
Akhirnya kita makan bersama, setelah melakukan sholat isya' berjamaah. Kean dan mas Bima makan dengan sangat lahap nya.
"Masakan mu benar-benar enak, sayang." puji mas Bima yang berhasil membuat wajah ku memerah karena tersipu malu.
"Terimakasih, mas." ucapku dengan tersenyum manis pada suamiku.
"Iya, amma. Dari dulu masakan amma paling juara dihati Kean." ucap Kean membenarkan ucapan mas Bima.
"Terimakasih lelaki kecilnya, amma. Kalau Kean suka, amma akan semakin giat lagi memasak untuk Kalian." kali ini aku sangat merasakan kebahagiaan, pujian padaku terus datang dari mas Bima.
Perlakuan mertua yang tidak baik, kali ini tidak aku pikir kan. Karena mas Bima tidak seperti mas Damar dulu.
Mas Damar dulu lebih membela orang tuanya, padahal ia tau kalau yang dilakukan mama nya padaku adalah sebuah kesalahan. Namun mas Damar selalu membenarkan apa yang dilakukan oleh orang tua nya.
"Apa kabar mas Damar?," ucapku dalam hati, tiba-tiba teringat pada mantan suami ku dulu, yang kini aku tak tahu dia dimana.
"Amma, Kean kenyang. Kean istirahat dulu, ya." Kean meminta ijin untuk ke kamarnya. Mungkin ia sudah tak bisa menahan lagi rasa kantuk yang sudah teramat berat di mata nya.
"Iya, sayang." jawabku sambil menganggukkan kepala.
Kini ia berjalan menuju kamar nya, dan pintu pun segera ia tutup.
"Aku beresin dulu ya, mas." ucapku sambil menumpuk piring-piring yang kotor.
"Biar aku saja, sayang. Kamu istirahat saja, nanti Dewi setelah mencuci piring aku akan segera menyusul mu." Mas Bima mengambil piring-piring kotor yang sudah tertumpuk di tangan ku.
"Tapi, mas. Itu kan sudah menjadi pekerjaan ku." ucapku tak enak pada mas Bima.
"Kata siapa?, bukankah membantu istri juga menjadi kewajiban ku?," jujur ucapan mas Bima membuat hati ku luluh lantah, air mata haru tiba-tiba muncul di sudut mata ini.
Aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti mas Bima. Ia sangat mengerti dengan perasaan dan hati perempuannya.
Mas Bima mengangkat piring-piring kotor, dan ia mencuci nya di dapur.
Aku segera bergegas menuju kamar, aku ingin memberi kejutan pada mas Bima. Aku yakin, mas Bima akan menyukainya.
Aku membuka pintu lemari, aku mencari sesuatu. Namun aku tak menemukan nya. Karena barang yang aku cari ini jarang sekali aku pakai.
Setelah beberapa menit mencari nya, akhirnya aku menemukannya.
Sebelum mas Bima masuk, aku sudah bersiap-siap untuk menyambut nya.
Cekleeek!!!
Pintu pun di buka oleh mas Bima, dan ia berjalan masuk kedalam kamar.
"Sarah?!," mas Bima seperti terkejut melihat ku. Saat aku memakai lingerie berwarna merah.
"Sarah, kamu cantik sekali." puji mas Bima. Ia berjalan kearah ku yang saat ini berdiri di depan cermin.
Dia semakin mendekati tubuhku, dan menghirup aroma parfum yang aku pakai.
Lalu ia memeluk tubuhku, dan mendekatkan bibirnya tepat di telinga ku.
"Kamu sangat cantik, sayang." bisik mas Bima, yang berhasil membuat darah ku berdesir lebih cepat.
"Aku suka bau tubuhmu." ia mulai mengecup bagian belakang telinga dan menjalar ke leher ku.
"Aku sangat mencintaimu sayang." kali ini mas Bima mengec*p leher ku, sehingga tertinggal bekas merah tanda dari bibirnya.
Mas Bima terus membelai rambut panjang ku yang terurai. Tak henti-hentinya bibir mas Bima memutari leher ku.
Tubuhku menggelinjang, saat tangan kanan mas Bima bergerilya ke area dad* ku.
