DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Takut Kehilangan Keduanya


__ADS_3

Betapa sakitnya hatiku, bagai di sayat sembilu lalu disiram air garam oleh mas Damar.


Aku pulang kerumah untuk mengambil barang Kean yang ketinggalan.


Ku buka pintu kamar ternyata ada mas dan Damar dan gundiknya berada di bawah selimut yang sama.


Setega itu mas Damar sama aku. Ia melakukan zina di dalam kamar ku. Kamar tempat kita memadu kasih dengan halal.


Kenapa aku bilang itu kamar ku, karena aku lah istri sah nya sampai Sekarang. Jadi berhak atas kamar itu.


Tak ada perasaan bersalah pada diri mas Damar ketika kepergok berzina dengan gundiknya itu.


Malah dengan lantang nya mas Damar ingin memberi ku madu. Wanita mana yang mau dimadu?. Jelas aku menolaknya.


Aku tak takut dengan sumpah serapah nya, karena ia sendiri bukan suami dan bapak yang baik untuk ku dan Kean.


Perlakuan mas Damar dan keluarga nya yang membuat ku menjadi wanita kuat. Sekarang lah hati dan jiwa ku sedang di uji. Dengan menyaksikan perzinahan suamiku dengan wanita lain di dalam kamar ku.


"Kamu kuat Sarah! Kamu bisa hidup tanpa Damar." Ucapku dalam hati untuk menyemangati diri ku sendiri.


Tanpa berpikir lama aku pun langsung keluar. Dan mas Damar mengejar ku.


Dia masih ngeyel ingin bernegosiasi dengan ku. Ia ingin berpoligami, namun aku menolak nya.


Mungkin ia mengira aku wanita lemah yang tidak bisa hidup tanpa nya. Nyatanya selama aku tinggal bersama nya, aku makan dengan uang hasil kerja ku sendiri. Karena mama Linda yang dipercaya memegang uang belanja tak pernah memberi ku uang sepeserpun untuk belanja.


Kalau memang surga yang dijanjikan jika seorang istri mau di madu. Maka aku akan cari jalan lain untuk mencapai surga Allah.


Kuyakinkan hati ini untuk menolak permintaan mas Damar. Lebih baik aku hidup berdua dengan Kean kalau aku harus di poligami.


Aku pun pergi dari rumah itu, dan aku yakin aku tak akan pernah kembali kerumah itu.


Karena rumah itu banyak kenangan yang pahit di memori ku. Tak ingin ku ukir kenangan pahit ini di diri dan pikiran Kean anak ku.


Mungkin ini jalan satu-satunya agar aku tak memberi memori pahit pada Kean dengan kita berdua keluar dari rumah ini.


Saat aku berlari keluar rumah tiba-tiba mama dan Lidya datang turun dari mobilnya yang diparkir di halaman depan rumah.


"Heh, wanita udik ngapain kamu disini?," tanya mama Linda dengan menyilangkan tangannya di depan perut nya.


Aku hanya diam menundukkan kepala dan berlalu tak menghiraukan keberadaan mama dan Lidya, percuma harus debat dengan orang seperti mama. Dia nggak akan mau kalah dan pasti akan keluar dari jalur permasalahan nya.


Tapi bukan mama Linda kalau harus menerima kediaman ku, semakin aku diam dia akan semakin membuat aku malu dan menderita dengan omongan nya.


"Heh, wanita udik!!!!! Kamu nggak punya sopan santun ya? diajak omong orang tua bukan nya menjawab malah diam saja sambil berlalu melewati aku," ucap mama dengan memegang lengan ku yang bertujuan agar aku tak pergi meninggalkan nya.


"Maaf ma, Sarah mau pergi," ucapku tanpa banyak kata. Karena aku malas banget debat dengan orang tua.

__ADS_1


"Kamu pasti meminta maaf pada Damar dan


mintanya untuk kembali padamu, tapi jangan harap Damar mau sama kamu!!!!, Karena Damar sudah mendapatkan wanita yang lebih dari kamu!!!" ucap mama Linda dengan keras sambil melihat mas Damar yang sedang berdiri didepan pintu bersama gundiknya.


