
Akhirnya diantara mereka berdua yaitu Sarah dan Anita terjadi obrolan yang hangat. Usia yang terpaut cukup jauh itu pun tak menjadi penghalang.
"Inspirasi sekali cerita Bu Sarah, membuat semangat ku terpacu untuk mencapai kesuksesan seperti ibu." ucap Anita.
Walau sudah sangat akrab, Anita tetap manggil Sarah dengan sebutan ibu. Karena demi keprofesionalan pekerjaan .
Anita pun bercerita awal ia berkerja di kantor penerbit ini. Ia bercerita bahwa pemilik kantor ini adalah teman kuliah nya waktu di inggris.
Jadi dengan mudah, tapi tetap dengan skill yang mumpuni, akhirnya Anita diterima menjadi sekretaris di kantor penerbitan buku dan novel.
Tok
Tok
"Sepertinya beliau sudah datang." ucap Anita, lalu ia berdiri untuk membuka pintu.
"Selamat siang, pak." sapa Anita sambil menganggukkan kepala nya.
"Siang juga, apakah penulisnya sudah datang?," lelaki tampan yang dan gagah itu bertanya pada Anita sekretaris nya. Lelaki itu berjalan menuju meja yang sudah terhidang beberapa menu makanan terfavorit di resto ini.
Dari belakang ia melihat perempuan memakai khimar panjang berwarna navy.
"Sudah, pak. Dia sudah menunggu di dalam." jawab Anita yang berjalan mengikuti atasan nya itu dari belakang.
"Selamat siang Bu, maaf Saya telat." sapa lelaki itu pada Sarah yang masih sibuk membalas pesan singkat dari Sinta. Sarah tak menyadari kedatangan lelaki itu.
Sapaan pria mudah itu, membuat Sarah terkejut. Ia pun langsung mengangkat wajah nya dan menatap lelaki yang saat ini berdiri didepan nya.
"Kamu?," ucap Sarah dengan ragu.
"Mbak Sarah?!," pria mudah itu pun terkejut saat melihat wajah perempuan yang ada di depan nya itu.
"Jadi benar kamu ini Rama? Rama keponakan......" Sarah tak meneruskan ucapannya. Mulut nya seperti tak bisa di gerakkan.
Dia masih terkejut, hati nya yang awalnya tenang kini kembali kacau saat ia bertemu dengan Rama.
Bayangan masalalu seperti hadir lagi menghantui kehidupan nya. Rasa yang belum selesai, memang rasa itu tak pernah dimulai itu pun seperti memporak porandakan hati Sarah saat ini.
"Iya, mbak. Saya Rama keponakan om Randy." jawab Rama dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Seperti bermimpi, selama bertahun-tahun tak ada kabar. Kini Sarah seperti menemukan titik terang.
Tak terasa air mata bahagia dan penuh haru menetes di pipinya. Seperti ada harapan lagi untuk menemui orang yang sangat berarti di masa lalu nya.
Kenangan masalalu saat menghabiskan waktu dengan nya, kembali terputar di pikirannya.
Tapi kesedihan itu muncul kembali, lantaran takut harapan yang ia bayangkan tak sesuai dengan keinginan nya.
Takut lelaki yang ada di hatinya sudah dengan wanita lain.
Lalu Sarah tersadar, bahwa dirinya masih berstatus istri orang di mata hukum. Tidak sepantasnya ia memikirkan laki-laki lain, sebelum ia benar-benar sah bercerai dengan Bima dan sudah melewati masa Iddah.
Sedangkan Rama, seperti menemukan separuh hatinya yang hilang. Bahagia, saat ini yang di rasakan Rama. Terlihat itu dari senyum di bibir nya dan tatapan mata coklat nya yang tak lepas dari wajah Sarah.
Rama begitu sangat mendambakan Sarah, sejak awal ia bertemu dengan Sarah di depan toko roti milik Sarah. Ingatan itu kembali terputar di otak Rama.
"Ehem..." suara dahem Anita pun berhasil memecah kecanggungan yang dirasakan Rama. Sedangkan Sarah langsung tersadar dari lamunannya tentang Randy, yang tak lain adalah sepupu Rama.
"Apa kabar, Bu Sarah?," sapa Rama dengan salah tingkah, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Sarah.
Walau sudah kenal sebelumnya, profesionalitas dalam bekerja pun harus tetap di jaga.
