
"Aku sudah memaafkan mu, mbak. Tapi untuk berteman dekat rasanya itu tak perlu." jawab Sarah.
"Karena aku bukan tipe orang yang suka berteman dekat, kamu tau sendiri kan kalau selama ini aku tak pernah punya teman dekat?!," ucap Sarah dengan sangat tegas.
Sarah sangat membatasi kedekatan nya dengan Veni. Entah kenapa Sarah tak ingin terlalu dekat dengan Veni.
"Bukankah kamu sudah memaafkan ku, Sarah?," ucap Veni dengan tatapan nanar pada Sarah. Veni berharap Sarah mau berteman dengan nya.
"Memang aku sudah memaafkan mu, mbk. Memaafkan bukan berarti berteman kan?!," Sarah pun berdiri dari duduknya. Selain mau menghindari banyak percakapan dengan Veni. Sarah juga ingin melihat aktivitas anaknya di dalam kelas. Sarah akan melihat Kean melalui jendela kaca yang ada di kelas nya.
"Sarah!," panggil Veni. Namun Sarah sama sekali tak menghiraukan panggilan Veni.
Sarah pun berjalan menuju kelas Kean, ia sama sekali tak menoleh lagi kebelakang.
"Memang tak seharusnya aku berteman dengan orang yang telah menghancurkan rumah tangga ku." ucap Sarah dalam hati.
"Veni!!!!," Teriak seseorang dari kejauhan. Dan suara itu sangat familiar di telinga Sarah.
Walau bukan Sarah yang dipanggil, tapi Sarah menoleh ke sumber suara itu. Karena Sarah penasaran dengan orang yang berteriak memanggil mantan saudara ipar nya itu.
Dan, benar saja dugaan Sarah. Ternyata suara itu adalah suara Laras. Perempuan mantan mertuanya, yan saat ini masih menjadi mertua Veni.
Sarah hanya diam saja, dan membalikkan lagi tubuhnya. Karena ia tak ingin Laras mengetahui kalau dirinya ada di situ.
"Ibu??!," lirih Veni yang terkejut dengan kedatangan Laras.
"Veni!!," teriak Laras lagi setelah dirinya sudah berdiri di dekat Veni.
"Ada apa, Bu?, Tumben sekali ibu kesini?, ada apa?" tanya Veni dengan wajah penasaran.
"Ada apa- ada apa!!, mana sertifikat tanah ku!!," ucap Laras dengan nada suara yang sangat tinggi. Laras tak peduli dimana ia sekarang.
"Sertifikat?!, mmm...maksud ibu, sertifikat apa ya?," tanya Veni dengan sedikit gugup pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Laras. Lalu Veni melirik kearah Sarah, kare Veni takut Sarah mendengar apa yang dikatakan oleh Laras, mertua nya.
Dan betapa malu nya Veni, ternyata saat ia melirik kearah Sarah. Sarah sedang melihatnya.
"Mampus!!, ternyata Sarah saat ini sedang melihat ke arah ku, dimana nenek sihir ini sedang bertanya tentang sertifikat rumahnya." gumam Veni.
"Kamu jangan pura-pura tidak tau, Ven!!, Sekarang juga kembalikan sertifikat rumah ku!!," teriak Laras.
"Aku memang tidak tau, Bu?, kenapa ibu menuduhku?," Veni masih terus mengelak. Tidak mungkin ia mengaku di sini, selain ada Sarah disini juga ada banyak orang, yang tak lain adalah orang tua murid di sekolah ini yang sedang menunggu putra-putri nya. Walau sebenarnya Sarah juga sudah tau dengan hal itu.
"Kamu masih terus mengelak ya?!, kalau begitu kamu harus ikut aku!!," Laras menarik tangan Veni.
"Aku mau diajak kemana, Bu?!," Veni terus mencoba berontak, ia berusaha sebisa mungkin untuk melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Laras.
"Aku akan mengajakmu ke salon Siska untuk mengambil sertifikat rumah ku!!," jawab Laras dengan terus menarik tangan veni.l segera kasar, sehingga tubuh Veni ikut ketarik juga.
