
Semua tamu sudah pergi dari rumah mantan mama mertua ku, tinggal kami dan karyawan-karyawan kami.
Terlihat mantan mama mertua masih menangis dan ditenangkan oleh gundik mas Damar.
Tapi kenapa jiwa jahat ku seakan keluar setelah melihat kejadian ini semua?
Iya, rasa nya ingin tertawa selebar-lebarnya didepan empat orang yang telah menyakiti ku.
Namun jangan kira aku akan melakukan hal itu, aku masih sadar kok kalau itu perbuatan yang sama jahat nya.
Lidya juga menangis, karena menahan sakit saat sanggul dan konde nya dijambak oleh Diana.
Sekarang keadaannya sudah tidak cantik lagi, karena rambut yang ber konde itu berubah acak-acakan. Dengan make-up yang tak karu-karuan.
Aku melihat Reni dan teman-temannya saling cekikikan. Mungkin ia melihat orang yang biasanya bar-bar kini tak berkutik.
Sedangkan mas Damar terlihat sangat malu dengan kejadian tadi, bisa di lihat dia hanya menunduk kepala.
Mantan mama mertua terus menangis, dan ia duduk disamping mas Damar. Mantan mama mertua menangis meraung-raung seperti tak punya malu.
Mungkin dia lupa kalau saat ini masih ada aku dan karyawan-karyawan ku yang lain.
"Mar, gimana ini? Di Pernikahan Lidya ini aku sudah rugi banyak. Hua Hua Hua.....," mantan mama mertua semakin menjadi saat ia teringat biaya yang ia keluarkan tidak sedikit.
"Mana amplop para tamu juga sudah diambil lagi?! Kurang ajar jeng Sonya, bisa-bisanya amplop itu diambil lagi dan ia menghinaku didepan teman-teman yang lain." mama mas Damar masih saja menangis tidak terima dengan perlakuan teman-teman sosialita nya.
"Aku malu Mar, atas kejadian ini. Pasti teman-teman sosialita mama akan menjauhi mama. Mama nggak aku itu terjadi!!,"
"Kenapa mama bingung dengan teman-teman mama?!, yang harus mama bingungkan adalah bagaimana nasib Lidya dan bayi didalam perutnya kalau tak ada orang yang mau menikahi nya, ma!!!!," mas Damar terlihat sangat emosi dan aku mengerti dengan perasaan nya saat ini.
Tapi....
Kenapa dada ini tiba-tiba terasa sesak?
Saat aku melihat gundiknya mengusap bahu mas Damar. Seakan-akan memberi kekuatan pada mas Damar.
"Masalah Lidya itu gampang, Mar. Tinggal kita gugurkan saja janin diperut nya itu. Lidya sudah bisa aktifitas kembali seperti biasa. Sedangkan mama? Mama harus memulai meyakinkan teman-teman sosialita mama lagi mulai dari awal."
"Astaghfirullah..." ucapku lirih dengan menutup mulut ku.
Setan dari mana yang saat ini menghinggapi tubuh mantan mama mertua ku ini?!, kok bisa-bisanya ia mempunyai pikiran keji dan jahat seperti itu.
Padahal janin yang ada di kandungan Lidya itu tak tahu apa-apa tentang dosa orang tua nya.
"Mama ini gimana sih?!! kok bisa-bisanya punya pikiran seperti itu!!!.Damar nggak pernah setuju dengan ide konyol mama itu!!!." Mas Damar terlihat sangat geram.
"Terus gimana lagi, Mar?, Mama sudah rugi besar dengan acara ini. Uang mama sudah habis," sekali lagi mantan mama mertua ku menangis menyesali kerugian nya.
Akhirnya aku dan pak Randy memutuskan untuk berpamitan dan pergi dari sini, setelah semua karyawan telah memindahkan makanan ketempat lain. Dan peralatan juga sudah beres, sudah berada diatas mobil semuanya.
