DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Berharap Sarah Ada Disini Lagi POV Mama Linda


__ADS_3

"Mar, sekarang hidup Sarah sudah berubah. Dia sekarang sudah kaya raya. Kenapa kamu nggak rujuk saja dengan Sarah? aku yakin hidup kita akan bahagia." ucapku pada Damar yang sedang menghisap rokoknya.


"Lagian kenapa juga kamu masih memungut Bianca, yang jelas-jelas dia perempuan pembohong, dan miskin. Mana dia sudah bikin malu keluarga kita, dengan video yang viral di sosial media dan di semua stasiun televisi swasta."


Aku harus bisa menghasut Damar agar kembali dengan Sarah. Lagian apa salah nya sih rujuk lagi? toh diantara mereka kan ada anak.


Ya walaupun aku sedikit sebel sama anak Sarah itu, masih kecil aja Uda nyusahin, dan nggak bisa banget buat diajak kerja sama.


Kalau seandainya si anak Sarah itu mau dan nurut dengan ku. Itu bisa memudahkan semua rencana ku untuk merujuk kan Damar dan Sarah lagi.


Namun semua nya gagal gara-gara anak sial*n itu! Aku harus memikir ulang rencana untuk merujuk kan Sarah dan Damar lagi.


Aku tak peduli dengan Bianca, kalau ia tak mau dicerai oleh Damar. Ya, dia harus menerima kalau di duakan.


Apalagi posisi nya saat ini Bianca numpang dirumah ku, jadi dia harus nurut dengan semua yang aku ucapkan.


"Kenapa kamu hanya diam saja sih Mar? Apa kamu sudah benar-benar tidak mencintai Sarah lagi?," ucapku pada Damar. Karena ia tak merespon omonganku yang tadi.


"Tapi kalau aku rujuk dengan Sarah, bagaimana nasib Bianca, ma?, Apalagi sekarang Bianca hamil anak Damar." jawabnya dengan terus menghisap rokoknya dan membuang asap nya dari hidung.


"Bianca itu masalah gampang, mau nggak mau dia harus tetap mau di madu. Kalau dia menolak ya tinggal ceraikan saja. Mudah kan?,"


Entahlah dengan jalan pikiran Damar, kenapa dia masih mempertahankan perempuan pembawa sial itu.


Jelas-jelas ia sudah ditipu oleh perempuan ****** itu, tapi kenapa dia sepertinya tidak mau melepaskan perempuan tak punya malu itu.


Kurang ajar Bianca, aku yang berharap sangat bisa menjadi istri Handoko. Ternyata aku di kalah oleh wanita ingusan seperti Bianca.


Dari dulu aku sangat berharap menjadi istri Handoko yang kekar dan gagah itu dan pasti nya dia orang terkaya dikota ini. Namun keinginan ku tak kunjung terkabul sampai saat ini.


Tapi, sebentar lagi dia akan sah menjadi duda. Aku harus bisa mengambil hatinya. Kali ini, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tak akan datang untuk kedua kalinya.


"Pokoknya kamu harus rujuk lagi dengan Sarah," paksa ku pada Damar.


"Aku tau kalau kamu masih ada cinta padanya." ucapku, sengaja aku berucap seperti itu. Untuk menumbuhkan kembali rasa yang pernah ada di hati Damar untuk Sarah.


"Nanti siang lebih baik kita bertemu dengan nya, aku ingin membahas ini dengan Sarah. Jadi mama harap kamu bisa bekerja sama dengan baik."


Aku harus tegas pada Damar, ini semua semata-mata untuk masa depan Kean anak nya. Dan yang pasti untuk kebahagiaan kita bersama.


Damar pun tak menjawab sama sekali ucapan ku, dia terus menghisap rokoknya. Namun aku tak peduli, Damar mau menjawab atau tidak, itu tidak penting.


Yang jelas rencana ku harus tetap berjalan, bagaimana pun caranya.


Aku pun beranjak berdiri dari duduk ku, dan berjalan menuju dapur. Saat berjalan menuju dapur, aku berpapasan dengan Bianca yang membawa nampan berisi secangkir kopi. Aku yakin itu milik Damar.


Aku rasa, aku tak perlu berbicara tentang rencana rujuk nya Damar dan Sarah pada Bianca. Aku rasa itu tidak penting, karena Bianca bukan keluarga ini dirumah ini.


Jadi mau tak mau dengan keputusan ku, dia tetap harus mau.


