DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Berkenalan Dengan Tante Natasya POV Randy


__ADS_3

Tante Natasya datang dengan membawa satu box kue yang dibeli di toko kue milik Sarah.


Sepertinya tanteku ini sangat suka dengan kue buatan Sarah. Jangankan dia, aku juga suka sama kuenya. Apalagi sama orang nya he he he.


Dan Sarah menyuruh ku untuk tak bilang kalau dia lah pembuat kue itu. Entah kenapa Sarah menyembunyikan nya, aku juga tak tahu. Aku pun tak jadi memberi tahu Tante Natasya. Aku harus menghormati keputusan Sarah.


Sarah terus tersenyum saat melihat ku di suapi satu kue besar di mulutku. Sehingga mulut ku penuh dan susah sekali untuk mengunyah.


Ditambah lagi beberapa pertanyaan yang beruntun dari Tante Natasya. Terlihat wajahnya sangat cantik dan manis yang sempurna saat ia tersenyum padaku.


Bukan padaku ku sih, tepat nya saat melihat tingkah konyol Tante ku yang menyuapi ku satu kue sekaligus.


Setelah aku menelan pelan-pelan kue yang bersarang di mulutku dan aku meminum sebotol air mineral. Aku segera memperkenalkan Sarah pada Tante ku ini.


"Tante, kenalkan ini Sarah. Dan Sarah ini Tante ku." ucapku saling memperkenalkan.


Lalu Sarah mengulurkan tangannya sedang seutas senyum. Namun Tante ku hanya mengulurkan tangannya, dengan senyum yang sedikit di wajahnya.


"Sarah," Sarah memperkenalkan diri nya pada Tante dengan menyebut namanya.


"Natasya," balasnya, tapi sepertinya Tante Natasya berpikir keras saat Sarah menyebutkan namanya. Lalu Tante Natasya duduk diatas bantal yang sudah disediakan.


"Ini silahkan kamu coba kue nya, saya rasa kamu belum pernah memakan kue ini." ucap Tante Natasya sambil menyodorkan kue yang berada didalam kotak.


"Iya Tante," jawab Sarah dengan suara nya yang sangat halus.


Lalu tante Natasya membuka kan box itu, dan mengambil kan satu potong kue persis yang ia berikan padaku tadi.


Sarah pun mengambilnya, dan langsung menggigit nya. Lalu ia mengunyah kue itu dengan pelan.


Dan Sarah tau kalau aku sedang memandang nya, iya memandang ku dengan tersenyum. Mungkin ia tersenyum karena Kelakuan Tante ku.


Karena Tante ku ini sikap nya sangat unik menurut ku. Dia akan memaksa orang untuk merasakan apa yang dirasa ia sangat menyukai nya.


"Gimana? enak kan?," tanya Tante Natasya pada Sarah yang sepertinya sangat menikmati kue buatan nya sendiri.


"Iya, Tante. Enak sekali." ucap Sarah sambil tersenyum sangat manis pada tanteku.


Aku selalu mencuri-curi pandang pada Sarah, dan semoga saja Sarah tak tau kalau aku suka sekali mencuri pandang padanya.


"Tuh kan, apa yang Tante bilang. Pokoknya yang Tante bilang enak ya pasti memang enak. Aku harus beli banyak kalau pulang ke Inggris lusa." cerocos Tante Natasya tak ada tanda koma sama sekali.


Sarah yang mendengar ucapan Tante Natasya hanya tersenyum.


"Udah ah... bahas kue nya nanti lagi. Sekarang kita makan aja dulu. Kasian Sarah pasti sudah sangat lapar." aku berucap sambil melirik kearah Sarah.


Duh, wajah ayu dan kalem milik Sarah, bikin candu. Membuat aku ingin terus menerus memandang nya.


Sarah tak sadar kal aku meliriknya, bulu mata yang lentik alami mempercantik matanya yang berkedip.


"Ya sudah, kamu pesan saja." ucap Tante Natasya sambil menutup kotak kue yang terbuka.


Aku memanggil waiters, tak menunggu lama waiters pun datang dengan membawa beberapa list menu yang ada di resto masakan Jepang ini.