Kali ini pak Randy yang maju untuk berpamitan, karena sangat bisa dipastikan kalau aku yang berpamitan peperangan yang seperti tadi akan terulang kembali.
"Permisi, kami dari pihak catering mau pamit undur diri. Untuk makanannya sudah kami pindah ke tempat lain. Dan kami ucapkan banyak terima kasih karena sudah memakai jasa catering kami," ucap pak Randy dengan sangat sopan sekali.
Tapi yang aneh kenapa tatapan mantan mama mertua ku tertuju pada ku. Dan tatapan itu sungguh menyeramkan, seperti singa yang lapar dan ketemu dengan mangsanya.
Lalu mantan mama mertua berdiri dan berjalan kearah ku.
Dengan cepat, tangan nya menarik Khimar panjang ku. Sehingga kepalaku terjengkang kebelakang.
Namun mas Damar dan pak Randy sepertinya saling mendahului untuk menolong ku.
Kulihat mas Damar berlari dengan cepat dari tempat duduk nya untuk menolong ku, tapi tetap saja ia kalah cepat. Karena disamping ku sudah ada pak Randy yang sudah standby dari tadi.
"Dasar wanita pembawa sial!!!! Gara-gara kamu semua acaraku hancur!!!! Sekarang kembalikan uang ku dua puluh lima juta!!!!," ucap mantan mama mertua ku sambil menunjuk muka ku.
"Ma, apa-apaan sih?! Jangan membuat malu seperti ini dong!!! Masalah ini tidak ada hubungan nya sama sekali dengan Sarah!!." Ucap mas Damar pelan namun penuh penekanan. Terlihat wajahnya sangat malu karena kelakuan mama nya itu.
__ADS_1
Terus, sejak kapan ia mulai membela ku?. Bukan nya dulu setiap mantan mama mertua menyalahkan ku pasti ia juga ikut menyalahkan ku juga?!.
Ah... peduli apa aku saat ini. Toh sudah tak ada perasaan cinta pada diri mas Damar. Yang ada cuma rasa sakit dihati ini. Apalagi kalau ingat saat ia menyakiti ku, hati yang luka ini terasa disiram kembali dengan air garam.
"Tapi, karena dia uangku dua puluh lima juta habis!!!!!," mantan mama mertua berucap dengan lantang.
"Pasti sekarang kamu bahagia kan melihat ini semua?!," mantan mama mertua menatap ku dengan mata melotot.
Aku hanya diam saja tak menjawab sepatah kata pun. Namun sejujurnya mulut ini ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk berucap syukur rasakan itu. Ingin tertawa tapi takut dosa. Aku masih punya hati, tak tega rasanya jika aku harus mengucapkan itu pada orang yang sedang kesusahan.
"Sudah, ma. Sudah!!!!," teriak mas Damar melengking.
Akhirnya mantan mama mertua diam seribu bahasa, ia takut kalau mas Damar akab semakin marah.
Akhirnya aku dan pak Randy keluar dari rumah itu untuk pulang.
Saat kaki ini berjalan dibelakang pak Randy, tiba-tiba mas Damar menarik tangan ku.
"Sarah, maaf kan aku." ucap nya saat aku menoleh kebelakang saat tangan ku ditarik.
"Maaf untuk apa, mas?," tanya ku. Seketika langkah pak Randy terhenti saat mendengar ucapan ku.
Pak Randy juga menoleh kebelakang kearah ku dan mas Damar.
"Maafkan untuk semua kesalahanku dan keluarga ku, Sarah." Jawabnya dengan menundukkan kepala nya seperti tak ingin menatap wajah ku.
Aku terdiam namun tak bicara, aku tak tau dengan perasaan ku. Jujur aku masih sakit hati dengan perlakuan mereka. Tak mudah untuk ku menyembuhkan luka di hati ini. Karena aku hanya manusia biasa.
