
Setelah Veni mencurahkan semua isi hatinya, akhirnya ia menyudahi sesi curhatan nya.
Dari isi curahan hati Veni, otak Sarah pun berjalan untuk membuat novel tentang perselingkuhan antara kakak dan adik ipar.
Sarah mencoba membuka kembali laptop yang Isla tutup tadi. Maksud hati ingin melanjutkan untuk mengetik naskah.
Namun mood menulisnya sedang tidak baik-baik saja, entah kenapa setelah Sarah membaca pesan dari Natasya. Pikiran Sarah seperti langsung blank, seperti tak ada ide lagi.
Lagi-lagi Sarah merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya diatas bantal. Ingin tidur, tapi mata masih belum ngantuk.
Otak Sarah terus berpikir, teringat omongan Bima tadi waktu ia menemui Bima di penjara.
Bima akan menanda tangani surat perceraian itu, asalkan Sarah membebaskan nya dari dalam penjara.
Dengan banyak pertimbangan, Sarah pun akan mengabulkan semua permintaan Bima. Asalkan setelah ini ia hidup tenang, jauh dari Bima dan keluarga nya.
"Aku akan memakai pengacara, agar aku tak repot-repot lagi kesana kemari, lagian aku sudah malas bertemu dengan mas Bima." gumam Sarah sambil mencoba memejamkan mata nya.
Keesokan harinya, pagi sekali Sarah menelpon Sinta. Untuk meminta rekomendasi pengacara yang top, agar proses perceraian nya cepat selesai dan Bima tak bisa mendapatkan apapun yang memang bukan hak nya. Karena Sinta lah yang lebih berpengalaman tentang hal ini.
Setelah beberapa menit Sarah menghubungi Sinta, pengacara yang sudah di rekomendasikan Sinta menghubungi Sarah lewat panggilan telepon.
Dan akhirnya Sarah dan pengacara itu pun berencana siang ini untuk bertemu di salah satu resto ala jepang.
Sambil menunggu jam untuk ketemuan dengan pengacara itu, Sarah kembali mengetik naskah novel online nya.
Saat ia membuka laptop, Sarah teringat dengan apa yang di ucapkan Natasya lewat pesan singkatnya di platform novel online.
Lalu terlintas di pikiran Sarah untuk mencoba menghubungi Rama. Kebetulan, Sarah sudah menyimpan nomor Rama sebelumnya. Karena Rama pernah menghubungi Sarah setelah mereka melakukan pertemuan untuk menandatangani kerjasama saat itu.
__ADS_1
Sarah segera menutup kembali laptop nya, dan langsung menghubungi Rama lewat panggilan telepon.
Tut....
Tut ...
Tut...
Panggilan telepon yang di lakukan Sarah, masih belum tersambung.
Lalu Sarah mencoba menghubungi nya lagi, siapa tau memang Rama tidak mendengar nya.
Dan ternyata, saat ini Rama sedang ada meeting di kantor nya. Dan handphone Rama pun ketinggalan di ruang kerja nya.
"Anita, tolong ambilkan handphone ku. Seperti nya handphone ku ketinggalan di meja." Rama memerintah Anita yang sedang duduk di samping nya.
"Baik, pak." jawab Anita tersenyum sangat manis, lalu Anita berdiri sambil membungkukkan badannya. Sehingga belahan dada nya terlihat oleh Rama. Karena kancing kemeja bagian atas seperti sengaja dibuka oleh Sinta.
Dengan perasaan sangat kesal Anita pun pergi meninggalkan Rama untuk mengambil handphone Rama yang tertinggal di ruangan Rama.
"Ih, dasar si Rama sok suci!!, Aku yakin kalau kita hanya berdua saja, Rama pasti mau. Dia begitu karena gengsi aja." gumam Anita sambil berjalan menuju ruang kerja Rama.
Saat Anita masuk kedalam ruangan Rama, mata Anita langsung tertuju pada handphone Rama yang ada di atas meja kerja nya. Tanpa ia mencari, Anita langsung menemukan handphone Rama yang ketinggalan itu. Karena pada waktu yang sama, handphone Rama berbunyi ada panggilan masuk.