"Tapi Bu, Veni tidak tahu tentang sertifikat rumah ibu." Veni terus mengelak, ia tak mengakui apa yang sudah ia lakukan.
"Jelaskan semuanya nanti kalau kita sudah di salon Siska!!," Laras terus mencoba menarik tangan Veni. Namun Veni terus mencoba untuk berontak.
"Tapi Bu, nanti Kay pulang dengan siapa kalau aku ikut ibu Sekarang?," ucap Veni memberi alasan. Saat ini alasan yang di berikan Veni cukup masuk akal.
Seketika langkah kaki Laras terhenti, saat mendengar ucapan Veni. Rupanya Laras juga masih memikirkan cucu perempuan nya itu.
Laras pun mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru halaman sekolah. Dan pandangan mata nya berhenti di sosok perempuan yang sedang berdiri menyaksikan nya dari kejauhan.
"Sarah!!," gumam Laras.
Tanpa banyak bicara, Laras pun menarik tangan Veni untuk berjalan kearah Sarah. Laras benar-benar tak ingin melepaskan Veni, walau untuk sebentar saja.
Sarah yang melihat arah tujuan Laras dan Veni, dia segera membalikkan badannya. Sarah ingin pergi meninggalkan mereka sebelum mereka sampai kepadanya.
"Sarah, tunggu!!," Laras yang sudah mengetahui bahwa Sarah akan menghindari nya, ia pun memanggil nya dengan suara yang sangat keras. Sehingga menjadi perhatian para orang tua yang sedang menunggu kepulangan anak-anak nya.
__ADS_1
Karena Sarah harus menjaga ketenangan, karena ini di lingkungan sekolah. Sarah pun menghentikan langkah kaki nya. Lalu ia membalikkan badannya kearah Laras dan Veni yang juga ternyata ada Ambar disana.
Sarah melakukan ini, semata-mata agar mereka bertiga tidak melakukan keributan disini. Karena bisa mengganggu anak-anak yang sedang belajar didalam.
"Ibu memanggil ku?," tanya Sarah sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah!!!, kamu pikir disini ada yang bernama Sarah selain kamu?!!," jawab Laras dengan ketus.
Huufftt .... Sarah membuang nafas dengan kasar. Sebenarnya Sarah sangat kesal pada Laras. Ia sudah mencoba bertanya dengan suara lembut dan berhati-hati.
Namun jawaban dari Laras, sungguh menyakitkan hati.
Kalau saja ini bukan dilingkungan sekolah, mungkin Sarah akan meninggalkan Laras. Mungkin Sarah tak akan pernah menggubrisnya dan akan mengabaikan panggilannya. Ia lakukan ini semata-mata Sarah tak ingin mencari keributan dengan Laras di sini.
"Ada apa, Bu?," tanya Sarah dengan ekspresi wajah datar.
"Kamu kesini mau menjemput anak mu kan?," tanya Laras dengan menunjuk-nunjuk Sarah. Perilaku Laras memang seperti tak punya sopan santun.
"Iya," jawab Sarah dengan singkat.
"Kalau begitu, kamu bawa sekalian Kay. Antar Kay pulang kerumahnya!!," ucap Laras memerintah Sarah tanpa mengucapkan kata tolong.
"Bisa nggak ibu berbicara dengan sopan dengan menyematkan kata tolong kalau ibu meminta tolong pada orang lain?," Sarah sedikit tersulut emosi nya karena sikap Laras yang seperti tak punya etika.
"Alaah,,,, kamu sok sok an bicara seperti itu. Ngapain juga aku harus sopan pada orang seperti kamu!!, sudah dari kampung, kamu juga lebih muda jauh dari aku. Jadi hal yang wajar kalau aku berbicara seperti itu padamu!!," Laras tak mau disalahkan dengan sikapnya yang tak punya sopan santun itu.
