
Pagi ini Sarah memulai aktivitas nya seperti biasa. Setelah sedikit santai dengan pekerjaan nya, Sarah mencoba untuk membuka sosmed nya yang sudah lama semenjak ia membuka toko roti.
Ternyata di aplikasi Facebook ada messenger dari Mayang adik nya. Mayang yang telah mengganti nomornya karena handphone nya rusak tidak bisa menghubungi Sarah lewat telepon.
Di messenger Mayang mengabarkan Sarah untuk datang dihari tunangan nya. Mayang menyebutkan tanggal hari dan alamat tempat ia melaksanakan pesta pertunangan nya.
Namun hati Sarah sangat sedih, karena di hari itu juga ia sudah ada pekerjaan yang sudah Sarah tanda tangani. Disinilah profesionalitas kerja sedang diuji. Namun dengan pelan Sarah memberi pengertian kepada adik perempuannya itu tentang pekerjaan yang ia jalani dihari dan tanggal yang sama itu.
Awalnya ada kekecewaan di hati Mayang, namun Mayang tak mau merusak kinerja kakaknya dengan tidak profesional. Dan Sarah pun meminta maaf kepada Mayang.
"Walau mbak tak bisa datang di acara penting mu, may. Mbak akan memberikan hadiah untuk mu," ucap Sarah.
Sarah menaruh handphone nya lagi diatas meja. Lalu ia pergi ke depan untuk melihat situasi toko. Toko saat ini sedang ramai pengunjung. Apalagi ini hari Minggu, seharian dipastikan toko akan ramai sampai malam.
"Bu, Bu Sarah." panggil mbak Indah dari dalam dengan membawa handphone Sarah.
"Ada apa mbak?," tanya Sarah sambil membalikkan tubuh kearah mbak Indah.
"Ini ada telepon, Bu." mbak Indah menyodorkan handphone Sarah dengan hati-hati.
Sarah pun menerima nya dan melihat siapa yang menelepon nya. Ternyata yang telepon adalah pemilik ruko ini. Sarah pun segera mengangkat telepon itu, karena sepertinya sangat penting.
Ternyata pemilik toko ini meminta Sarah untuk memperpanjang masa sewa nya. Karena ia saat ini sedang butuh uang untuk berobat ibunya yang saat ini sudah sakit-sakitan.
Sarah tak langsung mengiyakan permintaan pemilik ruko ini. Karena permintaan nya terlalu panjang jangka waktu sewa nya.
Lalu Sarah menghubungi Sinta untuk berkonsultasi tentang hal ini. Akhirnya mereka berdua janjian keluar ketemu di cafe Randy. Karena Sarah juga sedang ada perlu dengan Randy. Jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui itu bunyi pepatah yang saat ini Sarah lakukan.
Sarah segera berganti baju dan memoles wajah nya dengan riasan tipis tipis agar kelihatan lebih fresh.
Saat ini Sarah tak mengajak Kean, ia meninggalkan nya dengan pengasuh nya.
__ADS_1
Kalau dia diajak akan sedikit susah, karena Kean saat ini sedang aktif-aktifnya. Ia lebih suka main sendiri dari pada di gendong.
Sarah berangkat sendiri dan seperti biasa ia mempercayakan toko pada karyawan-karyawan nya.
Penampilan Sarah sangat mempesona, ia memakai gamis berwarna hitam dan Khimar panjang berwarna senada membuat wajah Sarah yang putih makin kelihatan bersinar. Sarah sangat suka dengan warna-warna gelap. Jadi gamis-gamis Sarah banyak yang berwarna gelap. Hanya beberapa yang berwana pastel.
Sarah berjalan menuju mobil yang ia parkir di depan toko dengan menggunakan kacamata hitam dan tas selempang kecil yang hanya masuk satu handphone dan beberapa kartu ATM.
Saat ia berjalan ke luar dari toko tak sengaja ia menabrak seseorang.
"Oh... maaf," ucap Sarah singkat dengan menyatukan dua telapak tangan nya.
