
Pagi ini aku melakukan rutinitas seperti di rumah meskipun aku berasa di rumah Sinta.
Kini jam sudah setengah tujuh, aku berangkat untuk menjemput Kean dirumah ibu dan bapak.
"Sarah?, apa kamu baik-baik saja?," tanya ibu sambil menatap ku.
"Sarah baik. Kenapa ibu bertanya seperti itu?," tanya ku pada ibu, aku sengaja menghindari kontak mata bersama ibu
Takut semua masalah yang sedang aku hadapi ini di ketahui oleh ibu ku.
"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?," tanya ibu seperti tak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan tadi.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?," ku tautkan alisku, seakan-akan aku tak mengerti dengan apa yang ibu bicarakan.
"Kenapa kamu tak pernah kemari bersama dengan Bima suami mu?, kamu sering datang kesini, tapi selalu sendirian. Rumah tangga mu baik-baik saja kan?," tanya ibu.
Deg!!
Pertanyaan ibu membuat aku berpikir kembali, memang benar apa yang dikatakan oleh ibu.
Semenjak ibu dan bapak tinggal disini, mas Bima baru sekali datang kesini. Waktu aku dan mas Bima mengantarkan ibu dan bapak kesini saat pindahan dari kampung.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?," ku beranikan menatap mata ibu, untuk meyakinkan nya.
"Aku dan mas Bima tak pernah ada masalah, Bu. Dia tak kesini bersama ku itu bukan karena aku dan dia sedang ada masalah. Tapi karena mas Bima sangat sibuk dengan tokonya. Jadi rasanya sayang kalau toko harus di tinggal kan." jelas ku lagi.
Ibu pun berlalu kedalam tanpa sepatah kata pun, entah ia percaya atau tidak dengan alasan ku, aku tak tahu.
Namun gelagatnya masih seperti tak mempercayai alasan yang telah aku beri.
Aku pun berjalan mengikuti ibu di belakang. Untuk mencari keberadaan Kean.
"Kean dimana, Bu?," tanya ku sambil ku lihat di sekitar, siapa tau ada Kean.
"Dia dikamar nya, masih ganti baju" jawab ibu sambil berlalu meninggalkan aku ke dapur.
Aku pun segera membuka pintu kamar yang saat ini sudah berada di samping ku.
"Assalamualaikum, Soleh nya amma." kuil ucapakan salam pada anak lelaki ku.
"Waalaikumsalam," jawab Kean yang sedang memasang kancing baju nya.
"Amma.... ," Kean langsung membalikkan badannya dan langsung berlari kearah ku untuk memeluk ku.
"Kean benar-benar betah ya di rumah akung dan uti?," tanyaku.
"Ia amma, Kean sangat betah disini," jawab nya sambil melepas pelukan nya di tubuhku, dan segera melanjutkan aktivitas memasang kancing baju yang tertunda tadi karena ia memeluk ku.
"Sini, amma bantu." aku raih tubuh Kean. Maksud hati ingin membantu nya memasang kancing, namun anak lelaki ku yang pintar dan Soleh ini menolak nya.
"Jangan, amma. Kean bisa sendiri." jawab Kean dengan menjauhkan tubuhnya dari ku.
"Mashaallah, anak amma memang pintar." ucap ku dengan bangga saat melihat anak TK yang sudah mandiri seperti Kean.
"Kalau begitu, amma akan menyiapkan sarapan dan bekal untuk Kean." pamit ku.
Setelah Kean menganggukkan kepala. Aku bergegas keluar kamar dan berjalan menuju makan.
Ternyata disana ada ibu, yang sedang menata sarapan dan bekal untuk cuci satu-satunya.
"Ibu masak apa lagi ini?," tanya ku sambil mendekati ibu yang tengah sibuk menaruh nasi di kotak bekal milik Kean.
"Hari ini ibu hanya menggoreng nugget kesukaan nya Kean, Sarah." jawabnya.
"Bapak kemana ya, Bu?, daritadi aku tak melihat nya." tanya ku. Karena dari aku datang sampai sekarang aku tak melihat keberadaan bapak di sini.
