Tanpa kamu sadari, kamu sudah merebut suami mbak Ambar, Lidya." gumam Sarah dalam hati.
"Kenapa kalian ini masih terus menghujat!!!, kapan selesainya masalah ini kalau kalian terus gontok-gontokan seperti ini?!," geram kepala security yang saat ini sedang menghadapi masalah itu.
"Sabar pak, anak ku masih menghungi suaminya yang sedang bertugas di luar kota itu." jawab Laras.
__ADS_1
"Bu, gimana kalau sementara pakai perhiasan ibu saja?," usul Ambar pada Laras.
"Apa??, pakai perhiasan ibu?!, tidak, tidak, ibu tidak setuju dengan usulan mu itu!!," Laras tidak menyetujui usulan dari Ambar yang menurut Laras itu adalah usulan yang ngawur.
"Tapi, Bu. Ambar janji, nanti kalau suami Mbar datang pasti Ambar akan ganti dua kali lipat." janji Ambar pada Laras, kalau seandainya Laras mau meminjamkan perhiasan nya untuk membebaskan dirinya sendiri dari hukuman membersihkan lantai mall ini.
"Tidak, tidak ada perhiasan ibu." Laras masih memegang teguh pendirian nya untuk tak menjual perhiasan nya.
"Ya, kalau begitu terpaksa kita berdua akan menjalani hukuman itu." gumam Ambar dengan wajah sedih dan kecewa.
"Apa maksud mu, Mbar?, apa kamu dan suami mu tidak mampu membayar uang itu?!," bentak Laras pada Ambar.
Sehingga membuat Ambar semakin malu, didepan orang asing Laras berbicara seperti itu. Berbicara dengan merendahkan anaknya sendiri.
"Mampu, Bu. Tapi bagaimana lagi?, telepon ku aja tidak diangkat. Pasti dia memang lagi sibuk Bu." jawab Ambar.
"Aku punya usul," tiba-tiba kepala security itu berbicara. Kepala security ini juga tak ingin kehilangan kesempatan sebelum ia mendapatkan keuntungan dari kesempatan itu.
"Apa?!, katakan secepatnya!!!," jawab Laras dengan sangat emosi.
Hati Laras saat ini sedang jengkel pada Ambar, karena suami Ambar ternyata tak bisa diandalkan disaat dirinya sangat-sangat memerlukan seorang Teguh menantunya itu.
"Kalian, bayang masing-masing sepuluh juta!!, jadi hukuman kalian bebas detik ini juga!!," ucap kepala security itu.
"Bentar pak, aku masih menghungi suami ku." lagi-lagi Ambar mencoba menghubungi Teguh suaminya itu.
"Aku sangat yakin kalau mereka akan bayar uang sebanyak itu, pak!!!. Lihat aja, dia masih bingung dengan perihal uang yang hanya sepuluh juta saja."Hina Lidya.
Tak ada yang menjawab ucapan Lidya, suasana ruangan ini pak begitu hening. Hanya ada suara panggilan masuk, yang sedang dilakukan oleh Ambar saat ini.
Laras menatap mata Ambar, ia memastikan kalau Ambar bisa membayar uang itu.
Dan Ambar yang sudah tahu arti dari tatapan Laras itu pun, dengan segera Ambar menggelengkan kepalanya.
"Ha ha ha, sekarang juga bersihkan lantai itu!!!," dengan sangat bangga, Lidya berucap.
"Cepat suruh mereka untuk melaksanakan hukuman nya, pak!," Lidya memerintah kepala keamanan itu.
__ADS_1