"Tidak apa-apa, saya yang minta maaf," ucap pria tampan yang lebih muda dua tahun dari Sarah.
Lalu Sarah berpamitan untuk pergi lebih dulu dengan membungkukkan tubuhnya.
Dan Sarah pun akhirnya meninggalkan pri itu dengan masuk mobil dan menjalankan nya dengan kecepatan sedang.
Namun pria yang usia nya lebih muda dua taun dari Sarah itu masih terbengong melihat kecantikan Sarah.
"woy... bengong aja kamu. Awas loh ayam tetangga ntar mati karena kamu bengong," goda teman nya.
"Perfect...," ucap pria itu tanpa mempedulikan ucapan teman nya dengan tatapan kearah depan dimana Sarah tadi masuk kedalam mobil nya.
"Apa nya yang perfect, Ram?," tanya teman nya sambil melihat apa yang di lihat oleh Rama didepan sana. Namun tak ada apa-apa dan membuat temannya itu bergidik ngeri.
"Perempuan itu," lagi Rama bersuara dengan tatapan kearah yang sama.
"Udah lah Ram, jangan mimpi di siang bolong. Mana ada perempuan disini? yang ada juga mobil yang berjajar rapi," ucap teman Rama itu sambil menunjuk kearah parkiran mobil.
"Udah, yuk kita pulang!!," ajak nya sambil menyeret Rama dengan paksa dibawa kearah mobil nya yang terparkir.
__ADS_1
Lalu mereka berdua pergi dari area parkir depan toko roti milik Sarah.
Sedangkan Damar saat ini sedang menunggu Linda yang saat ini sedang mandi, untuk menanyakan prihal surat yang ia temukan diatas meja tamu semalam.
"Belum berangkat kerja, Mar? Tumben, ini kan Uda siang," tanya Linda sambil menggosok rambut nya dengan handuk yang bertujuan mengeringkan rambut nya setelah keramas.
Damar lalu menyodorkan amplop warna coklat itu ke arah Linda. Dan Linda menerima nya dengan perasaan takut.
"Coba jelaskan tentang surat itu, ma?!," tanya Damar dengan menahan emosinya.
"I i ini surat...," Linda tak bisa meneruskan ucapannya karena ia takut Damar akan marah kepada nya.
"Maaf kan mama, Damar. Mama menggadaikan sertifikat rumah ini." ucap Linda dengan wajah memelas agar bisa mengambil hati Damar lagi.
"Uang sebanyak itu, mama buat apa?," tanya Damar pelan.
"Buat ganti mobil, Mar. Mama malu pakai mobil bekas, sedangkan teman-teman mama semuanya pakai mobil baru." Ucap Linda.
"Ya ampun mama!!!!, kenapa harus malu?! Trus mama mau bayar pakai apa?!," tanya Damar dengan penuh penekanan.
"Ya kamu lah yang bayar, Mar. Kan kamu anak laki-laki nya mama." ucap Linda dengan nada seperti tak berdosa.
"Tapi Damar tak ada tabungan, ma. Kemarin saja mama Uda aku kasih tiga puluh lima juta. Trus Damar dapat darimana lagi uang sebanyak itu, ma?!," Damar memijit pelipisnya dengan tangan nya.
"Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus mencari uang itu agar rumah ini tidak disita Bank." tuntut Linda pada Damar.
"Kamu tau sendiri kan, ini rumah satu-satunya peninggalan almarhum ayah kamu. Apa kamu tidak kasihan pada almarhum ayah mu, kalau rumah ini sampai disita?," ucap Linda mengeluarkan jurus ampuh nya untuk menaklukkan hati Damar.
Damar pun menghela nafas panjang untuk mengeluarkan rasa sesak didalam dadanya. Lalu ia merogoh ponselnya. Dan ia menghubungi Bianca.
Bianca pun mengajak bertemu ditempat biasa nya. Lalu Damar keluar rumah tanpa berpamitan.
__ADS_1
"Mar, Damar.... mau kemana kamu?," tanya Linda sambil berjalan menuju mobil Damar.
Namun Damar tak menjawab panggilan Linda dan langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.