Biasanya yang paling semangat menemani Kean ganti pakaian adalah bapak. Dan Kean pun terlihat sangat senang dan bahagia.
"Bapak mu kemarin berangkat ke kampung," jawab ibu.
"Kenapa bapak tak bilang-bilang ke Sarah, Bu?. Biar Sarah yang mengantar." ucapku pada ibu.
"Bapak mu tak mau merepotkan mu , Sarah. Apalagi kalau melihat toko roti mu yang sangat ramai itu. Bapakmu semakin kasian melihat mu." jawab ibu
"Di toko kan sudah ada yang handle, Bu. Jadi dengan sangat bebas aku bisa melakukan apapun termasuk harus mengantar bapak ke kampung." jelas ku.
__ADS_1
"Memang bapak ke kampung ada urusan apa, bu?, " tanyaku dengan tangan ini mengambil satu nugget yang masih panas itu. Dan aku segera menggigit nya, alhasil mulutku pun kepanasan.
"Hati-hati Sarah!! itu masih panas." ibu memperingati ku, saat dia melihat kekonyolan ku.
"Sepertinya bapak mu merindukan rumah di kampung dan suasananya." jawab ibu.
"Amma..!! nanti Kean tidur disini lagi. Kasian uti nggak ada yang temani." ucap Kean yang sekarang ini sedang mengatur kursi makan.
"Oke sayang." jawabku sambil ku kecup kening anak lelaki satu-satunya ini.
"Bu biar Kean sarapan di mobil saja, karena ini sudah siang". Ucapku sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
Ibu pun memberikan tas bekal milik Kean padaku. Dan kini aku dan Kean berjalan bersama menuju mobil yang terparkir di halaman rumah ibu.
Setelah duduk di tempat masing-masing, bekal yang buat sarapan pagi ini aku berikan pada Kean yang sudah duduk manis di jok depan tepat nya jok yang berada di sampingku.
"Enak, nak?," tanya ku saat aku menoleh kearah Kean yang sedang menyantap bekal untuk sarapan nya.
"Enak, amma. Kean suka dengan nugget yang amma buat. Rasa nya lebih enak ini dari pada yang beli." jawab Kean dengan terus menyuap dan mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya.
Aku tersenyum saat Kean menikmati hasil olahan dari tangan ku sendiri.
Sengaja aku membuat stok nugget dan aku bawa kerumah ibu. Dengan tujuannya ya seperti ini, karena memang sesuka itu pada nugget buatan ku.
"Besok bikinkan Kean ayam crispy ya, ma?," ucap Kean dengan tersenyum manis padaku.
Senyuman itulah yang aku tak bisa menolak setiap permintaan nya.
"Siap boss!!!, amma akan membuat ayam crispy yang sangat lezat, khusus untuk anak Soleh ku." jawab ku sambil mengelus rambut Kean yang sudah tersisir rapi.
Sampai di parkiran sekolah, mesin mobil kumatikan. Aku dan Kean keluar dari dalam mobil. Aku bawakan tas bekal milik nya.
"Kean di sekolah yang rajin ya, nak. Biar pintar dan jadi orang yang sukses." ucapku pada Kean yang akan masu kedalam kelas nya.
"Iya amma." jawab Kean dengan penuh semangat.
Kini Kean masuk kedalam kelasnya, dan aku masih berdiri melihat tubuhnya dari belakang. Setelah tubuh mungil Kean sidang menghilang dari pandangan ku, ak membalikkan tubuhku untuk kembali ke mobil ku yang terparkir di depan sekolah.
Saat berjalan menuju pintu gerbang, dari arah berlawanan terlihat mbak Veni bersama Kay sedang berjalan menuju ke arah ku.
"Kay, mami antar kamu sampai sini ya..., mami masih Ada urusan." ucap mbak Veni pada Kay anak perempuan nya, yang kebetulan dia adalah teman sekelas Kean anak ku.