"Mas....," des*hku. Suara nafas yang terpacu lebih cepat, mengiringi pergerakan tangan dan bibir mas Bima.
__ADS_1
"Aku sudah sangat menginginkannya, sayang." ucap mas Bima. Kali ini bibirnya sudah beralih tempak ke dad* ku. Ia memainkan benda kecil yang ada disan dengan bibirnya.
"Mas...." aku hanya mampu mengeluarkan kata-kata itu. Karena kenikmatan yang di beri mas Bima mampu membungkam mulut ku.
Ia terus memainkan lidah nya di benda kecil itu, sementara tangan kirinya memilin-milin benda kecil yang satu nya.
"Mass.... lakukan lah." ucapku. Karena keinginan ini sudah sampai di puncak nya, mungkin terlalu lama aku sudah tak merasakan hal seperti ini.
Dan aku baru ingat, kalau ini adalah malam pertama ku bersama mas Bima.
"Kamu menginginkan, sayang?," tanyanya. Kini tangan mas Bima mulai meraba bagian yang lain, yang membuat tubuhku semakin menggeliat.
Aku sudah sangat menginginkannya, aku harus tak mau hanya tinggal diam. Karena aku pernah membaca buku, kalau kebanyakan lelaki lebih suka perempuan nya lebih li4r di ranjang.
Aku mulai melepas kancing baju mas Bima, dan dengan cepat baju mas Bima lepas dari tubuhnya.
Terlihat mas Bima begitu pasrah dengan apa yang aku lakukan. Wajahnya terukir senyum yang bahagia.
Aku mulai membalas apa yang telah dilakukan mas Bima padaku. Aku mulai menci*mi tubuh mas Bima. Mulai dari ujung rambut sampai kaki.
Dada bidang dan perut sixpack membuat gairahku semakin terpacu.
"Lakukan lah." bisik mas Bima ditelinga ku. Dan kami pun menyatu dalam cinta di malam yang sunyi ini.
...****************...
Sebelum subuh, aku sudah terbangun. Tidurku malam ini sungguh nyenyak didalam pelukan mas Bima.
Setelah membersihkan tubuh, aku melakukan rutinitas ku sebelum subuh. Hingga suara adzan subuh berkumandang.
Mas Bima pun terbangun dan segera mandi untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Sungguh hidupku terasa sempurna, memilik suami seperti mas Bima.
Setelah selesai sholat subuh berjamaah, maksud hati ingin kedapur untuk memasak. Namun dengan cepat tangan mas Bima menarik tangan ku. Sehingga tubuhku terjatuh tepat dia atas tubuh mas Bima.
"Mau kemana kamu, sayang?," bisik mas Bima.
"Aku mau masak, mas." ucapku salah tingkah karena tatapan mas Bima membuat darah ku semakin berdesir.
"Tetaplah disini, ini terlalu pagi untuk kamu pergi dari pelukanku." suara bisikan mas Bima semakin membuat bulu-bulu halus ini berdiri.
"Apa yang kamu mau, mas?," tanya ku.
"Aku mau kamu, sayang!," mas Bima semakin memeluk erat tubuh ku. Kini bibir kita berdua saling bertautan.
Dan tak dapat di elakan, kita mengulang lagi kejadian semalam.
Sungguh hawa dingin subuh, membuat gairah semakin besar untuk melakukan itu. Mas Bima sangat hebat, membuat diriku tak berdaya.
"Makasih, sayang...," bisik mas Bima.
"Kamu sungguh luar biasa, membuatku ingin lagi dan lagi." lanjutnya.
"Aku sungguh mencintaimu." ia mengecup kening ku, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lagi.
Dan aku pun melakukan hal yang sama, setelah mas Bima keluar dari dalam kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, aku bergegas berjalan ke arah dapur. Untuk membuatkan sarapan mas Bima dan Kean.
Kali ini aku hanya memasak ceplok telur dan nugget ayam. Karena jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Aku berjalan menuju kamar Kean, untuk melihat Kean yang sedang tertidur.
