DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kelakuan Bejat Mas Bima


__ADS_3

"Untung saja ini rumah mu, Bim. Jadi aku tak gengsi untuk datang kesini." lanjut ibu.


"Seandainya ini rumah Sarah, aku yakin sikapnya akan semena-mena kepada ku." terdengar jelas suara ibu dari dalam kamar.


"Seandainya kamu tahu pemilik sebenarnya rumah ini. Aku yakin kamu pasti akan menangis dan berlutut di depan ku." gumam ku sangat geram. Karena tipe orang seperti ini nya mas Bima ini tak beda jau dengan mama Linda mama nya mas Damar. Mereka seperti mendewa kan uang dan jabatan.


"Ayah, Putri lapar." teriak putri. Percakapan mereka sangat jelas terdengar dari dalam kamar ku.


"Putri mau makan, Bun." rengek Putri pada Reta ibu nya.


"Reta, ambilkan saja di belakang. Kasian dari tadi Putri kelaparan, karena ia tadi belum sarapan." ucap ibu mas Bima dengan leluasa menyuruh mantan istri mas Bima untuk masuk kedalam rumah ku.


"Bolehkan, mas?, aku masuk kedalam untuk mengambilkan makan untuk Putri anak kita?," tanya perempuan ****** yang tak tau diri itu.


Aku semakin gemas mendengar suara Reta yang sok manja saat berbicara dengan mas Bima. Aku tau suara itu memang sengaja di buat-buat untuk memikat mas Bima.


"Boleh, Reta. Masuk saja, ambilkan makan untuk Putri. Kebetulan Sarah tadi masak rendang untuk sarapan." jawab mas Bima memberi ijin pada Areta mantan istrinya itu.


"Aku tak tahu dimana meja makannya, mas. Kamu bisa mengantarkan aku?," kali ini permintaan Reta semakin ngaco. Sepertinya ia sengaja menciptakan waktu berdua dengan mas Bima.


Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan dengan mereka berdua. Aku sama sekali tak rela, kalau rumah ku dibuat ajang berduaan dengan pasangan yang sudah berstatus mantan itu.


"Bim, antarkan Areta. Nanti kalau dia tersesat gimana?," kali ini ibu mas Bima juga ikut berpendapat. Aku rasa ia sangat mendukung kalau mas Bima dan Areta kembali rujuk.


Di kira rumah ini seluas rumah artis papan atas sehingga Reta bisa tersesat?, dasar ada-ada saja alasan yang di buat oleh para perempuan tak tau diri itu.


"Baik lah Reta, ayo!!," ajak mas Bima.


Mungkin mereka saat ini sudah berjalan berdua menuju ruang makan yang bersanding dengan dapur itu.


Dan aku mencoba mengintipnya, karena pasti mereka melewati depan kamar ku.


"Mas, kamar mu yang mana?," terdengar suara Reta bertanya pada mas Bima dengan suara yang sedikit mendesah.


"Yang ini, Reta." mas Bima menunjuk pintu kamar yang saat ini aku pakai untuk mengintip nya.


"Aku pingin melihat nya, mas." ucap Areta semakin melunjak.


"Tapi saat ini di dalam masih ada Sarah, Ret." jawab mas Bima. Aku rasa mas Bima juga sudah gila.


Kalau memang dia dan Areta tak ada hubungan spesial lagi, pasti mas Bima akan risih dengan permintaan perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.


Lalu mereka berdua berjalan menuju ruang makan. Dan aku mengikuti nya dengan pelan-pelan di belakang nya. Sambil sesekali bersembunyi di balik lemari.


"Disitu piring nya, Ret." mas Bima menunjukkan rak piring yang ada di dalam kitchen set.


"Dapur nya enak banget ya, mas. Beruntung banget Sarah mempunyai suami seperti mu. Jujur saat ini aku menyesal, Kenapa dulu aku meninggalkan mu dengan lelaki lain." ucap Areta dengan mata berkaca-kaca.