"Kamu di usir dari sini aku pastikan kamu jadi gembel," lanjut mama Linda sambil tersenyum mencincing kan bibir sebelah kanannya.


Aku tak memperdulikan omongan mama Linda, aku berlalu dengan menggendong Kean. Aku berjalan menuju jalan besar, karena aku belum sempat memesan taksi online.


Berjalan sambil menggendong Kean aku segera mengeluarkan handphone ku untuk memesan taksi online.


Sampai di ujung jalan, taksi itu pun datang. Lalu aku naik dan menuju ruko.


Tak henti-hentinya air mata ini mengalir. Walau tanpa disuruh pun masih mengalir deras. Walau mas Damar sering menyakiti hati ku. Tapi masih ada rasa cemburu saat melihat mereka tidur bersama.


Sampai di depan toko yang sudah tutup, aku langsung masuk dan menidurkan Kean. Lalu aku juga merebahkan tubuh ini dan segera mengetik untuk menyalurkan emosi ku yang sedang meledak ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Author


Dirumah, Damar sangat gugup saat Sarah melihat nya bersama Bianca di dalam selimut yang sama. Dengan memarahi Sarah lah Damar bisa menutupi malunya.


Tak ada kata meminta maaf pada Sarah, karena menurut dia seorang lelaki pantang minta maaf pada perempuan. Apalagi perempuan yang seperti Sarah. Perempuan tak berkelas dan perempuan kampungan menurut Damar.


Damar merayu Sarah, agar Sarah mau kembali dengan nya asal Sarah mau di madu oleh nya.


Namun dengan tegas Sarah menolak nya. Dan Sarah memilih pergi dari rumah setelah di hina oleh Linda mama nya Damar yang tidak lain mertua mertuanya sendiri.


Damar pun juga langsung memeluk Bianca, setelah Linda melepaskan pelukannya.


"Sabar ya sayang, kamu tetap kok yang aku cinta." bisik Damar pada Bianca.


Bianca hanya menjawab dengan anggukan. Sebenarnya yang Bianca takut kan saat ini adalah suaminya tahu tentang perselingkuhan nya dengan Damar.


Ia tak rela jika akan menjadi gembel, karena perselingkuhan nya dengan Damar.


"Mar, sementara kita putus ya. Biarkan beberapa hari ini kita Jang bertemu dulu." ucap Bianca secara tiba-tiba.


"Loh kenapa seperti itu, Bi? Aku nggak bisa kalau aku nggak ketemu sama kamu.," jawab Damar takut kehilangan Bianca.


"Karena kejadian tadi membuat aku shock, Mar. Aku ingin menenangkan diri," Bianca memberi alasan.


"Tenang sayang, Sarah tak akan bisa berbuat apa-apa. Sarah itu wanita lemah," Sahut Linda iku menenangkan Bianca.


Menurut Linda Bianca adalah menantu idaman nya. Karena ia cantik, berpendidikan tinggi dan yang pasti dia dari keluarga yang kaya raya.


Linda berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Bianca agar dia tidak pergi dari Damar anak lelakinya itu.

__ADS_1


"Kamu nginep disini aja ya, Bi?!," ucap Damar. "ini sudah malam, biar besok pagi aku antar kamu pulang," lanjut Damar.


"Biar aku pulang aja, Mar. Biar Sinta menjemput ku." Bianca langsung mengambil handphone nya yang ada di dalam tas merk terkenal di seluruh dunia.


Bianca lalu mengirim lokasi terkini lewat aplikasi. Saat menunggu Sinta datang Bianca pun duduk di sofa ruang tamu.


"Nak Bianca, kamu jangan pernah tinggalkan Damar ya. Aku yakin kok Damar itu sangat mencintai nak Bianca," ucap Linda meyakinkan Bianca. Karena di hati Linda sangat takut kalau Bianca akan meninggalkan anak nya. Bisa gagal Linda punya menantu impian yang kaya raya.