"Sayang, bangun yuk!," aku mengetuk pintu. Karena aku tak langsung membuka pintu Kean. Setiap mau masuk kamar siapapun harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Iya, amma. Kean sudah bangun." Kean membuka pintu kamar nya. Betapa terkejutnya aku, saat melihat ia sudah rapi dengan seragam sekolah nya.
"Mashaallah, anak amma sudah ganteng?, yuk sarapan dulu." ajak ku.
"Oke, amma." jawab Kean sambil mengangkat jari nya yang membentuk lingkaran.
Aku dan Kean berjalan bergandengan tangan menuju meja makan.
"Ayah mana, ma?," tanya Kean mencari keberadaan mas Bima.
Mungkin mas Bima masih terlelap di tempat tidur, setelah pertempuran yang telah ia lakukan padaku di pagi buta tadi.
"Sebentar ya, sayang. Amma panggil ayah dulu." ucapku dengan segera berdiri dari kursi yang aku duduki ini.
"Mas, ayo bangun ayo kita sarapan." aku memegang lembut dan mengoyak pelan tubuh mas Bima.
"Mas, masih ngantuk sayang." ucap mas Bima.
"Tapi ini sudah siang, apa mas tidak pergi ke toko?," tanya ku lagi.
Lalu mas Bima membuka matanya, dan ia melihat jam yang tergantung di dinding.
"Hah? sudah jam setengah tujuh?," ia bergegas ke kamar mandi, dan aku pun menyiapkan baju untuk mas Bima.
tok!!
tok!!
tok!!
Ku ketuk pintu kamar mandi.
"Mas baju nya sudah Sarah siapkan diatas kasur. Sarah mau temani Kean sarapan dulu." ucapku dari luar.
"Iya, sayang." jawab mas Bima dari dalam kamar mandi.
Aku keluar menunju Kean yang sedang sarapan. Dan terdengar handphone ku berbunyi.
"Sepertinya ada pesan masuk." gumamku. Aku segera mengambil handphone yang ada di atas nakas.
Ternyata ada pesan dari Sinta. Lama tak ada kabar, karena dia sangat sibuk di kantor pak Handoko. Dalam setahun ini, ia sudah beberapa kali ke luar negeri untuk mengurus beberapa perusahaan pak Handoko.
"Sarah! Aku kangen sama kamu. Kalau tidak sibuk, ku mohon datanglah padaku. Aku sangat merindukanmu." pesan dari Sinta sudah ku baca.
"Apa kamu sudah pulang dari Singapura?," ku pencet tombol kirim setelah menulis balasan pesan untuk Sinta.
"Baru kemarin aku datang, aku sangat merindukanmu. Ayo lah, main-main kesini." tanpa menunggu lama Sinta membalas pesan yang aku kirim.
"Ok, sin!. Nanti setelah jam makan siang aku kesana." aku membalas nya lagi.
"Oke Sarah, aku tunggu kedatangan mu." aku segera menutup handphone setelah membaca balasan pesan dari Sinta.
"Pesan dari siapa? sepertinya kamu sangat bahagia sekali?," tanya mas Bima dari belakang ku. Dan suaranya berhasil membuat aku kaget.
"Kamu mengagetkan ku, mas." ucapku sambil menoleh kearah mas Bima.
"Kamu sedang berbalas pesan dengan siapa, sayang?," tanya mas Bima lagi sambil tangan nya membalikkan piring yang sudah ada diatas meja makan.
"Sama Sinta, mas. Jawabku, lalu aku duduk di kursi sebelah mas Bima, untuk menemani nya sarapan.
Aku segera mengambil piring yang ada di depan mas Bima. Aku sendok kan nasi dan ku taruh di piring mas Bima.
"Sudah cukup, sayang." ucap mas Bima saat tau aku akan menambahkan lagi nasi dipiring nya.
"Mas mu pakai lauk apa?, Sarah tadi tak sempat masak macam-macam, hanya masak ini seadanya. Karena tadi Sarah kesiangan, mas." Ucapku dengan tersipu malu, saat bayangan bercinta tadi pagi melintas di pikiran ku.
__ADS_1
"Aku juga suka ini kok." jawab mas Bima sambil menunjuk telur ceplok dan nugget goreng.
"Makasih, mas. Kamu sungguh mengerti aku." ucapku lirih.