
Tatapan tajam mata Veni terus tertuju pada Sarah yang saat ini hanya berdiri saja, melihat tiga orang yang ada di lantai yang sedang gulat beradu kekuatan.
Veni yang terlalu fokus pada sarah, sampai ia lupa tak melihat tiga orang yang sedang Jambak menjambak.
Sedangkan Sarah yang tau, kalau dirinya terus di tatap tajam oleh Veni, hanya tertawa getir.
"Tunggu saja balasan ku." gumam Sarah dalam hati dengan menatap mata Veni. Kali ini mereka berdua saling beradu pandang.
"Stop!!!!!, hentikan!!!!," teriak satpam yang baru datang untuk melerai Laras, Ambar dan Lidya.
Kali ini dia satpam yang datang, setelah satu satpam yang pertama itu sudah tak mampu melerai mereka bertiga.
Karena suara satpam itu sangat keras, ketiga orang yang berguling-guling diatas lantai mall itu pun langsung menghentikan aksinya.
"Berdiri!!!," teriak satpam itu dengan suara yang benar-benar menggelegar di telinga yang mendengar nya.
Karena suara satpam itu, akhirnya Veni tersadar kalau yang sedang berkelahi itu adalah mertua dan kakak iparnya.
"Ibu?!!, mbak Ambar?!!," panggil Veni yang terkejut saat melihat ternyata pelaku perkelahian adalah orang-orang terdekatnya.
"Kok bisa sampai seperti ini, sih?!!," tanya Veni dengan wajah jengkel dan malu tentu nya. Karena tiba-tiba Veni menjadi pusat perhatian banyak orang yang sedang berkerumun disitu.
"Waahhh, itu ibu dan kakak kamu ya?, seharusnya kalau membawa orang seperti ini ketempat umum, harus dengan penuh pengawasan ketat. Karena mereka berbahaya untuk pengunjung yang lain!!," celetuk seorang ibu yang dari awal ia tau seluk beluk masalah nya.
"Dikira mereka itu anjing, apa?!," gumam Veni dalam hati.
"Sampai harus ada perhatian khusus." lanjut nya lagi berbicara didalam hati.
Veni sangat di buat malu oleh kelakuan Laras dan Ambar.
Sarah hanya bisa menahan tawanya dengan menutupi mulut nya dengan telapak tangan nya. Saat melihat ketiga orang yang saat ini dandanan nya awut-awutan. Rambut serta bajunya compang-camping tak berbentuk.
"Benar-benar gulat yang totalitas," celetuk pengunjung mall yang melihat semua itu.
Sarah masih berusaha menahan tawa nya, walau harus sekuat tenaga.
__ADS_1
"Ayo kita selesaikan di kantor!!!," ucap satpam itu mengajak tiga orang perempuan yang berpenampilan seperti gembel itu.
Lidya kebingungan mencari Teguh suaminya. Karena ia tak mungkin datang sendiri ke kantor keamanan mall ini tanpa di dampingi oleh Teguh.
Lidya pun mengedarkan pandangan nya di kerumunan orang-orang yang saat ini berkerumun sedang menonton nya.
"Mbak Sarah!!," panggil Lidya saat ia melihat ada Sarah yang berdiri tak jauh darinya.
"Mbak Sarah!!," panggil Lidya dengan suara yang keras.
Panggilan pertama, Sarah tak mendengar. Lalu panggilan yang kedua, Sarah mendengar nya, karena suara Lidya sangat keras dengan tatapan nya menuju Sarah .Sehingga semua pandangan orang yang sedang berkerumun itu langsung mengalihkan pandangan ke arah Sarah.
Begitu juga dengan Laras dan Ambar, dengan bersamaan mereka juga menyebutkan nama Sarah.
Sarah pun langsung salah tingkah dengan pandangan beberapa pasang mata kepada nya.
"Kenapa Lidya harus memanggilku sih?!," gumam Sarah dengan menundukkan wajah nya.
"Oh... Jadi kamu kenal dengan perempuan jal*Ng itu?!," tanya Veni pada Lidya sambil berkacak pinggang dengan tatapan menghina pada Sarah.
"Mbak, mbak Sarah... Aku minta tolong padamu. Tolong Carikan suami ku, mungkin sekarang ada di luar mbak." mohon Lidya pada Sarah, dan Lidya tak menggubris ucapan Veni.
