DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Menantu Idaman


__ADS_3

Aku segera keluar dari dapur, kutinggalkan cucian piring yang menumpuk di wastafel.


Aku berjalan kembali menuju meja makan, tapi ternyata di meja makan sudah tak ada orang sama sekali.


Terdengar suara gelak tawa dari ruang tamu. "Oo... ternyata mereka sudah pindah tempat diruang tamu." ucap ku.


Aku berjalan menuju ruang tamu, maksud hati ingin iku nimbrung dan ngobrol dengan mereka.


"Ayah,,, ayah,,, Kean lapar. Kean mau makan." terdengar dari balik partisi pembatas, Kean sedang meminta makan pada mas Bima.


Segera ku hentikan langkah kaki, sengaja aku diam dan bersembunyi dibalik partisi pembatas ruangan ini. Ingin tahu apa yang akan dilakukan mas Bima pada Kean.


"Bim, sepertinya anak mu lapar!," ucap mas Teguh.


Kebetulan saat aku ajak makan bersama tadi, Kean menolak. Katanya ia masih kenyang, karena dalam perjalanan kesini Kean menghabiskan tiga potong kue. Lalu ia asyik bermain handphone sendiri.


"Kean kamu lapar?" tanya mas Bima pada Kean.


Terlihat Kean menganggukkan kepala menjawab pertanyaan mas Bima.


"Oke, ayo ayah ambilkan." mas Bima beranjak berdiri dari duduknya.


"Dih!! Ngapain kamu yang repot sih, Bim!!! Biarkan saja dia kelaparan!!. Toh dia bukan anak mu sendiri kok!!," ucap ibu mertua alias ibunya mas Bima sambil memandang sinis pada Kean.


Sebenarnya emosi ini sudah naik ke ubun-ubun, namun aku masih mencoba untuk bersabar dan santai.


Masih ada rasa ingin tau tentang perlakuan mereka pada anakku. Khususnya pada mas Bima saat aku tak ada.


"Bu, nggak boleh gitu. Kean juga anak ku." ucap mas Bima membela Kean, "Lagian Kean juga masih kecil, kasian dia." lanjut mas Bima sambil mengangkat tubuh Kean dan di taruh di pangkuan nya.


"Kamu ini ke anak orang perhatian sekali!!, tapi tidak ke anak mu sendiri!!," muka ibu terlihat sangat marah dengan ucapan yang di ucapkan oleh mas Bima.


"Ibu, sudah donk. Kita jangan bahas ini ya?, nggak enak kalau Sarah dengar. Lagian siapa yang nggak perhatikan Putri? Aku dan Sarah sayang kok sama Kean dan Putri." jawab mas Bima dengan suara pelan. Mungkin ia tak berani bicara keras pada ibu nya.


"Kalau memang kamu perhatian sama Putri, harus nya sejak tadi kamu tanya Putri ada dimana!!, karena dari tadi Putri tak ada disini!," ucap ibu mas Bima.


"Iya, kemana Putri? Bima kok nggak lihat Putri daritadi?, bukankah tadi sepulang sekolah Putri ku antar kesini?," tanya mas Bima.


Memang saat kami datang, kami tak melihat Putri sama sekali. Namun mungkin karena mas Bima keasyikan mengobrol dengan kakak-kakak nya, ia sampai lupa untuk menanyakan Putri.


"Tuh kan?!!!! Kamu cuma sayang sama anak orang lain, sedangkan anak sendiri di sia-siakan." ketus ibu mas Bima. "Kasian banget cucu ku," lanjut ibu mas Bima dengan wajah sedih.


"Bukan begitu, Bu. Bima keasyikan ngobrol sama mas Awan. Tau sendiri kan aku dan mas Awan jarang sekali ketemu." sanggah mas Bima.


"Sekarang kemana Putri? kok aku daritadi nggak melihat nya?," tanya mas Bima.


"Ia sedang main diluar." jawab ibu dengan ketus.


"Ini sudah malam Bu, kok di bolehin saja sih main diluar?," tanya mas Bima.