"Kamu mau yang mana, Sarah?," tanya ku pada Sarah.


"Aku terserah kamu aja, pak. Eh... Ran." ucap Sarah dengan wajah malu karena salah panggil.


Mungkin dia belum terbiasa memanggil ku tanpa sebutan bapak. Dan aku tersenyum pada nya, karena wajah kebingungan nya sangat lucu dan bikin aku gemas.


Ah... seandainya ia sudah sah menjadi perempuan ku, mungkin sudah aku cubit hidung mancungnya itu.


"Ran, kamu kok bengong?," Tante Natasya melambaikan tangan nya dan membuyarkan lamunanku membayangkan Sarah menjadi milikku seutuhnya.


"Ah..hmmm enggak kok, te. Randy nggak bengong." ucap Randy beralasan. Ia malu kalau Sarah sampai tau, ia sedang memikirkan nya.


Akhirnya aku memilih menu yang aku suka, sedangkan Sarah memasrahkan pilihannya padaku. Mungkin Karena ia tak pernah memakan masakan Jepang sebelumnya.


Sedangkan Tante Natasya, sangat cekatan memilih menu nya, karena masakan Jepang adalah salah satu favoritnya. Maka nya aku ajak dia kesini, resto paling recommended dikota ini.


Aku sangat yakin kalau Tante Natasya akan puas makan disini.

__ADS_1


Setelah kita semua selesai memilih menu, kecuali Sarah. Karena memang ia memasrahkan nya padaku.


"Kamu tidak makan, Sarah? kok tidak memilih menu?," tanya Tante Natasya sambil melihat kearah Sarah.


"Randy sudah memilih kan menu untuk saya, Tante." Jawab Sarah sambil tersenyum pada Tante Natasya.


Kali ini Sarah menyebut nama ku dengan sangat lancar, dan aku suka itu.


"Kok bisa Randy yang memilihkan?," tanya Tante Natasya dengan tatapan penuh selidik.


"Ya karena aku tau, seleranya Sarah Tante. Jadi aku sudah memesankan untuk nya yang spesial." ucapku memberi alasan, karena takut saja nanti Sarah jadi bahan bully-an Tante Natasya.


Karena aku sangat paham betul, bagaimana sifat Tante Natasya.


"Alay... kamu, Ran!," jawab Tante Natasya. padahal penyataan ku tak membutuhkan jawaban dari nya.


Setelah menunggu beberapa menit, datanglah berbagai macam menu. Sengaja aku memesan banyak menu untuk kita makan sekarang.


Tak lupa aku juga memesan nasi, karena aku orang Indonesia. Tak akan kenyang kalau belum memakan nasi.


Tante Natasya terlihat sangat lihai memegang sumpit, dan mengambil nasi dengan sumpit. Tak ada sedikitpun nasi yang jatuh. Mungkin karena sudah terbiasa.


Berbeda dengan Sarah, aku lihat ia sangat kebingungan memegang sumpitnya. Sedangkan nasi yang ia ambil dengan sumpit, berkali-kali jatuh. Dia terlihat kebingungan, akhirnya dia urungkan mengambil nasinya.


Dan ia mencoba memakan menu lain tanpa nasi, dengan pelan dan sangat hati-hati ia memakai sumpit nya untuk mengambil makanannya.


Tante Natasya yang melihat itu, langsung menatap aneh pada Sarah.


"Kamu nggak bisa makan pakai sumpit?," tanya Tante Natasya dengan tatapan mata aneh. Ya, aneh karena menurut nya di jaman semodern ini masih ada orang yang tidak bisa makan pakai sumpit. Mungkin itu pemikiran nya saat ini kalau aku lihat dari caranya memandang Sarah.


Padahal makan pakai sumpit kan bukan kewajiban yang harus dilakukan.


"Aku tidak pernah makan masakan Jepang, Tante." jawab Sarah dengan sangat jujur.


"Hah? masa iya, hidup dikota besar ini tidak pernah makan masakan Jepang?! Aneh sekali," ucap tante Natasya sambil menggelengkan kepalanya, lalu memakan kembali makanan yang terhidang didepannya itu.


