DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Janjian


__ADS_3

"Kan sudah Anita bilang, kalau Anita tidak tau!!," ucap Anita dengan bohong.


"Ok, kalau kamu tidak mengaku. Aku akan mencari tau sendiri siapa yang melakukan itu. Karena dalam ruangan ini ada kamera cctv." ancam Rama.


Deg!!!


Kenapa dari awal saat Anita melakukan itu, ia lupa kalau di ruangan ini terpasang cctv.


"mampus!!," gumam Anita dalam hati.


"Maaf, pak. Maafkan saya, saya melakukan itu karena saya tau bapak sedang sibuk meeting. Jadi saya berinisiatif untuk menanyakan apa yang akan disampaikan pada bapak." Anita beralasan, karena kenyataannya tidak seperti apa yang diucapkan Anita pada Rama.


"Namun, bukannya sikap baik yang kudapat dari Bu Sarah. Karena dia memarahi ku, katanya aku terlalu ikut campur dalam kerja sama ini." lanjut Anita berbohong.


"Aku tidak yakin dengan apa yang kamu katakan. Karena aku tau Sarah tidak seperti itu." ucap Rama membela Sarah.


"Kenapa bapak sangat yakin?, sedangkan bapak baru kenal dengan dia. Harus nya bapak lebih percaya padaku, karena aku dan bapak sudah kenal sejak kita kuliah di satu kampus yang sama, sebelum aku kerja di tempat bapak." Anita sangat kesal dengan apa yang di katakan oleh Rama. Rama terlalu membela Sarah, dan itu membuat hati Anita cemburu.


"Sudahlah!!, sekarang kamu keluar dari ruangan ini!!," usir Rama pada Anita.


"Tapi, pak....,"


"Kalau aku bilang kamu keluar, keluar!!, tidak ada kata tapi-tapian!!," Rama sangat jengkel dengan sikap Anita yang seperti tidak punya attitude itu. Seenaknya saja mengangkat telepon di handphone nya. Bukan kah handphone itu benda yang sangat privacy?


Lalu dengan perasaan sangat kesal dan terpaksa, Anita pun keluar dari ruangan Rama.


"Awas kamu Sarah..!!," gerutu Anita sambil berjalan menuju ruangan kerjanya. Anita sangat kesal pada Sarah. Ingin sekali Anita mencaci maki Sarah, karena Sarah lah setiap hari Anita seperti selalu salah di mata Rama.

__ADS_1


Sebelum bertemu Sarah karena kerja sama ini, Anita tak pernah di perlukan selalu salah seperti ini.


Di dalam ruangan kerja Rama, Rama tersenyum miring saat mengingat wajah Anita yang ketakutan. Saat Rama mengancam nya dengan melihat apa yang ia lakukan do dalam ruangan ini lewat Cctv.


Padahal Rama tau kalau diruangan nya tak pernah di pasang kamera cctv. Rama terpaksa berbohong agar, Anita mau mengaku dengan apa yang ia lakukan tadi.


Lalu Rama berinisiatif menghubungi Sarah kembali. Karena ia takut ada hal penting yang akan disampaikan oleh Sarah mengenai kerja sama antara perusahaan Rama dan Sarah.


"Halo, assalamualaikum." sapa Rama saat panggilan telepon sudah tersambung.


"Waalaikumsalam, pak Rama." Sarah menjawab salam dari Rama.


"Mmm.. Ada apa kamu menghubungi ku tadi?," tanya Rama dengan sangat kaku.


"Maksud ku, tadi aku sedang ada meeting. Jadi aku tak tahu kalau kamu menelpon ku. Dan maaf, kalau dengan lancang Anita mengangkat telepon dari mu." lanjut Rama membenarkan kalimat yang ia rasa tadi sangat kaku untuk di dengar oleh Sarah.


"Dan, satu lagi. Jangan panggil aku dengan sebutan bapak, kamu cukup panggil aku nama saja." ucap Rama pada Sarah yang masih diam di sebrang telepon, karena masih memberikan waktu pada Rama untuk menyelesaikan apa yang akan Rama ucapkan.