"Oo...maaf." ucap Rama sambil menarik lagi tangan nya.
"Silahkan duduk." Rama pun mempersilahkan Sarah untuk duduk. Rasa gugup dan salah tingkah sangat dirasakan Rama saat ini.
Sarah pun kembali duduk di kursi yang semula. Begitu juga Rama, ia duduk tepat di hadapan Sarah. Hingga tatapan matanya tak lepas dari wajah Sarah.
Sarah yang tau itu, semakin menundukkan wajahnya. Suasana canggung pun tercipta diruangan ini. Dan bukan Sarah saja yang melihat tatapan Rama padanya, Anita pun juga melihatnya.
"Maaf, pak. Apa kita mulai makan siang dulu atau langsung membahas kerja sama kita dengan Bu Sarah?," suara Anita berhasil memecah keheningan ruangan ini.
"OOO...eee....., sebaiknya kita..." Rama yang tersadar dari lamunannya pun kebingungan menjawab pertanyaan Anita.
"Ehmmm apa tadi yang kamu tanya kan?," tanya Rama lagi pada Anita. Dari sikap Rama yang seperti ini, Anita bisa tau kalau saat ini atasan nya tidak konsen dalam pekerjaan.
"Kita makan siang dulu atau kita mulai kerja samanya dengan Bu Sarah?," Sinta mengulang pertanyaan yang sama, kaki ini dengan suara yang sedikit keras dengan wajah kesal nya.
Anita sangat kesal pada atasannya, karena ia menatap Sarah seperti tak biasa.
__ADS_1
"Lebih baik kita makan siang dulu, karena jam makan siang sudah terlewat." jawab Rama.
Dan Sintia mulai membuka hidangan yang sudah ada diatas meja. Anita menuang minuman ke dalam gelas milik Rama dan milik Sarah.
"Silahkan di makan, Bu Sarah." Anita mempersilahkan Sarah untuk makan hidangan yang ada didepan nya.
"Terimakasih," jawab Sarah dengan singkat.
Mereka bertiga pun makan bersama dengan keheningan yang tercipta karena pikirannya masing-masing.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanan yang rasa nya sangat lezat di restoran yang besar dan mewah seperti ini.
Anita pun segera memanggil waiters, untuk membereskan piring-piring kotor bekas makanan yang ada di meja ruang VVIP ini.
Dengan sangat cekatan, beberapa weiters kaki dan perempuan pun membersihkan meja itu dan menatanya kembali dengan sangat rapi seperti semula.
Setelah para weiters itu hilang dari pandangan mata, mereka bertiga pun mulai membahas Dewi tentang kerja sama yang akan di lakukan.
Dan akhirnya kerjasama pun di setujui dan Sarah pun menandatangani surat kerja sama dengan penerbit buku Surya gemilang milik Rama.
"Terimakasih untuk kepercayaan pak Rama pada karya tulis ku." ucap Sarah.
"Aku sudah membaca seluruh isi novel yang Bu Sarah tulis. Dan aku langsung suka, tanpa tau siapa penulis nya." jawab Rama.
"Jadi aku langsung mengirim pesan pada Bu Sarah." jelas Rama.
"Untuk penerbitan novel Bu Sarah akan segera di lakukan, setelah selesai di cetak. Nanti proses pencetakan novel untuk menjadi buku, mungkin memerlukan waktu sekitar tiga bulan, Bu." jelas Anita.
Sarah menganggukkan kepala nya, tandanya ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Anita.
"Untuk agenda selanjutnya, nanti biar saya akan menjelaskan setelah percetakan sudah berjalan setengah. Agar ibu bisa mempersiapkan diri untuk launching novel ke beberapa kota besar." ucap Anita lagi.
"Baiklah, Bu. Saya tunggu kabar selanjutnya." ucap Sarah. Sarah lebih aktif bicara dengan Anita, karena selain sesama perempuan. Anita sangat bisa mencairkan dan menghangatkan suasana.
Berbeda dengan Rama, tatapan Rama lah yang membuat Sarah canggung dan salah tingkah. Dan itu membuat Sarah memilih untuk diam dan tak banyak kata pada Rama.
"Dari sini, mungkin ada yang belum ibu mengerti?," tanya Anita.
"Untuk sejauh ini saya mengerti, mungkin nanti kalau ada hal yang tidak aku mengerti, aku akan bertanya." jawab Sarah.
__ADS_1