
Ibu mas bima dan mbak Ambar berdiri menyambut kedatangan mbak Veni. Mereka bertiga pun saling cipika-cipiki secara bergantian.
"Hmm.. bau apa ini?," tanya mbak Ambar saat berpelukan dan ber cipika-cipiki dengan mbak Veni. Dengan hidung mbak ambar mengendus-endus mencari asal aroma yang ia hirup itu.
Seketi mbak Veni salah tingkah dan segera melepaskan pelukan mbak Ambar.
"Oh ya Veni lupa." ucap mbak Veni yang seperti nya mengalihkan pertanyaan mbak Ambar tadi.
"Ada apa, Ven?, " tanya ibu dengan wajah sangat ramah yang di tunjukkan pada mbak Veni.
Ibu dan mbak Ambar sangat hangat menyambut kedatangan mbak Veni. Perlakuan mereka pada mbak Veni sungguh berbanding terbalik dengan perlakuannya pada ku.
"Ibu, tadi Veni sengaja mampir ke toko kue kesukaan ibu. Ini untuk ibu." mbak Veni menyodorkan paper bag yang sama dengan yang aku bawa tadi. Itu artinya mbak Veni membeli kue-kue itu di toko ku.
"Oh... kamu memang menantu yang paling mengerti mertua. Jadi tak salah ibu menganggap mu sudah seperti anak sendiri." ucap ibu sambil mengambil tas yang di berikan mbak Veni. Lalau ibu memeluk erat mbak Veni.
"Makasih ya, bu." ucap mbak Veni membalas pelukan ibu, sedangkan mata nya melirik ke arahku. Seperti nya ia sengaja melirik ku, agar aku cemburu dengan perlakuan ibu mertua padanya. Namun sama sekali aku tak cemburu dengan itu.
"Bim, mobil mu baru?," tanya mbak Veni lada mas Bima.
"Iya, mbak." jawab mas Bima dengan kepercayaan diri yang tinggi, seakan-akan memang mobil itu ia beli dengan hasil keringat nya.
"Mana mas Awan, mbak? kok mbak Veni datang sendirian?," tanya mas Bima.
Memang dari tadi aku tak melihat mas Awan disini, biasanya ia selalu ada di belakang mbak Veni.
"Dia lagi di depan, Bim. Sepertinya ia tertarik dengan mobilmu." jawab mbak Veni dengan seulas senyum manis pada mas Bima.
__ADS_1
"Kamu sekarang banyak uang ya, Bim?," tanya mbak Veni dengan senyum tetap mengembang manis di bibirnya.
"Ya, alhamdulillah mbak." ucap mas Bima.
"Kamu hebat sekarang, usaha mu berkembang pesat. Uang mu juga sudah banyak, seharusnya kamu mempunyai istri yang pintar dalam keuangan. Yang bisa menjaga harta mu, bukan yang jago menghabiskan dan menghambur-hamburkan uang suami hanya untuk perawatan." celetuk mbak Veni sambil melirik ku.
"Aku ke mas awan dulu ya, mbak." pamit mas Bima. mas Bima menanggapi ucapan mbak Veni dengan senyum. Tak ada satu kata pun yang ia lontarkan untuk membela ku.
Padahal sudah jelas, kalau yang diucapkan mbak Veni itu di tujukan padaku. Kini mas Bima sudah berada diluar bersama kakak laki-laki nya itu. Dengan mas Bima keluar dari ruangan ini, jujur membuat ku makin canggung berada di satu ruangan dengan mulut-mulut julid mereka bertiga
"Benar, Ven. Aku setuju dengan pendapat mu. Seandainya Bima dapat istri seperti kamu. Mungkin saat ini uang dan aset Bima sudah banyak." sahut mbak Ambar dan lagi ia berucap dengan matanya melirik ku.
Dan mbak Veni tersenyum dengan bangga, saat mbak Ambar menyanjungnya.