"Pasti kamu dari kampung yang sama dengan perempuan itu!!!, Sudah terlihat kalau kalian berdua sama-sama kampungan!!," umpat Laras.
"Diam kalian!!!, kalau kalian tidak tau apa-apa, jangan gampang menjudge orang lain!!," ucap Lidya yang sepertinya tidak terima kalau Sarah, mantan kakak iparnya itu di hina.
Sedangkan Sarah saat ini sangat bingung, karena kalau ia memanggil suami Lidya yang tak lain adalah Teguh yang saat ini masih menjadi suami sah Ambar. Pasti keributan yang lebih besar dan lebih dahsyat dari ini akan terjadi kembali.
Namun, kalau Sarah tak menolong Lidya, ia kasian melihat tubuh dan dandanan nya seperti itu.
Sarah masih termenung, tak langsung mengiyakan permintaan Lidya. Sarah masih menimbang-nimbang akibat yang akan terjadi selanjutnya.
"Mbak Sarah, kumohon...," rengek manja Lidya dengan menangkupkan kedua telapak tangan nya.
Sarah pun membuang nafas besar, untuk melonggarkan sesak pada dadanya karena permintaan Lidya pada nya.
__ADS_1
Lalu Sarah pun berjalan keluar, untuk mencari keberadaan Teguh yang di klaim Lidya menjadi suaminya. Padahal Teguh itu masih sah menjadi suami Ambar, mantan kakak ipar Sarah.
Sarah mengedarkan pandangan ke parkiran mobil, Sarah sangat hafal dengan mobil Lidya. Karena setiap kali ia kerumah Sinta, pasti melihat mobil Lidya terparkir didepan rumah nya.
Namun, sayangnya Sarah tak melihat keberadaan mobil Lidya dan juga Teguh.
Akhirnya Sarah pun kembali ke tempat Lidya, Laras dan Ambar yang bergulat tadi. Untuk memberi tahu Lidya kalau ia tak menemukan suami Lidya.
Dan saat Sarah sampai di tempat kejadian perkara, ternyata mereka bertiga sudah tidak ada lagi disana. Kerumunan pengunjung mall pun juga sudah bubar.
Lalu Sarah berjalan menuju outlet nya, untuk menanyakan pada karyawan nya kemana mereka bertiga dibawa.
Kata karyawan Sarah yang melihat nya, mereka bertiga di bawa ke kantor keamanan yang ada di mall ini.
Sarah pun segera menyusul ke tempat yang sudah di tunjukkan oleh karyawan nya itu. Karena Sarah sendiri juga tak begitu tahu seluk beluk mall ini, walaupun ia membuka usaha disini. Karena Sarah sendiri sangat jarang sekali berada di outlet cabangnya.
Sarah berjalan dengan langkah yang dipercepat, karena Sarah mengkhawatirkan Lidya. Sarah tau betul apa yang akan dilakukan tiga orang wanita yang begitu bringas itu.
Sarah mengetuk pintu ruang keamanan itu dari luar, dan kebetulan pintu itu tidak ditutup. Sehingga dari luar nampak tiga orang yang duduk seperti pesakitan yang sedang di sidang oleh kepala keamanan mall ini.
Sedangkan Veni, berdiri dengan melipat tangan di depan dadanya dengan bibir nya yang manyun dan menautkan kedua alisnya.
"Kalau bukan karena mereka mertua dan saudara suami ku, pasti sudah aku tinggal. Sungguh membuat malu saja!!," gerutu Veni dalam hati.
Setelah dipersilahkan masuk, Sarah pun berjalan mendekati Lidya.
"Pak,boleh saya bicara sebentar dengan Lidya?," Sarah meminta izin pada kepala keamanan yang sedang menyidang Laras, Ambar dan Lidya.
"Silahkan!," jawab kepala keamanan itu dengan tegas.
"Aku tak menemukan suami mu di luar, Lid." bisik Sarah di dekat telinga Lidya.
"Mbak Sarah yakin?," Lidya seperti tak percaya dengan apa yang di bisikan Sarah pada Lidya.
"Iya, Lidya. Sekarang kamu telepon saja." saran Sarah pada Lidya.
__ADS_1
"Benar juga, mbak. Kenapa aku tak kepikiran seperti itu dari tadi!," ucap Lidya sambil menepuk jidatnya.