DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bertemu Dengan Sarah


__ADS_3

Sarah segera berjongkok untuk memungut handphone nya yang tengah jatuh karena tabrakan tadi.


"Kamu ini gimana sih?!!, jalan kok nggak lihat-lihat." ucap perempuan yang tak sengaja Sarah menabrak nya


"Maaf, kak. Tadi saya....," Sarah tak melanjutkan ucapannya saat ia mendongakkan wajahnya untuk melihat orang ia tabrak.


"Anita?!," gumam Sarah, yang ternyata perempuan yang ngomel-ngomel pada Sarah itu adalah Anita yang tak lain sekertaris Rama.


"Hah?, kamu panggil aku Anita?!.Aku ini sekertaris pribadi pemilik perusahaan penerbit novel mu. Tapi kenapa kamu tak menghormati ku, dengan menyebut hanya nama ku!!." Anita berkacak pinggang memandang Sarah dengan pandangan rendah, yang saat ini sarah sedang berjongkok di bawah nya.


"Maaf, Bu. Aku tak sengaja." ucap Sarah dengan singkat sambil ia berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Anita.


Setelah memandang dalam mata Anita, Sarah pun pergi meninggalkan wanita muda itu yang masih dengan posisi berdiri sambil berkacak pinggang.


"Tunggu!!!," Anita memanggil Sarah. Langkah Sarah pun terhenti, ketika mendengar suara Anita.


"Kamu harus menjaga sikap di depan Rama. Jangan pernah tebar pesona pada nya. Karena Rama itu milik ku!," ucap Anita memberi peringatan pada Sarah.


"Dan kalau kamu ingin penerbitan novel mu berjalan dengan lancar. Kamu jangan pernah memberi harapan pada Rama!!." lanjut Anita Sambil berjalan mendekat pada Sarah.


"Jadi lancarnya penerbitan novel mu, tergantung pada sikap mu padaku." ucap Anita sembari berjalan memutari tubuh Sarah yang masih berdiri ditempat, dengan senyum miring yang menghiasi bibir nya.


"Apa kamu mengerti, Sarah?!," tanya Anita sambil memegang dagu Sarah.


Lagak Anita yang terbilang masih mudah, jauh di bawah Sarah. Namun ia sudah berani berkata kurang ajar kepada orang yang lebih tua dari nya.


Sarah pun tak bergeming, ia terus menatap tajam mata Anita.


"Jaga juga donk, tatapan mu. Jangan membuat aku ketakutan." ejek Anita sambil tersenyum penuh dengan hinaan.


"Sudah?, sudah bicara nya?," tanya Sarah dengan sangat santai.


"Kalau memang sudah selesai, aku ingin ke toilet." ucap Sarah sambil berjalan meninggalkan Anita.


"Kamu memang tak punya sopan santun!!," geram Anita. Sarah sama sekali tak menggubris nya. Ia tetap berjalan masuk ke dalam toilet.


"Saraaaaah!!!!!," Anita berteriak dengan suara yang sangat tinggi. Dia kesal dengan sikap Sarah yang tak memperdulikan omongan nya.


Setelah Sarah menghilang dari pintu toilet, Anita pun berjalan pergi meninggalkan Sarah.


Kini Anita mencari keberadaan Natasya, Anita masuk kedalam outlet SKcake. Ia mengedarkan pandangan nya ke segala sudut, untuk mencari mama nya Rama.


"Kemana perginya Tante Natasya ini?," gumam Anita dengan kepala memutar untuk mencari Natasya.


Karena ia tak menemukan keberadaan nya, Anita memutuskan untuk menelpon nya.


"Halo Tante," sapa Anita saat panggilan telepon sudah terhubung dengan Natasya.


"Kamu dimana, Anita?!. Tante mencari mu kemana-mana tapi tidak ketemu!!," ucap Natasya dengan sedikit kesal.


"Bukankah tadi Anita sudah pamit, kalau Anita ke toilet?," jawab Anita merasa tak bersalah, karena memang dia sudah pamit terlebih dahulu.


Lalu Natasya menyuruh Anita untuk menyusul nya di tempat ia yang saat ini sedang memilih tas.

