
"Syarat? syarat apa?," tanya nya dengan wajah bingung.
"Hitung dulu nafkah yang telah kamu beri padaku. lalu sebutkan nominal nya." ucapku ku lagi dengan melipat tangan diatas perut.
Dan dibelakang ku terdengar suara bisik-bisik para penonton yang tak sengaja datang tanpa di undang. Beberapa pasang mata masih melihat kami berdua.
Sebuah ide pun terlintas di pikiranku. Untuk membuat mas Damar jera, aku yakin ide ini sangat cocok untuk nya.
"Ganti semua uang nafkah yang dulu aku berikan padamu lima miliyar." ucapnya sangat tegas. Dan aku yakin banyak pasang telinga yang mendengar ucapan nya itu.
Wow nominal yang cukup fantastis bagi ku, dibandingkan dengan apa yang telah dia berikan padaku dulu.
Dengan sengaja aku edarkan pandangan ku, pada orang-orang yang masih melihat kami berdua.
tak sedikit yang berdecak heran, dan tak sedikit pula yang berbisik-bisik pada temannya. Aku yang melihat itu pun hanya tersenyum puas.
Puas karena disini mas Damar telah berhasil membuat malu dirinya sendiri.
"Wah, lelaki macam apa itu? kok bisa-bisanya uang nafkah diminta kembali," ucap salah satu perempuan paruh baya, yang memakai tunik berwarna krem dengan pasmina yang berwarna senada dengan bajunya.
"Gila aja, kok ada lelaki yang menjatuhkan harga dirinya dengan bersikap seperti itu. Sungguh malu aku sebagai seorang lelaki." sahut seorang bapak-bapak yang sepertinya ia datang bersama kolega bisnisnya. Karena dilihat dari penampilannya ia seperti orang kantoran.
Dan masih banyak komentar negatif lainnya yang terlontar pada mas Damar. Dan dengan sengaja aku tersenyum penuh ejekan padanya. Ada rasa puas saat melihat ia tersudutkan dengan komentar-komentar pedas dari para pengunjung cafe ini.
"Kurang ajar kamu, Sarah!! Kamu mempermalukan ku disini. Sekarang juga bayar semua uang ku lima miliyar cash!!," kali ini suaranya sangat pelan namun penuh dengan penekanan.
"Aku akan membayar semua uang itu secara tunai, tapi dengan satu syarat." ucapku dengan tegas.
"Katakan, apa syarat nya?," tanyanya.
Dan sepertinya pengunjung cafe ini masih setia menonton pertunjukan ini. Karena sudah kepalang malu, ya sudah diteruskan saja.
"Kamu kembalikan waktu ku yang dulu, yang sudah aku habiskan untuk merawat dan melayani mu, waktu yang ku habiskan untuk menemani mu, waktu yang ku habiskan untuk membersihkan dan memasak kan mu dan keluarga mu."
__ADS_1
"Dan satu lagi, kembalikan keperawanan ku seperti dulu sebelum kamu menikahi ku. Setelah semua kamu kembalikan, sekarang juga uang lima miliyar akan aku transfer ke rekening mu." ucapku dengan menunjuk wajahnya mas Damar di akhir kalimat.
"Wah... iya benar. Sekarang kamu harus mengembalikan waktu yang terbuang karena sudah merawat mu." ucap satu ibu yang berambut ikal dengan badan yang agak bongsor itu.
Terdengar suara kegaduhan yang bersahut-sahutan didalam cafe ini.
Saat ini suasana cafe sudah bukan seperti cafe yang untuk meminum kopi, makan, menemui rekan bisnis atau sekedar bersantai untuk melepas penat.
Namun suasana kini sudah seperti suasana adu debat capres dan cawapres saja. Terdengar keriuhan dari para suporter.
"Mana bisa aku mengembalikan waktu, lagian itu sudah menjadi kewajiban mu sebagai seorang istri untuk melayani suami." ucapnya dengan enteng.
Trus, apa menurut nya menafkahi istri itu bukan kewajiban suami?
Lama-lama aku bisa gila kalau aku terus meladeni mas Damar.