Ia tak berfikir, seakan-akan omongan nya tak menyakiti hati orang lain.


Mungkin saat ini Sarah tersinggung dengan ucapan Tante Natasya, tapi sayang nya tak ada rasa bersalah saat ku lihat wajah Tante Natasya.


"Apaan sih, Tante ini. Kalau tidak bisa makan pakai sumpit itu tidak akan dosa Tante. Yang dosa itu jika kita julid sama orang yang tak bisa makan pakai sumpit." Aku menjawab pertanyaan Tante Natasya dengan sedikit agak pedas. Karena aku takut Sarah tak nyaman dengan omongan Tante Natasya.


Sesekali aku melirik kearah Sarah. Terlihat Sarah menundukkan kepalanya, mungkin dia merasa dipermalukan disini.


Lalu aku punya ide, kutaruh sumpit. Dan ku cuci tangan ku pakai air mineral yang disediakan oleh pihak restoran. Lalu aku makan makanan didepan ku langsung memakai tangan.


Sarah dan Tante Natasya kaget melihat ku. Lalu aku memandang Sarah dan tersenyum pada nya. Dia paham dengan arti senyuman ku.


Sarah langsung melakukan apa yang aku lakukan tadi, ia menaruh sumpit dan mencuci tangan nya dengan air mineral lalu makan langsung dengan tangan.


Tante Natasya terlihat heran memandang kami berdua. Secara bersamaan aku dan Sarah tertawa lepas.


"Dasar, kalian memang orang aneh!," umpat Tante Natasya. Ia terus melanjutkan memasukkan makanan kedalam mulut dan mengunyahnya.


Akhirnya semua menu di meja habis tak bersisa, Tante Natasya terlihat sangat puas.


"Gimana rasanya menurut Tante?," tanya ku. Karena masakan Jepang adalah favorit nya, aku yakin ia akan suka dengan masakan dari resto ini.


"Ya lumayan lah, tujuh dari angka sepuluh kalau menurut ku," jawabnya memberi nilai pada restoran ini.


"Kok cuma tujuh Tante? harus nya sembilan lah," protes ku.


"Ya jauh lah, kalau masakan ini sembilan. Karena masih lebih enak yang asli ada di Jepang." jawab nya tak mau kalah.


Lalu aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tahu Tante ku ini tak akan mau kalah.


Kami bertiga akhirnya pulang, ternyata malam ini Sarah tak membawa mobil sendiri.


Sebenarnya aku mau mengantarkan nya, namun ia menolak. Kata nya ia tak mau merepotkan ku.


Akhirnya dia memesan taksi online, aku dan Tante Natasya menemani Sarah sampai taksi itu datang.

__ADS_1


Aku pulang bersama Tante Natasya, karena tadi aku kesini juga naik taksi online.


Setelah taksi yang dipesan oleh Sarah datang, dan ia sudah naik Lalu taksi itu jalan, aku dan Tante Natasya pun akhirnya pulang.


"Ran, pacarmu itu asal dari kampung ya?," tanya Tante Natasya padaku saat aku sedang fokus nyetir.


"Sarah masih belum menjadi pacarku, Tante. Aku masih pendekatan." ucapku meluruskan pernyataan Tante Natasya. Karena takut didengar oleh Sarah, bisa-bisa Sarah tak terima disebut sebagai pacarku. Aku menjawab pertanyaan Tante Natasya dengan fokus menyetir mobil.


"Oo... begitu? Tante pikir kamu sudah pacaran. Dia cantik sih, tapi kenapa dia udik ya?, makan pakai sumpit aja nggak bisa." ucap Tante Natasya sambil tertawa, lalu ia mengambil sepotong kue yang ada di box.


Sepertinya memang dia sangat suka dengan kue-kue buatan Sarah. Bagaimana seandainya kalau ia tahu bahwa Sarah lah yang punya toko roti itu?


Tapi aku tak berani membocorkan nya, karena Sarah memintaku untuk diam.


Mungkin Sarah ingin menjaga privasi nya sebagai owner SKcake.