Namun seandainya rasa sakit ini terus aku pendam, ini juga tak akan baik untuk diri ku sendiri.
"Ayo Sarah kita pulang, kasian Kean yang pasti menunggu mu pulang," Sepertinya pak Randy mengerti dengan apa yang aku rasa saat ini.
Pak Randy seakan mengerti kalau aku tak punya jawaban atas permintaan maaf mas Damar.
Pak Randy tak pernah tau kisah kelam ku selama menjadi istri mas Damar, ia juga tak pernah bertanya kepada ku. Mungkin saja ia menyimpulkan sendiri tentang kisah hidupku.
Aku pun akhirnya pergi meninggalkan rumah mas Damar bersama pak Randy.
Kita menaiki mobil masing-masing, aku bersama karyawan-karyawan ku. Sedangkan pak Randy sendiri, karena karyawan nya sudah pulang lebih dulu bersama mobil yang mengangkut peralatan catering.
Reni duduk di jok depan disamping ku, sedang kan Dina dan Ana ada di jok belakang.
"Mereka sekarang terna karma nya ya Bu?," ucap Reni memecah keheningan.
"Karma apa Ren?," tanya ku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang Reni katakan.
"Mereka selalu menghina Bu Sarah. Mencaci maki Bu Sarah ditempat umum. Dan sepertinya mereka ingin sekali mempermalukan Bu Sarah." ucap Reni.
Aku tak menjawab nya, aku hanya tersenyum pada Reni.
Sampai lah kita di depan ruko, terpantau ruko saat ini sangat ramai dengan pengunjung.
Alhamdulillah rejeki dari Allah begitu mengalir dengan deras.
"Untung saja uang catering sudah dibayar dengan kontan si depan, jadi tak ada kata rugi untuk ku walau acaranya gagal total," ucapku dalam hati sambil tersenyum.
"Bu Sarah kenapa tersenyum sendiri?," tanya Reni yang tengah melihatku, aku tak menyadari kalau Reni sedang menatap ku.
Ah... jadi malu Saat tersenyum sendiri dipergoki oleh karyawan.
"hmm nggak ada apa-apa kok. Kamu itu ya dasar kepo," jawabku dengan bercanda dan tersenyum pada Reni.
"Ciee yang habis dipegang tangan nya oleh pak Randy," goda Reni padaku
"Eh.. apaan sih?! Kalau didengar orang nggak enak tau. Dikira ntar wanita murahan lagi," ucapku salah tingkah saat Reni menggoda ku dan ku arahkan pandangan ku ke kanan dan ke kiri. Karena takut ada karyawan lain mendengar ucapan Reni.
Aku langsung buru-buru meninggalkan Reni yang sedang berdiri dengan bermain handphone nya. Sepertinya ia sedang membalas pesan dari teman nya. Aku segera berlalu darinya karena takut Reni akan terus meledek ku.
__ADS_1
"Bu..bu Sarah, lihat ini!," Reni memanggilku, lalu aku menoleh kearahnya dan ia menunjukkan layar handphone nya.
"Ada apa, Ren?," tanya ku karena tak jelas dengan gambar yang ada di layar handphone milik Reni.
"Lihat video ini, Bu." lalu ia memutar kan video itu dan memberikan handphone nya padaku.
Aku pun mengambilnya dan saat kulihat dengan seksama video dengan caption "Pernikahan yang berujung Peperangan".
"Astaghfirullah....," aku langsung menutup mulut ku karena begitu kaget saat melihat video itu.
Itu video Lidya dan Diana serta mantan mama mertua yang saling Jambak menjambak.
Aku pasti kan pria muda yang menjadi simpanan mantan mama mertua lah yang menyebarkan video itu.
Karena hanya dia yang saat itu terlihat sedang merekam aksi peperangan antara Lidya, Diana dan mantan mama mertua ku.
