
" Bapak harap kamu bisa berpikir secara rasional, Sarah!." ucap bapak.
"Bapak tak ingin melihat kamu dan Kean cucu bapak satu-satunya itu hidup sengsara lagi. Mengingat cerita mu dulu saat kamu tinggal dengan Damar dan keluarga nya." lanjut bapak.
"Sarah sama sekali tak ingin rujuk dengan mas Damar, pak. Sarah sudah sangat nyaman dengan diri Sarah saat ini. Mungkin Sarah tak akan pernah menikah lagi, pak. Sarah takut dengan apa yang sudah pernah terjadi dalam kehidupan rumah tangga Sarah."
Dalam hati ini ada rasa trauma yang sangat dalam dengan perlakuan mas Damar dan keluarga nya. Apalagi saat mengetahui mas Damar selingkuh dengan mata kepala ku sendiri.
"Kamu perempuan, Sarah. Dan kodrat perempuan itu di lindungi, sekuat dan se mandiri apapun perempuan, tetap masih membutuhkan lelaki yang bisa melindungi dan memanjakan mu. Jadi bapak harap kamu harus menghilangkan rasa trauma yang ada dalam hatimu. Bapak yakin kamu akan menemukan lelaki yang tepat untuk melindungi kamu dan Kean anakmu."
"menurut bapak Damar bukan lelaki yang baik untukmu dan Kean. Bapak sangat melarangmu kalau kamu ingin rujuk kembali dengannya."
Bapak pun berdiri meninggalkan aku sendiri yang duduk di ruang tamu.
Aku harap setelah kejadian ini Mas Damar tak menghubungiku lagi dengan alasan apapun termasuk ingin bertemu dengan Kean anaknya.
...****************...
Hari sudah sore Kean sangat berbahagia bisa bermain-main di halaman yang luas dengan nenek dan kakeknya.
Kebahagiaan terpancar di wajah ibu dan bapak, karena ia bisa dengan puas bermain dengan Kean. Hati ini sangat bahagia melihat pemandangan yang indah ini.
Aku duduk di bangku bambu yang berada di teras rumah, sambil melihat tiga malaikat ku yang sedang bercanda dan bergurau bahagia.
Drrrttttt
Drrrttttt
Handphone ku bergetar, sengaja aku senyap kan. Agar tak begitu mengganggu waktu ku bersama keluarga.
Ternyata ada panggilan masuk dari Randy.
"Halo assalamualaikum, Ran?!," sapa ku dari sambungan telepon. Kali ini sudah tak ada rasa canggung lagi untuk memanggil Randy tanpa ada sebutan bapak di depan namanya. Mungkin karena sudah terbiasa.
"Waalaikumsalam, Sarah. Kamu ada dimana?," tanya Randy.
__ADS_1
"Aku pulang kampung, Ran. Ada apa?," tanyaku, takut saja ada hal penting yang akan ia sampaikan padaku.
"Pantas saja, tadi aku ke ruko ternyata ruko tutup." ucapnya.
"Aku mau pamitan sama kamu, Sarah. Nanti malam aku akan berangkat ke Inggris." ucap Randy dari sebrang telepon.
"Ke Inggris, Ran?! kenapa terkesan mendadak sekali?," tanya ku. Karena heran saja, saat kemarin-kemarin bertemu ia tak pernah membahas tentang hal ini.
"Iya, Sarah. Ini memang mendadak sekali, jadi tadi aku sempatkan pergi menemui mu. Namun kamu tak ada dan ternyata kamu pulang kampung. Kalau sekarang aku menyusul mu, waktu nya sangat mempet karena aku berangkat jam delapan malam ini ," ucapnya. Ada rasa kecewa pada nada ucapan Randy.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Tante Natasya, Ran?," tanyaku. Karena khawatir terjadi apa-apa pada keluarga Randy satu-satunya yang ada di luar negri itu.
"Tidak ada, Sarah. Tante Natasya memintaku kesana sekarang juga. Katanya ada hal penting yang harus ia sampaikan secara langsung." jawabnya.
"Oke, Ran. Kamu hati-hati ya, tapi....kamu nggak akan menetap disana kan?," tanyaku. Tiba-tiba ada rasa khawatir kalau ia di minta untuk stay disana.
"Entahlah, Sarah."