"Pokoknya, kamu nanti harus antar Kay pulang!!!, karena saat ini Veni harus ikut aku!!," ucap Laras yang langsung pergi dengan menarik paksa tangan Veni, sehingga mau tidak mau, tubuh Veni harus ikut pergi dengan mertua nya itu.
"Sekarang kamu masuk!!," ucap Laras menyuruh Veni masuk kedalam taksi online yang sudah dipesan oleh Laras.
"Tapi Veni bawa mobil, Bu." ucap Veni menolak untuk masuk.
"Lebih baik ibu saja yang masuk, biar Veni yang naik mobil Veni sendiri." lanjut Veni memberi usul.
"Enak saja, bisa kabur kamu nanti!!," Laras tak sebodoh itu mau melepas Veni begitu saja. Bisa-bisa Veni kabur dari dirinya.
"Tidak!!!," bentak Laras.
"Pak, kamu jalan saja. Kita tak jadi naik taksi bapak lagi." ucap Laras pada sopir taksi yang sudah menunggu mulai dari tadi sambil menyodorkan uang lembaran dua puluh ribuan ke arah sopir taksi itu.
"Ini kurang, Bu." protes sopir itu saat di beri uang satu lembar dua puluh ribuan itu.
"Kurang?, segitu kamu bilang kurang?!, yang ada segitu itu lebih!!," ucap Laras membentak sopir taksi itu.
"Ini kurang lima ribu, Bu." jawab sopir taksi.
"Enak saja, kamu mau minta tambah. Ya udah sini kembalikan uang itu. Biar sekalian kamu tak aku bayar!!," ucap Laras dengan mencoba mengambil lagi uang dua puluh ribu yang sudah ia berikan pada sopir taksi itu. Dan untung saja, si sopir dengan sangat cekatan menjauhkan yang itu dari tangan Laras.
"Kalau kamu tak terima uang itu, lebih baik aku ambil lagi!!!," ancam Laras.
"Enak saja!!," gerutu sopir taksi.
"Kamu itu, udah miskin kok protes aja!!!, ambil aja uang itu, dari pada nggak aku bayar!," Laras semakin menjadi-jadi.
Lalu Laras pergi meninggalkan sopir taksi itu dan menuju ke arah mobil Veni.
"Uh...dasar orang pelit!!, udah nunggu lama, tapi bayar nya kurang. Di tagih kekurangan nya malah marah-marah. Dasar nenek sihir!!," gumam sopir taksi itu mengumpat Laras.
"Apa kamu bilang?!!," tanya Laras membalikkan badan saat mendengar suara sopir taksi itu mengumpatnya.
"Oh tidak Bu. Aku tidak bilang apa-apa," jawab sopir taksi ketakutan, lalu ia menghidupkan mobilnya dan melajukan mobil itu meninggalkan Laras.
"Dasar orang miskin!!!, miskin tapi belagu!!!," umpat Laras dengan suara kencang.
"Ayo!!!, sekarang kita naik mobilmu saja!!," ajak Laras pada Veni.
__ADS_1
Dan yang duduk di bagian setir mobil adalah Ambar. Laras sengaja menyuruh Ambar, karena Laras takut ia kenapa-kenapa kalau Veni yang mengendalikan mobilnya.
"Sekarang mana kunci mobilnya?," ucap Ambar pada Veni sambil menengadahkan tangan nya pada Veni.
Mobil pun berjalan menuju salon Siska, yang di ketahui Laras, Siska lah yang saat ini sedang menampung sertifikat tanah milik Sarah.
*Flashback on*
"Bu, coba ibu lihat sekarang surat-surat penting milik ibu. Termasuk surat tanah rumah ini." ucap Ambar yang baru saja datang dari rumahnya. Saat suaminya datang, Ambar memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri dari pada harus ngumpul dengan orang tuanya.
Ambar baru saja ingat dengan ucapan Siska yang saat itu sedang berbicara dengan Sarah. Membahas tentang Veni yang menggadaikan sertifikat rumah milik ibu nya kepada Siska.