__ADS_1


"Sungguh menyebalkan!!!, sudah ku bilang tunggu aku, eh.. Malah aku ditinggal." gerutu Anita sambil berjalan menuju keberadaan Natasya.


"Kalau bukan karena aku ingin mengambil hati anaknya, ogah aku jadi kacung nya seperti ini." Anita terus mengomel sendiri di sepanjang jalan.


Dia kesal kepada Natasya yang meninggalkan nya sendiri di toilet. Ia sampai malu, karena masuk kedalam outlet SKcake hanya untuk mencari Natasya.


Karena mau beli pun, dia tak ada uang lebih untuk hal seperti itu.


Anita bisa jajan dan makan diluar itu karena ia mendapatkan traktiran dari teman-temannya. Namun gaya Anita tidak sesuai dengan isi dompet nya.


Ia bergaya bak sosialita yang tak pernah kebingungan masalah uang. Padahal kenyataannya pun sangat berbanding terbalik.


Bisa dikatakan, kalau Anita itu gaya elit tapi ekonomi sulit. Itulah yang membuat Anita setiap hari nya penuh keluh dan kesah. Gajinya selalu tidak cukup setiap bulannya.


Maka dari itu, bagaimana pun caranya ia harus mendapatkan Rama. Agar ia menjadi perempuan yang sangat beruntung. Yang tak harus bekerja keras untuk mendapatkan gaji yang tak seberapa itu.


Dengan dia menjadi istri Rama, dengan sangat yakin Anita akan bergelimang harta. Ia bisa membeli kebutuhan nya sesuka hatinya tanpa meliha bandrol harga.


Di pikiran Anita saat ini hanyalah belanja, belanja dan belanja.


Ia ingin seperti teman-teman nya yang lain, yang hidup nya sudah enak sejak mereka masih di dalam rahim ibunya.


Setiap mereka gajian, uang nya tak pernah di bagi dengan Adiknya. Beda sekali dengan Anita, setiap gajian, uangnya harus di bagi dengan kebutuhan dapur, uang sekolah adiknya, uang terapi ibu nya dan juga uang untuk kebutuhan nya sendiri. Disitu kadang Anita berpikir, kalau takdir itu tidak adil.


Maka dari itu Anita berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan Rama.


Setelah berkeliling mencari keberadaan Natasya, akhirnya Anita menemukan nya. Ternyata saat ini Natasya sedang sibuk memilih tas yang harga nya membuat Anita menelan ludah.


Seandainya aku anak orang kaya, seandainya aku terlahir dari orang tua yang kaya raya, seandainya aku bekerja untuk diriku sendiri.


Setelah berhenti sejenak melihat Natasya dari jauh dan berandai-andai. Kini Anita berjalan masuk kedalam untuk menghampiri Natasya.


Sebelum Anita mendekat pada Natasya, ia mengembalikan wajah ramah dan cerianya dari wajah penuh penyesalan dengan takdir hidup yang ia jalani saat ini.


"Hay Tante, maafkan Anita lama di toilet. Tadi toilet sangat antri." sapa Anita pada Natasya yang sedang asyik memilih tas kermes keluaran terbaru.


"Aku menunggu sampai jamuran, Anita!!, jadi dari pada aku jamuran di SKcake. Lebih baik aku kesini aja." ucap Natasya.


"Sekali lagi maaf ya Tante." Anita meminta maaf untuk kedua kalinya.


"Menurut kamu, ini sama yang ini bagusan mana?," tanya Natasya membandingkan tas yang akan dia pilih. Karena Natasya sangat bingung untuk memilih kedua tas yang memang sangat bagus itu. Karena juga, Natasya sama-sama suka dengan keduanya.


Walau tergolong ekonomi sulit, tapi jiwa sosialita Anita itu sangat besar. Anita tak pernah ketinggalan untuk update tentang fashion-fashion yang Ter up to date setiap hari nya.


Dan Anita pun memilih salah satu yang dia sendiri sangat menyukai nya. Namun Anita sangat tak mampu untuk membelinya.