Jujur saja aku sangat muak melihat wajah mereka bertiga. Seperti nya tak ada rasa malu di diri mbak Veni, setelah kejadian yang menimpa dirinya tadi di salon milik Siska.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?!," tanya mbak Ambar, pertanyaan mbak Ambar mengagetkan ku. Aku kira tak ada orang yang memperhatikan ku. Karena semua orang yang ada disini sidah terfokus dengan kedatangan mbak Veni sebagai menantu yang paling baik di keluarga ini.
"Mbak Ambar bicara padaku?," tanyaku sambil jari telunjuk ku tunjukkan padaku.
"Kamu pikir disini yang suka tertawa sendiri seperti orang gila ada selain kamu?!," ucapan perempuan ini memang sungguh pedas sekali.
"Oooh.... tadi kenapa aku tersenyum? aku teringat kejadian tadi sore di salon kecantikan." jawabku dengan mulut ini sangat ingin tertawa dengan keras. Namun aku masih bisa mengendalikan hal itu, ku tutup mulut ku dengan telapak tangan ku.
"Sarah?!," geram mbak Veni. Suaranya agak tinggi dengan mata melotot padaku. Sepertinya ia tahu apa yang saat ini ada di dalam pikirkan ku.
"Memang ada apa di salon kecantikan itu?, " tanya mbak Ambar. Sepertinya mbak Ambar yang penasaran dengan cerita ku kali ini.
__ADS_1
"Mbak, pingin tau ceritanya?," tanyaku sambil ku lirik mbak Veni. Mbak Veni terlihat sangat cemas, muka nya memerah.
"Ya cepatlah cerita kan?!," ucap mbak Ambar dengan ketus.
"Udahlah ngapain kamu dengar cerita dari dia, Ambar?. Lebih baik sekarang kita makan, karena perut ku sudah sangat lapar." ucap ibu nya mas Bima.
"Iya, mbak. Sepertinya dia mengada-ngada untuk mencari simpati padamu, mbak." celetuk mbak Veni.
"Ya sudah, biar ku panggil Bima dan Awan yang masih ada di depan." ucap mbak Ambar sambil berdiri dari duduknya. Mereka benar-benar tak pernah menganggap ku ada disini.
"Biarkan Veni yang memanggil mereka, mbak." mbak Veni segera berjalan keluar dimana mas Bima dan suaminya berada.
Sedangkan mbak Ambar dan ibu berlalu ke belakang, tanpa ada yang mempersilahkan dan mengajak aku untuk masuk ke belakang.
"Bim... Bima...! Yuk masuk?! acaranya sudah mau di mulai." ucap mbal Veni pada mas Bima yang terdengar sangat manis dan penuh perhatian.
"Iya, mbak. Tunggu sebentar lagi." jawab mas Bima. Bisa jadi saat ini mas Bima sedang asyik mengobrol dengan mas Awan.
"Mas!!, uda buruan masuk!!! ibu mu sudah memanggil." Sepertinya kali ini mbak Veni memanggil mas Awan. Namun kenapa nada dan cara yang di gunakan berbeda dengan nada ucapan saat memanggil mas Bima?
Ah... entahlah. Aku sangat malas untuk berpikir. Lalu aku mengambil handphone. Aku mempunyai ide, untuk menjadikan kejadian yang aku lihat di salon kecantikan milik Siska tadi untuk menjadi inspirasi cerita novel online ku.
"Iya, tunggu sebentar ya Ven." jawab mas Awan terdengar sangat jelas dari dalam rumah.
Aku mulai mengetik. Karena mau masuk ke dapur, aku sangat malas sekali. Itung-itung sambil nunggu mas Bima masuk untuk makan, lebih baik aku gunakan waktu ini untuk mengetik novel online.
Melanjutkan setengah bab yang telah aku tulis tadi di salon milik Sinta sembari menunggu antrian di kasir.
__ADS_1
Satu bab novel online kini sudah bisa di unggah di platform noveltoon. Tak membutuhkan waktu berjam-jam, novel online yang ku unggah akhirnya lolos dari rivew.