
Aku pulang lebih awal karena mas Bima tidak bisa menjemput Kean. Jadi aku yang menjemput nya hari ini di sekolah nya.
Dan ternyata Kean udah siap di depan kelasnya menunggu jemputan ku.
"Ayo sayang, kita pulang!," ku ulurkan tangan ku.
Lalu Kean pun menyambut nya, kita berjalan bersama dengan bergandengan tangan.
"Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu?," tanya ku.
"Kean lapar amma, kita makan gimana?," usul Kean dengan tersenyum padaku.
"Oke, kalau begitu. Kean mau makan apa?," kini aku dan Kean masuk kedalam taksi online yang sedang menunggu ku.
"Kean mau makan ayam crispy dengan Saor pedas, amma." selalu ini yang menjadi menu makanan Kean saat kita makan diluar.
Aku pun mengiyakan nya, karena melihat anak makan lahap dengan makanan yang ia suka. Sungguh membuat hati ini bahagia.
Taksi melaju ke outlet ayam crispy yang terkenal di kota ini.
"Gimana tadi sekolah, nak?," tanya ku sambil menatap wajah nya yang tampan.
"Seru amma, tadi bekal ku Kean bagi sama Kay. Jadi sekarang Kean lapar lagi." ucap nya dengan nyengir kuda.
"Oh ya? wah anak amma baik sekali." aku menyanjung nya. Karena dia sudah mau berbagi pada teman nya.
"Kasian Kay, amma. Dia tidak di bawakan bekal sama mami nya. Jadi saat Kean makan, Kay menatap Kean. Waktu Kean tanya, katanya dia juga lapar. Karena sama maminya tidak dibikinkan bekal." Kean semangat sekali menceritakan apa yang terjadi tadi disekolah nya.
Wah.... itu anak keren, anak baik. Amma bangga sana Kean." puji ku sambil mengangkat kedua jempol tangan ku.
Kini taksi online yang aku tumpangi, sudah berhenti di depan tempat yang aku maksud. Aku dan Kean segera turun dan masuk kedalam, untuk mengisi perut Kean yang katanya sudah sangat lapar. Dan taksi sudah pergi setelah aku bayar.
Kean duduk di meja kosong, kebetulan tempat ini sangat ramai pengunjung. Jadi mencari tempat yang kosong sangat kesulitan.
Akhirnya ada dua orang yang telah selesai makannya, dan ia segera berdiri. Emang ya kalau masih rejeki kita, pasti ada cara dan jalan.
Kean duduk ditempat yang di tinggalkan dua orang tadi. Kean duduk aku pergi untuk memesan ayam crispy favorit Kean.
Dua nasi dan dua ayam crispy bagian dada dan paha kini aku bawa ke tempat duduk Kean setelah aku membayar nya. Tak lupa, dua es teh manis juga sudah berada diatas nampan yang berisi nasi dan ayam tadi.
"Pesanan datang, bos." godaku pada anak lelaki ku sambil satu nampan makanan dan minuman itu aku taruh di depan nya.
"Wah...perut Kean makin lapar, amma. Makasih ya amma." satu kecupan manis mendarat sempurna di pipi sebelah kanan ku.
"Sama-sama, sayang." aku pun mencium kening anak soleh ku.
"Sebelum makan kita harus?," tanyaku.
"Cuci tang dan setelah itu berdoa." jawab Kean dengan kepolosan nya dan ia berlari ke wastafel yang memang sudah di sediakan untuk pelanggan cuci tangan.
Aku pun mengikuti nya dari belakang,untuk mencuci tangan juga. Setelah mencuci tangan, tak lupa aku mengambil saos pedas request Kean, di tempat pengambilan saos yang di sediakan untuk mengambil sendiri menurut selera masing-masing.
"Berdoa dulu yuk!," aku mengajak Kean, dan kami berdua berdoa setelah menaruh saos di samping piring ku dan Kean.
"Selamat makan, anaknya Amma."