"Baik lah mami," jawab Kay, sebenarnya Kay anak perempuan yang cantik dan sangat penurut. Wajahnya sungguh mirip mas Awan. Tak ada sama sekali mirip mbak Veni. Tapi memang kadang, Kay terlalu takut kepada mami nya, sehingga ia tak mau berteman lagi dengan Kean.
"Hey...tunggu!!!!," suara mbak Veni terdengar sangat keras di telinga ku. Padahal jarak ku dengan nya tak begitu dekat.
Aku pun tak menoleh padanya dan terus berjalan ke mobilku yang terparkir di depan.
"Hai tunggu aku!!!," teriak mbak Veni sambil berlari mengejar ku dan berhenti tepat di depanku.
"Kamu ini dipanggil tak menghiraukan ku!!! Apa kamu tuli tak mendengar panggilanku?!!," ucapkan mbak Veni dengan perkataan yang sangat pedas.
"Kamu memanggil ku, mbak?," tanya ku dengan ku pasang wajah tak bersalah.
"Trus siapa lagi yang ku panggil, kalau bukan kamu?!," geram mbak Veni melihat tingkahku yang tak mempedulikan nya.
"Kamu tuli ya?!, sehingga kamu tak menjawab panggilan ku?," kali ini mbak Veni bicara dengan berkacak pinggang.
"Jujur sih aku nggak tuli sama sekali. Malah aku mendengar sangat jelas suara teriakan mu yang bikin telinga ku sakit. Untung saja telinga ku tak mengeluarkan darah." ucapku dengan sengak.
"Kalau kamu mendengar nya, kenapa kamu terus berjalan tak menghiraukan panggilan ku?!,"
"Ya karena nama ku Sarah, bukan hey!!!," ucapku pelan namun penuh penegasan.
Aku pun berjalan melewati mbak Veni yang sedang berdiri tepat di depan ku.
"Sarah!!!!, bagaimana rasanya di tinggal suami selingkuh?!," teriak mbak Veni dengan senyum mengejek padaku, yang saat ini aku sudah berada di pintu gerbang sekolah.
"Maksud mu mbak?," tanya ku.
"Kamu ini memang beg* ya...?!!!, kasian akhirnya kamu di tinggal oleh Bima. Aku nggak yakin setelah ini apa penampilan mu akan tetap seperti ini?," mbak Veni tersenyum sinis padaku.
"Kalau begitu aku pamit duluan ya, mbak." ucapku sambil berjalan meninggalkan mbak Veni.
Malas meladeni mbak Veni, hanya buang-buang waktu saja.
__ADS_1
"Sarah....!!!!!, aku belum selesai ngomong tapi kamu meninggalkan aku!!!!, dasar nggak punya sopan santun?!!," teriak mbak Veni, sehingga semua pandangan para wali murid yang sedang mengantar anaknya tertuju pada mbak Veni.
Dan aku pun tak memperdulikan nya, aku langsung menghidupkan mobilku dan melajukan meninggalkan mbak Veni yang masih berdiri ditempat yang sama.
Aku tak ingin mempermalukan diri dengan meladeni mbak Veni yang berteriak-teriak seperti orang gila.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, kini aku kembali kerumah Sinta. Hari ini aku tak ke toko lagi, karena aku takut mas Bima akan mencari ku kesana.
"Sarah, kamu ada dimana? Kalau kamu butuh teman curhat karena kelakuan suami mu, aku siap mendengar curhatan mu." kembali nomor tak di kenal itu mengirim kan pesan pada ku.
Tanpa menunggu lama, setelah aku baca pesan dari nomor tak dikenal itu langsung aku klik tombol blokir. Agar nomor itu tak terus menerus mengganggu ku.
Sampai di depan rumah Sinta, segera ku parkir mobil Ku dihalaman rumah Sinta.
"Mbak Sarah?!!!," ada suara perempuan memanggil ku, saat aku turun dari mobil. Seketika aku menoleh pada sumber suara itu.
"Lidya?!!,"ucapku dengan terkejut, karena yang memanggil ku saat ini adalah Lidya, mantan adik ipar ku dulu.
