
"Mas Teguh, iya itu punggung mas Teguh." gumam Sarah di dalam hati nya.
"Kenapa mas teguh bisa bersama dengan mbak Veni?, bukankah Lidya bilang tadi kalau mas Teguh ada urusan mendadak tentang pekerjaan?," dalam hati Sarah bertanya-tanya.
Sebenarnya Sarah malas bertemu dengan Veni, karena di pastikan Veni akan selalu mencari bahan untuk mengajak ribut Sarah.
Namun mau tidak mau, Sarah harus tetap ke dalam untuk mengambil barang-barangnya yang ada di dalam. Karena Sarah harus segera pulang. Takut Kean dan kedua orangnya sudah pulang dari kampung halaman nya.
Veni mengetahui kedatangan Sarah, Veni terus menatap tajam pada Sarah. Sarah pun tak mau kalah, Sarah membalas tatapan tajam Veni.
Sarah menautkan kedua alisnya, saat ia tau kalau lelaki yang saat ini sedang duduk makan bersama Veni itu benar Teguh, suami Ambar dan suami Lidya.
"Mas Teguh?!," sapa Sarah. Dengan sengaja Sarah menyapa Teguh. Hanya ingin tau bagaimana reaksi lelaki itu saat ia ketahuan bersama istri adik iparnya sendiri, disaat istri-istri nya sedang ada masalah.
"Sarah??!," ekspresi terkejut pun terlihat di wajah Teguh, saat tau kalau yang menyapanya itu adalah Sarah. Yang sudah tau seluk beluk cerita rumah tangganya.
"Ka kamu sedang apa disini?," tanya Teguh dengan ucapan yang terdengar gugup.
"Ya jelas disini dia kerja, mas!, dia kan hanya pelayan di toko ini." sahut Veni sambil melirik kearah Sarah yang berdiri di samping nya.
"Bener kamu kerja disini, Sarah?," tanya Teguh untuk menyakinkan dirinya.
"Iya, mas. Disini aku kerja untuk mencari uang. Bukan hanya tebar pesona untuk mengambil hati suami saudara nya." ucap Sarah dengan melirik Veni yang saat ini sedang memainkan sedotan yang ada di gelas minuman nya.
 Sindiran Sarah sangat pedas pada Veni, bukan karena dia masih cemburu dengan hubungan Veni dan Bima. Namun karena Sarah sakit hati pada Teguh dan Veni, karena dengan tega nya membiarkan istri dan saudaranya dalam keadaan bermasalah saat ini.
Mereka asyik makan-makan disini, sedangkan istri-istri nya dan mertua nya ada dalam masalah.
Setelah niatannya sudah diucapkan oleh Sarah, kini Sarah melangkahkan kaki nya untuk pergi dari Veni dan Teguh itu.
Karena Sarah sangat muak melihat wajah dua orang yang tak punya hati itu.
__ADS_1
"Apa maksud dari ucapan mu, Sarah?!," tanya Veni tanpa melihat kearah wajah Sarah.
Pertanyaan Veni, membuat langkah kaki Sarah terhenti.
"Coba jelaskan maksud dari ucapan mu barusan?!," Veni menegaskan pertanyaan nya, sehingga dua kali ia mengulang maksud pertanyaan yang sama.
"Bukan kah aku hanya mengatakan kalau aku disini hanya bekerja?!," jawab Sarah.
"Dari yang ku ucapkan itu, sudah paham kan?!," lanjut Sarah.
"Lalu kenapa kamu bilang kalau aku tebar pesona kepada suami saudaranya?, maksud kamu apa?!," kali ini Veni berdiri dan berkacak pinggang menghadap ke arah Sarah yang saat ini berdiri sidik di belakang Veni.
"Memang di kalimat ku tadi, menyebut nama mu, mbak?!," lagi-lagi Veni di skakmat oleh Sarah.
"Aku rasa kamu harus membenarkan pola pikiranmu deh, mbak. Biar nggak terlalu perasa seperti itu, kecuali memang hal itu, yang aku katakan tadi kamu lakukan, he." lanjut Sarah sambil senyum getir, lalu dengan langkah pasti Sarah berjalan meninggalkan dua orang lelaki dan perempuan itu.