"Itu dia handphone nya, untung aja ada panggilan masuk jadi aku tak perlu repot-repot untuk mencari nya." gumam Anita sendirian sambil berjalan masuk menuju handphone yang tergeletak di meja kerja Rama.
Dan handphone milik Rama itu terus berbunyi, membuat langkah Anita semakin cepat, agar dia bisa mengambil handphone itu. Anita takut kalau telepon itu sangat penting dari klien.
Saat handphone itu terus berbunyi dan sudah ada ditangan Anita. Betapa jengkelnya hati Anita saat ia tahu siapa yang saat ini melakukan panggilan telepon di handphone Rama itu.
__ADS_1
"Kurang ajar!!, ternyata wanita sial*n ini yang menelpon." gerutu Anita dengan sangat kesal.
Terlintas lah ide di pikiran Anita. Tak usah menunggu lama, dengan sangat tidak sopan Anita mengangkat panggilan telepon dari Sarah tanpa izin dari Rama sebagai pemilik handphone itu.
"ehemm...," sebelum mengangkat panggilan itu Anita berdehem mengatur suara dan pernafasan nya (sudah seperti orang yang akan melakukan paduan suara aja).
"Ada apa kamu menghubungi Rama?!," tanya Anita dengan nada ketus. Tak ada salam yang terucap dari Anita saat ia mengangkat telepon dari Sarah itu.
"Bukankah, aku sudah bilang!!, jangan sekali-kali kamu mendekati Rama. Karena Rama itu sudah menjadi milik ku." lanjut Anita berbicara, tak memberi waktu pada Sarah untuk menjelaskan tujuan dua menghubungi Rama.
"Kenapa handphone Rama bisa ada di kamu?," tanya Sarah setelah ada jeda waktu setelah Anita bicara.
"Itu karena aku dan Rama sudah mempunyai hubungan lebih. Jadi tak ada sesuatu yang harus di sembunyikan diantara kita berdua." jawab Anita dengan sangat lancar. Anita seperti sudah lihai dalam berbohong.
"Kalau begitu, aku minta maaf. Tapi sebenarnya, aku menghubungi Rama ada satu hal yang ingin aku tanyakan padanya mengenai kerja sama antara aku dan perusahaan milik Rama." jawab Sarah dari panggilan telepon yang ia lakukan itu.
"Bukan kah, sebelumnya aku sudah jelaskan pada kamu Sarah!!!, jangan pernah kamu mendekati Rama dengan alasan apapun itu. Termasuk dengan alasan tentang pekerjaan!!," Anita sangat geram dengan apa yang di lakukan oleh Sarah. Anita takut kalau Rama akan menaruh hati pada Sarah.
Karena Anita melihat ada gelagat kearah sana, saat ia melihat tatapan Rama pada Sarah.
"Jadi sekali lagi, jangan pernah dekati Rama dengan alasan apapun. Kalau pun kamu ingin membicarakan tentang kerjasama dengan perusahaan kita, kamu bisa menghubungi aku dulu!!," ucap Anita dengan panjang lebar, lalu dengan sengaja Anita memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Kurang ajar, perempuan gat*l ini sepertinya sengaja ingin mendekati Rama." geram Anita dengan mengepalkan tangannya.
Lalu ia segera membawa handphone itu kepada Rama yang saat ini berada di ruangan meeting.
Anita berjalan dengan wajah seperti tak pernah terjadi apa-apa. Dia mudah sekali berkamuflase, sehingga setiap hal yang telah ia lakukan tak pernah ada orang yang tau.
"Kenapa kamu lama sekali, Anita?!!," bisik Rama dengan sangat geram pada Anita.
__ADS_1
Sebenarnya Rama sangat ingin sekali berucap keras pada Anita. Namun Rama tak ingin menganggu acara meeting yang tengah berjalan itu.
"Maaf, pak. Tadi aku ke toilet dulu." bisik Anita menjawab pertanyaan Rama.