"Ya biarkan saja, kasihan dia. Kurang kasih sayang dari kamu!!!,"


"Ayah.....," tiba-tiba Putri datang dari luar, ia langsung menghamburkan diri pada mas Bima yang sedang memangku Kean. "


"Dari mana kamu, Put?," tanya mas Bima.


"Dari main dirumah Rena, yah," jawab Putri sambil mengedarkan pandangan nya keseluruh ruang tamu.


Minggir dek!!!, ini ayah aku!!, bukan ayah kamu!!," ucap Putri dengan ketus sambil tangan nya mendorong tubuh Kean agar turun dari pangkuan ayah nya.


"Putri, jangan kasar gitu donk! Kasian adik." ucap mas Bima.


"Heh!! kamu kok kasar gitu sih sama Putri??, Putri itu anak kandung mu, Bim! Sedangkan dia siapa? bukan siapa-siapa kamu!! Jadi yang wajib perhatian pada Putri bukan pada dia!!," ibu mas Bima berkata dengan berdiri dan berkacak pinggang.


"Kean turun dulu ya," bujuk mas Bima sambil menurunkan Kean dari pangkuan nya.


Lalu mas Bima mengangkat tubuh Putri dan memangkunya. Dengan sengaja aku melihat Putri sedang mengejek Kean dengan menjulurkan lidah nya


"Ayah... Kean lapar." ucap Kean sambil menarik kemeja mas Bima.


"He, kalau lapar jangan minta sama ayah ku!," bentak Putri pada Kean.

__ADS_1


"Iya, kalau kamu lapar jangan makan disini!!!, ini bukan rumah mu!!," ucap ibu mas Bima.


"Lagian kamu Bim, mencari istri kok yang sudah punya anak. Mana dia hanya seorang karyawan toko roti." sahut mbak Ambar.


"Kalau cari istri, seperti mas mu itu loh. Lihat mbak Veni, orang berpendidikan dan jelas dia dari lahir sudah hidup enak." ucap ibu mas Bima dengan bangganya menunjuk mbak Veni.


Dan yang paling membuat ku semakin geli, saat mbak Veni senyam senyum saat di bangga-banggakan oleh ibu mas Bima.


"Lagian kamu ini baru menikah dua hari, kok nurut banget sih Bim sama istrimu?!," sahut mas Awan.


"Baru nikah dua hari, istri minta tak tinggal dengan mertua, kamu langsung membelikan nya rumah. Kamu harus bisa atur uang mu, jangan terlalu kamu pasrah kan ke istri mu. Bisa-bisa anak mu sendiri nanti tak dapat apa-apa." kali ini mas Awan yang angkat bicara. Ku kira mas Awan orang yang berbeda dengan kakak dan ibu nya, namun walau dia lelaki ternyata sama aja dengan perempuan. Bibirnya suka nyinyir.


"Nggak apa-apa, mas. Bukannya membahagiakan seorang istri itu kewajiban suami?," ucap mas Bima.


Namun yang menjadi pertanyaan ku, kenapa mas Bima tidak menjelaskan kalau rumah itu bukan dia yang membeli tapi aku.


Dari ucapan mas Bima, terkesan ia menutup-nutupi asal-usul rumah yang saat ini kita tempati.


Ya, kita lihat saja nanti. Aku ingin tahu apa yang direncanakan mas Bima, sehingga ia tak mau terbuka tentang rumah yang kita tempati itu.


"Ayah... Kean lapar!," Lagi, Kean merengek minta makan. Namun mas Bima tak menggubris nya.


"Ehem..Ehem...," aku berdehem sambil keluar dari persembunyian. Mungkin sudah saat nya aku keluar, karena sudah sangat tak tega melihat Kean yang kelaparan.


"Sarah?!," mas Bima melihatku dengan wajah kaget dan kebingungan. Mungkin ia takut kalau aku mendengar semua yang mereka bicarakan tadi.


Namun saat aku melihat kearah mba Veni, dia tersenyum sinis padaku. Entah apa maksud nya, aku pun tak tahu.


"Kean lapar, nak?," tanya ku.


Lalu Kean menjawab dengan anggukan kepala.


