
Saat Sinta sudah berangkat ke kantor, aku pun memutuskan untuk merebahkan tubuh ini.
Pagi ini aku mengisi waktu senggang dengan mengetik beberapa bab novel online ku yang akan aku up hari ini.
Mau memejamkan mata, rasanya waktunya sangat tidak tepat. Karena ini masih pagi, dan kata orang tua dulu, termasuk ibuku. Tidur di waktu pagi itu tidak baik untuk kesehatan.
Kini beberapa bab sudah ter up di platform, dan tak kusadari setelah up beberapa bab novel online ku, aku tertidur dengan sangat pulas. Mungkin karena beberapa hari ini pikiran dan tenaga ku terkuras dengan masalah rumah tangga ku bersama mas Bima.
Dan tidurku dikagetkan oleh suara handphone ku yang berbunyi. Saat kulihat ternyata ada pesan masuk.
"Pesan dari siapa, sih?," gumam ku seraya mengambil handphone yang berada di atas bantal samping ku tidur.
"Kenapa kamu blokir nomor ku lagi, Sarah?!,"
Ternyata pesan dari nomor yang tak di kenal masuk lagi kedalam handphone ku.
Sepertinya dia tak ada bosannya mengirimkan pesan padaku, padahal sedikit pun tak pernah aku respon. Dan sudah beberapa kali nomor nya sudah aku blokir.
Saat melihat jam di handphone, betapa kagetnya aku. Jam pulang Kean sudah terlewat. Padahal aku berjanji akan menjemput nya tepat waktu.
"Duh... aku telat menjemput Kean." gumam ku. Lalu segera aku berganti pakaian.
Kini ku memakai gamis berwarna navi yang senada dengan Khimar nya. Jam tangan berwarna hitam, sudah melingkar di pergelangan tangan ku. Tak lupa tas berwarna hitam dengan rantai tali yang berwarna emas.
Mobil ku lajukan dengan kecepatan tinggi, karena aku takut Kean menunggu ku terlalu lama.
"Kasian kamu nak, harus menunggu mama lama." ucapku.
Aku terus fokus pada jalan yang ada didepan ku saat ini. Karena butuh konsentrasi yang tinggi saat menyetir mobil disaat jalanan macet.
Ada hikmah nya juga saat menjemput Kean telat seperti ini. Aku tak bakal bertemu dengan mbak Veni.
Jadi aku tak perlu membangun benteng untuk melindungi kewarasan hati ku akibat omongan pedas dari mulut mbak Veni.
__ADS_1
Aku lihat sekolah sudah sepi, sudah tak ada siswa yang berlalu lalang. Dan sudah tak ada mobil-mobil wali murid yang terparkir di depan sekolah.
"Duhh,,, pasti Kean sudah menunggu ku." ucapku dengan terus berjalan masuk kedalam Sekolah.
Aku berjalan menuju ruangan dimana ruangan itu teruntuk mereka para siswa yang sengaja di titipkan oleh kedua orang tuanya yang memang sama-sama sibuk untuk bekerja.
Biasanya hal ini yang aku lakukan pada Kean, sebelum ibu dan bapak pindah ke kota ini. Namun sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Sekarang setiap pulang sekolah Kean langsung pergi ke rumah ibu dan bapak.
Dan dengan Kean pergi kerumah ibu dan bapak setelah pulang sekolah. Aku bisa berkerja di toko dengan tenang, hati ini tak kepikiran tentang Kean.
"Assalamualaikum...," ku ketuk pintu dan ku ucap salam sebelum masuk. Walau pintu terbuka lebar, namun aku tak begitu saja masuk kedalam ruangan ini.
"Waalaikumsalam," ucap salah satu guru yang ada di sekolah ini.
"Mama nya Kean, ya? Ada apa Bu, ada yang bisa kami bantu?," tanya Bu guru yang ternyata adalah wali kelas Kean.
