
Saat taksi online yang saat ini di tumpangi Lidya berhenti, Sarah sedang ada di depan melayani para pembeli bersama kedua karyawan nya.
Memang Sarah adalah perempuan sederhana dan tak pernah terlihat glamour walaupun pun saat ini ia sudah mempunyai uang banyak dari menulis dan dari toko roti nya. Lidya pun mencicingkan bibirnya yang sebelah kiri dengan tatapan menghina saat ia melihat Sarah sedang melayani pembeli.
Lalu Lidya turun dari taksi, dan bukan Lidya kalau tak julid saat melihat ada Sarah.
"Ooooooo jadi sekarang kamu jadi pelayan toko roti untuk menghidupi anak mu, mbak?!," ledek Lidya dengan sengaja agar semua orang mendengar suara nya.
"Lidya??," Sarah langsung kaget saat melihat dan mendengar ucapan Lidya.
Sarah pun langsung malu kepada semua pembeli karena ia jadi pusat perhatian saat ini.
"Bagus juga akal mu, mbak. Setelah terusir dari rumah kamu kerja disini agar kamu dan anak mu tak jadi gembel!!!," lanjut Lidya menghina Sarah.
"Lid, mbak mohon kecilkan suara mu. Malu banyak orang." ucap Sarah pelan.
"Kenapa harus malu, mbak?. Kamu selingkuh aja nggak malu, hahahaha." Hina Lidya semakin menjadi-jadi.
"Cukup ya Bu, Bu sar.....," Reni tak melanjutkan ucapannya karena pergelangan tangan nya di pegang oleh Sarah yang memberi kode agar ia tak meneruskan ucapannya.
Sarah takut kalau Reni bakal memberitahu semua nya pada Lidya.
"Kenapa? Hormat sekali kamu sama orang hina ini sampai kamu memanggil ibu. Kalau kamu tau asal usulnya dia, kamu pasti jijik sama perempuan sok alim ini!!!?," ucap Lidya sambil menunjuk Sarah.
Hati Lidya saat ini memang sedang tak baik-baik saja. Karena masalah di kantor sudah cukup membuat nya stres. Sebenarnya saat ini Sarah juga tak membuat masalah hingga memancing kemarahan Lidya.
Namun saat melihat Sarah tiba-tiba emosi Lidya tak bisa dikendalikan, dan Sarah lah yang menjadi sasaran kemarahan Lidya.
Untung saja pak Udin, pamannya Reni datang tepat waktu setelah mengantar pesanan beberapa potong kue dan orderan makanan frozen. Jadi keributan yang dilakukan oleh Lidya segera teratasi. Dan akhirnya Lidya pun pergi dengan naik taksi online yang menunggu nya tadi.
Yang awalnya Lidya akan membeli beberapa kue untuk di makan dirumah, akhirnya ia pulang dengan perasaan gondok tanpa membawa sepotong kue pun.
"Ini semua gara-gara Sarah perempuan sialan itu!!!, harus nya saat ini aku Uda makan bolu cokelat kesukaan ku. Malah aku tak dapat sepotong kue sama sekali," gerutu Lidya didalam taksi.
"Pokoknya aku akan buat perhitungan sama Sarah. Aku akan buat Sarah di pecat dari toko kue yang terkenal itu. Kok bisa-bisanya toko besar dan yang bergengsi itu menerima Sarah yang sudah punya anak satu itu menjadi karyawan nya," ucap Lidya sendiri di dalam taksi.
Lidya mengambil handphone di dalam tasnya, dan langsung mengirim pesan singkat pada nomor toko kue milik Sarah. Untuk komplain atas kurang nyaman nya saat di layani Sarah.
"Dengan cara ini pasti Sarah akan di pecat oleh owner nya toko roti itu, abis ini kamu pasti jadi gembel, Sarah," ucap nya lagi sambil memencet tombol kirim di keyboard handphone nya.
Lalu Lidya mengarahkan taksi itu ke arah cafe Bintang Ceria.
