DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Gugatan Cerai


__ADS_3

Jam delapan pagi ini Sarah sudah membuat janji dengan Sinta untuk pergi ke pengadilan agama. Untuk mengajukan gugatan perceraian pada Bima.


Sarah sudah sangat yakin dengan keputusan nya ini. Walau awalnya dia malu dengan orang-orang sekitar karena dua kali membina rumah tangga, selalu gagal.


Namun, apa yang bisa ia pertahankan kalau sudah tidak ada kebahagiaan dan keharmonisan lagi di rumah tangga itu.


Bukankah berumah tangga itu untuk bahagia?!


Dari sini ia harus bisa ambil pelajaran, kalau tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan berumah tangga lagi.


Setelah semua pekerjaan rumah sudah beres, Sarah kini menunggu jemputan dari Sinta.


Mobil Sarah akhirnya laku terjual, sehingga ia tak ada kendaraan untuk pergi ke pengadilan agama.


Beberapa menit Sarah menunggu, akhirnya Sinta pun datang. Lalu mereka berdua berangkat ke pengadilan agama bersama.


Sampai di pengadilan agama. Sarah pun mulai mengurus semua persyaratan nya, serta mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Untuk bukti tentang perselingkuhan Bima, Sarah sengaja akan memberikan nya nanti saat persidangan di gelar. Karena nanti oleh hakim akan di mintai bukti itu. Sarah sangat yakin dengan bukti perselingkuhan Bima yang ia miliki itu, bisa mempercepat proses perceraian nya.


Sarah ingin sekali terlepas dari Bima dan keluarga nya. Agar hati dan kehidupan nya menjadi tenang.


Dan dengan setia, Sinta menemani nya. Dia memang benar-benar teman yang terbaik untuk Sarah. Sinta selalu ada di sat suka dan duka di kehidupan Sarah.


Setelah selesai ia mengurus semua nya, Sarah pun meminta Sinta untuk mengantarkan nya ke kantor polisi. Untuk meminta tanda tangan Bima, dengan tanda tangan Bima, proses perceraian itu akan cepat selesai.


Kini mereka berdua berjalan menuju kantor polisi, saat melihat jam di pergelangan tangan nya. Sarah tau kalau saat ini jam-jam menjenguk tahanan.


Yang Sarah takutkan, saat ia dan Sinta datang kesana. Tenyata ada Veni juga datang. Sarah yakin keributan pun tak akan bisa di elakkan.


Saat mobil sudah terparkir di depan kantor polisi, Sarah pun mencoba mengedarkan pandangan nya untuk mencari keberadaan mobil Veni.


Namun nyatanya tak ada mobil Veni disini. Bisa jadi Veni belum kesini. Karena jam kunjungan baru saja di mulai.


"Pak, saya mau bertemu pak Bima." ucap Sarah pada petugas yang sedang berjaga.


"Maaf, ibu ini siapa dan ada urusan apa dengan tahanan kami?," Tanya nya lagi dengan sangat detail.


"Saya istri nya pak, dan saya kesini untuk meminta tanda tangan kepada mas Bima untuk berkas perceraian kita " jawab Sarah dengan sangat jujur.


Karena menurut Sarah kejujuran akan membawa kebaikan. Walau kadang kejujuran itu tidak enak untuk di dengar.


"Maksud ibu, ibu istri nya pak Bima?, lalu yang setiap hari datang kesini itu siapa?, apa dia juga istri pak Bima?." tanya penjaga itu dengan wajah bingung dan tangan nya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dari apa yang di ucapkan penjaga ini, Sarah sudah bisa mengambil kesimpulan. Bahwa kalau Veni datang kesini, pasti ia bilang kalau dia adalah istri sah nya Bima


"Siapa perempuan yang di maksud penjaga yang sering kesini menjenguk Bima itu, Sar?," tanya Sinta dengan bisik-bisik.


"Aku juga tak tahu, Sin." jawab Sarah berbohong pada Sinta. Karena Sarah tak ingin ikut campur dengan urusan mereka lagi.

__ADS_1


"Jadi ibu ini status nya siapa nya pak Bima?," tanya penjaga lagi.


"Saya istri nya, pak. Tapi sudah diproses perceraian. Dan kedatangan saya kesini, untuk meminta tanda tangan pada pak Bima. Agar proses gugatan perceraian yang saya ajukan ini berjalan lancar dan cepat selesai." jelas Sarah. Sarah sengaja menjelaskan secara panjang lebar, agar penjaga itu tahu kalau Sarah tidak bohong.