Dan entah kebetulan dari mana, pilihan Anita sama dengan pilihan Natasya. Natasya memang dari awal ia melihat kedua tas itu, hatinya sudah condong pada satu tas, yang ternyata tas itu yang dipilih Anita.


Kini hati Natasya makin mantap untuk memilih tas yang Anita maksud itu.


"Selera fashion mu sangat tinggi, tidak salah aku mengajak mu kesini." gumam Natasya memuji Anita.


Anita yang mendengar nya pun, langsung melayang bagai terbang ke atas awan.

__ADS_1


***


"Kamu mau makan apa, ta?," tanya Natasya saat mereka sudah di dalam mobil.


"Terserah tante saja," jawab Anita sambil tersenyum pada Natasya yang saat ini sedang mengendarai mobil nya.


Padahal dari tadi saat berada dalam mall, Anita sangat ingin makan di restoran ala Korea dan Jepang.


Namun Makanan seperti itu untuk Natasya, sudah tidak menggiurkan lagi. Karena hampir setiap hari Natasya makan makanan seperti itu.


"Aku rindu sekali dengan masakan Padang, bagaimana kalau kalau kita ke sana?," tanya Natasya lagi.


"Baiklah Tante, kebetulan perut ku sudah sangat lapar." ucap Anita.


"Huh!!, masak sih datang dari luar negeri yang di makan hanya rendang. Seharusnya dia itu memilih makan makanan orang-orang luar negeri, seperti steak, spaghetti, sushi dan sebagainya. Karena beragam sekali makanan luar negeri, di kota ini." gerutu Anita dalam hati.


Akhirnya mobil pun di parkir di depan rumah makan masakan Padang.


Dengan sangat semangat nya, Natasha turun dari mobil, Ia langsung berjalan dengan sedikit berlari.


Natasya sudah sangat lapar, karena memang seharian ia belum makan.


Dia pun duduk di meja yang masih kosong, di ikuti oleh Anita yang berada di belakang nya.


Beberapa menit kemudian, pesanannya pun sudah datang. Berbagai lauk yang menjadi ciri khas nya masakan Padang, sudah tersaji di atas meja.


Anita yang melihat lauk pauk yang saat ini ada diatas meja. Membuat Anita berkali-kali menenggak air liur nya.


"krukk...," suara perut Anita berbunyi, bertanda kalau dia memang sangat lapar. Karena sudah seharian ia belum makan.


Lalu mereka berdua makan dengan sangat lahap nya, sampai tak terasa Anita menghabiskan tiga piring nasi putih.


Jarang-jarang sekali Anita makan seperti ini, kalau tak ada teman yang mentraktir nya.


Natasya yang melihat itu, mengerutkan kedua alisnya. Aneh saja melihat cara makan Anita. Seperti orang yan tak pernah makan tiga hari tiga malam.


"Kamu selapar itu kah?," tanya Natasya dengan tatapan aneh pada Anita yang terlihat sangat semangat melahap makanan yang ada di piring nya.


"Maaf, Tante. Dari pagi Anita memang belum makan. Jadi saat ini perutku sangat lapar sekali." jawab Anita dengan jujur.


"Aku pun sama, aku juga dari pagi belum makan. Tapi aku tak serakus dia." gumam Natasya dalam hati.


Lalu Natasya bergidik ngeri, saat melihat Anita makan seperti orang yang sangat kelaparan.


Dan hanya beberapa menit, tiga piring Nasih putih pun habis tak bersisa.


Sebenarnya ingin sekali Anita membungkus lauk pauk yang ada di atas meja itu untuk nya makan malam nanti bersama ibu dan adiknya.


Namun Anita tak sampai, untuk meminta nya pada Natasya. Akhirnya Anita pun mengurungkan niat nya itu.


"Biarlah mereka nanti makan malam dengan mie instan." ucap Anita dalam hati.


Dan kini mereka berdua memutuskan untuk pulang, karena hari sudah sore.

__ADS_1


Natasya berencana untuk mengantarkan Anita pulang. Namun Anita menolak nya, ia beralasan mau mengambil berkas yang saat ini di bawa Rama pulang. Jadi kini Anita ikut pulang kerumah Natasya.


__ADS_2