"Aku harus menenangkan pikiran dulu sebelum pulang, mungkin dengan meminum secangkir kopi di cafe ini otak ku bisa kembali ke pengaturan awal," ucap Lidya saat berjalan masuk ke cafe dan bersama dengan itu, taksi online yang ia tumpangi tadi pergi meninggalkan nya.
Saat Lidya berjalan menuju salah satu meja kosong yang ada di sebelah jendela dengan view sawah yang terhampar hijau, tiba-tiba ia menabrak seorang perempuan manis yang berpakaian long dress warna hitam dan di padukan dengan pasmina warna krem. Karena saat Lidya berjalan sambil mencari handphone yang berbunyi di dalam tas nya, sehingga ia tak melihat jalan didepan nya.
"Heh,,,kalau jalan hati-hati donk, lihat nih baju ku kotor karena ketumpahan minuman mu!!! Dasar nggak punya mata!!!!," Hardik Lidya sambil membersihkan bajunya ya ketumpahan minuman. Lalu Lidya menoleh kearah perempuan itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat perempuan yang ada di depan nya saat ini.
"Tuhan!!!! mimpi apa aku semalam, kenapa harus bertemu dengan perempuan udik ini sih," ucap Lidya dalam hati.
"Oooo ... ternyata kamu?!, Pantesan kelakuan mu kampungan. Memang dasar orang udik dari kampung pergi ke kota dan makan di cafe mewah seperti ini. Jadi ya nggak tahu cara membawa minuman yang benar, sehingga orang lain yang menjadi korban," Cerca Lidya pada Mayang yang saat ini menjadi pacar Celvin. Lelaki yang sangat di cintai Lidya. Dan entah kebetulan darimana Mayang adalah adik perempuan Sarah satu-satunya.
__ADS_1
"Maaf, mbak," ucap Mayang sambil mengambil tisu yang ada d meja sebelah ia berdiri dan membersihkan baju kotor Lidya yang terkena tumpah an minuman yang ia bawa.
"Hey stop!!!!!, jangan memegang baju ku, tangan mu terlalu kotor untuk baju ku yang mahal ini. Aku jijik dengan tangan orang miskin seperti mu!!! Kalau sampai baju ku rusak, aku yakin kamu tak akan bisa mengganti nya!!!!," hina Lidya sambil mengibaskan tangan Mayang yang akan membersihkan bajunya itu.
Karena suara Lidya begitu kencang sehingga memancing kegaduhan pelanggan cafe yang lain. Tak di bisa di pungkiri semua pelanggan cafe yang datang saat ini mulai menggunjing sikap Lidya yang sangat arogan itu.
Tak bisa di elakan akhirnya Celvin yang saat ini datang bersama Mayang pun mendengar keributan itu dari seorang waiters yang berjalan melewati meja nya. Memang saat itu Mayang sedang meminta sesuatu pada waiters sehingga gelas minuman nya ia bawa.
Lalu Celvin mencoba melihat nya, karena perasaan nya tidak enak. Takut terjadi apa-apa pada diri Mayang. Apalagi Mayang tak begitu kenal daerah ini.
Setelah Celvin sampai di tempat kejadian, ternyata benar saja. Terjadi sesuatu pada teman perempuan nya itu.
"Ada apa ini?," tanya Celvin dengan lari kearah Lidya dan Mayang.
"Ii......," sebelum selesai ucapan nya lalu Lidya memotong nya .
"Celvin?, kamu ada disini?. Vin, lihat nih kelakuan perempuan kampungan itu. Baju ku kotor jadi nya," ucap Lidya manja kepada Celvin sambil membersihkan bajunya dengan tisu yang ia ambil di meja sebelah ia berdiri lalu mengarah kan pandangan nya pada Mayang yang berdiri di hadapan nya.
"Kamu nggak apa-apa kan, May?," tanya Celvin pada Mayang dan tak memperdulikan omongan Lidya.
Mayang hanya menggeleng kan kepala sambil menundukkan pandangannya.