Kenapa jawaban Randy seperti pasrah seperti itu? apakah dia benar-benar akan stay disana?
Melihat jam di arloji, saat ini masih jam empat sore. "Seandainya aku pulang saat ini untuk menemui Randy sepertinya masih ada waktu". Ucapku dalam hati.
Tapi?
Itu kalau aku sendirian, nyatanya aku datang ke sini ke kampung ini bersama-sama. Aku tak boleh egois, karena banyak hati yang masih menginginkan menikmati suasana kampung ini.
Jadi mau tak mau aku harus mengikuti rencana awal, yang kita akan pulang besok pagi setelah sholat subuh.
"Hey!!! kok melamun saja mbak?," Mayang mengagetkan ku yang keluar dari dalam rumah.
"Kamu ini ngagetin mbak aja, May." jawabku sambil kepandang wajah ceria adik perempuan ku ini.
Terlihat ia sangat bahagia ada disini dengan formasi lengkap. Karena jarang-jarang momen seperti ini terjadi setelah kita semua mempunyai kesibukan masing-masing.
Mana mungkin aku akan tega merusak kebahagiaan adik ku ini dengan aku mengajak nya kembali ke kota saat ini juga. Biarlah keinginan ku untuk bertemu Randy saat ini aku pendam sendiri.
__ADS_1
Kalau memang aku ditakdirkan bertemu dengan nya, pasti akan ada jalan untuk itu.
Kalau pun tidak, pasti ada rencana besar yang terbaik untuk hidup ku kedepan nya.
"Kamu sudah mandi, May?," tanyaku pada Mayang yang tengah asik bermain handphone duduk disamping ku.
Sedangkan ibu dan bapak masih menikmati menemani Kean bermain di halaman rumah. Karena besok pagi-pagi sekali kamu akan kembali ke kota.
"Sudahlah, mbak. Masak mbak Sarah tak melihat kalau adik mu ini sudah cantik." jawabnya sambil tersenyum padaku.
Aku pun tersenyum melihat tingkah lakunya yang selalu seperti anak kecil saat bersama ku.
"Ya sudah, mbak mandi dulu." pamitku sambil berdiri dari tempat duduk dan berjalan masuk kedalam rumah.
Handphone ku taruh di atas meja dalam kamar. Ku lihat mbak pengasuh Kean sedang mengemas barang-barang yang akan di bawa pulang besok subuh. Dan aku berlalu kekamar mandi.
Tubuh terasa lebih segar setelah mandi, kini aku duduk bersantai di dalam kamar setelah sholat ashar.
Terdengar Kean sudah masuk kedalam rumah, karena langit sudah agak petang.
Dari dalam kamar terdengar suara tawa Kean, ibu, bapak dan Mayang.
Sambil menunggu adzan Maghrib, aku sempatkan untuk mengetik novel. Agar nanti malam aku tidak begadang, karena besok pagi-pagi sekali aku akan menempuh perjalanan ke kota yang membutuhkan waktu sekitar kurang lebih tiga jam.
Setelah selesai up beberapa bab di dua novel ongoing ku yang sudah kontrak oleh platform NOVELTOON. Aku pun segera melaksanakan kewajiban ku kepada pemilik kehidupan ini.
Dan kini tak terdengar suara tawa Kean, ternyata saat ku lihat ternyata ia sudah terlelap di gendongan bapak.
"Kean sudah tidur, pak?," tanyaku sambil melangkah mendekati bapak yang sedang mengayun Kean dalam gendongannya.
"Iya, sstttttttt." jawabnya pelan, sambil menaruh jari telunjuk di mulutnya. Yang berarti aku tak boleh berisik.
"Di tidur kan di kamar saja, pak." usul ku, karena takut bapak kecapean menggendong Kean. Mengingat tubuh Kean semakin hari semakin bertambah berat badannya.
"Biarkan bapak melepas kangen dengan cucu bapak, Sarah. Kamu tak akan sering-sering datang kesini. Kean mau di gendong bapak saja itu suatu anugrah, mengingat Kean tak pernah bertemu bapak setiap hari." ucapnya sambil terus mengayun Kean dalam dekapan nya.
__ADS_1
Aku pun pasrah, karena bukan hal yang sulit untuk membuat bapak bahagia. Dengan menggendong cucu nya dengan puas sudah terlihat sekali kebahagiaan dalam wajahnya.