DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Permintaan Rujuk


__ADS_3

"Siapa Sarah?," tanya bapak dari dalam sambil berjalan ke arah ku berdiri di belakang pintu.


Aku tak menjawab, aku hanya menoleh ke pada bapak yang terus mendekat pada ku.


"Nak Damar?! mau apa kamu?!," tanya bapak terlihat sangat terkejut melihat kedatangan mas Damar.


Namun dari panggilan bapak pada mas Damar, masih menunjukkan kesopanan. Walaupun aku tau dalam hati bapak ada banyak kekecewaan pada mas Damar.


Iya, kecewa pada perlakuan dia dan keluarganya padaku saat aku masih sah menjadi istrinya.


Sebenarnya ibu dan bapak tak banyak tau tentang masalah rumah tangga ku dulu dengan mas Damar. Karena aku tak pernah sama sekali menceritakan penderitaan ku pada mereka.


Aku takut mereka akan sedih jika aku menceritakan nya. Namun berjalan nya waktu, mereka mengetahui bahwa aku sudah diusir dan dicerai kan oleh mas Damar.


Disitu sangat terlihat sekali kekecewaan pada hati bapak dan ibu. Namun mereka tak pernah menunjukkan atau pun mengatakan langsung padaku.


"Maaf pak, saya datang kesini untuk bersilaturahmi." ucap mas Damar sambil mendekat pada bapak yang sudah berdiri disamping ku.


Lalu ia bersalaman dengan bapak dan mencium punggung tangan bapak.


Ah.. kemana saja selama ini kamu mas?! Kok baru sekarang mau menjalin silaturahmi dengan keluarga ku. Bukankah dulu kamu dan keluarga mu bilang bahwa kami ini tak selevel dengan mu?!.


Bukannya respek pada tingkah mu, malah aku makin ilfeel melihat mu.


"Mimpi apa kamu mas? kok tiba-tiba datang kesini mau bersilaturahmi?!," ucapku ketus. Karena percuma bicara dengan nada halus, kalau mengingat kelakuan mas Damar dan keluarga nya padaku dulu waktu aku masih menjadi bagian keluarga nya.


"Apa aku tak di ijinkan masuk dulu, Sarah?," tanya mas Damar seperti tak tau malu.


"Silahkan!!," ucapku singkat.


Aku pun berjalan masuk ke ruang tamu, dan bergegas membantu membereskan sisa-sisa piring kotor setelah sarapan tadi.


Sedangkan mas Damar duduk di kursi yang menghadap ke dalam rumah.


Aku yang kebelakang untuk menaruh piring2 kotor, di ikuti bapak yang berjalan di belakang ku.

__ADS_1


"Apa kamu punya rencana rujuk dengan Damar, Sarah?," tanya bapak tiba-tiba dan membuat aku terkejut.


"Maksud bapak?," tanya ku dengan alis bertaut. Karena tak pernah sekalipun terbesit di pikiran ku untuk kembali rujuk dengan mas Damar. Mengingat ia sudah menyelingkuhi ku didepan mata.


Itu sangat membuat hati ku terluka dan sakit sampai saat ini.


"Bapak harap, kamu bisa mengambil keputusan yang tepat setelah apa yang dilakukan Damar pada mu!," ucap bapak sambil berlalu meninggalkan ku di dapur.


Dari ucapan bapak, seperti nya bapak takut kalau aku akan rujuk dengan mas Damar.


Tapi bagiku itu mustahil, aku tak ada niatan sama sekali untuk rujuk dengan nya.


Setelah aku menaruh piring kotor di dapur, aku berjalan menuju ruang tamu. Dimana mas Damar sedang duduk di temani bapak.


Kelihatan nya bapak terpaksa menemani mas Damar mengobrol. Mungkin di pikiran bapak, kalau bukan dia yang menemani lalu siapa lagi?


"Ada tujuan apa nak Damar singgah ke gubuk kami?," tanya bapak tanpa basa-basi. Kelihatan sekali dari nada bicara dan tatapan nya, kalau bapak tidak senang dengan kedatangan mas Damar.


"Damar kesini mau silaturahmi, pak. Damar kangen sama bapak dan ibu." Jawab mas Damar dengan sangat sopan sambil memandang bergantian pada bapak dan ibu.


Aku rasa itu akal-akalan nya, aku yakin pasti ada sesuatu dibalik ini semua.


"Aku juga sangat merindukan Kean," ucapnya lagi sambil menatap ku yang seperti..... ah, aku tak bisa mengungkapkan arti tatapan mas Damar padaku saat ini.