"Iya, Bu. Saya mau jemput Kean, maaf terlambat Karena tadi masih ada kepentingan." ucapku memberi alasan pada wali kelas Kean. Aku berbohong saat memberi alasan mengenai telat nya aku menjemput Kean di sekolah.
Karena tidak mungkin sekali aku jujur bilang kalau aku telat gara-gara ketiduran dirumah.
"Maksud Bu guru Kean sudah pulang? Dengan siapa Bu?, ibu yakin itu Kean anak saya?," Aku pun panik saat mendengar ucapan wali kelas Kean.
"Iya, Bu. Tadi saya lihat sendiri Kean pulang bersama ayah nya yang biasa nya mengantarkan Kean ke sekolah.
"Maksud ibu, bersama mas Bima?," tanya ku memperjelas apa yang telah di sampaikan wali kelas Kean.
"Mungkin saja, Bu. Karena saya juga tak tau namanya. Yang jelas bapak itu sering sekali mengantar dan menjemput Kean pulang." jelasnya lagi.
"Dia memakai mobil berwarna apa Bu?," aku masih tak percaya kalau memang mas Bima yang menjemput Kean ke sekolah.
"Mohon maaf Bu, tadi saya tak melihat mobil apa yang di pakai oleh bapak yang menjemput Kean." ucap wali kelas Kean.
Dada ini berdebar dengan kencang, rasa panik yang kini menguasai diri ku.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Apa bisa saya melihat rekaman cctv hari ini, di jam anak-anak pulang sekolah?," ini lah salah satu cara untuk memastikan bersama siapa Kean pulang.
"Bisa, Bu. Mari iku saya."
Alhamdulillah ada jalan untuk mengetahui siapa yang menjemput Kean di sekolah.
Ada perasaan was-was kalau memang benar mas Bima lah yang menjemput Kean di sekolah.
Aku takut mas Bima akan gelap mata pada Kean, setelah apa yang kulakukan padanya.
"Ya Allah, lindungi lah anak hamba yang entah ada dimana sekarang." gumamku dalam hati.
Tiba-tiba air mata ini jatuh membasahi pipi, aku takut hal buruk yang akan terjadi pada Kean anak lelakiku.
Orang pertama yang pantas disalah kan seandainya terjadi hal buruk pada Kean adalah aku. Karena aku ibu yang tidak becus dan sangat teledor.
Kini aku dan wali kelas Kean menonton rekaman cctv hari ini di jam pulang sekolah.
Dan benar saja dugaan ku dan apa yang dikatakan wali kelas Kean. Ternyata yang menjemput Kean adalah mas Bima.
Ras takut mulai menguasai hati dan pikiran ku, aku takut mas Bima akan nekat melakukan apapun pada Kean.
"Apa benar ini suami, ibu?," tanya wali kelas Kean menunjuk mas Bima di video itu.
"Benar, Bu. Dia benar suamiku." jawabku dengan berpura-pura tenang. Agar tak terlihat kalau saat ini rumah tangga ku bersama mas Bima sudah diujung tanduk.
"Mass.... Seandainya sedikit saja Kean terluka karena mu, aku akan membuat mu menyesal seumur hidup dengan apa yang kamu lakukan pada aku dan Kean." gumam ku dalam hati.
Aku pun segera berlari menuju mobil untuk menenangkan diri. Karena dalam hal ini aku tidak boleh gegabah. Sedikit salah bertindak pun akan terjadi hal yang sangat fatal. Dan aku tak mau terjadi apa-apa kepada Kean.
Sampai di mobil, aku menangis histeris menumpahkan semua beban masalah yang ada pada diri ku. Walaupun aku tau, dengan menangis beban ini tak akan hilang. Hanya saja akan bisa mengurangi rasa sesak yang ada di dada.
Disini aku tersadar, mau mencoba sekuat apapun dan setegar apapun, aku tetap seorang wanita yang butuh mengeluarkan air mata untuk mengurangi rasa sesak yang ada di dada ini dalam menghadapi setiap masalah yang aku alami.
__ADS_1
...****************...