Begitu cepat menyebarnya video itu, karena baru satu jam sudah dilihat oleh ratusan ribu akun dan di bagikan sekitar seribu lebih akun.
Aku yakin seyakin-yakinnya kalau penyebar pertama video itu adalah lelaki yang berciuman dengan mantan mama mertua didepan toilet belakang.
Ku coba melihat akun yang pertama kali memposting nya. Namun saat ku lihat profil dari akun itu, sepertinya bukan lelaki muda itu.
Apa mungkin ini kelakuan teman-teman sosialita mantan mama mertua ku?
Ah... itu mah bukan urusan ku.
Biar saja aku menikmati video yang disuguhkan dengan gratis di sosial media ini.
Lalu ku mencoba membuka komentar-komentar dari para netizen.
"Makanya jangan jadi pelakor," komentar dari akun yang bernama Sila putri
"Nah loh...ketauan kan sama anaknya?! hahahaha." diikuti lagi komentar dari Wahyuningsih.
"Wah parah bapak teman nya pun diembat juga," kali ini komentar dari lambe julid.
"waah itu yang pakai kebaya kan wanita yang kemarin sempat live di SKcake ya? yang sepertinya ia ingin mempermalukan owner SKcake. Eh... sekarang dia sendiri yang dipermalukan. Ingat ya besti karma itu tak semanis kurma," komentar dari akun yang bernama Desi Puspasari.
Dan masih banyak komentar komentar yang lain. Dan yang membuat aku gagal fokus. Ternyata disana Lidya membalas satu persatu komentar miring dari netizen.
Lidya menjelaskan duduk perkaranya namun sama sekali tak dihiraukan oleh para netizen yang Budiman.
Setelah Lidya mencoba menjelaskan tapi tak ada tanggapan baik dari netizen akhirnya Lidya pun emosi. Satu persatu komentar dari netizen dibalas dengan kata-kata kasar.
Tak terbayang stresnya Lidya saat ini. Semoga ia dikuatkan hatinya agar selalu menjaga kewarasan dirinya. Masih terselip doa untuk dia di setiap ucapan bibir ini.
Lalu kuberikan handphone itu pada Reni yang sudah ada didepan. Dia sedang melayani customer. Dan handphone ku taruh diatas meja.
Aku segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuh ini, ingin sekali segera memeluk Kean Sadam Saputra.
Setengah hari kutinggal bekerja diluar, rasanya begitu kangen ingin memeluk dan mencium Kean.
Gimana dengan mas Damar? Apa ia kangen sama Kean? secara sudah berbulan-bulan ia tak pernah bertemu dengan Kean anak semata wayangnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku melangkah menuju Kean yang sedang bermain perosotan di play ground nya.
Iya, aku melengkapi rumah ini dengan tempat bermain untuk Kean. Agar ia betah saat aku tinggal bekerja walaupun aku bekerja di dalam rumah.
Terlihat Kean sangat menikmati setiap permainan yang ada di dalam play ground nya. Banyak mainan didalam sana, ada mobil-mobilan, ada kereta, ada perosotan dan masih banyak lagi.
Semua itu aku beli dengan hasil keringat ku sendiri, dari memeras otak ku yang ku tuangkan di dalam tulisan sehingga menjadi novel yang banyak pembaca nya.
Dari memeras otak itu aku menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dan aku sangat bersyukur dengan apa yang aku capai saat ini.
"Assalamualaikum Kean, anak nya mama." ku ucapkan salam pada Kean agar terbiasa mendengar ucapan salam.
"Am mam ma...," panggil Kean kepada ku dengan masih terbata-bata. Wajah lucunya membuat capek setelah bekerja langsung hilang saat melihat nya.
__ADS_1
Aku langsung menggendongnya, dan menciumi pipi gembul nya. Saat ini Kean sudah mulai belajar berjalan. Ia saat ini sudah berusia sepuluh bulan, tak terasa hampir satu tahun aku tidak bersama dengan mas Damar.