"Ayah, Putri lapar...," rengek Putri pada mas Bima.


"Oh,, cucu nenek lapar?," tanya ibu mas Bima dengan suara yang sangat memanjakan Putri. Ya memang tak ada yang salah karena Putri cucunya.


"Ayo, nenek ambilkan." ajak ibu mas Bima, lalu ia berdiri menuju meja makan dan di ikuti oleh Putri.


"Kean, ambilkan di dalam Sarah. Biar malam bersama Putri." ucap mas Bima.


"Loh kok pulang?, kenapa nggak makan disini saja?!, ibu sudah masak kok." tanya mas Bima.


"Ibu kan hanya masak untuk cucunya, bukan untuk anak ku." jawabku ketus.


"Kalau kamu masih belum mau pulang, biar aku pulang lebih dulu." ucapku dengan mengangkat tubuh Kean.


"Kamu mau pulang sendiri?, naik apa?," tanya mas Bima.


"Naik taksi online." jawab ku singkat.


"Tapi.....,"


"Udah lah Bim, biarkan istri mu itu pulang sendiri. Biar dia mandiri, lagian jarang kan kita berkumpul seperti ini. Kalau istri mu ikut berkumpul disini, takut saja nanti dia minder. Karena nggak kuat mental mendengar apa yang kita obrolkan. Secarakan ia hanya seorang pelayan toko roti." celetuk mbak Ambar memotong ucapan mas Bima.


"Kamu yakin mau pulang sendiri?, aku nggak enak sama mas Awan, mbak Veni, mbak Ambar dan mas Teguh kalau aku cepat-cepat pulang." ucap mas Bima.


"Ya yakinlah. Kenapa harus nggak yakin?," aku mengeluarkan handphone dari dalam tas, dan segera memesan taksi online.


"Saraaaaah!!!," dari dalam dapur terdengar suara teriakan ibu nya mas Bima.


Aku sih tidak kaget, mungkin sekarang ibu nya mas Bima mengetahui kalau cucian piring kotor hanya aku tumpuk di wastafel.


"Saraaaaah!!!," ibu nya mas Bima berjalan keluar dari dapur menuju ruang tamu. Dimana aku masih berdiri di sini.


"Sarah!!!, apa maksud mu menaruh semua piring kotor di wastafel?!, kenapa piring-piring kotor itu tidak kamu cuci?!," tanya ibu nya mas Bima dengan berkacak pinggang dan wajah penuh dengan tatapan emosi.


"Loh, kenapa harus aku yang mencucinya, Bu? Aku sebagai apa?," tanya ku dengan santai. Karena sedikit pun emosiku tak terpancing, kala ibunya mas Bima teriak-teriak memanggil ku dan menatapku seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


"Kan kamu menantu perempuan dirumah ini!!!, seharusnya seorang menantu perempuan itu membantu semua pekerjaan mertuanya. Bukan seperti ini, semua piring kotor di tumpuk di wastafel. Seharusnya sebagai menantu perempuan yang baik, piring kotor itu dicuci. Bukan hanya ditaruh!!!!," bentak ibu mas Bima, yang berhasil membuat Kean ketakutan dengan suara bentakan nya itu.


"Bukan kah menantu perempuan ibu, bukan hanya aku saja?!," kali ini sengaja aku melirik mbak Veni, yang dari tadi hanya menertawakan aku.

__ADS_1


"Maksud kamu, aku?," kali ini mbak Veni angkat bicara.


"Lantas disini siapa yang menjadi menantu perempuan?," tanya ku balik.


"Kalau kamu iri dengan istri Awan, kamu salah besar. Karena kamu dan istri Awan sangat berbeda kasta. Kamu pasti sudah melihat nya kan, dari cara berpakaian pun kalian sangat berbeda jauh!!!." ucap ibu mas Bima.


"Lihat saja, perhiasan yang di pakai istri Awan. Dari situ aku yakin kamu bisa berpikir. Dan lihat punya mu, aku nggak yakin kalau itu perhiasan emas asli." ibu mas Bima semakin menjadi-jadi dengan ucapannya.