Lalu setelah melihat berkas yang di bawa Sarah, penjaga itu pun langsung mengantarkan Sarah dan Sinta ke ruang jenguk.


Sinta dan Sarah duduk di bangku yang terbuat dari kayu itu, menunggu Bima yang masih di jemput oleh penjaga tahanan.


Dan tak lama, terlihat Bima berjalan dari dalam dengan kedua tangannya di borgol. Dan memakai pakaian tahanan.


Dan Sarah dan Sinta sangat terkejut, melihat penampilan Bima yang saat ini sudah ada di depan nya.


Bima terlihat sangat Kumal, dengan kumis y,ang tebal. Lalu tubuhnya terlihat kurus, dan rambut sedikit panjang.


Dari arah sel, Bima terlihat berjalan sambil tersenyum penuh harapan pada Sarah.


"Akhirnya kamu datang untuk membebaskan ku dari sini, Sarah." ucap Bima dengan tersenyum pada Sarah.


"Aku tau, kalau kamu masih menyimpan cinta yang besar padaku, begitu juga dengan aku. Aku sangat mencintaimu."


"Aku selalu menunggu kedatangan mu, untuk membebaskan ku dari sini, Sarah. Dan Akhirnya Tuhan mengabulkan semua doa-doa ku. Terimakasih Tuhan, engkau memang maha baik." ucap Bima sambil menengadahkan kedua tangan nya.


"Aku berjanji Sarah, setelah ini aku akan memperbaiki diri. Aku akan mencintaimu dengan tulus. Kita bisa hidup bahagia bersama." lanjut Bima berkata tanpa henti.


Sinta yang melihat Bima seperti itu sangat ketakutan. Bima sudah seperti orang gila.


Melihat kondisi Bima seperti itu, Sarah sebenarnya tak sampai hati untuk mengatakan maksud kedatangannya.


Saat mengingat hal itu, hati Sarah pun mulai mantap lagi untuk melanjutkan proses perceraian itu.


"Kapan kamu akan membebaskan aku dari sini, sayang?," tanya Bima. Bima begitu semangat dan antusias dengan kedatangan Sarah.


Bima Seperti melihat harapan baru di hidupnya, Bima tau hanya Sarah lah yang bisa mengeluarkan nya dari sini. Dengan begitu ia tak perlu mengeluarkan uang puluhan juta untuk menghirup udara bebas.


"Kenapa kamu diam saja, Sarah!! Ayo bicaralah, kapan aku akan bebas dari sini?," cerocos Bima, seperti tak memberi kesempatan Sarah untuk bicara.


"Mas Bima, kedatangan ku kesini itu untuk..."


"Aku tau Sarah, aku sudah tau itu. Karena aku tau kalau kamu masih sayang dan cinta padaku. Terimakasih sayang, kita akan memulai hidup baru setelah ini." belum selesai Sarah bicara, Bima sudah memotong nya.


"Bima!!, dengarkan Sarah bicara sampai selesai dulu!!, jangan main potong seperti itu!!, ngerti nggak sih?!" bentak Sinta yang sangat emosi dengan sikap Bima yang terlalu percaya diri itu.


"Kenapa teman mu marah-marah tak jelas seperti itu, Sarah. Padahal aku tau apa yang akan kamu katakan." ucap Bima.


"Sekarang aku harap mas Bima mendengarkan aku bicara sampai selesai. Baru kamu bisa menjawab nya." ucap Sarah dengan pelan tapi penuh penekanan.


"Kamu itu harus tegas pada orang gila seperti Bima ini, Sar." bisik Sinta. Mata Bima pun menatap tajam Sinta saat ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sarah.

__ADS_1


Bima tau kalau Sinta sedang berbisik membicarakan nya.


"Sekarang aku mulai bicara ya?," tanya Sarah.


"Silahkan," jawab Bima dengan tatapan tajam pada Sinta. Sinta pun tau, kalau Bima sangat tidak suka dengan kehadiran nya.


" Kedatanganku kesini sebenarnya untuk meminta tanda tangan mu, mas. Agar proses...,"


"Kamu meminta tanda tanganku untuk proses pembebasan ku kan, sayang?, mana.. mana kertas nya. Aku akan menandatangani nya sekarang, agar lebih cepat kita bersama lagi." lagi-lagi Bima memotong ucapan Sarah.


"Bima!!!!, kamu ini ngerti nggak sih!!!, dengar kan dulu Sarah berbicara, jangan main potong saja!!!, Bikin emosi aja!!," Sinta berteriak emosi saat Bima memotong lagi ucapan Sarah. Mata Sinta melotot nyalang pada Bima, yang sudah berhasil membuat emosi Sinta naik ke ubun-ubun.