"Iya, ma. Nggak mungkin Bianca meninggalkan Damar. Toh Damar sama istri nya juga mau cerai kan?," tanya Bianca .


"Iya, nak. Memang Sarah itu istri yang tidak becus dalam mengurus suami. Jadi memang sudah seharusnya Damar meninggalkan Sarah. Asal kamu tau ya, nak. Sebenarnya mama tak pernah setuju dengan pernikahan Damar dan Sarah." ucap Linda mencari simpati pada Bianca.


"Saya tau itu, Bu. Karena Damar sudah banyak cerita tentang Istri nya yang ia usir," jawab Bianca.


Damar memang sering cerita tentang keburukan Sarah. Mulai dari Sarah yang tak bisa dandan, Sarah yang tak bisa liar di ranjang, dan Sarah yang tak becus memegang uang karena menurut Damar Sarah terlalu boros.


Dan dari curhatan Damar lah Bianca bisa menempatkan diri, dan masuk di kehidupan Damar. Seolah dia menjadi wanita yang sempurna.


Akhirnya Sinta pun datang, dan memarkir mobilnya di depan halaman rumah. Sontak tak memasukkan mobilnya karena dirasa ia tak akan lama.


Yang membuat hati Sinta terkejut dan beberapa pertanyaan yang muncul di otanya. Kenapa Bianca ada dirumah suami Sarah. Apa ia sedang dalam halusinasi.


Tanpa banyak berpikir Sinta langsung masuk dan mengetuk pintu. Agar semua pertanyaan-pertanyaan di pikiran nya segera menemukan jawaban.


Saat Linda membuka kan pintu, Sinta pun kaget.


"Bu Linda?!, Pak Damar? kenapa kalian ada disini?," tanya Sinta dengan tatapan kebingungan, menatap satu persatu secara bergantian kearah Damar dan Linda.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?!, ini kan memang rumah ku!!!!," bentak Linda dengan tatapan sinis nya pada Sinta.


Namun Sinta tak menggubris nya, karena nenek tua seperti Linda itu tak perlu di hormati. Semakin di hormati semakin tak tau diri, lebih baik ya di kerjain.


"Bukan kah ini rumah....," Sinta tak melanjutkan ucapannya ia menutup mulutnya dan mata nya menatap bergantian kearah Damar dan Linda.


"AA...........tidaaaak," Sinta berteriak seperti orang kesurupan dengan menutup mata nya. Sampai Lidya yang ada di dalam kamar pun lari keluar karena kaget ada orang yang berteriak. Dan Sinta kini mengetahui suatu fakta yang membuat dia shock.


"He,, udik!!! Diam kamu!!!! Ngapain kamu teriak-teriak dirumah orang!!! Kamu pikir ini hutan seperti kampung mu!!!!!," bentak Lidya yang kesal mendengar suara Sinta yang berteriak secara refleks itu.


Sinta pun langsung menutup mulutnya sendiri dan membuka mata nya saat mendengar suara Lidya yang lebih menggelegar.


"Kamu kenapa, Sin?," tanya Bianca yang mendekat pada tubuh Sinta Yan sedang berdiri di tengah pintu.


"Hmmm... nggak kenapa-kenapa kok, Bu. Maafkan Sinta, Bu." Sinta memohon dengan menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada.


"Iya, nggak apa-apa Sin. Ayo kita pulang," ajak Bianca.


Lalu Bianca berpamitan pada Linda, Damar dan Lidya.

__ADS_1


Begitu pula dengan Sinta yang ikut berpamitan kepada mereka dengan mengangguk kan kepalanya. Namun Linda dan Lidya tidak membalasnya. Melain kan mereka berdua membuang muka nya dari pandangan Sinta.


Sinta pun tak peduli, dan ia membalikkan badannya mengikuti di belakang Bianca yang berjalan lebih dulu didepannya untuk meninggalkan rumah Damar.


__ADS_2