"Dan satu lagi, istri Awan itu kaya raya dari kecil. Jadi untuk urusan cuci piring di tidak jago. Beda dengan kamu, kamu datang dari kampung dan di kota ini menjadi pelayan toko, jadi pekerjaan seperti itu sudah menjadi ahli mu." ucapan ibu nya mas Bima semakin menyakitkan hati ku.


Tin!!


Tin!!


Tin!!...


"Maaf, Bu. Silahkan cuci sendiri!!," ucapku sambil berjalan keluar saat taksi online yang aku pesan sudah datang.


"Bima!!, lihat sikap istri mu padaku!!," ucapan ibu terdengar dari luar saat aku masuk kedalam taksi online.


"Sarah...tunggu...!!," mas Bima berlari keluar memanggil ku. Namun sengaja aku tak menghiraukan nya, segera aku suruh supir taksi untuk menghidupkan mesin nya dan segera pergi dari tempat ini.


Ada perasaan kecewa pada mas Bima, karena ia hanya diam saja melihat aku di hina seperti itu. Tak ada pembelaan yang di lakukan mas Bima padaku.


Yang aku sesalkan, mas Bima tak berbicara terus terang tentang asal usul rumah yang kita tempati sekarang.


Handphone ku berbunyi, kuambil dari dalam tas. Ternyata mas Bima yang menelepon ku. Namun aku tak mengangkat nya. Rasanya kesal dan malas berbicara dengan mas Bima. Pasti ujung-ujungnya ia akan membela orang tua nya.


Handphone ku terus berbunyi berkali-kali, tapi aku tetap tak mengangkat nya.


"Amma, hp amma bunyi. Kenapa tak diangkat, ma?," tanya Kean.


"Nanti saja diangkat, kalau kita sudah sampai rumah." ucapku memberi alasan pada Kean.


"Kean. mau makan apa, nak?," tanya ku.


"Ayam crispy pakai saos sambal ya ma." ucap Kean.


Itu memang makanan kesukaan Kean. Kean bisa tambah nasi berkali-kali kalau makan pakai ayam crispy yang di cocok dengan saos sambal.


"Oke sayang.." jawab ku sambil mengacungkan dua jempol tangan ku.


"Pak nanti berhenti di depan ya. Di kedai ayam crispy." aku memberitahu pak supir.


"Baik, Bu." jawabnya singkat.


Lalu taksi pun berhenti didepan outlet ayam crispy yang terkenal di kota ini.


"Kean mau nasi nya dua bungkus ya ,amma." Kean request nasi dengan mengangkat dua jari nya.


"Asiap bos....apa sih yang enggak buat anaknya amma yang Sholeh ini." ucap ku sambil mencubit hidung mancungnya.


Lalu aku memesan tiga ayam crispy dan tiga nasi. Serta dua es teh manis kesukaan Kean. Disini aku juga ikut makan, perutku juga terasa lapar. Karena tadi habis bersitegang dengan ibu nya mas Bima. Kean begitu lahap makan makanan kesukaan nya.


"Ma, Kean suka ayam ini." ucap Kean dengan memasukkan nasi kedalam mulut nya.


"Oh ya?, amma juga suka, kalau Kean makan nya lahap." ucapku.


Kean terus memasukkan makanan kemulut nya, hingga dua porsi nasi habis dimakan nya.


"Alhamdulillah, Kean kenyang amma." ucap Kean sambil memegang perutnya.


Setelah kenyang, kami berdua pun pulang dengan taksi yang tadi ku pesan.


Sampai dirumah, ternyata mas Bima dan Putri belum datang. Untung saja aku selalu membawa kunci cadangan, jadi aku tak perlu menunggu mas Bima diluar rumah.


"Amma, Kean udah ngantuk. Kean bobok dulu ya ma." Kean berjalan kedalam kamarnya.


"Sayang, sholat isya dulu, gih!," perintah ku.


"Tapi, Kean ngantuk amma...," rengek Kean.

__ADS_1


"Ayo lah, nak. Sholat dulu ya!,"


"Iya deh, ma!," jawab Kean dengan keterpaksaan.


__ADS_2