"Celvin....!!," racau Lidya manja dan kecewa saat Celvin tak menghiraukan ucapan nya.
Lalu Celvin mengarahkan pandangan nya pada Lidya, dan bajunya yang habis tersiram minuman yang di bawa oleh Mayang.
"Lihat nih, Vin." ucap Lidya manja sambil menunjuk baju nya.
"Tapi, Vin. Ini baju mahal," ucap Lidya sambil menggandeng tangan Celvin.
Celvin sangat risih dengan tingkah laku Lidya yang saat ini di lihat oleh Mayang dan pengunjung cafe lainnya. Celvin pun langsung melepaskan tangan Lidya. Namun Lidya tetap menggelayuti lengan Celvin.
"Lepas, Lidya!!!!," ucap Celvin pelan tapi penuh penekanan. Dengan jari jemari nya mencekam pergelangan tangan Lidya.
Dengan refleks Lidya kesakitan dan mengernyitkan muka nya tanpa suara namun.
Celvin begitu emosi saat ia melihat Lidya memakai sepatu yang ia beli untuk Mayang. Celvin tahu banget kalau itu sepatu yang ia beli, karena di Indonesia cuma ada satu pasang sepatu itu dan Celvin lah yang membelinya.
Lalu Celvin menyeret Lidya menuju toilet, namun kedua nya tak memasuki toilet. Mereka hanya berdiri di depan toilet.
"Sekarang jelaskan kenapa sepatu yang aku belikan untuk Mayang, bisa kamu pakai seperti ini?!," ucap Celvin mendorong Lidya dan melepas tangan nya dengan kasar.
"Iii ini.... bukan aku yang merebut nya. Tapi memang perempuan itu yang memberikan padaku. Karena dia sadar diri kalau dia tak pantas memakai sepatu brand terkenal dengan harga yang mahal," ucap Lidya memberi alasan.
"Memang aku percaya sama kamu?, ingat ya aku tak pernah terima dengan tindakan mu yang seperti ini. Aku akan memproses nya ke pihak yang berwajib. Karena ini termasuk tindak kriminal pencurian. Dan satu lagi, aku akan menang karena aku sudah punya saksi. Yaitu ojol yang waktu itu mengantar sepatu itu ke rumah Mayang. Karena nyata nya Mayang waktu itu sudah menerima nya," bisik Celvin mengancam Lidya.
"Dan ingat nya, perempuan yang ada disana itu punya nama, yaitu Mayang!!!, Jadi Panggi Mayang bukan perempuan itu." lanjut Celvin dengan tatapan penuh emosi.
"Maaf kan aku, Vin. Aku tak bermaksud untuk mencuri dari perempuan itu eh... dari Mayang. Tapi memang sepatu itu lebih pantas aku yang pakai. Karena penampilan ku tidak kampungan seperti perempuan itu eh... Mayang," Lidya masih mencari pembelaan walaupun dengan ucapan nya itu secara tidak langsung ia menunjukkan kebodohannya.
"Aku nggak mau tau, sekarang lepas sepatu itu!!!," bentak Celvin yang secara tiba-tiba berubah menjadi seperti singa yang siap untuk memangsa buruannya.
__ADS_1
Karena Lidya sangat ketakutan akhirnya ia mencopotnya dan memberikannya pada Celvin.
Lidya keluar ke area cafe tanpa memakai alas kaki apapun. Lidya hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
"Kenapa kesialan hari ini menimpa ku. Mulai dari kepergok mesum bersama pak Anton di ruang kerjanya, kemudian ketemu mbak Sarah dan sekarang ketemu sama perempuan perebut pacar ku," Lidya pun menangis berjalan keluar dari cafe tanpa alas kaki. Dan saat ini Lidya menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe yang ia lewati mejanya.
Lalu ia menunggu taksi online yang ia pesan dipinggir jalan. Karena dandanan nya yang sangat seksi membuat banyak mata yang memandang nya dengan pandangan yang melecehkan.