__ADS_1
Kean hanya tersenyum manis dengan menatap wajah ku.
"Selamat makan juga, amma." balas Kean.
Kean sangat lahap makan makanan favorit nya, apalagi ayam yang aku pilih bagian dada. Di bagian ini daging sangat banyak. Cocok banget untuk anak-anak seusia Kean. Yang masih dalam masa pertumbuhan.
Dari pintu masuk, terlihat dua anak perempuan masuk kedalam outlet.
Kedua nya langsung menuju tempat pemesanan, awal nya aku tak peduli. Karena hanya melihat sekilas dan tak begitu jelas.
Setelah mereka berjalan mendekat kearah ku, untuk menuju bangku yang kosong di belakang Kean. Kini aku sangat jelas dengan salah satu anak perempuan itu.
Dan itu adalah Putri, anak kandung mas Bima alias anak sambung ku.
Mereka saat ini sudah duduk dibangku kosong belakang Kean. Putri dan Kean saling membelakangi.
"Untung saja Putri tidak duduk di bangku yang berhadapan dengan ku. Sehingga ia tak akan mengetahui kalau aku ada disini.
"Kean, sstttttttt." aku memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuk ku di bibir, agar Kean tak bicara dengan keras.
Dan Kean mengerti dengan maksud ku, dia pun langsung diam dan terus memakan makanan nya.
"Waah... handphone mu baru ya put?," terdengar suara teman Putri bertanya sambil mengangkat handphone warna hitam.
Yang sebelumnya aku tak tau handphone yang di belikan mas Bima. Kini aku sudah tau, tipe dan kisaran harga nya, setelah teman Putri mengangkat benda pipi itu.
"Iya, donk." jawab Putri terdengar sedikit membanggakan diri.
"Ini harganya lumayan loh, Put. Aku pernah di kasih brosur handphone ini oleh kakak teman ku yang kebetulan bekerja di outlet handphone terbesar di kota ini." aku mendengar apa yang dikatakan teman Putri itu dengan jelas, karena jarak kamu memang sedekat itu.
"Wah... ayah mu baik ya, Put?," ucap teman Putri sambil makan makanan yang sudah ia pesan.
"Ya memang baik, asal aku tak bilang-bilang sama mama tiri ku." jawab Putri.
Handphone yang di tunjukkan Putri pada teman nya, harga nya lumayan mahal. Masih dia atas sepuluh juta.
Dan anehnya, mas Bima bilang kalau toko nya saat ini sedang sepi. Dan ia juga butuh modal, tapi kenapa ia membelikkan Putri handphone semahal itu?
Lagian ia masih anak SD, yang menurut ku belum saat nya memegang handphone semewah itu. Takut aja apa yang ia punya mengundang kejahatan dan mencelakai dirinya sendiri.
"Memang kenapa kalau mama tiri mu tau?," tanya teman perempuan Putri.
"Ya jelas lah pasti dilarang, dia kan ingin menghabiskan uang ayah. Lihat aja baru menikah sudah minta rumah pada ayah. Lalu ia juga di belikan handphone yang berkamera tiga yang saat ini sedang hits." ucapanya.
"Dan sebentar lagi aku akan dibangun kan rumah oleh ayah, di tanah yang kemarin ayah beli untuk ku." ucapnya lagi.
Hari sempat shock mendengar ucapan Putri barusan. Setega itu mas Bima padaku. Membelikan tanah Putri juga diam-diam kepada ku. Seakan-akan aku tak di adakan dirumah ku sendiri.
Jujur sih kalau dia belikan apapun untuk anaknya, aku tak masalah. Karena itu anaknya, anak kandungnya dan memang sudah menjadi tanggung jawab mas Bima untuk mencukupi nya.
Namun yang membuat ku sakit hati. Sebagai istri mas Bima, sepertinya tak pernah dianggap.
Buktinya membeli tanah dengan jumlah uang yang besar, aku tak diajak untuk bermusyawarah.