"Ngapain kamu disini, mbak?!," tanya Lidya dengan pandangan sinis padaku.
"Aku......."
"Jangan bilang kamu kesini masih cari tau tentang mas Damar!!," Belum selesai aku ngomong, Lidya sudah menyeletuk omongan ku.
"Sekarang kehidupan kita sudah berubah, mbak. Kami tak seperti dulu. Jadi jangan berharap kalau mas Damar akan mau kembali lagi dengan mu!!!," ucap Lidya dengan sangat percaya diri.
Dia kira aku kesini untuk mencari mas Damar, padahal nggak sama sekali.
"Sayang...sayang...," suara lelaki memanggil Lidya dari dalam rumah terdengar sampai di halaman rumah Sinta.
Aku sangat tau, kalau itu adalah suara mas Teguh suami mbak Ambar.
Bergegas aku masuk kedalam rumah Sinta, aku takut kalau keberadaan ku saat ini akan ketahuan.
Dan lagi, aku tak mau ketemu dengan mas Teguh, aku tak ingin mau tau dan tak ingin ikut campur dengan urusan mas Teguh dengan Lidya.
"Siapa dia sayang?," terdengar suara mas Teguh bertanya pada Lidya. Semoga dia tak melihat wajahku.
"Dia mantan kakak ipar ku, sayang." jawab Lidya dengan suara manja yang membuat aku bergidik ngeri.
"OOO...., ya udah, yuk kita berangkat!," terdengar suara mas Teguh mengajak Lidya keluar.
"Sungguh merana nasib mu, mbak!, suami mu pamit bekerja di luar kota, namun nyatanya dia berada di kota yang sama dengan mu. Tapi di rumah perempuan lain." gumamku dalam hati.
"Kamu kenapa, Sarah?!," tanya Sinta saat melihat aku sedang menggoyangkan kepala dan bahuku.
"Hampir saja aku ketemu dengan mas Teguh." jawab ku pada Sinta.
"Mas Teguh? Mas teguh siapa?," tanya Sinta. Dia memang pelupa, maka dari itu aku sangat suka sekali curhat dengan nya. Jangan kan dibocorkan pada orang lain, kadang ia sendiri lupa dengan apa yang aku curhat kan.
"Mas Teguh Dady sugar Lidya." ucapku sambil mata ini melirik ke arah rumah Lidya.
"Ooooo.... Aku ingat. Yang suami dari kakaknya suami mu kan Sarah?," tanya Sinta.
"Iyes betul, dia itu suami mbak Ambar, Kakak perempuan nya mas Bima.
"Aku sudah menyiapkan makanan untuk sarapan, Sar. Jadi yuk kita sarapan?!," ajak Sinta. Aku dan Sinta pun masuk dan berjalan menuju meja makan.
"Ini beneran kamu yang masak, Sin?," tanyaku nggak yakin. Karena rasa masakan yang aku makan sangat enak.
"Emang kenapa? Nggak enak ya?," tanya Sinta.
"Enak banget sih, makanya aku nggak yakin kalau kamu yang memasak." ucapku dengan terus mengunyah makanan yang ada di mulutku.
"Ih... dasar!! Menghina sekali kamu ini!!," ucap Sinta.
"Setelah ini, aku akan ke kantor, Sar. Jadi kamu beristirahat aja dikamar." ucap Sinta padaku.
"Oke, Sin. Sin, maaf ya. Aku sudah sangat merepotkan mu." ucapku sambil ku pegang pergelangan tangan nya.
"Apaan sih?!!, Kamu itu sudah bukan teman ku lagi, tapi kamu sudah menjadi saudara ku Sarah. Jadi jangan pernah punya pikiran tak enak hati padaku." ucap Sinta.
Sungguh aku terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut teman kecil ku ini.
"Aku bersyukur punya teman dan saudara sebaik kamu, Sin." ucapku sambil memeluk tubuh Sinta.
__ADS_1
"Sama, Sarah. Aku juga bersyukur punya teman seperti mu."Dan kami pun saling berpelukan.