Ia terus menatap ku dengan tatapan yang membuat aku tak nyaman.


Dan sepertinya bapak pun melihat hal itu, hal yang membuat diriku tidak nyaman.


"Ehhem...," bapak berdehem, langsung membuyarkan tatapan mata mas Damar pada ku.


"Kean mana, Sarah?," tanya nya. Namun kali ini dengan tatapan biasa saja. Mungkin ia merasa kalau tatapan nya sangat tidak disukai oleh bapak.


"Kean didalam, masih dimandikan oleh pengasuh nya." jawab ku.


Mayang pun datang sambil membawa secangkir kopi, dan diletakkan di depan mas Damar.

__ADS_1


"Silahkan kopinya diminum, mas." ucap Mayang pada mas Damar.


"Makasih, May." jawabnya sambil mengangguk kan kepalanya. Kali ini sikap mas Damar sangat berbeda sekali, tidak seperti waktu ia menjadi suamiku.


"Pak, selain bersilaturahmi. Aku kesini ada sesuatu yang ingin sekali aku bicarakan dengan bapak, ibu dan Sarah." Mas Damar memandang bergantian mulai dari bapak, ibu dan terakhir padaku.


"Aku sudah menduga, tidak mungkin nak Damar datang jauh-jauh ke gubuk ku, kalau tak ada tujuan penting. Kalau hanya untuk bersilaturahmi, bapak rasa nak Damar tak akan sampai menyempatkan diri kesini." kali ini ucapan bapak sangat lembut, tapi menusuk langsung ke jantung.


Aku lihat mas Damar langsung salah tingkah saat mendengar apa yang di ucapkan oleh bapak pada nya.


"Silahkan... apa yang mau nak Damar katakan," bapak mempersilahkan mas Damar untuk menyampaikan apa yang akan ia sampaikan.


Dan aku mulai was-was, takut apa yang akan disampaikan mas Damar tentang permintaan hak asuh Kean.


Namun aku harus tetap bersikap seperti biasa, agar tak terlihat ketakutan dan khawatir. Karena aku yakin, kalau aku kelihatan takut, mas Damar akan dengan mudah menindas ku untuk mengambil hak asuh Kean dari tangan ku. Dan itu tak boleh terjadi, karena Kean adalah milikku. Biar saja aku di bilang egois!.


"Sebenarnya, Damar datang kesini ingin meminta restu bapak dan ibu untuk rujuk dengan Sarah." ucapnya sambil matanya menatap ku di akhir kalimat nya.


"Apa?!," ucap ku refleks dengan mata melotot.


Apa maksud omongan mas Damar? kenapa ia meminta restu untuk rujuk dengan ku. Padahal tak ada pembahasan ini sebelum nya.


Kemarin ia hanya bilang, agar aku pindah dirumah nya. Apa yang ia maksud itu, ia memintaku untuk rujuk dengan nya?


Ah... tak habis pikir aku dengan jalan pikiran mas Damar. Saat ini ia meminta ku rujuk tapi statusnya masih suami sah Bianca.


"Iya, Sarah. Aku ingin rujuk kembali dengan mu. Agar Kean mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh."


Wow pintar sekali ia memberi alasan. Kean adalah alasan yang tepat untuk nya. Mungkin mas Damar pikir aku akan luluh kalau ia memakai Kean sebagai alasan.


"Kalau masalah nak Damar ingin rujuk dengan Sarah karena Kean. Lebih baik nak Damar bicarakan lagi dengan Sarah. Sebenarnya bapak sama sekali sudah tak mengharap nak Damar sebagai bagian dari keluarga kami lagi. Setelah tau cerita tentang perlakuan nak Damar dan keluarga nak Damar pada anak ku Sarah. Namun bapak tak boleh egois memutuskan sendiri tentang masalah yang besar ini. Karena yang akan menjalani bukan bapak, tapi Sarah. Jadi semua keputusan ada pada Sarah." kali ini bapak menatap ku dengan tatapan penuh makna.


Dari tatapan itu, ada ungkapan bahwa ia tak ingin aku rujuk lagi dengan mas Damar. Aku sudah sangat mengenal sikap dan sifat bapak.


Sebenarnya bapak orang yang humble dan sangat sopan sekalipun pada orang yang lebih mudah darinya.

__ADS_1


Namun kali ini sangat terlihat jelas dari tatapan mata dan ucapanya pada mas Damar kalau ia sangat tidak menyukai mas Damar.


__ADS_2