Aku rasa dia sangat pintar sekali berakting, dengan mudah nya ia mengeluarkan air mata. Tapi aku juga tak tahu, apa memang ia benar-benar menyesal karena telah menduakan mas Bima. Biarlah itu menjadi urusan nya.


"Seandainya waktu itu bisa diputar, aku pasti akan terus bersama mu, mas. Dan aku lah yang akan menjadi ratu di rumah ini." ucapnya lagi penuh khayal.


"Kenapa dulu kamu tak mapan seperti ini, mas?," lanjut nya lagi.


"Kalau kamu dulu kamu kaya seperti sekarang, mungkin aku akan berpikir ulang untuk meninggalkan mu dengan lelaki lain." ucapnya, kenapa ia tak malu berbicara seperti itu pada mas Bima.


Seperti ia mengakui bahwa ia menikah hanya Karena uang saja.


"Itu karena kamu tak sabar dengan proses yang aku jalani, Reta." ucap mas Bima, seperti tak mempunyai rasa sakit hati pada mantan istrinya itu. Padahal dengan jelas kalau Areta hanya mencintai nya saat ia berada diatas, seperti saat ini.

__ADS_1


Padahal kalau seandainya Areta tau g sebenarnya, aku yakin ia akan di sepak lagi oleh Areta.


Aku masih bersembunyi dibalik lemari hias yang memisahkan ruang televisi dan ruang makan ini. Aku masih menikmati pertunjukan mereka. Ku biarkan mereka saling bernostalgia dengan masa lalu nya.


"Kalau saat ini kamu membutuhkan aku untuk menjadi istri mu kembali, aku mau dan sangat siap, mas." ucap perempuan itu dengan sangat percaya diri nya.


"Tapi saat ini sudah ada Sarah yang menggantikan posisi mu, Reta." jawab mas Bima.


"Dan aku tak mau kehilangan nya, karena aku juga mencintainya." lanjut mas Bima.


Dia berkata seakan-akan dia mencintai Areta dan juga aku.


"Aku mau kok mas, jadi yang kedua. Asal kamu berlaku adil padaku dan Sarah. Dan satu lagi, aku tinggal disini, dan Sarah pindahkan ke kontrakan kecil saja." Jawab Areta dengan sangat jelas kalau ia juga mengincar harta mas Bima. Namun harta yang mana yang akan ia incar, kalau seandainya mobil dan rumah ini aku ambil?!.


"Kenapa Sarah harus tinggal dikontrakkan, Reta?," tanya mas Bima dengan alisnya bertaut, sepertinya ia bingung dengan apa yang diucapkan Areta mantan istrinya itu.


"Karena ini rumah mu, mas. Dan kalau menjadi istri kedua mu, rumah ini akan menjadi hak ku." jawab Reta dengan mata mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan ini.


"Kenapa seperti itu?, bukankah itu hak Sarah karena dia istri pertama?," tanya mas Bima.


"Ya iya lah, mas. Walau aku hanya menjadi istri kedua mu. Tapi aku adalah ibu dari anak mu, dan yang berhak atas harta mu adalah anak mu, mas!!. Sedangkan Sarah, tak punya anak dengan mu. Jadi kenapa dia harus menikmati hasil kerja keras mu, mas?!," ucap Areta, pintar sekali ia berbicara. Dapat ilmu dari mana dia, sehingga dengan percaya dirinya ia berbicara seperti itu.


"Kamu itu hanya dimanfaatkan saja oleh Sarah, mas. Buktinya dia tak mau mempunyai anak dengan mu. Karena dia hanya ingin menikmati harta mu dengan anaknya Sarah hasil dari pernikahan nya yang dulu." hasut Areta pada mas Bima.


Dan terlihat mas Bima diam, namun berpikir keras dengan apa yang telah di ucapkan Areta tentang ku.