Dan satu lagi, ia mengaku toko nya sedang sepi sehingga masih tak bisa menafkahi ku. Karena saat ini ia sedang butuh modal besar untuk membangkitkan toko nya lagi.
__ADS_1
Aku dan Kean segera pergi dari tempat itu, setelah Kean selesai makan. Nasi tinggal setengah tak ku habiskan, setelah mendengar pengakuan Putri pada teman nya.
Aku tak mau semakin sakit hati dan mood ku rusak, hanya karena mendengar kesombongan Putri pada temannya.
Aku menunggu taksi online yang sudah aku pesan, sambil duduk di bangku panjang yang sudah disediakan di depan outlet.
Setelah taksi online itu datang, aku dan Kean segera naik. Dan menuju rumah, karena hari sudah sore.
Sebentar lagi mas Bima juga pulang, jadi alangkah baiknya aku sudah ada dirumah sebelum mas Bima datang.
"Baru pulang kerja, mbak Sarah?," sapa Dewi saat aku dan Kean turun dari taksi online.
"Iya, wi." jawabku. Kali ini Dewi sangat ramah padaku, saat kulihat kanan kiri memang sedang tak ada siapa-siapa disini. Hanya ada aku, dia dan Kean, dan tak ada keberadaan mbak Ana disini.
"Pantas saja dia sangat ramah padaku." gumamku dalam hati sambil tersenyum getir pada Dewi.
"Waah, mbak Sarah bawa apa itu?," Dewi menunjuk paper bag yang aku jinjing di tangan kanan ku. Kebetulan tadi aku sengaja membawa beberapa bolu, untuk ku jadikan camilan dirumah.
"Oh.. ini kue Wi. Kamu mau?," tanya ku karena tak enak hati saat Dewi menanyakan tas yang aku bawa.
"Mau, mbak Sarah." jawab nya.
Lalu aku ambil satu kotak kue yang berisi lima potong bolu coklat.
Untung nya aku tadi membawa dua kotak kue, yang rencana nya satu kotak kue mau aku buat cemilan di saat malam-malam sedang mengetik novel.
"Wah... terimakasih mbak Sarah." ucap Dewi sambil mengambil kue yang aku berikan padanya.
"Sama-sama." balas ku.
"Ehemmmm....," tiba-tiba ada suara dehem dari belakang ku.
"oo eee....ini, maaf mbak Sarah. Aku nggak jadi minta kue nya." Dewi menyodorkan kembali kotak kue yang sudah ada di tangan nya.
Aku yang belum sempat melihat siapa yang berdehem di belakang ku. Membuat ku penasaran, karena suaranya berhasil membuat Dewi ketakutan.
"Sudah, ambil saja Dewi!," aku menyodorkan kembali kotak yang berisi lima potong kue itu.
"Nggak usah, mbak. Buat anak-anak mbak Sarah saja!," Dewi terus memaksa ku untuk mengambil kotak kue itu.
"Anak-anak sudah ada, ini." aku mengangkat paper bag yang masih ada satu kotak lagi yang berisi lima potong bolu coklat.
"Tapi....,"
"Ehemm ehemm.....," ucapan Dewi belum selesai, suara dehem di belakang ku terdengar lagi.
Aku yang dari tadi penasaran, akhirnya aku membalikkan badan ku ke belakang.
Dan benar dugaan ku, ternyata suara deheman itu dari mulut mbak Ana.
"Eh ada mbak Ana. Apa kabar mbak?," sapa ku.
"Dewi!, ngapain kamu disitu? ada yang aku bicarakan dengan mu!," ucap mbak Ana yang tak memperdulikan sapaan ku. Ia berlalu begitu saja berjalan di depan ku tanpa senyum dan melihat ku.
Aku tak ambil pusing dengan tingkah laku mereka berdua, saat mereka berjalan menuju rumah Dewi. Aku dan Kean juga berjalan pulang.
__ADS_1