
"Tunjukkan surat-surat rumah ini pada mereka, Bima?!!, Agar mereka tau dan mantan istri mu ini malu!!!." perintah ibunya mas Bima pada mas Bima.
"Tapi, Bu....," mas Bima tak melanjutkan ucapannya, mas Bima terlihat kebingungan dengan jari-jari tangan kanan nya menggaruk tengkuk leher nya.
"Tidak usah pakai tapi-tapian!!!, sekarang ambil surat-surat itu dan tunjukkan pada mereka!!," ucap ibunya mas Bima.
",Aku yakin mas Bima tidak akan bisa menunjukkan surat-surat rumah ini." jawab ku dengan tenang.
"Apa maksud dari ucapan Sarah, Bima?," tanya ibunya mas Bima pada mas Bima.
"Sebenarnya rumah ini sudah atas nama Sarah, Bu." jawab mas Bima dengan menundukkan kepalanya.
Menurut ku, mas Bima masih bertele-tele. Kenapa dia tidak jujur aja, kalau memang rumah ini aku yang membelinya.
Dia berkata kalau rumah ini sudah atas nama ku, seakan-akan dia yang membelinya dan di berikan padaku karena aku istrinya.
Pasti ini akan menjadi masalah lagi buat ibu nya mas Bima yang sangat berambisi ingin memiliki rumah ini.
"Kenapa kamu sebodoh itu, Bima?!!. Membeli rumah kok langsung di berikan pada mantan istri mu itu. Harus nya kamu berpikir berulang kali sebelum mengambil keputusan besar ini!!," terlihat sekali ibu nya mas Bima sangat marah setelah mendengar pengakuan mas Bima tentang rumah ini.
"Ya karena aku pikir Sarah adalah orang baik, Bu." jawab mas Bima membela dirinya.
" Sekarang kembali rumah ini pada Bima, Sarah!!. Karena kamu tak punya hak atas rumah yang di beli Bima ini!!," mata ibu nya mas Bima melotot dengan nada suara yang sangat tinggi.
"Hebat kamu memutar balikkan fakta, mas!!." ucapku pada mas Bima.
"Asal kalian tahu, rumah ini aku beli dengan hasil keringat ku sendiri. Dan aku membeli rumah ini sebelum menikah dengan mas Bima!!," jelas ku tegas pada ibu nya mas Bima.
"Ala...kamu jangan sok menjadi kaya, Sarah!!. Orang kampung seperti kamu jangan suka bermimpi uang tinggi. Ingat!!!, kalau jatuh pasti rasanya sangat sakit!." ucap ibunya mas Bima dengan suara pelan. Namun berhasil menusuk hati ku.
__ADS_1
"Apa kalian mau bukti dariku?," tantang ku.
"Karena aku punya semua bukti surat-surat jual beli rumah ini. Dan disitu tertera tanggal dan bulan saat aku bertransaksi jual beli rumah ini. Dari sini kalian bisa tahu kalau rumah ini aku membelinya jauh sebelum aku menikah dengan mas Bima." ucapku sambil memandang satu persatu orang yang ada di dalam ruangan ini.
"Itu ide yang bagus, Bu Sarah. Agar masalah ini selesai dan tidak ada kabar yang simpang siur lagi tentang masalah ini." ucap pak RT menyetujui saran ku.
"Bagaimana mas, apa kamu sudah siap?," tanyaku, ku tatap lekat mata mas Bima yang merah. Ada rasa malu di tatapan mas Bima.
"Sarah, maafkan aku. Aku mau rujuk lagi dengan mu, Sarah." ucap mas Bima dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tak meminta mu untuk menjadikan aku istrimu lagi, mas. Aku hanya ingin semua orang tau dan aku ingin meluruskan semua masalah yang saat ini kita hadapi. Agar ibu mu tak terus menghina aku dan keluarga ku." jawab ku pada mas Bima.
"Aku tak terima, kalau ayah kembali dengan mama Sarah. Aku ingin punya keluarga yang utuh seperti teman-teman Putri." kali ini Putri angkat suara. Dan terlihat ia berkata sambil meneteskan air matanya.
Aku lupa kalau didalam ruangan ini ada Putri yang tak sepantasnya dia melihat perdebatan ini.
