DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#327


__ADS_3

"Kalah?!, maksud ibu kalah yang bagaimana?," tanya Awan yang tak mengerti.


"Sarah tadi juga beli gelang itu, gelang itu limited edition, Wan. Hanya ada dua biji, dan yang satu sudah di beli oleh Sarah!!,"Jawab Laras sambil menangis.


"Gara-gara kamu, ibu jadi malu kan." Laras terus menangis.


"Bukannya kaya mu kamu sudah punya banyak uang, lalu kamu setuju saat ibu ajak kamu ke toko perhiasan." gerutu Laras.


"Ibu, mencair kan uang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agar tak terendus perusahaan, Awan harus hati-hati dalam hal ini." jelas Awan.


"Awan kira ibu datang ke toko perhiasan mau menjual perhiasan ibu. Jadi Awan ikut aja mengantarkan ibu." lanjut Awan sambil membuang pandangan nya kearah jendela kaca yang ditutup.


Sedangkan sopir taksi yang sedari awal mengawal keberangkatan mereka berdua dari rumah hingga sekarang pun, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Wan, sebentar lagi kita sudah sampai di salon Siska. Ibu harap kamu harus bersikap manis pada Siska. Dan nampak kan kewibawaan mu pada Siska." ucap Laras sambil menyeka bekas air matanya yang membasahi pipinya.


"Memang kenapa harus seperti itu, Bu?," tanya Awan sedikit heran.


"Sepertinya Siska menaruh hati padamu. Jadi ibu rasa, kalau perceraian mu dengan Veni sudah beres. Lebih baik kamu menikah dengan Siska. Karena ibu yakin, hidup kita akan semakin makmur dan bahagia." ucap Laras di luar nalar.


"Ibu ini apaan, sih?! Kenapa sampai punya pikiran seperti itu!," jawab Awan yang sedikit risih dengan ucapan Laras.


Karena memang dihati awan untuk saat ini adalah Sarah. Beda dengan Laras, rencana Awan setelah persidangan perceraian nya dengan Veni beres. Awan ingin segera melamar dan menikah dengan Sarah.


Awan sangat yakin kalau Sarah juga ada rasa pada dirinya.


"Wan, bayangkan saja kalau kamu dengan Siska. Bisnis kalian akan sama-sama besar. Dan pastinya harta kalian akan banyak." ucap Laras dengan membayangkan apa yang ada di benak nya saat ini.


"Enggak ah, Awan tak ada rasa apapun dengan Siska." gerutu Awan.


"Awan, kenapa pikiran mu sedangkal itu sih?!!, Hidup sekarang itu yang di pikir bukan cinta, tapi uang. Karena kebahagiaan itu bisa di beli dengan uang." ucap Laras sambil mengangkat jari nya dan menggesek-gesek nya.


"Ah... mana ada bahagia bisa di beli dengan uang, Bu?!," Awan tak sependapat dengan ibu nya.


"Buktinya, saat ini aku sangat sedih. Sedang tidak bahagia." jawab Laras.


"Memang ibu sedih dan tidak bahagia karena apa?!," tanya Awan.


"Ibu sedih kamu belikan gelang yang sama dengan milik Sarah." jawab Laras sambil mengeluarkan air mata lagi.


"Huuuhhh....," Awan pun langsung mendengus mendengar ucapan Laras.


"Sudah lah, Bu. Nggak usah di bahas lagi." ucap Awan yang sedikit jengkel pada ibu nya yang seperti anak kecil itu. Setiap kali menginginkan sesuatu, harus segera di belikan.


Tak terasa taksi pun berhenti di depan salon milik Siska.


"Apa benar ini salon nya, Bu?," tanya sopir taksi.


"Oh ya benar, pak." jawab Laras.

__ADS_1


Kemudian Laras dan Awan pun turun dari taksi. Laras membuka pintu mobil sebelah kanan nya.


Sedangkan Awan melalui pintu sebelah kiri. Lalu, Awan berjalan menghampiri sopir taksi online itu.


"Pak tunggu ya?, nanti uangnya saya bayar kalau sampai rumah." ucap Awan pada sopir taksi itu.


"Sebelumnya saya minta maaf, pak. Saya tidak bisa menunggu. Takutnya bapak lama, seperti tadi. Karena sudah dari tadi saya tolak orderan terus." ucap sopir taksi itu.


"Mmmm,,, ya sudah, tunggu." jawab Awan.


"Oh ya berapa ongkos nya?," tanya Awan lagi.


"Dua ratus ribu, pak." jawab sopir taksi itu.


"Hah?!, dua ratus ribu?!, mahal amat!!." gerutu Awan.


Awan berjalan menuju pada Laras yang masih berdiri di depan pintu gerbang salon Siska.


"Bu...!!," panggil Awan.


"Ada apa, Wan?," tanya Laras.


"Minta uang nya Bu, buat ongkos taksi." ucap Awan sambil menengadahkan tangan nya.


"Uang?!, untuk bayar taksi?!," alis Laras bertaut. Ia heran dengan Awan, anaknya itu. Masa iya, uang untuk bayar taksi aja harus minta kepada dirinya.


"iya, Bu. Sopir taksinya menolak, saat Awan suruh nunggu." jawab Awan.


"Lantas, aku mau minta pada siapa dong?, kalau bukan pada ibu?!," jawab Awan.


"Ya harusnya kamu bayar sendiri dong, Awan. Kamu ini sudah gede, sudah berumah tangga. Masak hal sepele seperti itu tidak mengerti!!!," Laras kali ini benar-benar di buat emosi oleh Awan.


"Bukannya Awan tidak mengerti dengan hal sepele seperti itu, Bu. Tapi karena memang Awan saat ini itu belum ada uang." jelas Awan.