Aku sangat penasaran, apa yang akan di lakukan mas Bima padaku setelah ini. Apa ia berani meminta ku untuk di madu dengan Areta?


"Jadi kalau kamu jadikan aku istrimu yang kedua, dan semua harta yang kamu miliki, kamu berikan padaku. Kamu tak akan pernah menyesal, mas. Karena bukan aku yang menikmati, tapi Putri, anak mu, darah dagingmu sendiri mas." bisik Areta, tapi tetap aku mendengar nya.


Lalu Areta meletakkan piring kosong yang ia pegang itu di atas meja.


Dan dengan rasa tak punya malu, Areta memeluk mas Bima dari belakang.


Segera aku mengambil video mereka berdua dari balik lemari penyekat ruangan ini.


Terlihat sekali mas Bima sangat menikmati pelukan yang diberikan Areta padanya.


Areta semakin erat memeluk mas Bima dari belakang. Dan mas Bima menyambut pelukan itu dengan ia memegang tangan Areta seperti mengencangkan pelukan itu di perut nya.


Lalu mas Bima membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berdua saat ini saling berhadapan dan saling berpandangan.


Ada cinta di mata mas Bima saat menatap wajah Areta, dan itu sangat nampak sekali di pandangan ku.


Areta pun segera menenggelamkan wajah nya di dada mas Bima, dengan tangan yang melingkar diperut mas Bima.


Tangan kanan mas Bima membelai halus rambut panjang Areta, dan tangan kirinya berada di pinggul Areta.


"Aku ingin melihat kamar mu, mas." bisik Areta pada mas Bima tepat di telinga mas Bima. Terlihat sekali kalau ia berdiri dengan ujung jari kakinya agar bibirnya sampai di telinga mas Bima.


"Tunggu Sarah tak ada dirumah ya." jawab mas Bima dengan mata terpejam. Sungguh terlihat sekali kalau ia sedang menikmati apa yang Areta berikan padanya saat ini.


"Apa kamu menginginkan nya saat ini, mas?," tanya Areta lagi, dengan bibir menempel di daun telinga mas Bima.


Lalu mas Bima menjawab nya dengan anggukan kepala, dengan mata Yanga masih terpejam.


"Lakukan lah, mas. Lakukan itu. Salurkan hasrat mu padaku." bisik Areta.


"Aku sangat menginginkan ini, karena beberapa hari ini Sarah tak memberikan nya padaku." tangan mas Bima terlihat semakin aktif meraba punggung Areta.

__ADS_1


"Lakukan itu padaku, mas. Aku akan memberikan nya lebih untuk kepuasan mu." bisik nya lagi.


"Apa kamu tak ingat dengan apa yang pernah aku berikan pada malam itu?," Areta terus memancing hasrat mas Bima. Yang kebetulan hasrat itu tak aku penuhi saat ia meminta nya padaku.


"Malam dimana kamu pergi dari rumah, karena perlakuan istri mu yang tak baik kepadamu." lanjut Areta. Sedangkan mas Bima tak menjawab nya. Sepertinya ia sangat menikmati perlakuan Areta padanya.


Jadi malam itu mas Bima, benar-benar melakukan nya dengan Areta. Beruntung nya kau tak mau melayani nya kemarin, aku hanya takut penyakit yang akan ditularkan mas Bima padaku.Kalau ia berganti-ganti pasangan.


Dan terlihat mas Bima sudah tak bisa menahan hasrat nya. Kini ia mulai beraksi, tangan mas Bima semakin bergerilya di setiap bagian tubuh Areta.


Lalu mas Bima mengangkat tubuh Areta, dan ia duduk kan diatas meja makan. Sungguh keterlaluan dua manusia yang berhasil terhasut setan itu.


Aku masih saja terus mengarah kan mata kamera handphone ku pada dua manusia yang tingkah nya seperti binatang itu.