Aku pun langsung membuang muka saat ia menatap ku. Karena aku merasa di bohongi, berani-beraninya dia menikah dengan lelaki idaman ku. Dan menikahi anak ku, di saat ia masih berstatus menjadi istri Handoko. Kalau bukan perempuan murahan, lalu perempuan seperti apa dia?


Aku rasa perempuan murahan memang sangat pantas di sematkan pada diri nya.


Setelah mengambil segelas air putih, aku menuju kamar Lidya. Karena mulai dari tadi aku tak melihatnya.


Setelah kejadian ia menggugurkan bayi nya, Lidya berubah, ia jarang sekali keluar. Lidya terlihat lebih suka berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Namun aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti ini. Kalau ia berada dalam kamar, kapan ia akan merubah nasib nya, nasib kita semua?.


Aku berencana menjodohkan Lidya dengan temannya teman ku. Walau dia seorang duda, tapi harta kekayaan nya sangat banyak.


"Kamu ini, kok betah sekali di dalam kamar?!," ucapku saat ku buka pintu kamar nya. Terlihat ia sedang memegang handphone nya.


Dia hanya menatap ku sekilas, lalu menatap layar handphone nya lagi.


Aku rasa aku harus mengganti strategi cara omong ku dengan Lidya. Lidya tipe orang kalau di kerasi ia akan semakin hilang kendali.


Jadi aku harus berbicara yang halus dan menyentuh hatinya. Karena mau tak mau, Lidya dan Damar harus segera menghasilkan uang untuk menebus rumah yang aku gadaikan ini. Bagaimana pun caranya, aku tak tau.


"Kenapa kamu selalu mengurung diri di kamar sih, Lid?," kali ini nada bicaraku lebih rendah dan wajah ku sedikit lebih ramah. Berbeda dengan tadi saat aku membuka pintu kamarnya.


Aku berjalan mendekati ranjang miliknya, lalu aku duduk di sampingnya.


Sambil mengelus halus lengan nya aku berkata," kalau kamu di dalam kamar, kapan kamu merubah kehidupan kita?,"


"Karena harapan mama, hanyalah kamu dan mas Damar." lanjut ku, kali ini aku berkata sambil menangis. Agar Lidya sedikit terketuk hatinya.


"Mana takut kalau kita sampai terusir dari rumah ini, karena harus disita oleh bank." ucapku sambil terus mengeluarkan air mata.


"Memang ini semua kesalahan mama, dan tak seharusnya mama membebankan masalah ini pada kalian," aku pun berdiri dari duduk ku.


Aku coba melirik ke arah Lidya yang tak bergeming sedikitpun dengan kata-kata ku sejak aku masuk ke kamarnya tadi.


Dia terlihat menatap ke depan dengan. Tatapan kosong, seperti nya ia memikirkan sesuatu. Semoga saja semua rencana ku berhasil.


Aku berjalan keluar dari kamar Lidya, untuk bersiap-siap ingin menemui Sarah.


"Ayo kita segera berangkat, mana sudah siap nih. Cepetan kamu mandi dan ganti baju, mama tunggu!!!," perintah ku pada Damar.


Damar pun berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Memang kalian berdua mau kemana?,* tanya Bianca yang duduk di sebelah Damar.


"Mau menjemput masa depan, karena aku yakin kalau Damar terus bersama kamu, dia tidak akan mempunyai masa depan bagus!!!," ucapku dengan memandang sinis pada Bianca.


Aku dulu salah menduga, aku kira kalau kalau Damar bisa menikah dengan Bianca. Hidup ku akan bahagia dengan bergelimang harta, dan kedudukan Damar semakin tinggi di perusahaan milik Bianca.


Namun ternyata semuanya salah besar!!!


Kini bukan nya harta yang melimpah, malah menambah beban di rumah ku. Karena Bianca sekarang tinggal di rumah ku.


Sudah tidak ada penghasilan yang ia dapat, dia juga tak seperti Sarah waktu dulu.


Dulu waktu Sarah masih menjadi istri Damar, aku tak mau tau tentang urusan rumah dan dapur. Malah aku juga tak pernah memberinya sepeser pun uang belanja kepada nya.


Namun tak ada sama sekali protes dari nya. Malah setiap pagi makanan sudah tersedia di meja makan.


Tak pernah ada baju kotor yang menumpuk seperti gunung Merapi diatas mesin cuci. Beda dengan sekarang, kalau Bianca tak disuruh mengerjakan, tak akan dia kerjakan.