"Lah kamu kira, menafkahi istri itu bukan kewajiban suami?!," ucap ibu lainnya. Nah, pas sekali. Pernyataan ini mewakili pikiran ku saat ini. Ada untung nya juga ya, ada penonton di sini. Jadi aku tak perlu capek-capek untuk menjelaskan hal seperti ini pada mas Damar yang bod*h ini.
"Kalian disini diam ya!!!! Jangan ikut campur dengan masalah ku. Karena kalian tak tau cerita sebenarnya seperti apa!!. Asal kalian tau, kenapa aku menuntut uang nafkah yang aku berikan padanya untuk dikembalikan?, karena dia dulu, sewaktu masih menjadi istri ku. Dia selingkuh dan menjual beberapa aset keluarga ku, tanpa sepengetahuan ku!. Jadi tanpa berpikir panjang, aku pun langsung menceraikan nya. Karena aku tak mau beristri dengan perempuan yang suka selingkuh!!," ucapnya pada pengunjung cafe yang masih setia menonton pertengkaran kami.
Bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta, dan ucapannya kali ini berhasil membuat aku malu.
Karena aku yakin, orang yang tak mengerti dengan jalan hidup ku dulu, sewaktu masih menjadi istri mas Damar. Mereka akan mempercayai ucapannya.
Kini mulai terdengar suara-suara yang sedikit memojokkan aku.
"Kurang ajar kamu, mas!!! Kamu membuat ku malu disini." ucapku dalam hati sambil tatapan mata ini menatap wajah mas Damar. Dan mas Damar membalas tatapanku dengan senyum kemenangan. Ku kepalkan tangan ku, ingin sekali menonjok wajahnya.
Namun aku harus bisa meredamnya, karena kalau aku salah dalam satu tindakan saja. Bisa menunjuk kalau yang dituduhkan oleh mas Damar itu benar.
"Puas kamu, mas!," ucapku pelan sambil menatap mata mas Damar.
"Ingat ya!! Urusan kita belum selesai!!!," ia berdiri lalu meninggalkan ku disini.
__ADS_1
Hati ini sangat geram oleh ucapan mas Damar yang telah mempermalukan aku.
Tapi, kenapa aku harus malu? Aku tak pernah melakukan apa yang mas Damar katakan tadi.
Jadi menurut ku, tak perlu aku mendengarkan omongan orang-orang ini.
Aku pun pergi meninggalkan cafe ini setelah membayar minuman yang aku pesan tadi.
"Sarah...!,"
"Seperti suara Sinta?." gumam ku lirih.
Aku segera mencari sumber suara itu berasal. Dan benar saja, ternyata Sinta yang memanggil ku. Dan dia berada di kursi paling ujung sebelah kanan aku duduk bersama mas Damar tadi.
Sinta berlari padaku, yang sudah berada diambang pintu keluar cafe.
"Aku kira kamu nggak datang, Sin?!," ucap ku sambil terus berjalan keluar menuju parkiran mobil.
"Ya aku datang lah, masa teman minta ditemani aku nggak mau. Jelas itu bukan aku." jawab Sinta yang berjalan disamping ku.
"Mobil mu mana?," tanya ku sambil mengedarkan pandangan mencari mobil Sinta yang terparkir.
"Aku nggak bawa mobil, Sar. Tadi aku naik taksi online. Abis nya capek banget abis nyetir tadi." gerutu nya.
"Maaf ya bestie ku, gara-gara aku istirahat mu terganggu." ucap ku sambil tersenyum menggoda Sinta.
"Yuk, kamu aku antar!!," ucapku. Ku bukakan pintu mobil yang depan untuk Sinta.
"Silahkan masuk tuan putri....," ucap ku pada Sinta. Dan Sinta pun masuk dengan terkekeh. Aku juga segera masuk di bagian pengemudi.
Rencana ingin langsung mengantarkan Sinta pulang ke kontrakan nya, namun belum sempat aku membelokkan setir mobil. Sinta mengajak ku ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, Sin?," tanyaku dengan konsentrasi memegang setir mobil.
__ADS_1
"Uda ikutin saja arahan ku." jawab Sinta sambil mengunyah snack yang ada didalam mobil.