"Kue ini benar-benar enak, Ran. Tante suka sekali, pantes saja Rama merekomendasikan ini." ucap nya sambil terus memasukkan potongan kue ke mulutnya.


"Rama? kok bisa Rama merekomendasikan toko roti Sarah?," gumamku dalam hati.


"Memang Tante tau toko roti itu dari Rama?," tanyaku sangat penasaran. Karena selama disini, ia tak pernah bercerita padaku.


Tapi tunggu....


Aku baru ingat kalau kapan hari Rama datang ke cafe membawa satu box roti. Apa itu roti dari toko Sarah?....Bisa jadi iya, karena waktu itu aku juga tak melihat labelnya.


"Iya, mulai iya datang dari sini. Yang selalu Rama ceritakan ya ini, kue-kue ini. Tapi memang benar yang dikatakan Rama. Kue ini sangat enak sekali." ucap nya sambil terus mengunyah seperti tak ada kenyang nya perut Tante Natasya.


"Memang selera Rama soal makanan sangat tinggi, seperti aku. Semoga saja seleranya untuk mencari istri juga tinggi, jangan seperti kamu, Ran! ha ha ha."


Tante Natasya berucap sambil tertawa.


Sepertinya ia menertawakan Sarah. Karena disini ia tau kalau aku sangat mencintai Sarah.


"Tante ini apaan sih, nggak boleh merendahkan orang lain. Tante memang belum kenal Sarah. Randy yakin kalau Tante sudah mengenal Sarah, Tante pasti merengek minta Sarah menjadi menantu Tante."


Aku nggak mau dong, orang yang aku sayang dihina. Walau yang menghina itu Tante ku sendiri.


"Ye,,, gitu aja kamu marah, Ran!! Tante hanya bercanda. Lihat tuh kerutan di wajahmu makin jelas kalau kamu suka marah-marah. Ha ha ha...." lagi-lagi Tante menertawakan aku.


Aku langsung memegang dahi ku saat Tante Natasya bilang banyak keriputan di wajahku ini.


"Ha ha ha..."


Tante Natasya makin tertawa lebar saat aku memegangi wajah dan sesekali bercermin di spion mobil.


"Apaan sih Tante ini?!,"


Lalu aku mengabaikan nya dengan fokus menyetir. Dan akhirnya sampai lah aku di depan rumah.


Mobil langsung ku parkir di garasi, dan Tante Natasya pun turun. Sepertinya ia sangat ngantuk, mungkin karena kekenyangan.


Dia terlihat berjalan menuju kamar tamu dan langsung menutup pintunya, aku yang melihat tingkah nya pun tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Walau dia cerewet dan sangat pilih-pilih dalam hal apapun, tapi sebenarnya hatinya sangat baik.


Aku pun berjalan menuju kamar, sambil menaiki tangga, ku ambil handphone yang ada dalam saku celana.


Lalu ku kirim pesan singkat pada Sarah, untuk menanyakan ia sudah sampai rumah apa belum.


Untuk perkiraan ku, ia sudah sampai dari tadi, karena jarak resto dan rumah Sarah sedikit lebih dekat daripada dari rumah ku.


Pesan sudah aku kirim, namun masih belum dibalas. Lalu handphone aku taruh diatas nakas samping ranjang ku.


Dan kutinggal pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian ku.


Setelah aku mengganti pakaian dengan kaos oblong dan celana boxer. Aku duduk di bibir ranjang, dan mengambil handphone ku kembali.


Untuk melihat balasan pesan dari Sarah. Dan benar saja, Sarah sudah membalas nya. Memberitahu kalau ia sudah sampai rumah dengan selamat.


Kini ia sedang menidurkan Kean yang baru saja tidur digendong pengasuhnya.

__ADS_1


Tak lupa aku ucapkan selamat malam, dan selamat tidur semoga mimpi indah pada Sarah. Namun Sarah tak membalasnya, mungkin ia sudah tertidur.


Aku pun merebahkan tubuhku di atas ranjang. Pikiran melayang kemana-mana, andai saja Sarah sudah menjadi istri ku. Dia pasti saat ini sedang berada di sampingku. Aku berandai-andai, sampai lupa aku pun tertidur.


__ADS_2