"Lihat anak mu mas, lakukan apa yang membuat anak mu bahagia. Bukan kah kebahagiaan anak mu lah yang harus diutamakan, mas?!." ucapan Putri sangat tepat untuk ku jadikan alasan menolak mas Bima.
"Maksud kamu, mas?," tanyaku tak mengerti dengan apa yang di ucapkan mas Bima.
"Ya setelah aku menikahi kamu lagi, aku akan menikah lagi dengan bunda nya Putri. Jadi tak ada lagi hati yang tersakiti, Sarah." jawab mas Bima seperti tak punya otak.
"Kamu sudah gila ya, mas!!. Aku sudah capek debat seperti ini, tak ada ujung pangkal nya. Sebaiknya sekarang kalian pergi dari rumah ku ini!!!!," usir ku pada mas Bima dan keluarga nya.
Karena aku sangat capek dengan masalah yang tak kunjung selesai ini.
"Kalau begitu segera ambil dan bawa kesini surat-surat rumah ini, Bu Sarah. Agar masalah ini tidak berlarut-larut." pak RT memerintah ku untuk mengambil surat-surat itu.
Sebenarnya aku juga tak ingin masalah ini berlarut-larut seperti ini. Karena aku sudah tak ingin berhubungan lagi dengan mas Bima dan keluarga nya.
__ADS_1
Aku segera berdiri dari duduk ku, dan berjalan menuju kamar untuk mengambil surat-surat rumah itu. Yang kebetulan surat-surat itu sudah aku amankan dari jangkauan mas Bima, saat ibu nya mas Bima selalu membicarakan rumah ini.
Aku sudah mempunyai firasat tidak enak, jadi sebelum semuanya terlambat. Aku aman kan surat-surat itu terlebih dahulu.
"Tunggu, Sarah!!!. Sekali kamu melangkah, kesempatan untuk menjadi istri ku lagi akan hilang untuk selamanya!!," ancam mas Bima sambi ia berdiri dari duduknya.
Aku rasa mas Bima ingin sekali mengulur-ulur waktu, agar aku tak mengambil surat-surat rumah ini. Mungkin ia tak mau semua kedoknya akan terbongkar di sini, di depan keluarga nya dan para tetangga komplek rumah ini.
"Aku rasa lebih baik kesempatan itu tak pernah ada, mas!!!!, karena aku sudah tidak butuh sama sekali menjadi istri mu." jawabku sangat ketus sambil menoleh kearah mas Bima.
Setelah itu pandangan ku kembali pada jalan yang ada didepan ku. Dan aku berjalan menuju kamar.
Dengan sengaja aku berjalan dengan menyenggol bahu Areta yang sedang berdiri di samping pintu kamar ku.
"Auw.... Sakit!" jerit Areta sambil memegang bahu yang telah aku senggol. Sangat terlihat kalau yang Areta lakukan itu di buat-buat. Karena aku tahu senggolan yang aku lakukan, tak sekeras dan sesakit yang seperti Areta jerit kan itu.
"Kamu kenapa, Reta?," tanya ibu nya mas Bima dengan sangat perhatian.
"Dia menyenggol ku, Bu." adu Areta pada ibu nya mas Bima sambil memegang bahu yang telah aku senggol.
"UPS!!! maafkan aku ya." ucap ku sambil mengelus bahu Areta.
"Jangan pegang-pegang!!!." ucap Areta sambil menghempas kasar tangan ku. Dan aku tersenyum melihat wajah Areta yang ingin memprovokasi hubungan ku dengan mantan suami ku mas Bima.
Setelah itu aku berjalan menuju kamar untuk mengambil surat-surat rumah. Aku tak mempedulikan Areta yang sok manja pada ibunya mas Bima. Dengan sangat cekatan ibu nya mas Bima langsung pergi menghampiri Areta yang saat sudah berdiri di belakang ku.
"Kamu itu jangan kasar seperti preman pasar seperti itu, Sarah!!," teriak ibu nya mas Bima membela Areta.
Dan aku tak menggubris omongan ibu nya mas Bima sedikit pun. Aku terus berjalan masuk kedalam kamar untuk mengambil surat-surat itu.
__ADS_1
"Sarah, kamu berani mempermalukan suami mu ini pada khalayak umum?," tanya mas Bima.
"Maafkan aku mas, aku tau rasa di permalukan itu sangat sakit. Dan itu yang aku rasakan setiap bertemu dengan mu dan ibu mu!," ucapku.