Bagaimana Putri saat ini yang sedang kelaparan diluar? Apa dia lupa kalau anak nya sedang merasakan lapar?.


Dan kenapa ibu dan Putri tak curiga pada Areta dan mas Bima karena lama-lama berduaan di belakang?


"Dasar keluarga laknat. Membiarkan anak nya melakukan zina dirumah ku." gumam ku dalam hati.


Kali ini perbuatan mereka sudah sampai di luar batas, bibir mereka berdua saling bertaut. Bukan aku cemburu, tapi aku lebih sakit hati karena mereka melakukan nya disini, di rumah hasil keringat ku.


"Dasar manusia biadab." ucapku lirih.


prokk


Prokkk


Prokk...


Aku bertepuk tangan dan keluar dari persembunyian ku di belakang lemari penyekat ruangan ini.


"Sarah?!," seketika mas Bima membuka mata dan terkejut saat mendengar tepuk tangan dan melihat ku berdiri di samping nya.


"wow.. tontonan yang sangat bagus dan gratis pula!," ucapku dengan menyingsing senyum kecut pada mereka berdua.


"Tak ada tempat lain kah? Sehingga kalian melakukan ini diruang makan di rumah ku?," tanyaku sambil kutatap satu persatu dua manusia yang seperti binat*g itu.


Terlihat mas Bima sibuk membetulkan resleting celananya, dan wajah nya sangat ketakutan.


Berbeda dengan ekspresi Areta, ia terlihat sangat santai dan menikmati nya.


Dia juga membiarkan kancing kemeja yang sudah dibuka setengah itu, terbuka. Sepertinya ia sengaja memamerkan bu4h d@d@nya padaku. Yang ukuran nya dua kali lebih besar dengan punya ku. Sambil tersenyum licik padaku.


"Sarah, ini tak seperti yang kamu lihat. Aku tak melakukan apapun dengan nya." ucap mas Bima membela dirinya. Namun apa gunanya ia membela diri, toh dia juga masih cinta pada mantan istrinya itu.


"Tapi aku melihat, kamu sangat menikmati nya, mas." ucap ku dengan senyum getir pada mas Bima.


"Tapi bukan aku yang memulai nya, Areta lah yang memancing ku. Sehingga hasrat itu muncul." ucapnya lagi, seperti tak mau disalahkan atas tindakan bodoh nya.


"Sekarang katakan saja apa yang kita rencanakan tadi pada istri mu itu, mas." kali ini Areta bersuara.


"Oh.. Kalian punya rencana?, rencana apa itu, mas?," tanyaku pada mas Bima pura-pura tidak tau. Namun mas Bima tak menjawab pertanyaan ku, dia diam mematung dengan menatap ku.


Kali ini tak ada air mata yang jatuh untuk menangisi kelakuan mas Bima. Karena sudah tak ada rasa cinta sedikit pun di hati ku ini.


"Cepat katakan rencana mau, mas! Siapa tau aku juga suka dengan rencana yang kalian rancang." ucapku lagi dengan melipat tangan ku di depan perut dengan kamera handphone masih on untuk merekam kelakuan mereka berdua.


"Kenapa kamu diam saja, mas?, ayo katakanlah padaku. Jangan menjadi patung seperti ini." ucapku terus mendesak mas Bima untuk menjawab semua pertanyaan ku.

__ADS_1


"Sarah!!, aku mohon jangan tinggalkan aku. Ini bukan aku yang mau, tapi Areta lah yang terus menggoda ku." mas Bima masih terus membela diri. Dia mengkambing hitamkan orang lain. Padahal mereka berdua lah yang melakukan nya dengan senang hati.


"Kenapa sekarang kamu berkata seperti itu, mas?!, kenapa kamu melenceng dari kesepakatan awal?!," terlihat Areta sangat emosi dengan pengakuan yang di ucapkan mas Bima.


__ADS_2