"Kurang ajar kamu, Sarah!!," teriak Veni sambil kedua tangan nya mengepal.
Namun Sarah tak memperdulikan suara teriakan Veni, ia terus berjalan meninggalkan Veni.
"Saraaaaaahhhh....!!!," teriak Veni semakin keras, saat ucapannya tak di gubris sama sekali oleh Sarah.
"Hentikan, Ven!!," ucap Teguh yang berdiri dan mendekat serta memegang tangan Veni, sambil tersenyum tak enak pada orang-orang yang sedang melihat Veni berteriak-teriak sendiri.
"Malu, di lihat banyak orang!!!," bisik Teguh yang juga risih dengan sikap Veni yang bar-bar.
Dengan kasar, Veni melepas pegangan tangan teguh. Dengan sekejap tangannya pun terlepas oleh genggaman tangan Teguh.
"Yuk kita duduk!!," ajak Teguh pada Veni, yang masih tersulut emosi pada Sarah.
"Benar-benar kurang ajar si Sarah itu, mas!!. Berani-beraninya dia berbicara seperti itu padaku." ucap Veni dengan emosi yang membara.
__ADS_1
"Kamu minum dulu, Ven. Biar dirimu kembali tenang." Teguh menyodorkan gelas minum milik Veni. Dan Veni menerimanya dan langsung meminumnya.
"Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang, agar hati mu sedikit tenang." ucap teguh menginstruksi Veni.
Dan Veni pun, melakukan apa yang diucapkan Teguh. Veni melakukan itu berkali-kali, sampai hatinya terasa sudah agak lebih baik.
"Terimakasih, mas. Untung saja ada kamu, kalau tidak mungkin aku sudah kakap untuk melakukan hal-hal negatif." ucap Veni sambil tangan kanannya memegang tangan kiri Teguh.
Teguh pun kaget dengan apa yang di lakukan oleh Veni padanya. Dengan refleks Teguh menatap wajah Veni, dan Veni tersenyum manis seperti memberi lampu hijau pada Teguh.
Tanpa di minta, jiwa kelaki-lakian Teguh pun bergejolak. Teguh langsung mengerti dengan tatapan mata Veni. Dengan senang hati, Teguh pun membalas pegangan tangan Veni.
"Ehemmm....," Sarah sengaja berdehem saat melihat kelakuan tak pantas dua orang yang tidak tau diri itu.
Saking asyiknya di mabuk asmara, Teguh dan Veni sampai tak tau dengan kedatangan Sarah di samping nya.
Sebenarnya, Sarah tak bermaksud untuk kembali mendatangi mereka berdua. Dia hanya kebetulan lewat lagi, karena jalan keluar hanya di satu pintu. Jadi mau tak mau, Sarah harus melewati dua orang yang sama-sama tak tau diri itu.
Dan yang membuat Sarah terkejut, Sarah melihat mereka berdua saling berpegangan tangan. Rasa jengkel semakin besar di hati Sarah. Karena penghianatan yang mereka berdua lakukan pada pasangan nya.
"Sarah!!," dengan refleks Teguh melepas tangan Veni.
"Sarah, ini, ini tak seperti yang kamu lihat," terang Teguh pada Sarah. Teguh takut Sarah akan melaporkan ini pada Lidya.
Sedangkan saat Sarah melihat Veni, ekspresi wajah Veni hanya biasa saja. Seperti tak ada dosa dengan apa yang ia lakukan bersama suami kakak iparnya.
Namun Sarah hanya tersenyum getir pada Teguh, dan ia melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Sarah!!, tunggu Sarah." Teguh berlari mengejar Sarah.
"Sarah aku bisa menjelaskan pada mu tentang semua yang kamu lihat saat ini." Teguh membujuk Sarah agar Sarah mau mendengar penjelasan nya.
__ADS_1
"Mas, yang kamu lakukan itu tidak ada hubungan nya sama sekali dengan ku. Jadi, kamu tak perlu menjelaskan apapun padaku. Namun, yang butuh penjelasan saat ini adalah mbak Ambar dan Lidya yang saat ini sedang bermasalah." ucap Sarah dengan suara yang pelan. Namun dengan ketegasan.