Jadi setiap hari aku harus ngomel, agar semua pekerjaan rumah di kerjakan nya.


Damar pun sudah keluar dari kamarnya, hari ini ia sangat terlihat tampan.


Mungkin karena ia mau bertemu dengan Sarah. Aku yakin masih ada sisa-sisa rasa cinta di hati Damar untuk Sarah.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Mar?," tanya Bianca pada Damar. Sepertinya ia tak puas dengan jawaban ku tadi, sehingga bertanya lagi pada Damar.


"Aku mau keluar, anter mama dulu. Kamu dirumah aja!," ucap Damar pada Bianca.


"Tapi kamu mau kemana? Mama bilang kalian mau menjemput masa depan. Maksud nya apa, Mar?," kali ini Bianca sangat ingin tahu, Sungguh menyebalkan.


"Udah, kamu diam saja dirumah. Nurut dengan kata-kata suami!!! Jangan jadi istri durhaka ya dengan tidak nurut apa yang dikatakan suami mu!!!," ucapku dengan sangat ketus.


Bianca pun tak berani berkomentar lagi, sedangkan aku dan Damar berangkat setelah taksi online yang ku pesan sudah datang.


"Kita mau kemana, ma?," tanya Damar saat kita berdua sudah di dalam taksi.


"Ya ketempat Sarah lah... kamu pikir mau ke mana lagi kita?!, kali ini harapan kita adalah Sarah." ucapku pada Damar.


Kini sampai lah kita di depan toko roti milik Sarah, sebelum masuk. Aku menyempatkan membeli mainan dan beberapa Snack kesukaan anak kecil seumuran Kean.


"Kok banyak banget kalau beli, ma? yakin ini mau mama habiskan sendiri?," pertanyaan Damar membuat ku tambah pusing. Kenapa sih pikirannya itu tak luas sekali.


"Ini itu pancingan buat anak mu, aku yakin kalau kamu berikan ini pada nya dia akan mau bersama mu!!," jelas ku pada Damar.


Damar hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu kita berjalan masuk kedalam toko. Di toko saat ini sangat ramai pembeli, aku akui toko roti Sarah memang tak pernah sepi. Mungkin karena rasa semua kue nya memang enak-enak.


"Sarah, ada?," tanya ku pada salah satu pelayang ditoko Sarah.


"Bu Sarah? ada di belakang," jawab pelayan yang namanya Reni, karena Sarah sering memanggilnya Reni.


Aku segera membuka pintu. Karena pintu itu pendek, jadi dengan mudah aku membuka kunci nya yang di kunci dari dalam.


"Tunggu!!!," ucap Reni sambil memegang tangan ku.


"Jangan masuk, aku akan memanggilkan Bu Sarah dulu. Lebih baik, ibu dan bapak duduk dulu disana!," ucap Reni sambil menunjuk sederet bangku yang kosong.


Aku dan Damar menurut saja dengan apa yang diperintah Reni. Karena kali ini aku sedang ingin mengambil hati Sarah.


Namun setelah Sarah dan Damar rujuk lagi, aku akan memecat karyawan yang tak punya sopan santun seperti dia.


"Mama?," ucap Sarah dari dalam toko. Aku pun menoleh kearah nya.


Sarah sekarang sangatlah berbeda dengan Sarah yang dulu. Dia sekarang terlihat cantik dengan balutan pakaian syar'i.


Walau make up nya biasa, tapi terlihat cantik dan natural.


"Kenapa aku nggak pernah melihat kecantikan yang seperti ini pada Sarah, sewaktu ia menjadi menantu ku dulu?," ucap ku dalam hati.


"Eh Sarah." ucapku pada Sarah.


Namun ada apa dengan Damar?, aku meliriknya. Kenapa ia menatap Sarah seperti itu?


Hmm aku yakin, pasti kali ini Damar terpesona dengan kecantikan wajah Sarah.


"Mas Damar?," sapa Sarah pada mas Damar.


Namun Damar hanya diam saja tak menyahut saat disapa oleh Sarah. Dia diam sambil terus menatap wajah Sarah.


Lalu aku mencubit paha Damar tanpa sepengetahuan Sarah.


"Auuw.!!!!," teriak damar lumayan kencang, sehingga semua mata para pelanggan toko roti milik Sarah pun menatap ke arah kami yang sedang duduk.

__ADS_1


__ADS_2