"Surat penting apa, Mbar?!," tanya ibu dengan suara penasaran pada apa yang diucapkan Laras.
"Surat-surat penting seperti surat-surat rumah ini." jawab Ambar.
"Memang kenapa?," tanya Laras di buat semakin penasaran.
"Lebih baik, ibu lihat dulu berkas-berkas penting itu. Ada atau tidak." jawab Ambar.
"Kamu ini ada-ada saja sih?!, mengganggu orang lagi duduk santai saja!!," gerutu Laras sambil berdiri dari duduknya diatas sofa yang berada di ruang televisi.
Saat Ambar ke situ, Laras sedang bersantai di sofa depan televisi.
Laras berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Lalu ia menutup pintu kamarnya setelah ia masuk kedalam.
Laras pun segera mengambil kumpulan surat-surat penting didalam laci lemari yang ada di kamar nya.
Laras mulai memeriksa satu persatu surat-surat penting milik nya.
"Ambaaaaaarrrr!!!!," Laras berteriak memanggil nama anaknya. Saat ia mengetahui kali surat rumah nya tidak ada di kumpulan surat-surat penting lain nya.
"Ada apa, Bu?," tanya Ambar yang refleks berlari menuju kamar Laras.
"Surat rumah ini tak ada disini." jawab Laras sambil menunjuk tumpukan kumpulan surat-surat penting miliknya.
"Jadi benar apa yang dikatakan Siska," gumamnya lirih.
"Apa maksud mu, Mbar?, apa yang dikatakan oleh Siska pada mu?, apa itu ada hubungan nya dengan surat rumah ku yang hilang ini?!," tanya Laras yang sedang bingung karena surat rumah nya tiba-tiba tak ada.
Ambar pun menganggukkan kepalanya. Ambar membenarkan dugaan ibu nya itu.
"Sekarang cepat katakan, apa yang di ucapkan Siska pada mu tentang surat itu?, dan kenapa tiba-tiba Siska tau tentang surat itu?!," Laras sangat tidak sabar ingin tau apa yang telah dikatakan pemilik salon yang besar dikota ini. Laras juga penasaran, apa hubungan nya Siska dengan surat penting itu.
Ambar pun mulai bercerita dari awal sampai akhir. Dari apa yang ia dengar dari menguping pembicaraan Siska dan Sarah waktu itu.
"Kurang ajar!!!," emosi Laras sampai ke puncak ubun-ubun, Laras mengepalkan tangan kanan nya lalu tangan kiri nya menggenggam kepalan tangan kanan nya.
"Kalau begitu sekarang kamu pesan taksi online, dan kita datangi Veni!!," ucap Laras memerintah Ambar.
"Kenapa kita tidak pakai mobil Bima saja, Bu?," tanya Ambar.
"Mobil Bima tidak ada!!," jawab Laras dengan kepala yang sudah seperti keluar dua tanduknya.
"Kemana, Bu?, apa Bima keluar?," tanya Ambar lagi.
"Mobil Bima sedang di pakai Areta, dan Bima juga sedang keluar entah kemana!!!, kamu ini bawel banget sih?!!, lebih baik cepat kamu pesan taksi online sekarang juga!!," bentak Laras pada Ambar. Laras benar-benar emosi karena ulah Veni, jadi Ambar yang banyak pertanyaan pun akhirnya kena imbasnya juga.
Tanpa banyak tanya lagi, Ambar pun segera memesan taksi online sesuai dengan permintaan ibunya.
Sambil menunggu taksi itu datang, Ambar mencoba menghungi Awan, adiknya itu yang tak lain adalah suami Veni.
Ambar bertanya keberadaan Veni saat ini ada di mana, karena Ambar takut kalau langsung pergi kerumah Veni. Tapi ternyata Veni tak ada di rumah.
Dan benar saja, ternyata Veni memang sedang tak ada di rumah. Dia sedang menjemput Kay di sekolah.
__ADS_1
Jadi mereka berdua, langsung pergi ke sekolah Kay, setelah taksi yang sudah di pesan itu datang.
*Flashback off*