"Apa maksud mu tak ada uang, Wan?!, masa sih kamu nggak punya uang sepeserpun?!!," Laras pun segera mengambil dompet Awan yang ada di saku belakang Jeansnya.


Dan betapa kagetnya Laras, saat melihat isi dompet Awan kosong melompong tak ada uang selembar pun di dalam.


"Kok bisa kamu tak ada yang sama sekali, Wan!!!, katanya kamu sudah mengambil uang perusahaan, tapi mana???. Kenapa kamu masih kere seperti ini?!!," Laras sangat marah kepada Awan, lalu dompet itu ia lempar ke wajah Awan.


"Nanti Awan jelaskan, Bu. Percuma kalau Awan jelaskan disini, ibu tidak akan mengerti. Lebih baik sekarang Awan minta uang nya dia ratus ribu untuk bayar ongkos taksinya." ucap Awan.


"Hah!!!, dua ratus ribu untuk ongkos taksi??, kamu kira kita ini keluar kota?, ongkos taksi sampai segitu?!!," mata Laras semakin melotot.


"Katanya saat menunggu kita tadi, sopir taksi itu sudah beberapa kali menolak orderan. Jadi dia minta ganti rugi pada kita." jelas Awan.


"Benar-benar ya, ini tidak bisa di diamkan." gerutu Laras sambil berjalan menuju taksi yang telah ia tumpangi itu. Yang saat ini sedang menunggu uang ongkosnya.


"Hey!!!, kamu ini sopir taksi mau memeras ku, ya?!," ucap Laras dengan suara yang penuh dengan emosi.

__ADS_1


"Kamu kira kita ini pergi keluar kota, sehingga dengan mudah nya kamu menarik ongkosnya sebanyak itu?!!," lanjut Laras Sambil tangan kirinya berkacak pinggang dan tangan kanan nya menunjuk-nunjuk kearah sopir taksi.


"Tapi memang segitu tarif dan kerugian saya karena menunggu ibu sedari tadi." jawab pak sopir taksi online itu.


"Enak saja kamu mau memeras ku!!, segini aku rasa cukup untuk mu!!!," ucap Laras sambil melempar dua lembar uang, satu pecahan dua puluh ribu dan satu nya lagi lima ribu. Jadi total dua puluh lima ribu yang di kasih untuk sopir taksi itu.


"Apa maksud ibu?!, ini masih kurang untuk tarif normal Bu!!," ucap sopir taksi itu.


Namun Laras berjalan pergi meninggalkan nya, Laras tak menoleh sedikit pun pada sopir taksi itu. Walau dirinya di panggil-panggil.


"Dasar!!!, gaya elit tapi ekonomi sulit!!," umpat sopir taksi online itu.


Lalu dia langsung menancap gas untuk pergi dari tempat itu.


Dan kini, Awan dan Laras berjalan menuju salon Siska. Disepanjang jalan Melawati tempat parkir, saat ia berpapasan dengan orang , tak segan Laras mengangkat-angkat tangannya yang sudah di penuhi dengan perhiasan emas.


Namun bukan nya kagum, tak sedikit orang memandang aneh pada Laras.


"Ih,,, sudah seperti toko emas berjalan saja." celetuk perempuan cantik yang umurnya masih mudah dengan tatapan sinis.


"Ih,,, dasar sirik!!," jawab Laras dengan wajah tak kalah juteknya.


Setiap orang yang berpapasan dengan Laras, mereka langsung bergunjing dengan temannya sambil menatap aneh.


"Wan, aku yakin mereka itu sangat kagum dengan ku, dengan perhiasan yang tengah aku pakai ini." bisik Laras pada Awan.


"Mungkin saja." jawab Awan datar. Karena sebenarnya, Awan juga malu melihat penampilan ibu nya sendiri yang menjadi pusat perhatian dan bahan gunjingan orang-orang sekitar.


"Kamu itu harus bangga mempunyai ibu yang seperti aku, di kagumi banyak orang." ucap nya dengan bangganya.


"Aku lihat sedari tadi, semua orang sangat takjub melihatku, ya... Walau ada segelintir orang yang terlihat iri kepadaku." gumamnya lagi.


Namun Awan tak menjawabnya, Awan terus berjalan menaiki tangga salon Siska.


Kin mereka berdua berada di depan pintu salon Siska. Saat security membuka pintu kaca itu, Laras langsung menjadi pusat perhatian semua pengunjung salon ini.


Semua mata tertuju pada Laras, dan Awan sangat malu dengan hal itu.


Karena Awan tau, kalau ibu nya saat ini menjadi bahan gunjingan dan bahan lelucon untuk semua orang.


Mau memberi tahu Laras pun, juga percuma. Karena dalam pikiran Laras, saat dirinya menjadi pusat perhatian. Berarti semua orang itu suka pada diri nya.


"Selamat datang, Bu Laras. Ada Yanga bisa saya bantu?!," tanya resepsionis salon milik Siska.


"Saya mau bertemu dengan Siska. Sekarang panggilkan dia." ucap Laras memerintah resepsionis itu.


"Maaf Bu Laras, ibu Siska masih ada tamu. Jadi ibu silahkan menunggu sebentar ya." jawab resepsionis salonnya.


"Kira-kira berapa lama aku harus menunggu?," tanya Laras.

__ADS_1


"Belum tau, Bu. Yang jelas, kalau tamu Bu Siska sudah pulang. Bu Laras akan segera di panggil." jawab perempuan muda yang lumayan cantik itu.


"Beri kepastian dong, biar aku tak terlalu lama menunggu. Tanyakan sana pada Siska, kira-kira jam berapa menemui aku." bentak Laras pada resepsionis salon Siska itu.


__ADS_2