"Lihat, Sarah. Teman mu ini sudah seperti preman pasar saja. Akan kamu tidak malu punya teman yang arogan seperti dia." ucap Bima sambil menunjuk Sinta.


"Seharusnya jadi wanita itu yang lemah lembut, contoh lah Sarah. Sudah cantik, ia sangat lemah lembut. Jangan seperti preman pasar, jelas saja tak ada lelaki yang mau!!," lanjut Bima. Mulut Bima sudah seperti mulut perempuan saja, semakin hari semakin pedes.


"Diam kamu!!!, jangan ikut campur dengan masalah hidup ku!!!," Sinta semakin emosi dengan omongan Bima yang menyakiti hati nya.


"Mas Bima, aku harap kamu menjaga omongan mu. Karena omongan mu itu sangat menyakitkan!!." ucap Sarah, yang ikut sakit mendengar ucapan lelaki yang akan ia gugat cerai itu.


"Tapi karena dia yang duluan menghina ku, Sarah." Bima membela diri.


"Itu karena kamu yang tidak sabar untuk mendengarkan ucapan ku." ucap Sarah dengan ketus. Sarah pun emosi dengan sikap Bima yang seperti anak kecil.


"Sekarang aku mohon, dengarkan aku dulu. Ada hal penting yang aku ingin katakan kepada mu, mas. Jadi sekali lagi dengarkan aku sampai selesai ngomong." ucap Sarah dengan pelan namun dengan penuh penekanan.


"Silahkan Sarah, silahkan kamu bicara dan aku akan mendengar nya." jawab Bima.


"Begini mas Bima, aku datang kesini untuk meminta kamu menandatangani surat gugatan perceraian." ucap Sarah sambil menyodorkan selembar kertas yang berisikan tentang masalah perceraian.


"A.. pa..apa maksud mu, Sarah?!, apa maksud dari semua ini?!, bukankah kamu mau hidup bersama ku lagi?," Bima seperti tak bisa menerima kenyataan yang ia dengar barusan.


"Aku sudah tak mau hidup bersama kamu lagi, mas. Maaf, ini lah jalan terbaik untuk kita. Jadi aku mohon tanda tangan lah disini." Sarah menunjuk tempat dimana Bima harus tanda tangan, dan dengan menyodorkan bolpoin berwarna hitam yang baru saja Sarah ambil dari dalam tas nya.


"Kamu jangan gila, Sarah. Aku tak akan menandatangani nya!!," Bima sangat marah, dia langsung meremas dan menyobek kertas yang ada di hadapannya itu.


"Lihat, lihat lah. Kertas ini sudah rusak, jadi kamu sekarang tak akan bisa menggugat cerai aku." ucap Bima sambil mengangkat kertas yang sudah tercabik-cabik oleh tangan nya itu.


"Kamu sudah seperti orang gila, Bima. Kamu bilang Sarah tak bisa menggugat mu karena surat itu sudah kamu rusak. Tapi nyatanya surat seperti itu masih banyak di kanto pengadilan agama." ucap Sinta dengan senyum sinis pada Bima.


"Aku yakin pasti perempuan preman ini yang sudah mencuci otak istri ku, sehingga istri ku Sarah ingin menggugat cerai aku!!," Bima berucap dengan menunjuk Sinta, yang sedang duduk di samping Sarah.


"Ha ha ha, Bima, Bima.. Aku rasa kamu memang sudah benar-benar gila. Dan seharusnya bukan disini tempat mu, tapi di rumah sakit jiwa." Sinta pun sudah tak bisa menahan emosi nya. Bima seperti tak pernah sadar diri.


"Sarah, ingat jangan sekali-kali kamu menuruti semua ucapan perempuan seperti preman pasar itu. Karena dia sengaja menghasut mu, agar kamu sama seperti dia." Bima terus menyalahkan Sinta.


"Mas, dengarkan aku. Sinta tak pernah menghasut ku untuk menggugat cerai kamu, mas. Tapi memang ini sudah dari hati kecilku yang paling dalam." Sarah kembali menegaskan pada Bima.

__ADS_1


"Apa salah ku sampai kamu tega akan menceraikan aku, Sarah?!!!!," tatapan Bima melotot pada Sarah yang saat ini sedang duduk didepan nya.


"Kamu tanya salah kamu apa, mas?!, apa kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan dibelakang ku waktu itu?," Sarah tak habis pikir, kalau Bima tak pernah merasa bersalah. Walau dia sudah tertangkap basah sedang bermesraan dengan Areta mantan istri nya.


__ADS_2