Tak sedikit mobil om-om hidung belang yang berhenti menawarkan diri untuk mengantarkan nya pulang. Dengan tatapan yang penuh gairah dan melecehkan. Namun ditolak nya oleh Lidya," Hati Lidya saat ini memang lagi Sakit.Jadi ia tak mood untuk menggoda balik.
******
Diruko itu Sarah sangat sibuk sekali, sesekali ia membantu Reni dan Mita di depan. Dan Sarah lebih sering dibagian produksi bersama mbak Indah.
Sekarang Sarah mengurangi aktivitas nya didepan, karena ia takut kejadian yang tadi akan terulang kembali. Dan itu sangat membuat Sarah jadi malu.
Saat Sarah santai sebelum Sinta yang sudah berjanji main kesini. Ia mencoba mengintip saldo hasil dari menulis nya yang masih tersimpan aman di aplikasi NOVELTOON.
Saat ia melihat nya betapa besar sekali isi saldo yang ia miliki saat ini. Sarah juga mencoba melihat M-banking nya, kalau yang ini hasil dari toko kue yang ia tekuni saat ini. Dan seketika Sarah menangis haru karena seperti tidak mungkin ini akan terjadi pada nya.
Karena di lihat dari background dan asal usulnya. Sarah hanya anak dari seorang petani yang rajin dan ibu yang sangat penyayang. Seperti tidak mungkin kalau saat ini ia mempunyai uang sebesar itu.
Diluar terdengar suara Sinta yang terpaksa memarkir mobilnya di seberang jalan. Karena parkiran mobil ku sudah penuh. Dan tak ada sedikitpun stand yang bisa untuk dibuat pergerakan.
"Saraaahhh....." ucap Sinta dengan memeluk erat pada tuduh Sarah.
"Sarah aku punya cerita penting buat kamu." Ucap Sinta sambil mata yang berkaca-kaca, seperti ada sesuatu yang sangat penting.
"Kenapa kamu melow gini sih, San? Emang ada apa?," tanya Sarah.
"Sudah berapa hari kamu disini?," tanya Sinta sambil menatap melow pada Sarah.
"Seminggu lebih aku sudah di sini, Sin." jawab Sarah sambil menahan air matanya agar tak jatuh di pipinya karena begitu pahit ia mengingat kejadian malam itu dan kemarin.
"Apakah pak Damar itu suami mu, Sarah?," Sinta tak mau berasumsi sendiri tanpa tau kejelasan nya pada orangnya yang langsung bersangkutan.
Sarah pun mengangguk kan kepalanya dan mengalihkan tatapan nya agar Sinta tak melihat butiran air mata ini jatuh di pipi halus Sarah.
"Memang kenal dengan suami ku? Padahal kamu tak pernah bertemu dengan nya." Tanya Sarah yang mulai banyak pertanyaan di pikiran nya.
"Hah.......," Sinta bernafas besar.
"Sekarang terjawab sudah teka teki mu tentang mobil mewah itu," ucap Sinta dengan pandangan lurus ke depan tanpa melihat Sarah yang saat ini sedang menangisi kisah rumah tangga nya.
"Maksudmu, Sin?," Sarah masih tak mengerti dengan apa yang Sinta bicara kan.
Akhirnya Sinta bercerita tentang semua nya, tentang mobil mewah yang sempat ia tanyakan pada Sinta. Tentang Bianca yang menjadi bosnya saat ini dan menjadi pelakor di rumah tangga sahabat karibnya itu.
Sarah pun mulai bercerita tentang malam itu, dimana mas Damar dan gundiknya tidur di bawah selimut yang sama tanpa pakaian sedikit pun yang melapisi tubuh mereka berdua..
Lalu Sinta langsung memeluk tubuh ringkih Sarah karena perlakuan Damar dan keluarga nya.
__ADS_1
Dulu Sarah adalah seorang gadis yang ceria dan ramah pada setiap orang. Namun saat ia menikah dan ikut pulang ke rumah Damar, semua sikap yang dulunya ceria berubah menjadi pendiam dan pemalu. serta menjadi perempuan yang minder.