"Lagian sangat kasar kalau aku memanggil pak Rama tanpa sebutan pak." lanjut Sarah.


"Menurut ku, sopan-sopan saja. Karena itu bisa menimbulkan keakraban diantara kita. Tidak ada kecanggungan lagi saat kita sedang membicarakan tentang kerjasama ini." jawab Rama.


"Baiklah, pak. Eh... Rama." jawab Sarah menyetujui permintaan Rama.


"Oh ya apa ada hal penting apa yang kamu sampaikan, Sarah?, karena ada beberapa kali panggilan masuk dari nomor kamu." tanya Rama yang sebenarnya sangat penasaran, kenapa tumben sekali Sarah menghubungi nya berkali-kali.


"Sebenarnya ini tidak terlalu penting dari kerjasama sama kita, pak. Eh.. Rama maksudku." lagi-lagi Sarah lupa untuk memanggil Rama tanpa sebutan bapak.

__ADS_1


"Lalu?," tanya tanya Rama yang semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Sarah.


"Atau lebih baik kita bertemu saja?, kebetulan aku belum makan siang, jadi kita bisa sekalian makan siang." tawar Rama, yang sangat berharap Sarah mau dengan ajakannya itu.


"Mungkin itu lebih baik, karena rasa nya hal ini tidak enak kalau aku bicarakan Lewat panggilan telepon," jawab Sarah menyetujui ajakan Rama.


Karena Sarah yakin kalau Rama akan datang bersama Anita, karena Anita adalah sekertaris nya. Jadi tak akan ada rasa canggung dan perasaan takut terjadi fitnah kalau ia hanya berdua saja dengan Rama.


Lalu telepon pun segera Sarah tutup, setelah Rama memberi tahu tempat untuk mereka bertemu.


Ada perasaan bahagia yang dirasakan Rama saat ini, dia bisa bertemu dengan Sarah sendiri. Jadi tidak ada orang yang akan mengganggu nya untuk menikmati waktu berdua dengan Sarah.


Dengan perasaan yang sangat bahagia, Rama segera menyiapkan diri dengan membenarkan kemejanya yang sudah sedikit lusuh itu karena kegiatan nya mulai pagi tadi. Tak lupa juga, Rama menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Lalu ia menyemprotkan parfum yang ia beli saat ia berada di inggris.


Namun berbeda dengan Sarah, tak ada hal yang spesial dari pertemuan ini. Karena Sarah bertemu dengan Rama bertujuan untuk mengetahui semua alasan Rama kenapa ia ingin sekali menerbitkan novel online karya nya.


Jadi tak perlu ada hal yang berlebihan untuk persiapan ia bertemu dengan Rama.


Setelah semua dirasa sudah siap, Rama pun keluar dari ruangan nya. Penampilan yang tak biasa, menarik perhatian Anita yang saat ini sedang berada di ruangan nya.


Dari dalam ruangan Anita, sangat terlihat jelas Rama yang sedang berjalan di depan ruangannya. Karena ruangan Anita tertutup dengan kaca bening, sehingga dengan sangat jelas Anita bisa melihat apa-apa yang ada di depan ruang kerjanya.


Saat melihat Rama dengan dandanan tak seperti biasa, ada rasa penasaran di hati Anita. Dan Anita pun berlari keluar dari ruangan kerjanya menuju Rama yang sedang berjalan keluar dari kantor.


"Rama...!! Tunggu!!." panggil Anita yang melihat melangkah ke pintu keluar yang sudah terbuka dengan sendirinya itu.


Dengan refleks, Rama pun menoleh ke sumber suara yang memanggil nya, " Anita..!!!," Alis Rama bertaut saat melihat Anita berlari pada nya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Rama?, eh pak Rama. Maaf aku lupa lagi." ucap Anita dengan Nafas yang ngos-ngosan, karena Anita berlari saat mengejar Rama yang hendak melangkah kan kaki nya keluar pintu kantor.


"Kenapa kamu berlari-lari seperti itu?, seperti di kejar setan saja??!!!," tanya Rama dengan tatapan ketus pada Anita.


__ADS_2